Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “film India” dan bagaimana ia berbeda dari “film tentang India”? Pertanyaan ini kembali mencuat seiring maraknya produksi film lintas negara yang mengangkat realitas sosial India, baik oleh sineas lokal maupun pembuat film asing. Fenomena ini terjadi dalam beberapa dekade terakhir, melibatkan berbagai industri film regional seperti Bollywood, Kollywood, hingga sineas internasional. Perbedaan sudut pandang ini yang kemudian memunculkan perdebatan tentang siapa yang paling otentik dalam merepresentasikan India, dan bagaimana narasi itu dibangun.
Garis pemisah antara keduanya kerap tampak kabur, namun esensinya terletak pada asal-usul pandangan. Misalnya berkata film ini boleh dikatakan bukan sekadar “film India”, melainkan lebih tepat disebut sebagai “film tentang India”. Namun perbedaan keduanya bukan hanya soal lokasi produksi atau bahasa yang digunakan, melainkan juga menyangkut perspektif, kepemilikan narasi, dan kedalaman pengalaman yang dihadirkan. Di satu sisi, ada denyut nadi yang dirasakan langsung oleh pelakunya dan di sisi lain ada pengamatan yang dilakukan dari luar pagar.
“Film India” umumnya merujuk pada karya yang lahir dari industri perfilman domestik India, baik yang berbahasa Hindi (Bollywood), Tamil (Kollywood), Malayalam (Mollywood), maupun Bengali. Film-film ini tidak hanya mencerminkan budaya lokal, tetapi juga dibentuk oleh dinamika sosial, politik, dan ekonomi masyarakat India itu sendiri. Ia adalah suara dari dalam, sebuah dialog antara pencipta dengan masyarakatnya yang berbagi keresahan serupa.
Sebagai contoh, film Dangal dari Bollywood menampilkan kisah perjuangan atlet perempuan dalam sistem patriarki, sementara Super Deluxe dari Kollywood menghadirkan narasi kompleks tentang identitas, moralitas, dan realitas urban. Dari wilayah Kerala, Kumbalangi Nights menawarkan potret maskulinitas yang rapuh dan relasi keluarga yang tidak konvensional. Di sisi lain, perfilman Bengali melalui karya seperti Pather Panchali karya Satyajit Ray menghadirkan realisme puitik yang mendalam tentang kehidupan pedesaan. Karya-karya ini berakar kuat pada tanah pertiwinya, menangkap nuansa bahasa dan gestur yang seringkali luput dari mata pandangan sudut pandang orang asing.
Sebaliknya, “film tentang India” adalah film yang pada umumnya diproduksi oleh sineas luar negeri yang menjadikan India sebagai latar atau objek cerita. Film seperti Slumdog Millionaire karya Danny Boyle, misalnya, yang berhasil menuai pujian global sekaligus kritik tajam. Film ini dianggap berhasil membawa isu kemiskinan India ke panggung dunia, namun juga dituding menyederhanakan kompleksitas realitas sosial menjadi narasi eksotis yang mudah dikonsumsi. Pada film ini penonton global mungkin melihatnya sebagai sebuah pencapaian sinematik, namun bagi sebagian warga lokal, itu adalah "porno kemiskinan" (poverty porn) yang dibalut dengan estetika Barat.
Contoh lain yang sering dijadikan rujukan adalah Gandhi, sebuah drama biografi epik yang disutradarai oleh Richard Attenborough. Film ini mengisahkan kehidupan Mahatma Gandhi sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan India yang melawan kolonialisme Inggris melalui filosofi non-kekerasan (non-violence). Di satu sisi, film ini dipuji karena berhasil memperkenalkan sosok Gandhi kepada audiens global dan memenangkan berbagai penghargaan internasional, termasuk Academy Awards. Namun di sisi lain, sejumlah kritikus menilai bahwa narasi yang dibangun masih berangkat dari perspektif Barat, sehingga tidak sepenuhnya merepresentasikan kompleksitas sejarah dan dinamika lokal India. Ada jarak emosional dan sosiologis yang sulit dijembatani ketika sejarah sebuah bangsa besar diterjemahkan oleh mereka yang pernah menjadi bagian dari struktur kekuasaan kolonial di masa lalu.
Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, kritikus film India, Anupama Chopra, pernah menyatakan bahwa “Film asing tentang India sering terjebak dalam stereotip. Dari warna, kemiskinan, dan kekacauan, tanpa benar-benar memahami konteks sosialnya.”
Namun, pandangan berbeda datang dari sineas internasional yang melihat film sebagai medium universal. Danny Boyle misalnya pernah mengatakan, “Saya tidak mengklaim memahami India sepenuhnya. Sebuah film adalah sebuah interpretasi, bukan dokumentasi.” Pernyataan Boyle ini dapat membuka tabir tentang tujuan artistik yang berbeda antara film India dan film tentang India.
Perdebatan ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara autentisitas dan interpretasi. Di satu sisi, sineas lokal memiliki keunggulan dalam memahami nuansa budaya dan realitas sosial. Di sisi lain, sineas luar dapat menawarkan perspektif baru yang kadang justru membuka ruang diskusi global, karena perspektif yang mungkin terlalu dekat untuk dilihat oleh mereka yang berada di dalamnya.
Secara industri, skala pengaruh sinema ini sangatlah masif. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa India merupakan salah satu produsen film terbesar di dunia, dengan lebih dari 1.500 film diproduksi setiap tahunnya dalam berbagai bahasa. Angka ini menegaskan bahwa tidak ada satu “India” tunggal dalam sinema, melainkan banyak India yang hidup dalam beragam narasi. Keberagaman ini mencakup perbedaan kasta, kelas sosial, hingga ribuan dialek yang menjadikan India sebuah benua kebudayaan tersendiri.
Namun demikian, kritik tetap relevan. Beberapa akademisi dalam kajian poskolonial menilai bahwa film tentang India yang dibuat oleh Barat kerap mereproduksi “pandangan luar” yang eksotis dan kadang bias. Ini adalah apa yang sering disebut Edward Said sebagai Orientalisme, di mana Timur dikonstruksikan sebagai tempat yang eksotis, irasional, dan perlu "dijelaskan" oleh Barat. Sementara itu, film lokal pun tidak selalu bebas dari kritik, terutama ketika terlalu terjebak dalam formula komersial dan mengabaikan realitas sosial yang lebih kompleks demi mengejar angka box office.
Perbedaan antara “film India” dan “film tentang India” bukanlah sekadar kategori, melainkan cermin dari siapa yang berbicara, dari mana ia berbicara, dan untuk siapa cerita itu disampaikan. Apakah kamera digunakan sebagai jendela untuk memahami, atau sekadar cermin untuk memantulkan prasangka sendiri. Namun jika harus bertanya apakah cerita sebuah tempat hanya bisa diceritakan oleh mereka yang lahir di dalamnya, ataukah justru makna sebuah tempat menjadi lebih kaya ketika dilihat dari berbagai sudut pandang?
Mungkin, seperti halnya India itu sendiri yang penuh lapisan, kontradiksi, dan keberagaman, sinema tentangnya pun tak pernah bisa tunggal. Ia selalu menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman, tafsir, dan imajinasi. Sejatinya, kebenaran sebuah cerita tidak terletak pada paspor sang sutradara, melainkan pada kejujuran nurani saat membingkai realitas manusia yang universal di balik latar geografis yang spesifik. Di sana, kita tidak lagi hanya melihat "India", melainkan melihat diri kita sendiri dalam cermin kemanusiaan yang lebih luas. (Sal)