Pemerintah Kota Batam telah menargetkan kunjungan 1,5 juta wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang tahun 2025. Hingga September 2025, realisasi kunjungan telah mencapai 1.150.567 orang, menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini menunjukkan laju pemulihan sektor pariwisata Batam yang kian konsisten pasca pandemi.
Meski data resmi BPS baru tersedia hingga September, tren bulanan pada Oktober 2025 dilaporkan sempat menyentuh kisaran 130 ribu kunjungan, bahkan terus bergerak naik pada bulan-bulan sebelumnya. Publikasi sampai 17 Desember 2025, data kumulatif sampai 30 November memang belum dirilis. Namun berbagai indikator memperkirakan jumlah kunjungan telah melampaui angka September secara signifikan.
Optimisme Pemerintah Daerah
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menilai capaian ini sebagai sinyal kuat kebangkitan pariwisata daerah.
"Kita harapkan beberapa bulan terakhir ini bisa memenuhi target 1,5 juta wisatawan. Tren positif ini menandakan pariwisata Batam semakin dipercaya wisatawan mancanegara," ujar Amsakar.
Optimisme serupa disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Batam, Rudi Panjaitan, yang menyebut target tersebut sangat realistis untuk dicapai.
"Target 1,5 juta wisman di akhir 2025 sangat mungkin tercapai, bahkan berpotensi terlampaui jika ada kebijakan pendukung seperti Visa on Arrival (VoA) yang lebih longgar," ujarnya saat dimintai keterangan oleh reporter Saladin Institute.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak hanya bergantung pada promosi dan atraksi, tetapi juga sangat ditentukan oleh arsitektur kebijakan keimigrasian.
Komposisi Wisatawan dan Faktor Pendorong
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengungkapkan bahwa wisatawan asal Singapura masih menjadi penyumbang terbesar kunjungan ke Batam, disusul Malaysia, Tiongkok, India, dan Myanmar. Sementara itu, wisatawan dari Filipina, Korea Selatan, dan Jepang juga menunjukkan tren peningkatan.
"Jika dibandingkan dengan tahun 2019, pada bulan-bulan tertentu tingkat kunjungan sudah kembali seperti sebelum pandemi," jelas Ardi.
Menurutnya, perluasan kebijakan VoA menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pertumbuhan wisatawan dari negara-negara nontradisional seperti India, Jepang, Korea Selatan, hingga Eropa.
"Kalau bebas visa diperluas, saya yakin pertumbuhan wisatawan akan lebih cepat," tambahnya.
Selain kebijakan visa, Ardi menekankan peran konektivitas transportasi lintas negara, khususnya kapal cepat, serta event-event unggulan yang digelar secara konsisten sebagai daya tarik tambahan.
Saat ini, tren kunjungan bulanan relatif stabil di kisaran 140 ribu hingga 160 ribu wisman, angka yang dinilai cukup untuk mengejar target akhir tahun.
Perbandingan Historis dan Proyeksi
Sebagai perbandingan, pada akhir 2024, Batam mencatat sekitar 1,3 juta wisatawan mancanegara dan 3,2 juta wisatawan domestik. Dengan tren 2025 yang lebih agresif, pemerintah daerah optimistis capaian tahun ini akan melampaui tahun sebelumnya, baik dari sisi jumlah maupun kualitas kunjungan.
Batam, dengan karakter unik sebagai kawasan perbatasan, menawarkan kombinasi budaya, belanja, dan wisata bahari, sebagai sebuah paket yang relatif lengkap dibanding destinasi lain di kawasan regional.
Catatan Reflektif bagi Pemangku Kebijakan
Capaian dan proyeksi ini menyimpan pesan penting: pariwisata bukan semata soal angka kunjungan, tetapi juga tentang keberlanjutan kebijakan.
Keberhasilan Batam menjemput wisman menunjukkan bahwa sinergi antara infrastruktur, promosi, dan regulasi dapat menghasilkan dampak nyata.
Namun, tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan ini inklusif dan berkelanjutan, yang dapat memberi manfaat bagi pelaku UMKM, pekerja lokal, serta menjaga daya dukung lingkungan.
Bagi pemerintah pusat dan daerah, Batam dapat menjadi laboratorium kebijakan pariwisata perbatasan, tempat di mana fleksibilitas visa, konektivitas regional, dan diplomasi budaya bertemu.
"Batam bukan hanya pintu masuk wisatawan asing, tetapi juga wajah keramahan Indonesia di perbatasan," pungkas Ardiwinata.
Di titik ini, angka 1,5 juta bukan sekadar target statistik, melainkan ujian komitmen bersama: apakah pertumbuhan pariwisata mampu diiringi dengan tata kelola yang adil, ramah, dan visioner.