Tubuh manusia tampak padat, berisi daging dan tulang. Namun jika ditelusuri lebih jauh, keberadaan fisik itu sesungguhnya rapuh dan sementara. Ia bukan entitas yang berdiri sendiri, melainkan hasil rangkaian panjang proses energi dan materi yang terus bergerak.
Dalam pengertian tertentu, manusia “ada”, tetapi sekaligus “tiada”: hadir sebagai bentuk, namun kosong sebagai hakikat yang mandiri.
Sains membantu kita memahami hal ini dengan bahasa yang sederhana. Energi, menurut hukum kekekalan, tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Ia hanya berpindah bentuk. Seperti lampu pijar yang menyala bukan karena ia “menciptakan” cahaya, melainkan karena energi listrik mengalir, lalu bertransformasi menjadi cahaya. Ketika lampu padam, energi tidak lenyap; yang berubah hanyalah jalur dan wujud perantaranya.
Demikian tubuh manusia bekerja dengan prinsip serupa. Energi matahari diserap tumbuhan melalui fotosintesis, bersama karbon dioksida, air, dan unsur hara tanah. Daun-daun itu lalu dimakan manusia, diolah menjadi sari-sari makanan, berubah menjadi sel, darah, dan jaringan. Dari proses biologis yang panjang itu, terbentuklah sperma dan ovum, bertemu dalam pembuahan, lalu lahirlah seorang bayi. Sang ibu menyerap kembali energi dari ikan, sayur, dan buah; energi itu menjelma menjadi air susu, mengalir ke tubuh bayi, dan menopang pertumbuhannya.
Kita bertumbuh dari bayi menjadi anak, remaja, dewasa, menua, lalu mati. Namun kematian bukan akhir dari perjalanan energi. Unsur-unsur pembentuk tubuh kembali ke tanah, melebur menjadi bagian dari alam. Mereka menjadi mineral, menjadi nutrisi tanaman, lalu masuk kembali ke rantai kehidupan. Gandum yang kita makan hari ini mungkin tumbuh dari tanah yang dahulu memeluk jasad generasi sebelum kita. Siklus itu berulang, lintas zaman.
Dalam perspektif ini, tubuh manusia adalah persimpangan sementara, atau pemadatan sementara, dari energi dan materi yang telah berkelana jauh. Boleh jadi, unsur-unsur dalam tubuh kita hari ini pernah menjadi bagian dari tubuh manusia lain di masa lampau—siapapun dia: filsuf Yunani, ilmuwan Muslim, raja, petani, atau tokoh revolusioner. Semua akhirnya kembali ke tanah yang sama, kembali menyuburkan kehidupan baru.
Gagasan tentang kekekalan energi ini kerap bersinggungan dengan ajaran reinkarnasi dalam tradisi Hindu. Bukan dalam arti kembalinya “jiwa” secara personal, melainkan sebagai keberlanjutan unsur-unsur kehidupan yang terus berpindah dan bertransformasi. Apa yang kita sebut “aku” ternyata tidak sepenuhnya terpisah dari sejarah panjang alam semesta.
Jika manusia adalah energi yang terus berubah bentuk, maka jarak, ruang, dan waktu tidak lagi mutlak. Keterhubungan batin antara ibu dan anak, antar-saudara, atau bahkan antar-manusia lintas generasi, dapat dipahami sebagai pertautan dari asal-usul yang sama. Kita berasal dari tanah yang sama, dari energi yang sama, dan menuju ke sana pula.
Di titik inilah sains bertemu dengan tasawuf. Ketika Syaikh Siti Jenar berbicara tentang Manunggaling Kawula Gusti, atau ketika Al-Hallaj berseru, “Ana al-Haq”, ungkapan itu bukan sekadar klaim keakuan, melainkan refleksi kesadaran tentang lenyapnya batas antara diri, alam, dan sumber segala energi. Bukan manusia yang menjadi Tuhan, melainkan manusia yang menyadari ketiadaan dirinya sebagai entitas yang berdiri sendiri.
Pada akhirnya, being, atau keberadaan kita saat ini, hanyalah satu fase dalam becoming, proses menjadi yang tak pernah berhenti. Kita hadir, berubah, lalu kembali melebur. Ada, sekaligus tiada. Dalam kesadaran itulah, barangkali, manusia belajar rendah hati: bahwa hidup bukan tentang memiliki, melainkan tentang mengalir. (Sal)