Kebangkitan atau keruntuhan total, benarkah itu nasib Islam di masa depan? Pertanyaan ini bukan sekadar wacana akademik, melainkan sebuah kegelisahan eksistensial yang mendalam. Jika keruntuhan total yang menanti, lantas apa gejalanya? Dan jika kebangkitan yang akan datang, bagaimana pembuktiannya?
Namun, jika kita berbicara tentang realitas saat ini—ketika vitalitas budaya Islam tampak terkuras oleh utilitarianisme tandus yang tanpa malu "menumpang" pada keberhasilan ilmiah bangsa lain—muncul keraguan: apakah ini yang dimaksud dengan polemik Islamisasi Ilmu? Begitu pula ketika kita merayakan materialisme primitif—apakah ini juga mengonfirmasi bahwa ekonomi syariah tak lebih dari sekadar "perpanjangan" kapitalisme yang melulu terjebak di sektor moneter? Inilah labirin pertanyaan yang dilontarkan oleh Ali A. Allawi.
Allawi, seorang Profesor peneliti di National University of Singapore sekaligus penulis buku peraih “Book Prize Winner” dari The Washington Institute, mengajukan pertanyaan provokatif: kapankah dunia Islam terakhir kali menghasilkan karya ilmiah, intelektual, atau sastra yang memiliki pengaruh luas secara global? Dalam bukunya, The Crisis of Islamic Civilization, Allawi menegaskan bahwa kemajuan fisik yang tanpa dibarengi kedalaman intelektual-spiritual hanyalah sebatas fatamorgana peradaban.
Sebagai sebuah agama, Islam kini memang menduduki posisi sentral dalam kehidupan miliaran manusia dan terbukti tangguh menghadapi gempuran ateisme maupun sekularisme. Namun, Islam juga adalah sebuah peradaban. Persoalannya, menurut Allawi—yang pada 1997 menjadi dosen tamu di ISTAC, Kuala Lumpur, di bawah pimpinan Syed Naquib Al-Attas—"perwujudan Islam sebagai sebuah peradaban kini tengah mengalami krisis monumental." Umat Islam seakan-akan sedang dihadapkan pada persimpangan jalan yang menentukan: apakah akan bangkit kembali, atau justru menuju keruntuhan total.
Tetapi kata Komarudin Hidayat, agama punya seribu nyawa. Agama punya universalitas abadi yang mematri pada akal insani yang mengabadi di kitab suci. Memang penganutnya dapat saja tergilas atau melemparkan bom atas nama jihad. Bila umat diam dan terus bertengkar sektarian dan saling berebut jawab pinggiran Islam, maka hal yang wajar akan membawa pada krisis mutakhir Islam yang sangat menentukan. Konsekuensinya hanya dua, antara bangkit kembali atau lenyap seutuhnya. Itulah barangkali karena kita terlalu lama dipeluk oleh keterbelakangan mental, guyah pikiran, dan muramnya hati.
Testimoni The Economist untuk buku Allawi mencatat, “..dengan cermat Allawi mendekonstruksi ide kebangkitan Islam yang sampai sekarang belum berhasil membuktikan janji-janjinya.” Namun, ia juga membongkar dan menunjukkan bagaimana upaya-upaya dari beberapa kelompok muslim yang dengan caranya masing-masing, mulai dari kaum modernis, revivalis, tradisionalis, sekularis, liberalis, hingga fundamentalis, hingga Islam politis, yang telah menemui kegagalan yang sama dalam “membangkitkan” Islam.
Sejarah mencatat pergerakan ini dalam spektrum yang luas. Yang Modernis (diwakili: Muhammad Abduh, Jamaludin Al-Afghani), yang Revivalis (diwakili: Muhammad bin Abdul Wahab), Neo-Modernis (diwakili: Fazlur Rahman, Hasan Hanafi), yang Tradisional (adalah ulama klasik, salafiyah), yang Neo-Tradisonalis (adalah: Syed Hossein Nasr, William Chittick), yang Sekular (dianggap: Nurcholish Madjid), yang Liberal (apakah: Nasr Abu Zayd), hingga fundamentalis (mungkin: Osama bin Laden, Taliban), hingga Islam politis (kelompok: Hizbuz Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Jemaat el-Islami) ingin unjuk bukti “Janji-janji Islam” seperti yang dikata Roger Garaudy.
Ketika siasat jalan dan bertubi-tubi Islam terus menerima pukulan yang menggoyahkan, terutama dari ekspansi Barat dengan kolonialisme dan imperialisme, dengan modernitas dan universalitas, dan terakhir adalah globalisasi dan melimpahnya informasi, arah peradaban ini kian kabur. Menurut intelektual terkemuka asal Irak ini, pada pokoknya kenapa para pendahulu bertemu jalan buntu adalah karena kita telah melepaskan simpul yang ritual (unsur syariat) dengan yang spiritual (unsur hakikat). Lalu apakah pula ini karena sekularisme dan juga orientalisme?
Saya teringat pada uraian Abdul Munir Mulkhan tentang “Islam Sejati Kiai Ahmad Dahlan” yang katanya berbeda Muhammadiyah dulu dan sekarang. Spiritualitas yang coba dibangun KH Ahmad Dahlan sejak awal, tetapi sekarang yang mendominasi adalah apa yang melingkar di “Majelis Tarjih”. Saya juga teringat pada Rumi, pada Ibnu Arabi, pada Ibnu Rusyd, yang pemikiran-pemikirannya dipelajari, diserap, dan dikembangkan Barat. Tetapi apakah Barat mempelajarinya karena ada “sensasi” di masa mereka hidup?
Misalnya jika berbicara Ibnu Rusyd yang di zamannya pernah dituduh murtad, yang entah karena rasionalisme-nya yang membawa kita hari ini masuk kubangan materialisme, ataukah sama pula Rumi yang lebih dipuja Barat ketimbang di tanah muslimnya karena dianggap berkampanye kredo “semua agama sama”, atau sama pula Ibnu Arabi yang digugat kafir, yang padahal kalau dipelajari dan dikembangkan lebih jauh dengan benar cara memahami perlambangnya, gagasan dan pemikirannya boleh jadi sebagai bahan buat menjawab tumpukan pertanyaan eksistensial yang lahir di hidup kita yang kompleks dewasa ini.
Banyak kekayaan tradisional kita yang dapat kita kembangkan ketimbang harus terbius New Age-nya Barat, begitu kurang lebih kata Syed Hossein Nasr, yang dengan penyanyi pop muslim Sami Yusuf berduet di album “Songs of the Way”. Meski guna membendung singular pemikiran liberal, kini muncul pembela-pembela yang mengatakan bahwa maksud Rumi, maksud Ibnu Arabi, dan maksud Ibnu Rusyd adalah begini, bukan begitu sebagaimana pegangan kaum liberal.
Jika masalahnya adalah spiritual, jika harus berbicara spiritual kita perlu menelusuri ke awal sejarah Islam, untuk kita mengingat pada madrasah pertama, madrasah “Al-Suffah” di sekitar Rasulullah, sebagai ruang sekolah pertama Islam yang dibangun Rasul, yang hanya kemudian sering diidentikkan pada laku kesufian. Saya kira itulah sejatinya Islam sebagai aksi keruhanian dan etika egalitarian. Karena sesungguhnya Rasul diutus untuk menyempurnakan perilaku dan tentang laku yang realis.
Namun, mapannya keilmuan tasawuf yang berporos pada Al-Suffah ini, oleh para pengusung kemurnian sering dianggap sebagai barang baru atau tambahan dalam Islam. Maka tantangannya bagaimana bisa sesederhana itu mereka menyimpulkan demikian? Apakah mungkin karena kita dan mereka tak ingin bersusah payah berpikir dan hanya berpijak pada jawaban sebatas itu. Karena mungkin toh jika mempelajarinya malah menambah bingung, toh kita sebagai manusia hanya bisa berspekulasi dan tak bisa mendefinisikan berbagai keadaan yang entah runyam, tentram, atau merisaukan.
Namun bagi Allawi, pengembaraan intelektualnya bermuara pada satu kesimpulan fundamental bahwa peradaban Islam mustahil untuk bangkit kembali tanpa menghidupkan aspek spiritualitas yang pernah menjadi nyawanya. Sejarah mencatat bahwa yang menjadi poros penggerak kegemilangan Islam di masa lalu bukanlah sekadar akumulasi materi atau ekspansi kekuasaan, melainkan kedalaman spiritualitas yang mendasari setiap napas peradaban tersebut.
Dan bagi saya, koordinat spiritualitas itu terpeta dengan jelas pada “Al-Suffah”. Ia bukan sekadar emperan masjid, melainkan poros lingkaran dasar, sebuah titik nol tempat nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan ditempa secara bersamaan. Al-Suffah adalah prototipe dari sebuah masa depan peradaban yang berakar pada kesahajaan, ketulusan ilmu, dan pengabdian yang melampaui kepentingan diri sendiri.
Maka membangun masa depan peradaban Islam adalah dengan kembali ke semangat Al-Suffah, yang berarti melakukan dekonstruksi terhadap cara kita memandang kemajuan. Di tengah riuh rendah digitalisasi dan ambisi ekonomi syariah yang seringkali hanya memoles wajah kapitalisme, Al-Suffah menawarkan jalan pulang ke arah egalitarianisme sejati. Sebuah tempat di mana ilmu tidak dikejar untuk kepentingan utilitarian semata, melainkan untuk menyempurnakan akhlak dan memanusiakan manusia.
Dengan demikian, kebangkitan yang kita impikan bukanlah tentang seberapa megah gedung-gedung pencakar langit di tanah Muslim, atau seberapa masif kita mengadopsi teknologi Barat. Kebangkitan sejati adalah ketika simpul ritual dan spiritual kembali menyatu dalam laku hidup sehari-hari. Jika poros Al-Suffah ini kembali kita letakkan di jantung pendidikan dan kebudayaan kita, maka krisis monumental yang dikhawatirkan Allawi mungkin akan berubah menjadi sebuah fajar baru.
Sebab, sejarah telah membuktikan bahwa agama—dengan seribu nyawanya—selalu memiliki cara untuk bangkit dari puing-puing materialisme. Tugas kita sekarang bukan lagi sekadar bertanya kapan Islam akan kembali memimpin dunia, melainkan bertanya sejauh mana kita telah menjauh dari poros spiritualitas kita sendiri? Di Al-Suffah, jawaban itu dimulai dengan kesahajaan yang agung dan keteguhan jiwa yang tak tergoyahkan. (Sal)