Beberapa pekan lalu, warga Melcem, Tanjung Sengkuang, Batuampar, dihebohkan oleh tumpukan bawang bombai yang dibuang di lereng bukit. Pada Minggu (26/10/2025), ratusan warga mendatangi lokasi dan memunguti bawang-bawang itu.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, menyatakan timnya langsung turun ke lokasi sehari kemudian, Senin (27/10), setelah menerima laporan warga. Pemeriksaan dilakukan di Kampung Melcem, RT 02/RW 05.
Dari hasil penelusuran, Balai Karantina Provinsi Kepri memastikan bawang tersebut masuk ke Batam melalui jalur tidak resmi. Barang yang tidak melalui jalur karantina, menurut Balai Karantina, tidak boleh beredar karena dapat membahayakan konsumen atau melanggar aturan perdagangan.
Berbagai sumber mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan bawang itu dimusnahkan:
1. Tidak layak jual. Banyak bawang dalam kondisi busuk atau lembap sehingga tidak memenuhi standar konsumsi.
2. Pemusnahan berizin. Perusahaan pemilik, PT BSS, mengklaim melakukan pemusnahan dengan dokumen lengkap.
3. Tidak memenuhi standar karantina. Sebagian bawang tidak memiliki dokumen resmi atau diduga berasal dari jalur ilegal.
4. Risiko kesehatan. Lokasi pembuangan yang dekat dengan area sampah meningkatkan potensi kontaminasi.
Meski demikian, DKPP memastikan bawang bombai dan bawang Burma yang sempat diperebutkan warga negatif mengandung pestisida berbahaya. Artinya, bawang tersebut tidak beracun, namun tetap melanggar aturan perdagangan. Warga yang terlanjur mengambil bawang itu dinyatakan aman, meski tetap diimbau tidak mengonsumsinya.
Akar Masalah: Dari Jalur Perdagangan hingga Defisit Produksi
Batam, seperti daerah urban lainnya, tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Pasokan bawang sebagian besar didatangkan dari luar daerah atau luar negeri. Kondisi ini membuat kota pelabuhan tersebut bergantung pada rantai perdagangan yang panjang—dan kerap disusupi praktik ilegal.
Jika ditarik lebih jauh, fenomena bawang yang tercecer di lereng bukit itu membuka pintu pada masalah yang lebih besar: arus perdagangan internasional yang dikuasai modal besar, sebagaimana pernah dikritik Tan Malaka dalam Semangat Muda. Ia menulis bahwa era imperialisme telah berganti, tetapi logika penguasaan melalui komoditas tetap berlangsung; modal memasuki politik, dan perdagangan menjadi instrumen kekuasaan.
Kapitalisme, yang pada dasarnya berfungsi sebagai mekanisme pertukaran antara hasil kota dan desa, menurut Tan Malaka, kerap melenceng ketika negara tunduk pada kepentingan pemodal. Pertukaran yang harusnya seimbang berubah menjadi relasi yang timpang; desa memasok kebutuhan kota dan negara lain, namun warganya sendiri tetap hidup dalam harga pangan mahal.
Jejak Lingkungan yang Tak Terlihat
Di banyak daerah, permintaan global terhadap pangan dan komoditas—mulai dari bawang, minyak sawit, teh, hingga tebu—memicu pembukaan lahan besar-besaran. Hutan digunduli, tanah berubah fungsi, dan lingkungan kehilangan daya tahannya.
Harga minyak goreng di desa tetap tinggi, namun hutan di sekitar mereka habis ditebang untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia. Ketika banjir bandang datang, warga kehilangan rumah, tanah ulayat, bahkan nyawa. Mereka mewarisi kerusakan yang bukan mereka ciptakan.
Dalam banyak kasus, negara justru hadir sebagai perpanjangan tangan pemodal. Lahan warga disegel, konflik agraria meningkat, dan aparat dikerahkan untuk mengamankan kepentingan investor. Pola ini berulang di berbagai daerah, dari kampung kecil hingga kawasan industri.
Kasus Bawang sebagai Gejala Lebih Besar
Kasus bawang di Melcem, yang terlihat sederhana sebagai persoalan pembuangan barang tak layak jual, sesungguhnya merupakan gambaran dari sistem pangan dan perdagangan yang rapuh. Ketika jalur ilegal muncul, ketika perusahaan bebas membuang komoditas tanpa kontrol ketat, ketika warga memunguti bawang dari lereng bukit demi kebutuhan dapur, maka ada sesuatu yang lebih mendasar yang harus ditelisik.
Pertanyaannya kini bukan hanya mengapa bawang itu dibuang, tetapi siapa yang mengambil keuntungan dari rantai perdagangan yang tak transparan, dan siapa yang menanggung dampaknya.
Warga mungkin hanya melihat tumpukan bawang yang berserakan. Namun di baliknya, terdapat alur panjang relasi modal, pasar, negara, dan lingkungan—yang saling bertaut dan berdampak hingga ke lereng bukit di Melcem.(Red)