Tulisan sederhana ini berangkat dari kegelisahan yang tidak sederhana: bagaimana mengurangi angka pengangguran sekaligus meminimalkan lahirnya manusia-manusia irelevan—nirguna, atau useless humans meminjam istilah Yuval Noah Harari, di tengah perjalanan bangsa menuju 2045.
Di satu sisi, kita terus mengulang mantra Indonesia Emas 2045. Di sisi lain, realitas sosial, ekonomi, dan teknologi justru menyodorkan kemungkinan sebaliknya: Indonesia Cemas 2045. Sebuah masa depan yang diwarnai ketimpangan, ketercerabutan, dan krisis makna hidup, ketika elan vital hanya dimiliki segelintir manusia yang mampu beradaptasi di zaman peralihan.
Peralihan itu bukan semata simbolik. Ia hadir secara konkret, bahkan geografis, ketika Jakarta dicabut statusnya sebagai ibu kota negara dan pusat kekuasaan berpindah ke IKN Nusantara. Perpindahan ini bukan hanya pemindahan administratif, melainkan penanda perubahan cara berpikir: dari pusat lama yang sarat sejarah kolonial, kapital, dan kepadatan, menuju imajinasi baru tentang masa depan. Namun pertanyaannya tetap sama: siapa yang sungguh-sungguh disiapkan untuk hidup di masa depan itu?
Harapan tentang masa depan manusia Indonesia, yang sejak lama diimpikan para pemikir seperti Mochtar Lubis, bahwa manusia yang merdeka, bertanggung jawab, dan berkarakter, kini berhadapan dengan kenyataan Revolusi Industri 4.0. Pengembangan bioteknologi dan infoteknologi secara paradoks justru mengubur sebagian mimpi liberalisme klasik: pengagungan entitas individual yang memiliki free will, sebagaimana semangat Revolusi Prancis yang menempatkan individu sebagai pusat sejarah.
Namun pada fase berikutnya, manusia tidak lagi dinilai terutama sebagai individu otonom, melainkan sebagai bagian dari sistem. Kita menjadi berguna, atau setidaknya berpotensi berguna, hanya dalam pengertian yang lebih kolektif: sebagai anggota negara, ormas, komunitas, atau jejaring kerja.
Biologi molekuler dan biologi evolusi sendiri telah lama meruntuhkan ilusi tentang “aku” yang tunggal dan utuh. Manusia individual ternyata bersifat dividual: organisme multiseluler yang merupakan kompleksitas zarah-zarah kehidupan, yang dalam istilah metafisika Islam berada dalam horizon Mumkin al-Wujud, sesuatu yang ada karena dimungkinkan, bukan karena mutlak.
Lalu sebagai bangsa dan bagian dari dunia global, kita tetap hidup dalam lanskap ketimpangan struktural. Dunia terbelah antara Utara adalah Uni Eropa dan Amerika, dan Selatan yang dulu disebut Dunia Ketiga, kini diameliorasi menjadi “negara berkembang” salah satunya Indonesia. Di Utara, korporasi global tumbuh menjadi entitas raksasa, meningkatkan kecerdasan unggul manusia-super, bahkan telah mampu memetakan dan memisahkan antara apa itu kecerdasan (intelligence) dan apa itu kesadaran (consciousness). Sementara di Selatan, termasuk Indonesia, sebagian besar manusia masih berjuang agar tidak tersingkir oleh algoritma dan otomatisasi.
Jika ditarik lebih jauh ke depan, sebelum kepunahan Sapiens itu sendiri, yang mungkin akan digantikan oleh jejaring algoritma dan kecerdasan buatan, kita perlu diingatkan pada sejarah panjang evolusi. Dahulu, Homo erectus tersingkir oleh Sapiens yang menguasai api, bahasa, dan cerita. Kini, Sapiens sendiri memasuki era Antroposen, zaman ketika ulah manusia mempercepat kepunahan massal dan kerusakan planet. Ironisnya, kekuatan utama manusia sejak awal bukanlah otot, bukan pula api semata, melainkan sesuatu yang lebih halus: informasi.
Richard Dawkins mengingatkan bahwa inti kehidupan bukanlah nyala api atau nafas hangat regenerasi, melainkan informasi. Informasi yang terpilin dalam kode DNA dan RNA, lalu berkembang menjadi kata, simbol, bahasa, dan cerita. Cerita-cerita itu bermetamorfosis menjadi gosip dan mitos, lalu menjadi agama dan negara, sebagai fiksi kolektif yang memungkinkan koalisi manusia dalam skala besar. Informasi, dengan demikian, adalah jantung peradaban sekaligus teknologi Antroposen.
Di era infoteknologi, fungsi informasi menjadi semakin terdiferensial: ia adalah “perbedaan yang membuat perbedaan”. Informasi bukan hanya merekam realitas, tetapi mengarahkan perubahan, mengurangi keacakan, dan mendidik nalar. Di tengah kerusakan planet berupa pemanasan global, krisis ekologi, dan entropi yang bergerak menuju kekacauan tertinggi sebagaimana hukum termodinamika kedua, media informasi setidaknya dapat menunda laju menuju “zaman edan”, meminjam istilah Ranggawarsita. Media informasi harus menjadi ruang kesadaran bersama, meski sering kali rapuh dan mudah disalahgunakan.
Daniel Dennett bahkan menyebut manusia bukan hanya omnivora, pemakan segala, tetapi juga informavora: pengkonsumsi informasi. Kita memakan pengetahuan, berita, narasi, dan sayangnya juga hoaks. Di sinilah persoalan menjadi genting. Tanpa kurasi, informasi berubah menjadi racun. Maka tugas utama peradaban hari ini adalah membangun kurator-kurator pertama: nalar kritis yang mampu membedakan mana madu dan mana tinja.
Di titik inilah urgensi membangun industri pers profesional dan berwawasan eco-global menemukan maknanya. Pers bukan sekadar penyampai kabar, melainkan ekosistem pengetahuan yang menjaga keberlanjutan manusia dan planet. Di tengah ancaman “manusia-manusia irelevan”, pers dapat menjadi jembatan: menghubungkan keterampilan dengan makna, teknologi dengan etika, dan masa depan dengan tanggung jawab kolektif.
Dengan demikian, mengurangi pengangguran bukan hanya soal menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menciptakan relevansi manusia. Relevansi yang tidak semata diukur oleh produktivitas ekonomi, melainkan oleh kemampuan berpartisipasi secara sadar dalam jejaring informasi, komunitas, dan kehidupan bersama. Jika masa depan adalah tentang informasi, maka pertaruhan kita hari ini adalah: apakah informasi itu akan membebaskan, atau justru menyingkirkan kita dari kemanusiaan kita sendiri. (Sal)