Di awal segalanya, sebelum segala rumus dituliskan, dan segala mesin dinyalakan, ada yang lebih mula dari bunyi. Sebuah jeda. Sebuah keheningan yang tak asing bagi jiwa manusia. Itulah tafakur, sebagai detik-detik hening yang memanggil kita kembali pada asal, pada rasa ingin tahu yang tak terucap dan pada hasrat memahami yang tak tergesa. Dalam khazanah intelektual, tafakur adalah jangkar bagi nalar, sebuah aktivitas kognitif untuk membedah ayat-ayat alam yang terhampar luas sebelum ia dibakukan menjadi angka.
Tafakur bukan sekadar duduk memejamkan mata. Tapi sebagai keberanian untuk tenggelam, untuk melongok ke dalam sumur langit yang tak bertepi. Seperti yang dilakukan Newton, sebelum berbicara tentang gravitasi, ia lebih dulu menatap apel jatuh dengan jiwa yang sunyi. Demikian Archimedes, sebelum melompat dari bak mandi dengan mata berbinar, telah lama berenang di dalam tafakur. Begitu pula para ilmuwan era keemasan Islam yang menatap bintang bukan untuk menaklukkannya, melainkan untuk membaca kebesaran Sang Arsitek Semesta melalui lensa astrolab yang presisi.
Sains lahir dari perenungan yang sabar. Dari tafakur yang tak kenal terburu. Dari manusia yang belajar melihat dunia bukan hanya sebagai benda, tetapi sebagai kitab yang bisa dibaca, pada huruf demi hurufnya, pada fenomena demi fenomena. Di era modern ini, sains telah berkembang melampaui batas imajinasi manusia masa lalu. Kita saat ini berbicara tentang komputasi kuantum yang mampu memecahkan kode rumit dalam hitungan detik, serta bioteknologi CRISPR 3.0 yang sanggup menyunting genetik demi menyembuhkan penyakit yang dulu dianggap mustahil. Atas semua pencapaian ini sejatinya tetap berakar pada satu titik, yakni kemampuan manusia untuk berhenti sejenak dan mengamati dalam tafakur.
Lalu datanglah tasyakur. Ia bukan hanya ucapan alhamdulillah setelah panen, bukan sekadar senyum pada keberuntungan. Tasyakur adalah tindakan saat tangan yang bergerak, pikiran yang merancang, dan alat yang kita ciptakan atau wujudkan. Teknologi adalah perpanjangan tangan dari syukur yang bertindak. Jika sains adalah upaya memahami hukum-hukum Tuhan di alam, maka teknologi adalah cara kita mendayagunakan hukum tersebut demi kemaslahatan hidup.
Ketika manusia menciptakan lensa yang bisa melihat bintang yang berjuta tahun cahaya jauhnya, ketika ia menyalurkan air ke bukit gersang, ketika ia menanam dengan cahaya buatan—di sana ada tasyakur yang diam-diam bekerja. Syukur yang tak berhenti di hati, tapi merambat ke jari. Hari ini, tasyakur itu menjelma dalam wujud Kecerdasan Buatan (AI) yang membantu diagnosis medis lebih akurat, atau sistem Internet of Things (IoT) yang mengoptimalkan penggunaan energi di rumah-rumah kita. Syukur ini menjadi nyata saat teknologi digunakan untuk efisiensi yang memanusiakan, bukan sekadar untuk akumulasi materi.
Namun, keduanya, antara tafakur dan tasyakur bagaikan dua sisi dari satu doa. Yang satu meresap ke dalam bumi jiwa, yang satu menjulur ke langit tindakan. Tafakur tanpa tasyakur hanyalah awan di kepala. Tasyakur tanpa tafakur hanyalah mesin yang bekerja tanpa arah. Di tengah ambisi global menuju Net-Zero Emission tahun 2026, kita diingatkan bahwa teknologi yang hebat sekalipun akan menjadi bencana jika tidak dilandasi perenungan mendalam (tafakur) tentang dampaknya terhadap lingkungan. Inilah pentingnya Green IT—sebuah kesadaran bahwa kemajuan teknis harus selaras dengan kelestarian alam.
Seperti hujan yang jatuh karena awan yang menimbang. Seperti pohon yang berbuah karena akar yang menyentuh tanah dengan tenang. Maka, hidup pun butuh irama semacam itu. Dengan merenung sebelum mencipta, bersyukur sebelum mengklaim. Integrasi ini memastikan bahwa setiap "klik" pada gawai kita bukan sekadar gerakan mekanis, melainkan sebuah pilihan sadar yang memiliki nilai etis.
Kini kita hidup di zaman di mana gawai lebih sering menyala daripada langit malam yang kita tatap. Data menunjukkan bahwa lebih dari 6 miliar manusia kini terhubung ke internet, menghabiskan berjam-jam dalam riuhnya arus informasi digital. Kita tahu cara mengubah air menjadi listrik melalui turbin yang canggih, tapi seringkali kita lupa bagaimana air mengalir dari gunung dengan sabar. Kita menguasai algoritma pemrosesan bahasa alami (LLM), namun terkadang kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan batin sendiri.
Maka, barangkali sudah waktunya kita pulang. Bukan ke masa lalu yang tanpa listrik, tapi ke ritme yang lebih purba: tafakur yang membumi dan tasyakur yang membuncah. Sebuah kepulangan di mana kecerdasan buatan tidak menggantikan nurani, melainkan memperkuatnya. Di mana kemajuan digital tidak memutus koneksi kita dengan tanah, melainkan membantu kita merawatnya lebih baik melalui pertanian yang sesuai kontur alam dan energi hijau yang berkelanjutan.
Agar sains kembali menemukan nadinya. Agar teknologi tidak kehilangan ruhnya. Transformasi dunia tidak boleh hanya berhenti pada layar-layar sentuh yang dingin, melainkan harus merambat ke hangatnya interaksi kemanusiaan yang beradab. Karena hidup yang utuh adalah saat kepala menunduk dalam tafakur dan tangan menengadah dalam tasyakur.
Di sanalah sains dan teknologi bukan sekadar alat, melainkan zikir yang menjelma bentuk. Sebuah harmoni di mana setiap baris kode yang ditulis dan setiap mesin yang dirakit adalah sebuah pengakuan bahwa kita hanyalah hamba yang belajar mengelola titipan dengan penuh tanggung jawab. (Red)