Dunia modern seringkali dibayangkan sebagai panggung kemenangan rasionalitas, di mana laboratorium dan observatorium menjadi kuil-kuil pencarian kebenaran. Namun kadang luput dari perhatian di kanal ceruk-ceruk pemikiran kontemporer, muncul sebuah arus balik yang kuat pada sebuah penolakan sistematis terhadap konsensus sains atas nama kesetiaan pada teks suci. Fenomena ini bukan sekadar masalah "kebodohan", melainkan sebuah benturan epistemologis yang sangat mendasar mengenai dari mana kebenaran seharusnya berasal.
Tak tega sebenarnya kalau kelompok ini disebut golongan Anti-Sains. Istilah itu terasa terlalu kasar dan menghakimi. Karena pada dasarnya secara epistemologi, antara sains dengan ilmu (Al-‘Ilm) adalah sama maksud. Dalam sejarah peradaban Islam, pengejaran terhadap realitas fisik adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah. Namun, kita harus mengakui adanya pergeseran definisi. Dalam epistemologi Barat bahwa sains berbeda dengan knowledge (pengetahuan umum). Demikian dalam tradisi Islam bahwa ilmu (Al-‘Ilm) berbeda dengan opini (Ra’yu). Sebab Ilmu menuntut kepastian (yaqin), sementara opini hanyalah persangkaan (zhann).
Di sinilah letak perbedaan fundamentalnya. Hanya saja bagi kelompok Anti-Sains ini, yang secara epistemologi mereka cuma menggunakan metode Bayani/Qurani, yakni ilmu yang didasarkan pada teks-teks (Nash-nash) atau semata dalil yang mereka percayai dan yakini sebagai sumber kebenaran. Mereka memandang bahwa alam semesta harus tunduk pada teks, bukan teks yang ditafsirkan ulang untuk menyesuaikan dengan penemuan alam. Kebenaran bagi mereka bersifat deduktif-tekstual: bermula dari semata dalil ayat Naqliyah (Nukilan) dan bahkan pemaknaan teks/dalil secara harfiah pula menurut pemahaman mereka.
Bagi para penentangnya inilah tragedi intelektual yang memuncak ketika narasi kosmos dipaksakan masuk ke dalam jaring pemahaman zahir. Maka ketika sokoguru golongan ini adalah Syaikh Al-Utsaimin, ketika membaca QS Al-Baqarah: 258, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur,” yang menurutnya secara zahir bahwa matahari berputar mengelilingi bumi. Padahal, secara linguistik dan filosofis, kita tahu Al-Qur'an untuk dapat dipahami dengan mudah yang harfiah. Maka seringkali menggunakan perumpamaan untuk mudah dimengerti secara pengamatan indrawi. Bahasa Al-Qur'an seringkali bersifat fenomenologis—berbicara tentang bagaimana manusia melihat alam, bukan bagaimana alam bekerja secara mekanis. Karena seringkali itu sebagai kebenaran majaz (metafora), bukan sebagai kebenaran hakikat.
Ketegangan ini semakin nyata sebab bagi golongan Anti-Sains ketika memaknakan QS Al-Anbiya: 33: “Matahari dan bulan masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” yang artinya menurut mereka, beredar adalah berputar seperti berputarnya alat pemintal dengan titik pusat adalah bumi. Tafsir ini mengabaikan fakta bahwa falak (orbit) dalam astronomi modern tidak mengharuskan bumi sebagai pusat statis. Dengan berdasarkan tafsir harfiah dari beberapa ayat Alquran, mereka membangun tembok yang memisahkan diri dari kemajuan astrofisika.
Mungkin rasanya sangat menggelikan ketika kian masif di kalangan muslim perkotaan yang rata-rata sekolahnya di sekolah umum, artinya terbiasa atau pernah mendengar soal sains, tapi kemudian berbalik arah menjadi sekumpulan pendukung kaum bumi datar (Flat Earth). Data menunjukkan bahwa tren "hijrah" intelektual ini seringkali dipicu oleh rasa tidak percaya terhadap "sains Barat" yang dianggap sebagai konspirasi global untuk menjauhkan umat dari Tuhan.
Karena baginya mungkin itu bagian dari kebenaran syariat, yang membuatnya kepatuhan buta menggantikan nalar kritis. Ketika muncul fatwa seorang ulama besar panutannya menyatakan bahwa bumi tidak bergerak, sedangkan mataharilah yang mengelilingi bumi, bukan sebaliknya, sebagaimana fatwa Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Al-Khaibari, dan Ahmad Sabiq, maka harus diterima dengan lapang dada sebagai tanda Sami’na wa-atha’na (kami dengar dan kami taat).
Secara historis, fatwa-fatwa geosentrisme ini memang pernah menjadi perdebatan panas. Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Utsaimin di Arab Saudi memang dikenal memegang teguh zahir ayat dalam masalah ini. Tapi syukurlah sekadar fatwa, belum sebagai Qanun (Undang-undang). Peradaban tidak bisa dibangun di atas penolakan terhadap realitas fisik. Meski sang syaikh ini menyebut siapa yang meyakini bumi mengelilingi matahari maka kafirlah dia, di Arab Saudi sendiri fatwa ini tidak digubris. Pemerintah Saudi tetap menggunakan perhitungan astronomi modern dalam visi pembangunan mereka.
Pertanyaan besarnya: Lalu kenapa di Indonesia berduyun-duyun Sami’na wa atha’na terhadapnya? Mengapa masyarakat yang tinggal di negara kepulauan, yang setiap harinya bersentuhan dengan teknologi GPS dan komunikasi satelit, justru memeluk paham yang menafikan sains dasar? Mungkin inilah demokrasi bahwa hidup adalah pilihan sekalian pilihannya itu untuk menjadi bodoh. Namun, lebih dalam dari itu, adalah gejala krisis identitas. Ketika sains dianggap sebagai "milik luar", maka menolaknya dianggap sebagai bentuk "pemurnian akidah".
Kita patut merenung mengapa agama yang diturunkan untuk menerangi akal, tetapi bagi sebagian golongan yang dipandang segolongan lain malah untuk memadamkannya. Jika teks suci digunakan untuk membenturkan manusia dengan kenyataan yang bisa dibuktikan secara empiris, maka yang sedang terancam bukan hanya sains, tapi juga martabat agama itu sendiri di mata dunia.
Kebenaran teks tidak seharusnya menghancurkan kebenaran alam, karena keduanya berasal dari sumber yang sama: Sang Pencipta. Menolak metode ilmiah demi kesetiaan buta pada tafsir harfiah bukan hanya sebuah kemunduran intelektual, tapi juga pengkhianatan terhadap perintah pertama dalam Islam: Iqra’—bacalah, telaahlah, dan pahamilah semesta dengan nama Tuhanmu.
Hidup memang pilihan, tetapi memilih untuk menutup mata di tengah cahaya ilmu adalah sebuah kerugian yang nyata bagi masa depan peradaban. Pilihan untuk memunggungi sains ini sebenarnya bukan muncul dari ruang hampa, melainkan berakar pada cara pandang tertentu dalam memperlakukan pengetahuan.
Guna memahami mengapa fenomena penolakan ini tetap kokoh di tengah modernitas, kita perlu menengok kembali klasifikasi epistemologi yang ditawarkan oleh pemikir Maroko, Muhammad Abed al-Jabiri. Beliau memetakan nalar pengetahuan dalam tradisi Islam ke dalam tiga kutub utama: Bayani, Burhani, dan Irfani. Kelompok yang kita bicarakan saat ini hampir sepenuhnya terjebak dalam nalar Bayani yang ekstrem, sebuah corak berpikir yang menempatkan teks (nash) sebagai satu-satunya produsen kebenaran yang sah. Dalam struktur nalar ini, akal tidak diposisikan sebagai penguji atau pengembang realitas, melainkan sekadar alat subordinat untuk melegitimasi teks secara harfiah.
Sebaliknya, nalar Burhani (rasional-demonstratif) yang mengedepankan logika, observasi, dan hukum kausalitas yang menjadi fondasi sains modern dipandang dengan penuh kecurigaan. Sementara nalar Irfani (intuisi/spiritual) yang mencoba mencari makna batin di balik teks, dianggap sebagai penyimpangan. Padahal, kejayaan peradaban Islam di masa silam tercapai ketika ketiga nalar ini bekerja secara harmonis. Tanpa Burhani, agama kehilangan pijakan realitasnya, tanpa Bayani kehilangan identitasnya, dan tanpa Irfani, ia kehilangan jiwanya.
Di Indonesia, fenomena ini menemukan ladang subur di kalangan Muslim urban. Cukup ironis melihat individu yang memiliki latar belakang pendidikan umum, bekerja di sektor formal, dan mahir menggunakan gawai mutakhir, namun justru menjadi promotor gerakan Flat Earth (Bumi Datar). Hal ini menunjukkan bahwa literasi sains bukan sekadar masalah ijazah, melainkan masalah krisis otoritas. Di tengah derasnya arus informasi digital, kelompok urban yang mengalami "dahaga spiritual" cenderung mencari kepastian yang hitam-putih. Penjelasan sains yang kompleks dan penuh probabilitas seringkali kalah menarik dibandingkan narasi konspirasi yang dibungkus dengan bahasa langit.
Narasi Flat Earth di Indonesia bukan sekadar perdebatan tentang bentuk planet, melainkan bentuk perlawanan simbolis terhadap dominasi narasi global yang dianggap "sekuler". Bagi penganutnya di wilayah perkotaan, mempercayai bumi itu datar bukan hanya soal geografi, melainkan soal keberpihakan iman. Mereka merasa sedang melakukan jihad intelektual dengan menolak "kebohongan" sains modern demi membela apa yang mereka yakini sebagai makna zahir dari ayat-ayat Tuhan.
Dengan demikian, tantangan terbesarnya bukanlah meruntuhkan argumen mereka dengan tumpukan data astronomi semata. Masalahnya lebih mendalam pada bagaimana mengembalikan keseimbangan antara wahyu dan nalar. Agama tidak turun untuk meniadakan akal, melainkan untuk memberikan arah moral bagi penemuan-penemuan akal tersebut. Menolak sains dengan dalih kesetiaan pada wahyu adalah sebuah paradoks, karena alam semesta itu sendiri adalah "Ayat Kauniyah" (tanda-tanda alam) yang diperintahkan untuk dibaca.
Kita perlu belajar kembali bahwa memegang keyakinan tidak harus berarti menutup pintu pada kenyataan. Menjadi religius tidak mengharuskan seseorang menjadi anti-sains, sebagaimana menjadi ilmuwan tidak meniscayakan seseorang untuk menjadi ateis. Di antara kepastian teks dan dinamisnya alam, manusia berdiri sebagai jembatan. Tugas kita bukan untuk memilih salah satu, melainkan untuk memastikan bahwa iman kita memberikan makna pada ilmu kita, dan ilmu kita memperkokoh fondasi iman kita. (Sal)