Bagi sebagian orang, apa yang dihadirkan Yuval Noah Harari dalam Sapiens dan Homo Deus bukanlah pencerahan, melainkan kecemasan. Buku-buku itu terasa seperti cermin yang terlalu jujur, memantulkan wajah peradaban yang tidak selalu ingin kita akui. Seperti keluhan lama yang sering kita dengar: bahwa dunia ini digerakkan oleh keserakahan dan kecurangan, oleh akumulasi tanpa henti dan tipu daya yang dilembagakan.
Namun kecemasan itu bukan tanpa alasan. Kita sering memilih menghindar, bukan karena tak memahami persoalannya, tetapi karena kita merasa lebih aman berpikir tentang hari ini saja. Mau sakit atau gembira, mau adil atau timpang, hidup di dunia kapitalisme adalah kenyataan yang tak bisa dielakkan. Silakan melawan, jika sekiranya mampu. Tetapi bagi sebagian besar manusia, perlawanan semacam itu terlalu mahal secara sosial, psikologis, dan ekonomi.
Kita hidup di alam global. Teman di Facebook bisa berjumlah ribuan, pengikut di media sosial terus bertambah, tetapi relasi yang sungguh-sungguh bisa dihitung dengan jari. Interaksi yang ada pun kerap dangkal dan rapuh. Alih-alih menjadi ruang saling menguatkan, percakapan sering berubah menjadi arena penghakiman. Ketika kesusahan datang, jaringan yang tampak luas itu sering kali tak mampu meringankan beban apa pun.
Dalam situasi semacam itu, pelarian yang paling masuk akal adalah fokus mencari uang. Karena dengan uang, banyak hal terasa bisa diselesaikan. Kebutuhan terpenuhi, keinginan terwujud, bahkan cinta dan keyakinan, dalam batas tertentu, terasa bisa dibeli. Uang menawarkan kepastian di tengah dunia yang serba tak pasti.
Ketika agama sudah jatuh pada kondisi retak, seolah kehilangan nyawa sosialnya, uang perlahan mengambil peran sebagai pelipur lara. Jika agama, dalam praktik sejarah mutakhirnya, kian hari justru membuat kita saling curiga, melalui produk sampingan berupa fundamentalisme, eksklusivisme, bahkan terorisme, maka uang tampil sebagai satu-satunya jalan keluar yang tampak rasional. Ia tidak menanyakan iman, hanya kemampuan bayar.
Di titik ini, mungkin kita harus jujur mengakui bahwa uang dan agama sesungguhnya memiliki akar yang serupa. Keduanya adalah ciptaan makhluk bipedal yang telah mengembangkan kesadarannya. Keduanya merupakan realitas intersubjektif: sesuatu yang ada bukan karena bersifat alamiah, melainkan karena disepakati dan diyakini bersama. Ia hidup dalam imajinasi kolektif manusia.
Uang, dengan demikian, adalah sebuah konstruk psikologis yang amat kuat. Ia memenuhi imajinasi dan pikiran kita, sampai-sampai dalam keseharian kita bisa bertengkar, bersiasat, bahkan bertingkah manipulatif demi sesuatu yang pada dasarnya hanyalah kesepakatan bersama, sebagai “omong kosong” yang disakralkan oleh konsensus sosial.
Secara material, uang nyaris tak nyata. Uang fiat memang hadir dalam bentuk kertas dan koin, tetapi selebihnya hanyalah gelembung. Lebih dari 90 persen dari seluruh uang yang beredar di dunia hanya berupa catatan: saldo rekening, angka-angka di layar, data yang berpindah dari satu server komputer ke server lain, tanpa perpindahan fisik apa pun. Namun justru karena ketidaknyataannya itu, uang menjadi sangat fleksibel dan berkuasa.
Ketakutan terhadap gelembung ini membuat sebagian orang mendambakan kebangkitan, khususnya kebangkitan (agama) Islam, melalui penghidupan kembali Dinar dan Dirham yang berbasis emas dan perak. Seolah dengan kembali ke logam mulia, keadilan ekonomi bisa dipulihkan. Padahal, betapa tidak efektifnya sistem itu dalam perdagangan global modern, dan betapa besarnya energi yang dibutuhkan hanya untuk meyakinkan orang-orang agar mau kembali pada mekanisme lama di dunia yang telah bergerak terlalu jauh.
Ironisnya, upaya ini sering dibungkus dengan semangat eksklusivisme. Padahal, nama Dinar sendiri berasal dari Denarius, koin Romawi abad pertama Masehi, yang dicap dengan nama kaisar sebagai penanda otoritas dan kepercayaan. Orang-orang menerimanya bukan karena iman, melainkan karena kesepakatan bersama bahwa koin itu bernilai dan bisa dipertukarkan.
Di sinilah paradoks itu terlihat jelas. Muslim dan Kristen mungkin tak pernah sepakat dalam soal teologi, tetapi mereka bisa dengan mudah bersepakat dalam urusan moneter. Agama meminta kita memercayai “sesuatu” yang transenden, sementara uang hanya meminta kita memercayai “apa yang dipercaya oleh orang lain”.
Mungkin, atau justru di situlah letak sisi baik uang. Ia adalah satu-satunya sistem kepercayaan ciptaan manusia yang mampu menjembatani hampir seluruh jurang perbedaan: budaya, agama, gender, usia, hingga orientasi seksual. Dengan uang, orang-orang yang tak saling mengenal, bahkan yang saling bermusuhan, bisa duduk di meja yang sama, bekerja sama, dan saling bergantung, semata karena hasrat bersama terhadap nilai tukar bernama uang.
Namun di akhir perenungan ini, barangkali kita perlu bertanya: jika uang telah mengambil alih peran agama sebagai pengikat sosial, lalu apa yang tersisa dari kemanusiaan kita? Apakah kita sedang bergerak menuju dunia yang lebih rasional, atau justru menuju dunia yang kehilangan makna selain angka dan nilai tukar?
Mungkin kecemasan yang ditawarkan Sapiens dan Homo Deus bukanlah ramalan kehancuran, melainkan undangan untuk meninjau ulang: sistem kepercayaan apa yang sedang kita rawat, dan harga apa yang diam-diam kita bayar untuk itu.
Barangkali, kita tak sedang hidup di dunia tanpa iman, melainkan di dunia yang salah menamai imannya. Kita bersujud setiap hari, bukan lagi di rumah-rumah ibadah, melainkan di layar ponsel, di mesin ATM, di angka-angka yang naik dan turun tanpa belas kasihan. Kita menyebutnya rasionalitas pertumbuhan, padahal sering kali itu hanya bentuk lain dari kepatuhan—kepatuhan pada sistem yang kita ciptakan sendiri, lalu kita takuti seolah ia tak terelakkan.
Uang memberi kita ilusi kebebasan, tetapi diam-diam ia mengatur ritme hidup kita: kapan kita bangun, kapan kita cemas, kapan kita merasa berharga. Ia tidak memerintah dengan ancaman neraka atau janji surga, melainkan dengan rasa takut tertinggal, takut tak cukup, takut tak diakui. Dan ketakutan semacam itu jauh lebih efektif, karena ia bekerja tanpa perlu dogma.
Yang paling sunyi dari semua ini adalah kenyataan bahwa kita ikut merawat sistem tersebut. Kita mengeluh tentang ketimpangan, tentang dunia yang dingin dan transaksional, sambil terus menegosiasikan diri kita di dalamnya. Kita marah pada uang, tetapi bergantung padanya. Kita merindukan makna, tetapi menundanya demi keamanan. Dalam diam, kita tahu: yang kita lindungi bukan nilai, melainkan kenyamanan.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah uang itu baik atau jahat, melainkan apakah masih ada ruang dalam hidup kita yang tak bisa dibelinya. Ruang di mana manusia hadir bukan sebagai komoditas, bukan sebagai angka, bukan sebagai fungsi. Ruang di mana kepercayaan tidak lahir dari kesepakatan pasar, melainkan dari keberanian untuk saling rapuh lalu menjadi utuh.
Jika agama pernah runtuh karena kehilangan kasih, dan uang kini berkuasa karena menawarkan kepastian, barangkali yang kita perlukan bukan kebangkitan iman lama atau sistem baru, melainkan keberanian untuk hidup tanpa menjadikan apa pun sebagai berhala mutlak.
Sebab di saat segala sesuatu bisa ditukar, yang paling berharga justru adalah apa yang tetap menolak untuk diperjualbelikan.
Dan mungkin, di sanalah kemanusiaan terakhir bersembunyi: bukan pada apa yang kita kumpulkan, melainkan pada apa yang dengan sadar kita lepaskan. (Sal)