Dalam dua film populer Indonesia, Kartini dan Bumi Manusia, sang sutradara Hanung Bramantyo menghadirkan adegan yang secara simbolik sangat kuat: seorang anak yang duduk sembah di hadapan ayahnya: Kartini bersimpuh di hadapan ayahnya, Bupati Jepara, ketika ia dipaksa menerima pinangan Bupati Rembang sebagai istri keempat. Sementara Minke, tokoh rekaan Pramoedya Ananta Toer, dipaksa melakukan hal serupa ketika ia harus menghadap ayahnya yang baru diangkat sebagai bupati setelah dibawa polisi kolonial.
Dua adegan ini bukan sekadar dramatika sinema. Ia adalah potret telanjang tentang feodalisme Jawa. Sebuah sistem nilai yang menempatkan kuasa sebagai sesuatu yang harus disembah, bukan dipertanyakan. Anak di hadapan ayah, manusia di hadapan jabatan, rakyat di hadapan kekuasaan. Tubuh harus menunduk, wajah tak boleh sejajar, suara harus ditahan. Bahkan bahasa kehilangan keberaniannya.
Minke, dalam Bumi Manusia, mencatat pengalaman itu dengan getir. Ia bersumpah-serapah pada dirinya sendiri agar generasi setelahnya tak lagi mengalami kehinaan serupa: menghadap pembesar dengan merangkak, menunduk seperti budak, kehilangan martabat sebagai manusia merdeka. Dalam refleksinya, Minke menyimpulkan bahwa moyang Jawa gemar membesarkan kebesaran, meninggikan simbol, gelar, dan garis keturunan, bahkan ketika isinya rapuh.
Ia mengingat bagaimana sejarah dikisahkan secara agung: Majapahit diklaim menguasai wilayah hingga Siam dan Burma, padahal kekuasaan nyatanya mungkin terbatas pada Melayu-Palembang, Bali, dan sebagian Nusa Tenggara. Leluhur Jawa mengaku berketurunan dari Iskandar Zulkarnain, silsilahnya ditarik lurus hingga Nabi Adam, sebagaimana ditulis dalam Babad Tanah Jawi. Sejarah menjadi mitos yang dibesarkan, bukan realitas yang diuji.
Sebagai pemuda terpelajar HBS, Minke membawa kegelisahan itu ke ruang diskusi modern. Ia berdebat dengan Miriam, kawannya yang tajam dan kritis, yang suatu hari bertanya tanpa basa-basi: “Apa yang telah disumbangkan bangsa Jawa untuk dunia? Apakah kau juga, setelah menjadi pembesar Jawa, akan memiliki banyak harem?” Pertanyaan itu menusuk bukan karena sinis, tetapi karena jujur. Ia memaksa Minke, dan kita sebagai pembaca dan penonton dapat bercermin.
Kegelisahan serupa juga dialami Tan Malaka. Dalam pengasingan dan perenungan panjangnya, ia menulis Madilog, sebuah upaya membongkar cara berpikir mistik yang membelenggu masyarakat Timur. Tan Malaka tidak menolak tradisi, tetapi menolak tradisi yang tak berpijak pada rasionalitas. Ia mengajak kaum cendekia untuk membangun apa yang ia sebut “Mistisisme Timur” yang memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis—dari hulu hingga hilir.
Namun modernitas Eropa yang dikagumi Minke dan dikaji Tan Malaka ternyata menyimpan paradoks kejam. Di hadapan hukum kolonial, kemanusiaan runtuh. Minke bertanya dengan getir: jika Eropa begitu maju dengan sains dan rasionalitasnya, mengapa sistem peradilannya begitu tidak berperikemanusiaan?
Pertanyaan itu mencapai puncaknya ketika pengadilan kolonial merampas Annelies Mellema, istri Minke, dan memaksanya dibawa ke Nederland. Annelies, perempuan rapuh yang bahkan tak sepenuhnya mengerti dunia, dipisahkan dari suaminya atas nama hukum. Dalam hukum Eropa bahwa keputusan itu sah secara yuridis, tetapi biadab secara moral. Mengapa hukum menjadi alat kekuasaan, bukan penjaga keadilan?
Di titik inilah Kartini, Minke, dan Tan Malaka bertemu. Bukan dalam ruang dan waktu yang sama, tetapi dalam pergulatan yang sejenis. Kartini melawan feodalisme patriarkal dari balik dinding pingitan. Minke melawan feodalisme dan kolonialisme dengan pena dan kesadaran. Tan Malaka melawan keduanya dengan bangunan berpikir yang radikal dan sistematis.
Ketiganya mengajarkan satu hal penting: bahwa kemerdekaan bukan hanya soal lepas dari penjajahan, tetapi juga keberanian membongkar cara berpikir lama, baik yang diwariskan oleh feodalisme lokal maupun oleh modernitas kolonial yang dingin dan tak berperasaan.
Dan pertanyaan Minke itu, hingga hari ini, masih relevan: Modern untuk siapa, dan manusia seperti apa yang ingin kita pertahankan? (sal)