Beberapa waktu lalu, ruang digital kita sempat riuh oleh potongan-potongan uraian dari seminar yang disampaikan oleh dr. Aisyah Dahlan. Perdebatan mencuat ketika pandangannya, atau yang dianggap publik sebagai dukungannya terhadap poligami dikaitkan dengan pendekatan sains, khususnya mengenai perbedaan struktur otak dan hormon antara laki-laki dan perempuan. Dr. Aisyah menjelaskan bahwa secara biologis, laki-laki memiliki bagian otak yang disebut hipotalamus yang berukuran 2,5 kali lebih besar daripada perempuan. Karena hipotalamus bertugas mengatur libido atau dorongan seksual, pernyataan ini kemudian ditafsirkan secara luas oleh publik sebagai pembenaran ilmiah bahwa poligami adalah sesuatu yang "sah" secara biologi.
Diskusi ini pun bergulir liar. Narasi bahwa “laki-laki wajar ingin memiliki banyak istri karena naluri alam” menjadi argumen yang kerap muncul, baik dalam obrolan santai di warung kopi maupun debat serius mengenai relasi gender di ruang akademik. Klaim tersebut biasanya bersandar pada dua landasan utama: biologi evolusi sebagai basis ilmiah dan legitimasi moral atau religius sebagai basis etis. Namun, di sinilah letak pertanyaan krusialnya tentang sejauh mana sains benar-benar mendukung anggapan ini, dan apakah kita sedang menyederhanakan kompleksitas manusia demi pembenaran impulsif?
Dalam literatur evolusi populer, salah satu referensi yang sering disebut adalah konsep dari Richard Dawkins mengenai "The Selfish Gene" bahwa gen adalah unit seleksi utama dalam evolusi. Ide ini kemudian sering kali disederhanakan secara serampangan menjadi asumsi bahwa laki-laki secara biologis “dirancang” untuk menyebarkan gen seluas mungkin (promiskuitas). Narasi ini tampak logis di permukaan, memberikan kesan bahwa poligami adalah "desain pabrik" manusia. Namun, realitas ilmiah jauh lebih berlapis dan kompleks daripada sekadar slogan biologi yang reduktif.
Dalam perspektif biologi evolusi, memang terdapat konsep bahwa perbedaan investasi reproduksi (parental investment) dapat memengaruhi strategi kawin. Produksi sperma yang secara biologis relatif "murah" dan melimpah jika dibandingkan dengan investasi perempuan yang sangat besar, mulai dari ovum yang terbatas, masa kehamilan sembilan bulan, hingga proses menyusui, membuat sebagian teori evolusi memprediksi adanya kecenderungan laki-laki untuk mencari lebih dari satu pasangan.
Antropolog dan ahli evolusi sering menyebut fenomena ini sebagai bagian dari variasi strategi reproduksi yang ditemukan di banyak spesies, termasuk primata yang merupakan kerabat dekat manusia. Catatan para antropologis pun menunjukkan bahwa poligini (satu laki-laki dengan beberapa perempuan) muncul di berbagai masyarakat sepanjang sejarah manusia, terutama dalam struktur yang membutuhkan tenaga kerja besar atau ekspansi populasi.
Namun, para ilmuwan menekankan dengan sangat tegas bahwa keberadaan pola tersebut bukan berarti ia adalah satu-satunya strategi yang “alami” atau dominan. Evolusi manusia justru menunjukkan fleksibilitas strategi relasi yang luar biasa. Monogami, serial monogamy (berganti pasangan setelah hubungan berakhir), dan berbagai bentuk ikatan lainnya semuanya pernah muncul dan bertahan yang selalu bergantung pada kondisi sosial, ekonomi, serta ekologi tempat kelompok manusia itu hidup.
Psikolog evolusi Steven Gangestad dan Jeffry Simpson bahkan mengemukakan teori “strategic pluralism,” yang menyatakan bahwa manusia mengembangkan berbagai strategi relasi secara simultan, bukan satu model universal. Strategi ini sangat bergantung pada konteks lingkungan. Misalnya, dalam lingkungan di mana sosok ayah sangat krusial bagi kelangsungan hidup anak, monogami justru menjadi strategi yang lebih unggul secara evolusioner.
Dengan kata lain, sains tidak pernah memberikan fatwa mutlak bahwa poligami adalah takdir biologis yang tak terhindarkan. Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat manusia selalu berusaha mengatur dorongan biologis melalui norma sosial, hukum, dan agama. Banyak sistem moral muncul bukan untuk mengikuti naluri secara mentah, melainkan justru untuk menertibkannya agar tidak terjadi anarki sosial. Beberapa penelitian sosiologi dan antropologi menunjukkan bahwa praktik poligami dalam berbagai peradaban sering diatur secara sangat ketat karena dampaknya yang signifikan terhadap stabilitas sosial dan struktur keluarga.
Dalam konteks teologis, seperti dalam Islam, sejumlah peneliti kontemporer menilai bahwa poligami lebih tepat dipahami sebagai “dispensasi kontekstual” untuk memecahkan masalah sosial tertentu pada masanya, bukan sebuah ideal universal yang harus dikejar. Interpretasi modern bahkan menekankan bahwa monogami lebih sesuai dengan prinsip keadilan ('adalah) dan keseimbangan relasi dalam masyarakat kontemporer yang menjunjung kesetaraan. Hal ini menegaskan bahwa agama dan norma sosial berfungsi sebagai mekanisme kontrol terhadap potensi konflik dan kecemburuan sosial yang ditimbulkan oleh dorongan biologis murni.
Masalah mendasar muncul ketika teori evolusi digunakan secara reduktif untuk membenarkan perilaku sosial tertentu. Mengatakan bahwa poligami adalah “kodrat alamiah laki-laki” sering kali secara sengaja mengabaikan fakta bahwa manusia memiliki kapasitas kognitif yang sangat tinggi, termasuk kemampuan untuk mengendalikan impuls. Ahli saraf menegaskan bahwa manusia bukan sekadar makhluk instingtif seperti reptil. Perkembangan “neokorteks” adalah bagian otak yang memungkinkan refleksi moral, empati, dan perencanaan jangka panjang, adalah kemampuan yang justru membedakan manusia dari spesies lain. Kita memiliki kemampuan untuk berkata "tidak" pada dorongan biologis jika itu melanggar prinsip moral atau menyakiti orang lain.
Oleh karena itu, menyederhanakan perilaku sosial yang kompleks menjadi sekadar dorongan genetik atau ukuran hipotalamus berisiko menyesatkan. Evolusi tidak menentukan pilihan individu secara absolut. Tapi hanya menyediakan kecenderungan probabilistik atau potensi. Di era modern ini, faktor ekonomi, kepastian hukum, dan kesadaran akan kesetaraan gender memainkan peran jauh lebih besar dalam membentuk praktik relasi dibandingkan sekadar urusan hormon.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa praktik poligami kontemporer seringkali bahkan memicu persoalan psikologis dan sosial yang pelik, terutama terkait rasa tidak adil di kalangan istri dan dampak kesejahteraan psikis pada anak-anak. Ini menegaskan bahwa keputusan relasi manusia tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial yang terus berubah secara dinamis. Apa yang mungkin dianggap adaptif dalam masyarakat agraris atau struktur kerajaan masa lalu, di mana populasi adalah aset perang dan tenaga kerja, belum tentu relevan atau etis dalam masyarakat urban modern yang kompleks dan berbasis hak asasi manusia.
Melihat poligami dari sudut pandang sains yang komprehensif justru membuka perspektif baru yang lebih tenang, dalam, dan rasional. Ia bukan lagi sekadar persoalan moral hitam-putih, bukan pula sekadar soal “nafsu setan” atau “kodrat suci.” Poligami adalah fenomena multidimensi, sebuah hasil interaksi yang rumit antara biologi, sejarah panjang peradaban, konstruksi budaya, dan pilihan sadar individu.
Memahami mekanisme evolusi dan struktur otak mungkin membuat kita lebih empatik terhadap kompleksitas motif manusia. Tetapi pemahaman itu sekaligus memberikan tamparan reflektif bagi kita bahwa manusia tidak harus tunduk pada setiap dorongan purba yang diwariskan oleh gen jutaan tahun lalu. Sains tidak memberi perintah atau mandat tentang bagaimana kita harus menjalani hidup. Sains hanya menjelaskan kemungkinan dan cara kerja.
Pilihan tetap berada pada tangan masing-masing manusia. Apakah kita ingin menjadi budak dari naluri tanpa refleksi, atau menggunakan akal budi dan empati untuk membangun bentuk relasi yang lebih adil, stabil, dan beradab? Kebahagiaan sejati dalam sebuah hubungan mungkin tidak ditemukan dalam jumlah pasangan, melainkan dalam kedalaman komitmen dan kualitas keadilan yang kita berikan kepada mereka yang kita cintai. (Red)