Beberapa waktu terakhir, kembali beredar potongan video Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun) yang membahas kemungkinan perang Iran-Israel. Sebagian orang menganggapnya seperti “wangsit”, sebagian lain menilainya sebagai intuisi spiritual. Namun jika kita tarik ke wilayah analisis geopolitik dan teori sejarah, apa yang ia sampaikan sesungguhnya dapat dibaca sebagai pembacaan atas pola-pola yang juga dibahas secara ilmiah oleh Yuval Noah Harari dalam karya-karyanya seperti Sapiens dan Homo Deus.
Saya teringat pada satu istilah yang dikenalkan Harari—meski sempat lupa detailnya, yakni konsep “Goldilocks”. Sebuah istilah yang berasal dari dongeng Goldilocks and the Three Bears, tentang bubur yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, melainkan “pas”. Dalam sains, konsep ini merujuk pada kondisi optimal ketika sesuatu menjadi mungkin terjadi. Dalam konteks geopolitik, analoginya sederhana tapi cukup mengerikan: adanya sebuah momen ketika ketegangan tidak lagi terlalu kecil untuk diabaikan, tetapi juga belum terlalu besar untuk dicegah, dan justru di titik “pas” itulah perang bisa meletup.
Konstelasi Iran dan Israel hari ini dan beberapa tahun terakhir menunjukkan dinamika seperti itu. Selama ini ketegangan meningkat melalui perang bayangan antara serangan siber, sabotase fasilitas nuklir, pembunuhan ilmuwan, hingga saling balas melalui proxy di Lebanon, Suriah, dan Gaza. Ketika masing-masing negara memamerkan kecanggihan persenjataannya, dari rudal balistik, sistem pertahanan udara seperti Iron Dome, hingga drone otonom, muncul tekanan laten bahwa senjata-senjata itu suatu saat harus “dibuktikan”. Saat masing-masing negara pamer kebolehan senjata terbaru dan terbaiknya, lama-lama menciptakan tekanan bahwa senjata-senjata itu benar-benar digunakan.
Menurut data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), belanja militer global pada 2023 melampaui 2,4 triliun dolar AS, sebuah angka tertinggi sepanjang sejarah. Iran dan Israel sama-sama meningkatkan kapasitas militernya dalam dekade terakhir, meskipun dengan karakter berbeda. Israel yang unggul dalam teknologi pertahanan dan dukungan Barat, sementara Iran mengembangkan jaringan milisi dan teknologi rudal jarak jauh yang semakin presisi. Ketika investasi sebesar itu digelontorkan, tekanan politik untuk menunjukkan efektivitasnya bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan kecenderungan “wajib” dilaksanakan.
Di sinilah konsep “Deadlock” atau bahkan “Nuclear Deadlock” yang dibahas Harari menjadi relevan. Dalam kebuntuan nuklir klasik ala Perang Dingin, kedua pihak sadar bahwa penggunaan senjata nuklir berarti kehancuran bersama (mutually assured destruction). Maka pamer senjata dimaksudkan sebagai arena pencegahan (deterrence).
Secara historis, jika suatu negara menginvestasikan sumber daya masif untuk mengembangkan senjata revolusioner, muncul tekanan internal, baik dari kalangan militer, industri pertahanan, maupun elite politik untuk membuktikan efektivitasnya. Maka seremoni pamer kekuatan sering tampil sebagai provokasi simbolik: “Kami kuat. Jangan macam-macam.” Di permukaan, ia bertujuan mencegah perang. Namun di bawahnya, ia menyimpan risiko eskalasi.
Harari memperingatkan bahwa “keseimbangan horor” semacam ini sangat rapuh. Begitu satu pihak merasa keunggulannya akan segera hilang, misalnya karena lawan telah mengembangkan sistem pertahanan baru, maka muncul godaan untuk menggunakan senjata itu sebelum terlambat. Logika preventif bisa berubah menjadi agresif.
Namun tantangan abad ke-21 berbeda dengan era nuklir. Teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) dan perang siber tidak menciptakan deadlock yang stabil. Dalam nuklir, pamer berarti memperlihatkan daya hancur sebagai pencegah. Dalam siber, pamer justru berarti membocorkan kode dan celah sistem. Maka godaan untuk menggunakan senjata siber secara diam-diam jauh lebih tinggi daripada sekadar memajangnya dalam parade militer.
Laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat adanya peningkatan signifikan serangan siber yang diduga disponsori negara dalam lima tahun terakhir, termasuk yang melibatkan Iran dan Israel. Dunia bergerak ke arah perang tanpa deklarasi, tanpa seragam, tanpa batas medan tempur yang jelas.
Di sinilah kita masuk pada gagasan ketiga, The Law of the Instrument. Jika kita memiliki palu, maka segala sesuatu terlihat seperti paku. Ketika sebuah negara membangun mesin perang canggih, para pemimpinnya perlahan akan melihat solusi militer sebagai opsi paling rasional, bahkan ketika diplomasi pun sebenarnya masih mungkin ditempuh.
Kemudian terjadilah apa yang disebut “Lock-in Effect”. Sebuah negara terjebak dalam jalur teknologi militer tertentu sehingga tidak punya pilihan lain selain terus melangkah ke arah konflik. Ini bukan sekadar soal memiliki senjata, tetapi tentang bagaimana teknologi itu mengambil alih kemudi kebijakan.
Bayangkan sebuah negara yang telah menghabiskan puluhan tahun dan miliaran dolar untuk mengembangkan sistem AI militer yang mampu memprediksi dan meluncurkan serangan dalam hitungan milidetik. Setelah sistem itu rampung, mundur ke diplomasi konvensional bukan lagi sekadar opsi alternatif, melainkan dianggap sebagai kelemahan, bahkan pengkhianatan terhadap investasi nasional yang besar.
Di sini berlaku pula perangkap sunk cost: karena sudah terlalu banyak biaya, waktu, dan prestise yang ditanamkan, maka berhenti terasa lebih mahal daripada melanjutkan, meski arah yang ditempuh menuju jurang kehancuran. Bahkan lebih jauh lagi, muncul apa yang dapat disebut sebagai The Speed Trap. Kecepatan teknologi militer modern seperti drone otonom, sistem pertahanan otomatis, algoritma respons instan akan memaksa manusia keluar dari lingkaran keputusan. Jika musuh mampu menyerang dalam satu detik, Anda tidak bisa menunggu rapat kabinet dua jam. Maka dibangunlah sistem balasan otomatis.
Di titik inilah “kunci” berputar. Negara tidak lagi sekadar memegang senjata, jadinya negara dipegang oleh algoritma. Pada setiap kesalahan kecil, kesalahan pembacaan sensor, atau gangguan teknis bisa memicu respons berantai tanpa ada yang sempat menekan tombol “cancel”.
Demikianlah setiap teknologi baru membawa doktrin baru. Ketika sebuah negara mengadopsi rudal hipersonik atau sistem drone otonom, cara berpikir para jenderal dan politisinya ikut berubah. Mereka tak lagi bertanya, “Bagaimana kita bernegosiasi?” melainkan, “Bagaimana kita memukul lebih dulu sebelum dipukul?”
Inilah esensi dari terjebak dalam jalur teknologi. Inovasi yang awalnya diciptakan untuk memberi rasa aman justru menciptakan rasa tidak aman yang baru. Karena semua pihak merasa “terkunci” dalam perlombaan yang sama, mereka merasa tidak punya pilihan selain terus maju, meski sadar di ujung jalan hanya ada kehancuran bersama.
Efek domino pun tak terhindarkan. Ketika satu negara mengadopsi robot perang, negara lain merasa bodoh jika masih mengandalkan tentara manusia. Ketika satu pihak mempercepat integrasi AI dalam sistem komando, pihak lain terpaksa melakukan hal serupa. Akhirnya, dunia terjebak dalam arsitektur keamanan yang rapuh, di mana konflik bukan lagi soal kehendak manusia semata, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang kita bangun bersama.
Pertanyaan ini menjadi penting: apakah perang Iran–Israel, jika benar-benar meletup dalam skala penuh di kawasan Timur Tengah, lalu merambah skala global adalah lahir dari kebencian ideologis semata, atau dari akumulasi logika teknologi yang tak terkendali?
Barangkali, yang kita saksikan bukan sekadar permusuhan dua bangsa, melainkan inilah tragedi peradaban modern. Ketika kecerdasan manusia melahirkan mesin yang akhirnya memaksa manusia berjalan sesuai kecepatannya. Dan ketika kita menyebutnya takdir geopolitik, mungkin sebenarnya itu hanyalah hasil dari pilihan-pilihan rasional yang tak pernah kita berani hentikan.
Narasi ini saya sampaikan dan saya akhiri bukan dengan jawaban, melainkan sebatas kegelisahan. Harap kita sadari memang perang bukan terjadi karena kita menginginkannya, tetapi karena kita terlalu lama membangun sistem yang membuatnya terasa tak terelakkan. Kita semua akhirnya terjebak dalam mesin perang. (Sal)