Selalu ada suara miring dan sumir yang berlarian setelah sebuah bencana. Banjir bandang di Sumatera kali ini, tak hanya menggerus tanah dan pepohonan, ia juga menggerus kepastian.
Dari riuh warganet hingga komentar pejabat, dari laporan para pemerhati lingkungan hingga gumam penuh curiga soal operasi intelijen negara, semuanya seperti tiga arus sungai yang bertemu di satu muara: ketidakpahaman kita sendiri.
Namun, suara yang paling keras justru datang dari sesuatu yang tak berteriak: data. Ungkapan angka, grafik, permukaan laut yang menghangat, itu semua dapat menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tak ingin kita dengar.
Bahwa cuaca ekstrem memang benar adanya, tapi ia tak lahir dari ruang kosong. Ada riwayat panjang: deforestasi, tanah yang kehilangan akar, laut yang kehilangan dingin.
Armi Susandi, pakar klimatologi dan hidrometeorologi dari ITB, menunjukkan sebuah anomali: laut kita berubah. Ada sesuatu yang berbeda dalam denyutnya. Ia seperti tubuh yang demam—dan demam adalah pesan, bukan sekadar angka.
Salah satu kejanggalan itu datang dari angin siklon. Secara teori, angin semacam ini mati ketika menyeberangi garis ekuator. Ia seperti seorang musafir yang kehilangan arah di perbatasan utara dan selatan. Selama ini, Indonesia hanya disentuh ekornya. Namun kali ini, sesuatu yang tak lazim terjadi: siklon itu menjejak daratan Sumatera.
Apa yang terjadi baru-baru ini telah membanting teori dan membenarkan kecemasan kita. Dalam ilmu cuaca, siklon adalah angin yang berputar mengelilingi pusat tekanan rendah. Di belahan Utara ia melawan jarum jam dan di Selatan ia berdamai dengan arah sebaliknya. Ada tiga jenis: siklon tropis di laut hangat, siklon ekstratropis di lintang tengah, dan tornado sebagai pusaran dari badai yang menyimpan kekuatan gelap.
Indonesia pernah mengenal Cempaka dan Dahlia, dua siklon yang saling berbeda nasib pada November 2017. Cempaka bergerak ke Utara, melintasi daratan Jawa, menyebabkan banjir dan longsor. Dahlia bergerak jauh di Samudera Hindia, namun tetap membawa hujan yang deras, seperti pesan yang dikirim dari kejauhan.
Kini muncul nama baru: Siklon Senyar. Ia lahir dekat garis ekuator, sebuah kelahiran yang dulu dianggap mustahil. Ia tumbuh dari laut yang lebih hangat dari biasanya, dari uap air yang berlebihan, dari atmosfer yang seakan ditarik oleh tangan tak terlihat. Saat depresi tekanan membesar, uap air berkonvergensi, dan hujan tak kunjung berhenti. Akibatnya tanah yang gundul tak lagi sanggup menahan.
Jika ada yang berkata bencana ini murni karena cuaca ekstrem, mereka tak sepenuhnya salah. Tapi mereka berhenti di permukaan. Cuaca ekstrem adalah gejala, sebabnya lebih dalam. Satu derajat kenaikan suhu global bukan sekadar angka, tapi ia penyebab pulau kecil yang hilang, abrasi yang merambah, dan siklon yang datang lebih sering.
Upaya mengurangi emisi karbon membutuhkan perubahan besar yang sulit diminta dari semua orang. Namun kita bisa memulai dari yang paling dekat: melawan pembalakan liar, mengejar para pelindung deforestasi yang menjadikan hutan sekadar angka dalam tabel produksi.
Untuk apa BBM berlimpah jika penduduk hanyut oleh banjir.
Lalu muncul pendapat lain, pendapat yang seperti datang dari ruang gelap internet: bahwa cuaca dapat direkayasa. Bahwa perubahan suhu laut ada hubungannya dengan teknologi HAARP, sehubungan sebelumnya kapal militer asing lewat perairan kita, yang menurutnya bukan tanpa tujuan.
HAARP—High Frequency Active Auroral Research Program, adalah fasilitas riset ionosfer yang menggunakan gelombang radio berfrekuensi tinggi. Tujuannya bukan mengubah cuaca, tapi memahami struktur ionosfer demi meningkatkan sistem komunikasi dan navigasi.
BMKG dan Kominfo berkali-kali membantah kemampuan HAARP untuk mengatur hujan atau menciptakan badai.
Namun sebagaimana konspirasi yang baik, ia tak memerlukan bukti. Tapi cukup kekosongan yang kita isi dengan ketakutan.
Ionosfer berada pada ketinggian 70–300 kilometer, lapisan tipis yang menyimpan elektron dan berinteraksi dengan cahaya kosmik. HAARP hanya mengirim gelombang radio ke area kecil, memanaskan partikel untuk memahami sifatnya. Teknologi ini tak lebih seperti mengetuk pintu langit, bukan untuk merobohkan kita.
Di tengah semua perdebatan itu, barangkali kita lupa bahwa alam bukan sekadar objek penyelidikan, apalagi teori. Ia adalah ingatan yang panjang: tentang hutan yang ditebang, sungai yang dijinakkan, dan laut yang dipaksa menanggung.
Dan setiap banjir bandang setiap kali datang, seperti sekarang terjadi di Sumatera yang meluluh-lantakkan batin kita, semua air di sungai di Indonesia atau masih di langit dalam proses kondensasi seakan berkata kepada kita: “Aku mengalir mengikuti hukum alam. Hanya manusia yang sering melawannya.” (sal)