Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama TNI, Polri, BPBD dan unsur terkait menguji metode injeksi air ke lapisan gambut untuk memadamkan bara kebakaran bawah permukaan di kawasan sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada akhir Agustus hingga awal September 2026, ketika karhutla masih mengancam sejumlah wilayah dan api di gambut terus menyala meski permukaan terlihat telah padam.
Di kawasan Guntung Damar, Tegal Arum,Bandara Syamsudin Noor, dan Pengayuan, persoalannya memang bukan lagi sekadar kobaran api yang terlihat mata. Sebagian persoalan berada di bawah permukaan masih ada bara yang merambat di dalam lapisan gambut, yang menghasilkan asap dan sewaktu-waktu dapat kembali muncul ke permukaan.
Di situlah metode yang kemudian disebut gambut injection atau injeksi air mencoba mencari celah. Melalui pipa besi yang ditanam hingga sekitar dua meter ke dalam gambut. Air kemudian dialirkan langsung ke lapisan bawah tanah yang diduga masih menyimpan bara. Dalam pengembangan yang dilakukan Polda Kalimantan Selatan, air tersebut dicampur cairan khusus berbahan dasar Methyl Ester Sulfonate (MES) yang diracik oleh Bidang Laboratorium Forensik Polda Kalsel.
Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan mengatakan metode tersebut dikembangkan karena pemadaman dari permukaan tidak selalu mampu menjangkau sumber panas di bawah tanah. "Lahan di bawahnya ini berupa gambut. Ketika bagian atas dipadamkan, bawah tanahnya masih membara."
Menurut Rosyanto, pada pengujian di lapangan ketika pipa khusus ditanam hingga sekitar dua meter agar air dapat langsung diarahkan ke titik panas adalah metode yang cukup mampu menurunkan suhu tanah dan menghentikan asap dari bara bawah permukaan. Polda Kalsel kemudian mengembangkan penggunaan metode itu bersama TNI, pemerintah daerah, BPBD dan GAPKI.
Dalam uji coba empat hari pada 27-30 Agustus 2026, area sekitar lima meter dari titik penyuntikan dilaporkan mengalami penurunan suhu secara signifikan. Sebanyak 50 pipa suntik dan sejumlah kolam bioflok juga disiapkan untuk memperluas penanganan. Kapolda kemudian kembali melakukan penyuntikan di Pengayuan pada 1 September dan mengatakan beberapa lokasi yang permukaannya telah terbakar masih mengeluarkan asap karena bara belum sepenuhnya mati.
"Maka dari itu, suntik gambut dinilai menjadi cara paling efektif untuk pembasahan dari dalam." Pihak kepolisian juga menyatakan formula cairan khusus tersebut masih dikembangkan untuk memperbesar kapasitas produksi.
Namun, keberhasilan sebuah metode di satu lokasi tidak otomatis berarti persoalan karhutla gambut telah menemukan jawaban universal. Gambut merupakan timbunan bahan organik yang terbentuk dalam kondisi jenuh air selama waktu yang sangat panjang. Ketika tetap basah, gambut relatif sulit terbakar. Masalah muncul ketika sistem hidrologinya terganggu, muka air tanah turun dan lapisan gambut mengering.
Ketika terbakar, api tidak selalu bergerak seperti kebakaran vegetasi biasa. Ia dapat berubah menjadi smouldering fire, yakni pembakaran membara yang berlangsung perlahan di bawah permukaan. Bara dapat bertahan tanpa menghasilkan nyala besar, tetapi menjalar melalui lapisan organik dan kemudian muncul kembali ketika dianggap telah padam.
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo, menjelaskan karakter inilah yang membuat kebakaran gambut sulit ditaklukkan. "Sulitnya pemadaman karhutla di Kalimantan berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan."
Karena itu, api yang tidak lagi terlihat dari atas belum tentu berarti kebakaran telah selesai. Penelitian Lailan Syaufina bersama Atfi Indriany Putri juga menunjukkan adanya hubungan antara tinggi muka air tanah dan potensi kebakaran gambut. Dalam studi di Bengkalis, penurunan tinggi muka air berkorelasi dengan meningkatnya hotspot. Dengan kata lain, persoalan air bukan sekadar persoalan saat memadamkan api, tetapi bagian penting dari persoalan mengapa gambut menjadi mudah terbakar sejak awal.
Suntik air memang punya dasar ilmiah. Metode injeksi air bukan semata-mata eksperimen yang muncul secara spontan di Banjarbaru. Penelitian laboratorium yang diterbitkan dalam Alexandria Engineering Journal pada 2022 menguji penyuntikan air langsung ke titik panas bawah permukaan menggunakan sampel gambut dari Papua dan Jambi. Penelitian itu menemukan injeksi air lebih efisien dibanding penyemprotan air dari permukaan dalam konteks eksperimen yang dilakukan. Waktu pemadaman dengan injeksi tercatat sekitar separuh waktu yang dibutuhkan metode penyemprotan, sementara kebutuhan air untuk pemadaman penuh berbeda menurut karakter gambut.
Temuan tersebut memberi dasar ilmiah bahwa mengarahkan air langsung ke sumber bara memang masuk akal. Tetapi ada catatan penting. Penelitian tersebut dilakukan dalam skala laboratorium dan direkomendasikan terutama untuk mitigasi awal kebakaran gambut. Satt kondisi lapangan sudah jauh lebih kompleks dengan ketebalan gambut yang berbeda, sumber air terbatas, titik bara sudah tersebar, medan sulit dijangkau, dan api bawah tanah dapat bergerak lebih luas daripada titik yang terlihat di permukaan.
Penelitian lain di Universitas Indonesia bahkan menemukan bahwa pada eksperimen tertentu, injeksi air hanya berdampak pada gambut terbakar yang berdekatan dengan perangkat injeksi. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya seberapa banyak air yang digunakan, melainkan seberapa tepat titik injeksi ditempatkan dan seberapa luas jaringan bara yang mampu dijangkau.
Menyebut suntik gambut sebagai teknologi yang efektif perlu juga disertai pertanyaan seberapa jauh efektifnya untuk apa, pada kondisi seperti apa, dan pada skala kebakaran sebesar apa. Dengan itu ujian di lapangan akan menjadi bukti final.
Pemerintah daerah memiliki alasan untuk mencoba pendekatan tersebut. Kebakaran di sekitar Bandara Syamsudin Noor bukan hanya persoalan lingkungan. Kawasan tersebut merupakan objek vital yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan dan aktivitas masyarakat.
Lanud Sjamsudin Noor juga menyatakan metode injeksi air ditujukan untuk mendinginkan bara yang tidak mudah dijangkau melalui pemadaman konvensional. Pipa sekitar dua meter dimasukkan ke lapisan gambut, lalu air dialirkan ke bawah permukaan.
Kementerian Pekerjaan Umum pada awal September juga membantu pembasahan lahan gambut di Kalsel melalui pengerahan pompa dan normalisasi embung untuk memastikan ketersediaan air bagi operasi pemadaman dan pembasahan gambut. Pendekatan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu teknologi yang mampu berdiri sendiri.
Pipa suntik dapat menjangkau bara bawah tanah. Pompa menyediakan air. Embung menjaga pasokan. Pemadaman darat menangani api permukaan. Water bombing membantu lokasi yang sulit dijangkau. Pemantauan thermal membantu menemukan panas tersembunyi.
Teknologi menjadi efektif ketika ditempatkan dalam sistem penanganan yang lebih besar. Namun masalahnya bukan hanya memadamkan api. Kritik terhadap pendekatan pemadaman menjadi relevan. Putra Saptian, Juru Kampanye Pantau Gambut, mengingatkan bahwa kemarau seharusnya tidak ditempatkan sebagai satu-satunya penyebab karhutla. Menurutnya, kemarau lebih tepat dipahami sebagai pemicu dari persoalan yang lebih panjang.
"Sebab, kemarau hanya pemicu, sedangkan akar persoalan sebenarnya ialah buruknya tata kelola ekosistem gambut." Ia mengingatkan bahwa selama kanal, alih fungsi gambut, dan hilangnya tutupan alami terus berlangsung, ekosistem gambut akan tetap rentan terbakar ketika kondisi mengering. "Selama kebijakan pembangunan masih membiarkan degradasi gambut berlangsung, siklus karhutla akan terus berulang."
Pandangan tersebut tidak berarti metode suntik harus ditolak. Satu metode perlu ditempatkan secara proporsional sebagai instrumen pemadaman, bukan pengganti pencegahan dan pemulihan ekosistem. Sebab jika gambut terus dikeringkan, maka pemerintah akan selalu berada dalam siklus yang sama untuk saatnya kembali api muncul, lalu mengerahkan pasukan, mencari sumber air, mengirim helikopter, menyuntik tanah, memadamkan asap, sebagai hal serupa ketika musim kemarau berikutnya datang.
Skala persoalan nasional memperlihatkan mengapa perdebatan tersebut penting. Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla nasional Januari-Juli 2026 mencapai sekitar 202.004 hektare. Sekitar 57 persen berada di kawasan hutan dan 43 persen berada di areal penggunaan lain. Angka itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2019 maupun 2023, meskipun masih jauh di bawah kondisi 2015.
Pemerintah mengaitkan meningkatnya risiko dengan fenomena El Nino yang pada 2026 datang lebih cepat dan telah mencapai intensitas sangat kuat. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius. "El Nino saat ini berada pada intensitas yang sangat kuat yang harus kita garis bawahi." Namun pemerintah juga menegaskan bahwa pada 2026 masih jauh di bawah periode El Nino 2015.
Di Kalimantan Barat, luas karhutla Januari-Agustus telah mencapai sekitar 38.310,86 hektare berdasarkan data BPBD setempat. Sementara di Kalimantan Tengah, data pemerintah daerah menunjukkan luas lahan terbakar sekitar 7.634 hektare, dengan puluhan ribu hotspot terpantau sepanjang 2026.
Angka-angka tersebut mengingatkan bahwa apa yang terjadi di Banjarbaru bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Belum lagi Papua Selatan jangan sampai sebatas catatan kaki. Wilayah yang kerap luput dari perhatian ketika pembicaraan tentang karhutla terlalu terpusat pada Sumatera dan Kalimantan, sedangkan di Indonesia Timur terabaikan.
Kementerian Kehutanan mencatat Papua Selatan sudah masuk lima provinsi dengan luas karhutla terbesar pada Januari-Juni 2026, dengan 6.282 hektare. Namun sumber data lain menunjukkan gambaran yang lebih besar. Data Kementerian Kehutanan yang diperoleh pemerintah Papua Selatan mencatat luas karhutla Januari-Juli mencapai 25.838 hektare.
Sementara analisis Area Indikatif Terbakar oleh MADANI Berkelanjutan memperkirakan Papua Selatan memiliki sekitar 41.789 hektare area terindikasi terbakar sepanjang Januari-Juli 2026. Perbedaan angka tersebut penting dipahami karena masing-masing menggunakan metodologi dan definisi yang berbeda. Area indikatif terbakar dari citra satelit tidak selalu identik dengan luas karhutla yang telah diverifikasi di lapangan.
Tetapi pesan besarnya sama bahwa Papua Selatan tidak lagi layak dipandang sebagai wilayah pinggiran dalam peta karhutla Indonesia. Di wilayah tersebut, musim kering hanya memiliki karakter berbeda. Musim kering baru dimulai sekitar Juni atau Juli dan dapat berlangsung hingga Desember. Karena itu, pola pencegahan yang terlalu berorientasi pada kalender Sumatera dan Kalimantan berisiko tidak tepat ketika diterapkan begitu saja di Papua Selatan.
Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa pun mengingatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja lintas sektor dan keterlibatan masyarakat adat. "Pengendalian kebakaran hutan bukan merupakan tanggung jawab satu instansi atau satu pemerintah daerah."
Karena itu, inovasi suntik gambut patut diapresiasi, tetapi juga perlu diuji secara terbuka. Berapa luas area yang benar-benar dapat dipadamkan dengan satu pipa dan berapa banyak air yang dibutuhkan. Seberapa jauh radius pendinginan efektif dan berapa lama gambut tetap dingin setelah penyuntikan. Apakah bara benar-benar mati atau hanya kehilangan panas sementara dan bagaimana efektivitas cairan tambahan seperti MES dibandingkan air biasa.
Apakah formula tersebut aman bagi ekosistem gambut, air tanah, mikroorganisme, tumbuhan dan masyarakat di sekitarnya dan yang tidak kalah penting berapa biaya metode tersebut jika diterapkan pada kawasan kebakaran yang luasnya mencapai ratusan atau ribuan hektare.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap inovasi. Pertanyaan itu diperlukan agar sebuah inovasi tidak berhenti sebagai demonstrasi yang mengesankan di satu lokasi, tetapi dapat berkembang menjadi teknologi penanggulangan bencana yang benar-benar terukur. Karena studi terbaru mengenai kebakaran gambut kembali menegaskan bahwa kebakaran bawah permukaan merupakan persoalan yang sulit karena sifatnya tersembunyi dan dapat kembali menyala setelah pemadaman yang tidak tuntas.
Dengan demikian, persoalan karhutla gambut bukan hanya tentang bagaimana manusia memenangkan pertarungan melawan api, melainkan juga tentang bagaimana manusia memperlakukan air, tanah dan ruang hidup sebelum api muncul. Pipa yang ditancapkan dua meter ke dalam tanah mungkin menghadirkan gambaran yang kuat bahwa kita sudah mencoba menjangkau api yang tidak terlihat.
Tetapi gambaran itu sekaligus menyimpan ironi. Kita baru bersusah payah memasukkan air kembali ke dalam gambut setelah sebelumnya banyak kawasan kehilangan airnya. Kita baru sibuk mencari bara setelah ekosistemnya terlanjur mengering. Kita baru menghitung asap setelah masyarakat menghirupnya.
Keberhasilan suntik gambut semestinya tidak diukur hanya dari seberapa cepat suhu tanah turun atau seberapa cepat asap menghilang. Ukuran keberhasilan yang lebih besar apakah setelah api padam, gambut kembali memiliki kondisi hidrologis yang membuatnya tidak mudah terbakar.
Teknologi pemadaman adalah jawaban untuk api hari ini. Restorasi hidrologi, perlindungan kawasan, penegakan hukum dan tata kelola lahan adalah jawaban untuk api yang mungkin datang esok hari. Jika pemerintah hanya berhasil memadamkan bara tetapi gagal menjaga gambut tetap basah, maka perang melawan karhutla hanya akan menjadi pekerjaan yang berulang setiap musim kemarau. (Red)