Seorang mahasiswi Telkom University, Nadira Az-Zahra (21), dilaporkan hilang sejak Selasa, 30 Juni 2026, setelah berpamitan berangkat kuliah dari rumahnya di Kecamatan Rancasari, Kota Bandung. Hingga Minggu (5/7/2026), keluarga, pihak kampus, dan kepolisian masih melakukan pencarian intensif. Kasus ini barangkali bukan sekadar insiden kehilangan orang secara biasa, juga mengundang tanya yang lebih besar. Mengapa di era ketika hampir setiap orang membawa telepon pintar dan selalu terkoneksi, seseorang justru bisa menghilang tanpa jejak?
Beberapa dekade lalu, orang bepergian antarkota bahkan antarnegara selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Kabar dari mereka hanya datang melalui surat yang memerlukan waktu lama, telegram, atau sesekali telepon umum. Ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan pada masa itu. Manusia belajar hidup dengan ruang tunggu yang luas. Namun kini keadaannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Hampir setiap orang memiliki telepon genggam, akun media sosial, aplikasi berbagi lokasi (real-time location sharing), hingga layanan pesan instan yang memungkinkan komunikasi dilakukan dalam hitungan detik. Ironisnya, ketika komunikasi mendadak terputus hanya beberapa jam, rasa cemas justru muncul jauh lebih cepat daripada masa-masa ketika teknologi belum berkembang.
Kasus Nadira Az-Zahra menjadi cermin bagaimana kecemasan kolektif itu terbentuk dalam struktur masyarakat digital kita. Menurut keterangan keluarga, Nadira meninggalkan rumah sekitar pukul 10.00 WIB untuk menuju kampus. Saat itu ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana jeans hitam, kerudung berwarna krem, serta membawa tas ransel krem berisi laptop, tablet, dan telepon genggam.
Di genggamannya seperangkat "dunia digital" yang seharusnya membuatnya tetap terjangkau. Namun beberapa jam kemudian telepon genggamnya tidak lagi aktif, terputus akses informasi yang selama ini kita anggap sebagai jaminan keamanan dan kedekatan jarak yang bisa dilipat oleh telepon genggam.
Perwakilan keluarga, Budhi Purwa, mengatakan pencarian masih terus dilakukan secara kolaboratif bersama aparat kepolisian dan berbagai pihak. "Kami terus berupaya melakukan pencarian bersama aparat kepolisian dan sejumlah pihak lainnya untuk dapat menemukan Nadira dan membawanya berkumpul kembali dengan keluarga," ungkap Budhi.
Di tengah proses yang melelahkan ini, disinformasi menjadi tantangan tersendiri. Belakangan sempat beredar informasi di media sosial bahwa Nadira telah ditemukan di rumah kerabatnya di Majalaya, Kabupaten Bandung. Namun keluarga segera membantah kabar tersebut.
"Sampai saat ini masih belum ditemukan," tegas Budhi, seraya mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, yang justru dapat mengganggu proses pencarian dan menambah beban psikologis keluarga.
Pihak Telkom University turut mengonfirmasi bahwa Nadira merupakan mahasiswa aktif Program Studi Sistem Informasi Kota Cerdas pada Fakultas Ilmu Terapan. Kampus telah melakukan koordinasi intensif dengan keluarga serta aparat terkait. Head of Secretary and Public Relations Telkom University, Roosdiana Noor Rochmah, menyatakan, "Telkom University telah berkoordinasi dan menjalin komunikasi dengan keluarga dan pihak terkait guna mendukung proses pencarian dan memastikan penanganan dilakukan secara optimal sesuai kewenangan masing-masing." Kampus juga mengimbau sivitas akademika maupun masyarakat untuk membantu penyebaran informasi secara bertanggung jawab.
Kasus ini mencuat tidak lama setelah publik dikejutkan oleh sejumlah kasus penyekapan dan tindak kriminal yang melibatkan orang hilang di berbagai daerah. Situasi ini memicu sensitivitas masyarakat. Di satu sisi, kewaspadaan seperti ini adalah bentuk solidaritas digital yang positif. Respons cepat keluarga, masyarakat, kepolisian, dan media sosial menjadi faktor krusial dalam memperpendek durasi pencarian. Namun, di sisi lain, derasnya arus informasi tanpa saringan di media sosial melahirkan persoalan baru: infodemic.
Belum adanya kepastian seringkali diisi oleh spekulasi liar, potongan informasi yang tidak utuh, bahkan hoaks yang menyebar lebih cepat daripada proses penyelidikan formal. Dampaknya, keluarga tidak hanya bergulat dengan ketidakpastian nasib korban, tetapi juga harus berhadapan dengan "kebisingan" yang menyesatkan.
Fenomena ini menunjukkan sebuah paradoks masyarakat digital. Teknologi memang mempermudah komunikasi dan memangkas jarak, tetapi ia juga mempercepat penyebaran kepanikan.
Sebagian pengamat sosial berpendapat bahwa masyarakat kini menjadi terlalu mudah panik karena ketergantungan pada konektivitas instan. Ketika seseorang tidak membalas pesan selama beberapa jam, muncul berbagai dugaan buruk yang dipicu oleh kecemasan akan kejahatan siber, perdagangan orang, atau tindak kriminal lainnya.
Namun pandangan lain menyebut kekhawatiran tersebut adalah manifestasi kewajaran. Dalam lanskap ancaman modern, hilangnya akses komunikasi sering dianggap sebagai indikator awal adanya bahaya, sehingga respons cepat menjadi langkah preventif yang mutlak diperlukan.
Kisah Nadira barangkali bukan sebatas tentang seseorang yang sedang dicari. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis menjamin keamanan absolut. Kita hidup di zaman ketika lokasi bisa dibagikan secara real-time, panggilan video dapat dilakukan dari mana saja, dan ribuan orang bisa menjadi "detektif" melalui satu unggahan. Namun pada saat yang sama, manusia tetap bisa menghilang dari jangkauan sinyal dan logika teknologi.
Mungkin yang benar-benar berubah bukan sekadar cara kita berkomunikasi, melainkan cara kita memaknai kehadiran seseorang. Dahulu, orang menunggu kabar selama berbulan-bulan karena memang tidak ada pilihan lain. Maka kesabaran adalah bentuk kepercayaan. Hari ini, ketika komunikasi menjadi sangat mudah, justru diam selama beberapa jam terasa begitu panjang dan mencekam.
Teknologi memang telah mendekatkan jarak fisik antarmanusia, tetapi rasa aman yang sesungguhnya tetap bergantung pada kepercayaan, kepedulian nyata, dan kehadiran orang-orang di sekitar kita. Sebab, secanggih apa pun perangkat komunikasi yang kita genggam, tidak ada yang mampu menggantikan arti sebuah kabar sederhana dari lubuk hati yang jujur: “Aku baik-baik saja.” (Sal)