Dunia modern seringkali merayakan pencapaiannya melalui angka, efisiensi, dan kecepatan teknologi. Namun, di balik kegemilangan itu, terselip sebuah paradoks manusia yang semakin menguasai semesta, tetapi semakin merasa asing di dalamnya. Ilmu (dan) pengetahuan yang seharusnya menjadi pelita untuk memahami eksistensi, bagi sebagian kalangan, justru dirasa telah menjadi instrumen dingin yang memisahkan manusia dari akar spiritualnya. Inilah titik tolak munculnya perdebatan besar antara mereka yang memandang sains sebagai entitas netral, dengan mereka yang melihat perlunya mengembalikan dimensi "sakral" ke dalam tubuh ilmu.
Jika golongan Sains-Natural melihat sains sebagai bahasa universal yang netral dan lintas peradaban, maka golongan kedua, yang dapat kita sebut sebagai Sains-Sakral, ia memulai dari kegelisahan yang berbeda. Baginya memandang sains modern tidak pernah benar-benar lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari suatu worldview tertentu, yaitu pandangan dunia modern Barat yang cenderung sekuler, rasionalistik, dan dalam banyak hal, memisahkan realitas dari dimensi ketuhanan.
Di titik ini, kritik mereka bukan ditujukan pada sains sebagai metode, melainkan pada fondasi filosofis yang menyertainya. Sains modern dianggap telah mengalami reduksi makna bahwa alam semesta tidak lagi dipandang sebagai tanda (ayat) yang menunjuk kepada Yang Transenden, melainkan sekadar objek material yang dapat diukur, dikalkulasi, dan dieksploitasi. Dalam bahasa lain, dunia kehilangan kesakralannya. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah digambarkan oleh Max Weber sebagai "Entzauberung der Welt" atau "pelenyapan pesona dunia"—sebuah kondisi di mana segala sesuatu dijelaskan secara mekanis hingga tak ada lagi tempat bagi keajaiban metafisik.
Tokoh seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis utama peradaban modern bukanlah krisis ilmu, melainkan krisis adab, yakni hilangnya kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan tidak bebas nilai. Tapi selalu berkelindan dengan asumsi metafisik, bahasa, dan kerangka makna yang melahirkannya. Oleh karena itu, gagasan “Islamisasi ilmu” bukan sekadar proyek simbolik, tetapi upaya epistemologis untuk menyusun kembali ilmu agar selaras dengan pandangan dunia Islam.
Gagasan ini kemudian dikembangkan lebih sistematis oleh Ismail Raji al-Faruqi, yang melihat perlunya integrasi antara warisan intelektual Islam dengan disiplin ilmu modern. Ia mengusulkan rekonstruksi kurikulum, metodologi, hingga tujuan pendidikan, agar ilmu tidak tercerabut dari nilai tauhid, yakni kesatuan antara Tuhan, manusia, dan alam. Al-Faruqi meyakini bahwa pemisahan antara wahyu dan akal hanya akan melahirkan dualisme yang melumpuhkan mentalitas umat.
Sementara itu, Seyyed Hossein Nasr mengambil jalur yang lebih filosofis dan kontemplatif melalui konsep Sacred Science. Bagi Nasr, alam bukan sekadar realitas fisik, tetapi teofani, atau manifestasi dari yang Ilahi. Dengan demikian, mempelajari alam seharusnya tidak berhenti pada penguasaan teknis, tetapi berujung pada kesadaran spiritual. Ilmu bukan hanya alat untuk menguasai dunia, melainkan jalan untuk mengenali makna keberadaan. Sains-Sakral yang dimotori oleh tokoh ternama seperti Nasr dan Al-Attas ini digerakkan oleh para agamawan dan filsuf yang menaruh kecurigaan intelektual terhadap arah gerak sains modern.
Agamawan berargumen bahwa sains di Barat, pada tahap asumsi dan presupposisi-nya, secara sengaja tidak melibatkan Tuhan. Maka, ilmu yang dihasilkan menjadi sekuler atau bahkan anti-Tuhan. Hal ini diperkuat oleh analisis R. Hooykaas dalam bukunya Religion and the Rise of Modern Science, yang menyatakan bahwa pandangan dunia yang mekanistis (worldview mekanisme) telah menggiring manusia kepada ateisme. Ketika alam dipandang sebagai mesin raksasa, maka "Sang Pencipta" pelan-pelan dianggap sebagai "Tukang Jam" yang sudah pensiun dan tak lagi relevan dalam proses kerja mesin tersebut.
Salah satu kekuatan utama pendekatan Sains-Sakral adalah kemampuannya membaca krisis modernitas secara lebih dalam. Ketika dunia menghadapi persoalan seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga alienasi manusia modern, mereka melihatnya bukan sekadar sebagai kegagalan kebijakan atau teknologi, tetapi sebagai akibat dari cara pandang yang keliru terhadap realitas.
Data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) secara konsisten menunjukkan bahwa aktivitas manusia, terutama sejak revolusi industri, menjadi penyebab utama pemanasan global. Namun bagi perspektif Sains-Sakral, masalah ini tidak berhenti pada emisi karbon. Ia adalah gejala dari pandangan dunia yang memandang alam sebagai objek mati yang sah untuk dieksploitasi tanpa batas. Dalam kerangka ini, krisis ekologis adalah krisis spiritual. Manusia modern kehilangan rasa hormat terhadap alam karena kehilangan kesadaran akan dimensi sakralnya. Alam tidak lagi dipandang sebagai amanah, tetapi sebagai sumber daya (resource).
Pendekatan ini memberikan kontribusi penting dalam mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh kehilangan orientasi etis dan spiritual. Ia mengembalikan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sering diabaikan oleh sains modern: untuk apa ilmu digunakan? demi siapa kemajuan itu diarahkan? dan apa batas moral dari eksplorasi manusia?
Dalam dunia yang semakin didominasi oleh teknologi, dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) hingga rekayasa genetika, suara Sains-Sakral menjadi relevan sebagai pengingat bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Lebih jauh, pendekatan ini juga berusaha membangun kembali jembatan antara pengetahuan (knowledge) dan kebijaksanaan (wisdom), sesuatu yang dalam tradisi klasik Islam tidak pernah benar-benar dipisahkan.
Namun, pendekatan ini bukan tanpa masalah. Salah satu kritik utama adalah bahwa proyek “Islamisasi ilmu” seringkali berhenti pada tataran normatif dan belum sepenuhnya menghasilkan kerangka metodologis yang operasional dalam praktik ilmiah. Bagaimana, misalnya, fisika atau biologi “diislamkan” tanpa mengorbankan universalitas metode ilmiah? Pertanyaan ini masih menjadi perdebatan yang belum tuntas.
Fisikawan Muslim seperti Nidhal Guessoum memberikan catatan kritis. Menurutnya, upaya mengintegrasikan ranah rohani ke dalam sains berisiko mencampurkan dua domain yang berbeda: antara metodologi ketat, universal dan empiris untuk penyelidikan objektif, dengan tuntutan temuan makna yang bersifat subjektif. Ada kekhawatiran bahwa jika sains terlalu dipandu oleh teologi, maka objektivitas ilmiah akan terancam oleh subjektivitas penafsiran.
Lantas, bagaimana dengan fakta sains yang sudah mapan? Misalnya bahwa bumi berotasi dan berevolusi, kosmologi Teori Ledakan Besar (Big Bang), hingga biologi evolusi. Semua ini adalah hasil kerja ribuan saintis yang saling menguji dan memverifikasi. Apakah semua ini harus ditolak hanya karena lahir dari paradigma sekuler?
Mari kita lihat secara jujur. Teknologi hari ini memang banyak dihasilkan oleh saintis dengan asumsi agnostik atau ateis. Namun, perkembangan teknologi yang eksponensial tersebut, mulai dari alat komunikasi hingga akses informasi, apakah telah menjauhkan kita dari agama? Faktanya, teknologi justru seringkali membantu menyemarakkan syiar agama, memudahkan pengkajian kitab suci, dan menghubungkan komunitas beriman di seluruh dunia. Ada risiko bahwa pendekatan Sains-Sakral justru terjebak dalam romantisme masa lalu, mengidealkan kejayaan intelektual Islam klasik tanpa cukup kritis terhadap kompleksitas dunia modern.
Hal sangat penting yang dapat diambil dari golongan Sains-Sakral dalam mengajukan satu pertanyaan yang tidak boleh diabaikan: apakah mungkin manusia memahami dunia tanpa kehilangan makna? Jika Sains-Natural berisiko melahirkan dunia yang efisien tetapi hampa, maka Sains-Sakral berusaha mengisi kekosongan itu dengan dimensi spiritual. Namun tantangannya adalah bagaimana melakukannya tanpa mengorbankan ketepatan metodologis yang menjadi kekuatan sains itu sendiri. Mungkin, yang dibutuhkan bukanlah memilih salah satu secara mutlak, melainkan menjaga ketegangan kreatif di antara keduanya.
Ilmu tanpa makna dapat menjadi dingin dan membutakan, sementara makna tanpa disiplin ilmu berisiko menjadi kabur dan kehilangan pijakan. Di antara keduanya, manusia kembali diuji apakah ia mampu mengetahui sekaligus memahami, menguasai tanpa kehilangan hikmah, dan maju tanpa tercerabut dari akar hakiki? Kita tidak perlu membakar laboratorium untuk menemukan Tuhan, namun kita juga tidak boleh memadamkan cahaya hati saat sedang mengamati mikroskop. Keduanya adalah jalan pulang menuju satu kebenaran yang sama. (Sal)