Dunia hari ini seolah tidak lagi memiliki sekat. Melalui ujung jari, seorang remaja di pelosok nusantara bisa merasa begitu dekat dengan idola di Seoul, sebagai sebuah kewajaran normal antara penggemar dan idola yang memiliki sejumlah kelebihan, lalu idolaisme coba dimanfaatkan oleh orang Korea dan pemerintahnya supaya apa yang kemudian disebut K-Pop mendunia. Kapitalisasi kekaguman ini telah berhasil menyulap Korea Selatan menjadi poros baru kebudayaan populer yang menyentuh relung emosional jutaan orang di Indonesia, sehingga tercipta istilah Hallyu.
Namun, di tengah hinguk-binguk popularitas budaya Korea Selatan yang kian merajai panggung global, sebuah luka lama kembali menganga. Isu rasisme, yang seringkali dianggap sebagai residu masa lalu, nyatanya masih menghantui ruang-ruang digital kita hari ini, memantik diskusi panas yang melampaui sekadar perdebatan antar-fandom. Persoalan ini bukan sekadar polemik digital biasa, melainkan refleksi dari masalah sosial yang jauh lebih dalam.
Mengenal Hallyu: Gelombang yang Mengubah Dunia
Untuk memahami fenomena ini, kita harus terlebih dahulu membedah apa yang disebut sebagai Hallyu. Istilah Hallyu atau "Gelombang Korea" (Korean Wave) pertama kali muncul pada akhir 1990-an untuk menggambarkan pertumbuhan pesat popularitas budaya pop Korea Selatan secara global. Ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah strategi kebudayaan yang sistematis.
Hallyu mencakup spektrum yang luas: mulai dari musik (K-Pop), drama televisi (K-Drama), film, bahasa, hingga gaya hidup dan produk kecantikan (K-Beauty). Berawal dari kesuksesan di negara tetangga seperti Tiongkok dan Jepang, gelombang ini bertransformasi menjadi tsunami budaya yang menyapu Amerika, Eropa, hingga Asia Tenggara, menjadikan Korea Selatan sebagai salah satu eksportir budaya paling berpengaruh di abad ke-21.
Namun, di balik gemerlap Hallyu, baru-baru ini jagat media sosial, khususnya platform X, kembali memanas. Sejumlah unggahan memperlihatkan akun-akun yang diduga berasal dari Korea Selatan melontarkan komentar bernada merendahkan terhadap etnis Asia Tenggara. Fenomena ini memicu gelombang respons keras dari netizen di Indonesia, Malaysia, hingga Thailand. Di balik ketikan layar tersebut, tersimpan sebuah realitas pahit bahwa kekaguman terhadap sebuah produk budaya ternyata tidak selalu dibalas dengan penghormatan yang setara terhadap kemanusiaan penggunanya.
Peristiwa ini sejatinya bukanlah anomali yang berdiri sendiri. Mundur sedikit ke tahun 2024, publik Indonesia sempat diguncang oleh tangkapan layar percakapan di forum daring yang diduga melibatkan para pekerja asal Korea Selatan. Istilah-istilah diskriminatif yang menyakitkan hati seperti “monyet hitam” atau “monyet pribumi” muncul ke permukaan, ditujukan secara spesifik kepada warga lokal. Sentimen rasis ini menciptakan kontras yang tajam antara satu sisi Indonesia adalah "pasar" yang loyal bagi industri kreatif Korea, namun di sisi lainnya ada segregasi tak kasat mata yang masih bertahan.
Membaca Rasisme Lewat Lensa Data
Jika kita menilik lebih jauh ke dalam data, rasisme di Korea Selatan memang menjadi perhatian serius. Berdasarkan survei tahun 2020 oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Korea (NHRCK), ditemukan fakta mencemaskan bahwa rasisme masih mengakar kuat. Sekitar 68,4 persen migran di Korea Selatan mengaku pernah mengalami diskriminasi. Bahkan, yang lebih mengejutkan, 89,9 persen pejabat publik dan tenaga pendidik di sana mengakui bahwa prasangka rasial adalah masalah sistemik yang masih eksis.
Variabel diskriminasinya pun beragam. Data NHRCK menunjukkan pemicu utama perlakuan tidak adil meliputi hambatan bahasa (62,3%), kewarganegaraan (59,7%), etnis (47,7%), dan warna kulit (24,3%). Dari angka-angka ini, kita dapat melihat bahwa rasisme di sana sering kali berkelindan dengan status ekonomi dan kemampuan asimilasi budaya.
Penelitian akademik oleh Hayoung Lee dkk (2024) menawarkan jawaban melalui perspektif sejarah. Selama berabad-abad, Korea Selatan tumbuh dengan narasi danil minjok atau bangsa yang homogen secara etnis. Selama dekade-dekade pertumbuhan ekonomi yang pesat, yang dikenal sebagai "Keajaiban Sungai Han", fokus bangsa mereka adalah memperkuat identitas nasional yang tunggal.
Hayoung Lee menjelaskan bahwa perubahan demografi yang mendadak menciptakan "resistensi sosial". Ketika sebuah masyarakat yang terbiasa hidup dalam homogenitas tiba-tiba harus menghadapi keberagaman global, muncul rasa tidak nyaman yang bermanifestasi menjadi stereotip. Dalam konteks ini, rasisme menjadi semacam mekanisme pertahanan diri yang keliru untuk menjaga kemurnian identitas di tengah gempuran globalisasi.
Globalisasi: Jembatan atau Sekadar Panggung Etalase?
Sangat ironis melihat rasisme ini tumbuh subur di tengah kejayaan Hallyu. Indonesia, sebagai salah satu konsumen terbesar produk Korea di dunia, telah memberikan kontribusi ekonomi dan loyalitas emosional yang luar biasa. Fenomena ini membuktikan sebuah tesis sosiologis yang getir bahwa globalisasi ekonomi dan budaya tidak selalu berbanding lurus dengan inklusivitas sosial.
Globalisasi memang memperpendek jarak geografis, tetapi ia tidak secara otomatis meruntuhkan tembok prasangka. Media sosial sering kali justru berubah menjadi arena di mana hierarki rasial dipamerkan secara telanjang. Kita mungkin mengonsumsi barang yang sama, tetapi kita masih melihat satu sama lain melalui lensa "atasan" dan "bawahan".
Menuju Hubungan Antar Bangsa yang Bermartabat
Kasus-kasus rasisme yang viral ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hubungan antarbudaya tidak pernah sederhana. Indonesia berada pada posisi yang unik sekaligus rentan, antara menjadi penggemar yang berdedikasi tinggi namun kerap mendapati diri mereka dipandang sebelah mata dalam struktur sosial global.
Dengan itu kita perlu merenung tentang hubungan dua bangsa seharusnya tidak hanya dibangun di atas fondasi konsumsi produk. Jika kita hanya mencintai budayanya tanpa menghargai martabat manusianya, maka Hallyu hanyalah sebuah jembatan satu arah yang rapuh. Tantangan terbesar kita bukanlah cara menjadi lebih modern secara teknologi, melainkan bagaimana cara menjadi lebih manusiawi di tengah keberagaman.
Pertanyaan kritisnya kini bukan lagi mengapa rasisme masih ada, melainkan sejauh mana kita berani membongkar hierarki identitas yang diwariskan oleh masa lalu. Persahabatan antar-bangsa yang sejati hanya bisa tegak berdiri di atas landasan kesetaraan, di mana warna kulit tidak lagi menjadi ukuran untuk menentukan kehormatan. Tanpa kesadaran ini, globalisasi hanya akan menjadi topeng baru bagi rasisme lama yang belum kunjung usai. (Red)