Piala Dunia 2026 resmi dimulai pada Kamis (11/6/2026) di Stadion Azteca, Meksiko, dengan laga pembuka yang mempertemukan tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan. Turnamen yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara (Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada), serta melibatkan 48 tim peserta ini seharusnya menjadi perayaan terbesar dalam sejarah sepak bola. Namun sejak sebelum peluit pertama dibunyikan, berbagai persoalan mulai dari penolakan visa, mahalnya harga tiket, hingga aksi protes sosial telah membayangi pesta olahraga empat tahunan tersebut.
Gemerlap upacara pembukaan yang menampilkan penyanyi internasional Shakira dan Burna Boy sempat menghadirkan suasana meriah di Stadion Azteca yang dipadati lebih dari 80 ribu penonton. Meksiko kemudian membuka turnamen dengan kemenangan 2-0 atas Afrika Selatan.
Sementara di luar stadion, di kawasan Plaza Zócalo sebagai salah satu titik kumpul suporter terbesar di Kota Meksiko, aparat keamanan memasang pagar penghalang untuk mengantisipasi demonstrasi kelompok guru yang menuntut kenaikan upah dan reformasi sistem pensiun. Aksi serupa telah berlangsung beberapa kali menjelang pembukaan turnamen. Fenomena tersebut memperlihatkan kontras yang sering muncul dalam penyelenggaraan ajang olahraga berskala global. Ketika sorotan dunia tertuju pada perayaan olahraga, persoalan sosial dan ekonomi lokal tetap berlangsung di balik panggung.
Piala Dunia 2026 menjadi tonggak baru bagi FIFA. Untuk pertama kalinya jumlah peserta meningkat dari 32 menjadi 48 negara. Total pertandingan juga bertambah menjadi 104 laga yang berlangsung hingga 19 Juli mendatang.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya menyebut format baru ini akan menjadikan Piala Dunia sebagai perayaan global yang lebih inklusif. Dalam pernyataan yang dipublikasikan FIFA setahun lalu, Infantino mengatakan bahwa turnamen ini akan "memikat dunia seperti belum pernah terjadi sebelumnya" dan menjadi simbol persatuan lintas negara.
Namun narasi tentang inklusivitas itu justru diuji sejak hari-hari awal turnamen. Salah satu isu yang paling banyak menyita perhatian adalah persoalan visa dan akses masuk ke Amerika Serikat, yang menjadi tuan rumah mayoritas pertandingan. Kasus yang paling disorot adalah penolakan masuk terhadap wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan. Padahal, ia telah ditunjuk FIFA sebagai salah satu ofisial pertandingan dan memiliki visa yang sah. Otoritas Amerika Serikat menyatakan keputusan tersebut berkaitan dengan hasil pemeriksaan keamanan dan kebijakan imigrasi yang berlaku.
Selain Artan, sejumlah ofisial tim nasional Iran juga dilaporkan mengalami kendala visa menjelang turnamen. Pemerintah Amerika Serikat membela kebijakan tersebut dengan alasan keamanan nasional, sementara FIFA menegaskan bahwa keputusan imigrasi berada sepenuhnya di tangan negara tuan rumah.
Dalam konferensi pers menjelang pembukaan turnamen, Infantino menolak anggapan bahwa FIFA dapat mengintervensi kebijakan pemerintah. "Kami bukan raja dunia. Kami tidak bisa menentukan siapa yang boleh masuk ke suatu negara," kata Infantino. Kritik datang dari kalangan pemerhati sepak bola yang menilai pembatasan tersebut bertentangan dengan semangat universal olahraga. Kasus Omar Artan bahkan memicu solidaritas internasional. UEFA kemudian menunjuknya sebagai wasit pada laga Piala Super Eropa sebagai bentuk pengakuan atas profesionalismenya.
Kontroversi lain yang masih bergulir adalah harga tiket yang dinilai terlalu mahal. Kelompok suporter Eropa, Football Supporters Europe (FSE), telah mengajukan keluhan resmi terhadap FIFA terkait kebijakan harga dan sistem "dynamic pricing" yang membuat harga tiket berubah sesuai permintaan pasar. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menghambat akses penggemar biasa untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.
Kritik tersebut semakin menguat setelah sejumlah pertandingan awal memperlihatkan kursi kosong di stadion, termasuk pada laga Korea Selatan melawan Republik Ceko di Guadalajara. Banyak pengamat menilai harga tiket yang tinggi menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Sekretaris Jenderal FSE, Ronan Evain, sebelumnya menyebut kebijakan FIFA telah menciptakan kondisi yang tidak berpihak kepada suporter. Sementara FIFA membantah tudingan tersebut dan menyatakan harga tiket masih sejalan dengan ajang olahraga internasional lainnya. Pendukung FIFA berargumen bahwa penyelenggaraan turnamen di tiga negara dengan skala logistik terbesar sepanjang sejarah memang membutuhkan biaya operasional yang jauh lebih tinggi. Mereka juga menunjuk tingginya angka penjualan tiket sebagai bukti bahwa minat publik tetap besar. Sebaliknya, para pengkritik mempertanyakan apakah sepak bola masih menjadi olahraga rakyat jika hanya dapat dinikmati oleh kelompok yang mampu membayar harga tiket dan biaya perjalanan yang terus meningkat.
Situasi ini mengingatkan banyak pihak pada kontroversi menjelang Piala Dunia 2022 di Qatar, ketika FIFA menghadapi kritik terkait isu hak asasi manusia, kondisi pekerja migran, hingga keputusan memindahkan jadwal turnamen ke musim dingin. Namun setelah kompetisi berlangsung, banyak suporter mengakui bahwa Qatar berhasil menghadirkan pengalaman menonton yang nyaman dengan transportasi terintegrasi dan jarak antarlokasi pertandingan yang relatif dekat.
Sebaliknya, edisi 2026 menghadirkan tantangan berbeda. Jarak antar kota dan negara yang sangat jauh membuat mobilitas suporter menjadi lebih mahal dan kompleks. Bagi sebagian penggemar sepak bola, pengalaman "mengikuti turnamen dari kota ke kota" yang menjadi ciri khas Piala Dunia kini terasa lebih sulit diwujudkan.
Piala Dunia seringkali tidak hanya tentang pertandingan di atas lapangan. Ia selalu menjadi cermin yang memperlihatkan hubungan antara olahraga, politik, ekonomi, keamanan, dan identitas sosial. Di satu sisi, jutaan orang merayakan sepak bola sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai bangsa. Sementara sisi lain persialan perdebatan tentang visa, harga tiket, dan hak akses yang menunjukkan bahwa bahkan olahraga paling populer di dunia pun tidak pernah sepenuhnya terlepas dari kontroversi dan realitas politik dan ekonomi.
Piala Dunia 2026 baru saja dimulai. Masih terlalu dini untuk menilai apakah turnamen ini akan dikenang sebagai salah satu yang terbaik atau justru salah satu yang paling kontroversial. Namun satu hal sudah terlihat sejak hari pertama bahwa di balik gemerlap lampu stadion dan gegap gempita suporter, sepak bola tetap membawa pertanyaan yang lebih besar tentang siapa yang benar-benar dapat ikut menikmati pesta global tersebut, dan siapa yang justru tertinggal di luar gerbang perayaan. (Red)