Kartini arahan sutradara Hanung Bramantyo hadir bukan sekadar sebagai film, melainkan sebagai upaya membaca ulang sejarah dalam bahasa visual yang lebih dekat dengan generasi hari ini. Setiap bulan April, nama Kartini kembali dipanggil dan digaungkan bukan hanya untuk upacara atau pidato seremonial, tetapi juga telah melalui pelbagai medium yang lebih emosional seperti lagu, film, dan ingatan kolektif. Sinema menjadi ruang dialog di mana masa lalu yang kaku dicairkan kembali menjadi narasi yang punya denyut napas baru.
Saya mendengar sebuah lagu baru yang menjadi soundtrack film ini, dengan penggalan lirik yang seolah menegaskan kembali suara Kartini dari masa lalu: “Memang kenapa bila aku perempuan. Aku tak mau jadi budak kebodohan.” Lirik itu seperti aksara yang menari di atas awan, ringan namun sarat makna. Ia tidak sekadar terdengar, tetapi juga terasa mengalir sebagai harapan yang belum selesai dituliskan. Keinginan untuk merdeka dari kebodohan adalah api yang tidak pernah padam, sebuah resonansi yang melintasi sekat abad.
Dengan suara empuk Gita Gutawa dan komposisi dari Melly Goeslaw, lagu ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dengan musikalitas yang sudah dikenali publik menambah lapisan rasa antara segunung harap, penasaran, dan sekaligus refleksi. Seolah kita diajak bertanya seperti apa Kartini dalam tafsir Hanung? Apakah ia tetap Kartini yang kita kenal dari buku sejarah, ataukah ia telah berubah menjadi sosok yang lebih manusiawi, lebih rapuh, dan justru karena itu lebih dekat?
Transformasi ini penting, mengingat narasi sejarah seringkali menempatkan tokoh besar di atas altar yang sulit dijangkau oleh perasaan manusia modern. Sejarah juga mencatat, kehidupan Raden Ajeng Kartini telah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Film Kartini (1983) karya Sjuman Djaya yang dibintangi Jenny Rachman menghadirkan Kartini dalam bingkai klasik yang penuh nuansa lebih formal, sekaligus lebih heroik. Kemudian hadir Surat Cinta untuk Kartini (2016) karya Azhar Kino Lubis dengan pendekatan yang lebih populer dan romantik. Perjalanan sinematik ini mencerminkan bagaimana masyarakat Indonesia terus berupaya mendefinisikan ulang nilai-nilai emansipasi sesuai dengan napas zamannya masing-masing.
Namun, dalam versi Hanung, Kartini terasa seperti sedang “dibumikan.” Sosok yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo yang selama ini melekat dalam ingatan sebagai Cinta di film Ada Apa dengan Cinta?—ditarik keluar dari bayangan romantisme remaja, lalu ditempatkan dalam ruang sejarah yang penuh tekanan sosial, budaya, dan patriarki. Di sini, Kartini bukan hanya simbol, tetapi juga manusia yang bergulat dengan air mata, keraguan, dan keberanian yang dipaksakan tumbuh di tengah himpitan tradisi pingitan.
Bila demikian, ketika saya berkata, “Saya berharap perempuan secerdas Kartini, secantik Dian Sastro,” mungkin itu hanya ada di dalam film, atau lebih tepatnya, dalam imajinasi kita tentang kesempurnaan. Kartini rasa Dian Sastro, atau Dian Sastro dengan kecerdasan Kartini, adalah gambaran ideal yang sering kita bangun diam-diam di tempat dimana kita menambatkan harapan, sekaligus melabuhkan perasaan. Imajinasi ini mungkin menjadi standar yang berat bagi perempuan di dunia nyata, sebuah ekspektasi untuk menjadi sempurna secara intelektual sekaligus sebagai perempuan estetik.
Namun pertanyaannya menjadi lebih dalam barangkali perempuan seperti apa yang sebenarnya saya inginkan?
Pertanyaan itu tidak sederhana. Ia menyentuh ruang-ruang sunyi dalam diri manusia menghadapi dunia relasi, makna kebersamaan, dan bagaimana kita memandang perempuan tidak sekadar sebagai peran atau fungsi, tetapi sebagai subjek yang utuh dalam kesempurnaannya. Perempuan yang diharapkan bukan hanya mampu mengurus rumah tangga, tetapi juga sanggup menenun cerita bersama dalam membangun jiwa yang lapar akan makna, bukan sekadar rutinitas.
Dalam konteks modern, hal ini berarti mengakui hak perempuan untuk mendefinisikan kebahagiaannya sendiri, baik di ranah domestik maupun publik. Misalnya di rumah, dalam pengertian ini, bukan hanya bangunan, melainkan ruang-ruang yang saling terhubung, tempat hati, jiwa, dan raga berdialog dalam ritme yang sama. Sebuah tempat di mana dua manusia tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga saling menghidupkan. Begitulah rumah yang ideal adalah "sekolah" pertama di mana kesetaraan dipraktikkan, bukan sekadar diwacanakan.
Namun jika hati tak juga menemukan cahaya, maka kita mencarinya bersama, dengan bertanya di mana lentera itu disembunyikan dalam rumah tangga. Jika menemukan jiwa yang mulai sakit dan perlahan mati, bersama juga kita berusaha menghidupkannya kembali, meracik harapan dari harapan tersisa. Dan jika raga mulai lelah, keadaannya mungkin sesederhana ingin kita berhenti sejenak, mandi, dan bercermin untuk mengingat kembali siapa diri kita sebenarnya di balik tumpukan beban ekspektasi sosial yang kian hari kian berat.
Dalam konteks yang lebih luas, gagasan Kartini tentang pendidikan perempuan tetap relevan hingga hari ini. Data dari UNESCO dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Indonesia terus mengalami perbaikan, di mana akses pendidikan dasar bagi perempuan hampir mencapai paritas sempurna. Namun, tantangan struktural masih ada. Mengutip laporan Global Gender Gap, meskipun partisipasi pendidikan tinggi perempuan meningkat, tantangan besar masih ditemukan pada partisipasi angkatan kerja dan keterwakilan di posisi strategis. Isu pernikahan dini yang masih fluktuatif di beberapa daerah juga mengingatkan kita bahwa jeruji "pingitan" kini berganti rupa menjadi hambatan ekonomi dan sistemik.
Maka film Kartini bukan sekadar tafsir seorang sutradara terhadap sejarah, melainkan juga cermin yang diam-diam memantulkan wajah kita sendiri, yang patut bertanya sejauh mana kita telah melanjutkan gagasan-gagasan yang dulu diperjuangkan Raden Ajeng Kartini, ataukah kita justru sibuk merayakannya dalam simbol, namun lupa menghidupkannya dalam tindakan.
Di era digital ini, ketika informasi melimpah namun kebijaksanaan seringkali langka, perjuangan Kartini beralih rupa menjadi perjuangan melawan literasi yang dangkal dan eksploitasi citra. Di tengah dunia yang semakin riuh oleh teknologi dan percepatan zaman, suara Kartini justru terasa semakin relevan, seperti gema yang tak pernah benar-benar hilang. Ia hadir dalam ruang-ruang percakapan digital, dalam percakapan di antara anak-anak muda yang mulai mempertanyakan arah hidupnya, juga dalam kegelisahan perempuan-perempuan yang masih berjuang menegosiasikan dirinya di antara tradisi dan kebebasan.
Kartini tidak lagi berdiri sendiri sebagai tokoh sejarah, tetapi menjelma menjadi kesadaran yang hidup. Bahwa “habis gelap terbitlah terang” dan yang terang itu bukan hanya berarti bisa membaca buku, tetapi juga kemampuan untuk memilah kebenaran di tengah banjir disinformasi. Makan yang perlu kita lakukan hari ini bukan lagi sekadar mengenang Kartini, melainkan merawat api kecil yang ia nyalakan. Api yang tidak selalu menyala terang, tetapi cukup untuk menerangi langkah berikutnya. Sebab terang, seperti yang pernah ia yakini, bukanlah sesuatu yang datang sekaligus. Ia tumbuh dari keberanian-keberanian kecil—untuk belajar, untuk bersuara, dan untuk tetap percaya bahwa perubahan, betapapun lambatnya, selalu mungkin terjadi.
Edukasi tetap menjadi fondasi utama, karena melalui pengetahuanlah belenggu-belenggu baru di masa depan bisa dipatahkan. Dan di titik itu, kita perlu kembali pada diri sendiri. Pada pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sering kita hindari: sudahkah kita adil dalam memandang perempuan? Sudahkah kita memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh, bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai penentu arah? Atau jangan-jangan, kita masih terjebak dalam bayang-bayang lama yang tak pernah benar-benar kita sadari? Sebab keadilan bukan sekadar slogan, melainkan pemberian ruang yang setara bagi setiap jiwa untuk mekar.
Dengan demikian, Kartini, dalam segala tafsirnya, baik di buku sejarah maupun di layar lebar, mengajarkan satu hal yang barangkali paling sunyi namun paling penting bahwa menjadi manusia yang merdeka adalah proses yang tak pernah selesai. Dan dalam proses itulah, kita terus belajar menemukan terang, meski kadang harus berjalan cukup lama di dalam gelap. Sebab terang itu, sering kali, bukan datang dari luar, tetapi tumbuh perlahan dari keberanian untuk berpikir, untuk merasa, dan untuk tidak lagi menjadi budak kebodohan dalam bentuk apa pun. (Sal)