Di tengah riuh peradaban yang terus bergerak, ketika mitos dan logos saling berkelindan, ketika keyakinan dan rasionalitas tak pernah benar-benar berdamai, umat Islam hadir sebagai sebuah entitas yang jauh dari monolitik.
Perbedaan itu bukan semata soal mazhab fiqih atau aliran teologi, melainkan tentang sesuatu yang lebih mendasar: cara memandang sains. Sebuah produk akal manusia yang, bagi sebagian orang, justru menjadi cermin ketegangan antara yang sakral dan yang profan.
Dalam penelusuran yang tentu tak sepenuhnya lengkap ini, setidaknya tampak empat kecenderungan. Empat wajah Muslim ketika berhadapan dengan sains: Sains-Natural, Sains-Sakral, Sains-I’jaz, dan Anti-Sains. Masing-masing berdiri di atas kegelisahan, harapan, dan ketakutan yang berbeda, namun berangkat dari pertanyaan yang sama: bagaimana seharusnya iman hidup di zaman sains?
Anti-Sains: Ketika Teks Menjadi Penjara
Awalnya, saya ragu menyebut kelompok ini sebagai “anti-sains”. Bukankah dalam tradisi Islam, al-‘ilm dipahami sebagai cahaya yang diturunkan Tuhan? Namun, kegamangan itu perlahan memudar ketika berhadapan dengan mereka yang membatasi pengetahuan hanya pada teks, yang dibaca secara harfiah, tanpa ruang bagi tafsir yang bernapas.
Mereka adalah para penganut bumi datar, penolak heliosentrisme, dan pembela pandangan bahwa matahari mengelilingi bumi. Sebuah keyakinan yang, meski telah lama ditinggalkan oleh sains modern sejak Copernicus dan Galileo, tetap dipertahankan atas nama “kebenaran syar’i”.
Bagi kelompok ini, Alquran tidak hanya menjadi petunjuk etika dan spiritual, tetapi juga diperlakukan seolah manual sains abad ke-7 yang tak boleh digugat oleh temuan apa pun setelahnya.
Yang mengundang keheranan bukan semata keyakinan itu sendiri, melainkan keteguhan mempertahankannya di era ketika teleskop James Webb memotret galaksi-galaksi purba.
Barangkali ini bukan sekadar soal agama, melainkan kegagapan manusia modern menghadapi dunia yang semakin kompleks. Dogma terasa lebih menenangkan ketimbang menerima bahwa alam semesta jauh lebih luas dan asing dari bayangan kita.
Sains-I’jaz: Mukjizat atau Pencocokan yang Terlalu Bersemangat?
Di sisi lain, muncul suara yang sama lantangnya, namun dengan nada berbeda: “Semua sudah ada dalam Alquran.” Inilah kelompok Sains-I’jaz—yang kerap diasosiasikan dengan Bucailisme, merujuk pada Maurice Bucaille.
Bagi mereka, setiap temuan sains modern telah lebih dulu “diramalkan” kitab suci. Big Bang dibaca dalam QS Al-Anbiya:30, embriologi ditemukan dalam QS Al-Mu’minun, bahkan teknologi modern seperti internet dan telepon pun tak luput dari klaim isyarat ilahiah.
Masalahnya bukan pada sains, melainkan pada saat ia dipaksa membenarkan iman akan menerima dua risiko yang sering tersembunyi di balik klaim keyakinan. Ketika sains dijadikan alat pembenaran agama, kita berhadapan dengan hal yang mungkin luput disadari oleh kelompok ini.
Pertama, makna ayat bisa menyempit. Alquran diturunkan bukan sebagai buku fisika atau biologi, melainkan sebagai petunjuk hidup. Ketika setiap penemuan baru seperti atau dipaksa “cocok” dengan ayat tertentu, lapisan makna etis, spiritual, dan eksistensialnya justru dapat tergerus. Sebuah peringatan yang sejak lama pernah disampaikan Ibnu Rusyd hingga Quraish Shihab.
Kedua, sejarah kerap diabaikan. Banyak pengetahuan yang disebut sebagai “fakta sains Alquran” sejatinya telah dikenal peradaban sebelumnya. Galen, misalnya, telah membahas embriologi jauh sebelum Islam lahir.
Kedua, sejarah sering kali terlupakan. Banyak pengetahuan yang diklaim sebagai “fakta sains Alquran” sejatinya telah dikenal peradaban sebelumnya. Galen, misalnya, telah menulis tentang embriologi jauh sebelum Islam lahir. Meski sebagian kalangan berpendapat bahwa penjelasan Alquran lebih valid atau lebih presisi dibanding Galen.
Namun pengakuan atas konteks sejarah, bahwa pengetahuan itu sudah ada sebelum Islam muncul, tidak harus mengurangi kemuliaan wahyu. Justru sebaliknya, hal itu menegaskan bahwa Alquran adalah teks yang hidup, berdialog dengan zamannya, bukan sekadar kumpulan kode rahasia yang menunggu untuk dibongkar di masa depan.
Sains-Sakral: Mencari Tuhan di Balik Rumus
Kelompok ketiga mencoba mengambil jalan tengah. Mereka resah melihat sains modern yang terasa kering, mekanistik, dan tercerabut dari makna.
Tokoh-tokoh seperti Seyyed Hossein Nasr dan Naquib Al-Attas mengingatkan bahwa alam semesta bukan sekadar objek, melainkan ayat-ayat Tuhan yang sakral.
Namun, pertanyaan mendasarnya tetap mengemuka: apakah mengembalikan kesakralan berarti menolak metodologi ilmiah modern?
Nidhal Guessoum menawarkan kehati-hatian. Sains bekerja dalam wilayah objektivitas, sementara makna dan nilai bergerak di ranah subjektif. Teori Big Bang, misalnya, boleh saja dimaknai sebagai creatio ex nihilo oleh orang beriman, tetapi ia tidak bisa ditolak hanya karena lahir dari saintis yang tak berbagi keyakinan yang sama.
Di titik ini, muncul dilema: haruskah saintis Muslim membangun “sains alternatif” yang diislamisasi, atau justru terlibat penuh dalam sains universal, lalu memberi makna spiritual dari dalamnya?
Sains-Natural: Objektivitas sebagai Titik Temu
Kelompok terakhir memilih untuk berdiri di wilayah ini. Mereka memandang sains sebagai milik bersama umat manusia. Hukum gravitasi bekerja tanpa bertanya apakah seseorang beriman atau tidak, reaksi kimia berlangsung sama di masjid maupun laboratorium.
Abdus Salam, Nidhal Guessoum, dan para ilmuwan Muslim yang bekerja di CERN atau NASA adalah contoh nyata bahwa iman tidak harus goyah ketika berhadapan dengan sains.
Bagi mereka, sains justru menjadi sarana memahami sunnatullah, hukum alam yang ditetapkan Tuhan. Jika alam semesta mengembang, jika DNA menyimpan kode kehidupan, semua itu bukan ancaman bagi iman, melainkan kemungkinan baru untuk takjub.
Yang mereka tolak bukan spiritualitas, melainkan klaim-klaim dogmatis yang berusaha membelenggu sains. Sebab, kebenaran ilmiah hanya bisa berdiri di atas bukti, bukan otoritas tafsir.
Menuju Dialog yang Lebih Rendah Hati
Keempat wajah ini memantulkan kegelisahan yang sama: bagaimana menjadi Muslim di zaman sains. Haruskah iman dan akal dipertentangkan? Ataukah keduanya bisa saling menyapa tanpa saling meniadakan?
Mungkin jawabannya terletak pada kerendahan hati, dengan mengakui bahwa baik sains maupun agama adalah proses pencarian, bukan kepemilikan mutlak atas kebenaran. Seperti kata Einstein, semakin dalam ia mempelajari alam semesta, semakin kuat keyakinannya akan adanya Tuhan. Namun, Tuhan seperti apa? Pertanyaan itu tak bisa dijawab oleh teleskop saja, maupun oleh teks suci yang dibaca tanpa dialog.
Barangkali kita memang membutuhkan keduanya. Tanpa sains, agama berisiko terjebak dalam mitos. Tanpa agama, sains bisa kehilangan jiwa. Dan di ruang pertemuan antara keduanya, kita mungkin menemukan sesuatu yang lebih luas: kesadaran bahwa dunia ini terlalu ajaib untuk dimonopoli oleh satu cara pandang semata. (Red)