Ratusan Siswa di Grobogan Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Program makan bergizi gratis (MBG) yang dirancang sebagai intervensi negara untuk memperbaiki...

Ratusan Siswa di Grobogan Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Kesehatan
12 Jan 2026
245 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Ratusan Siswa di Grobogan Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Program makan bergizi gratis (MBG) yang dirancang sebagai intervensi negara untuk memperbaiki kualitas gizi anak sekolah, sedang menghadapi persoalan serius di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Alih-alih menjadi penopang kesehatan generasi muda, program prioritas pemerintah itu kini diuji oleh dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar.

Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan mencatat sedikitnya 658 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan pada Jumat, 9 Januari 2025. Para korban berasal dari sejumlah satuan pendidikan di Kecamatan Gubug, mulai dari PAUD hingga sekolah menengah. Di antaranya pelajar SMP, SMK, serta siswa SD Negeri di wilayah Ngroto, Glapan, Trisari, dan Penadaran.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Djatmiko, menyebutkan bahwa menu yang dikonsumsi para siswa berupa nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek. Beberapa jam setelah menyantap makanan tersebut, para penerima manfaat mulai merasakan gejala gangguan kesehatan, terutama mual dan muntah. Namun sebagian besar baru mendapatkan penanganan medis keesokan harinya.

“Total korban sementara ada 658 orang. Sebagian besar sudah ditangani melalui rawat jalan maupun perawatan lanjutan,” ujar Djatmiko, seperti dikutip dari Antara, Minggu, 11 Januari 2025.

Hingga Minggu, 11 Januari 2026, sebanyak 79 orang masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan. Rinciannya, 39 pasien dirawat di RS Ki Ageng Getas Pendowo Gubug, 11 orang di RS Soedjati, sembilan orang di UPTD Puskesmas Penawangan 1, tujuh orang di Puskesmas Kedungjati, dan dua orang di Puskesmas Gubug 1. Dinas Kesehatan menyatakan data tersebut bersifat dinamis dan diperbarui setiap 12 jam, seiring kondisi pasien yang terus berubah.

Selain penanganan medis, Dinas Kesehatan melakukan inspeksi kesehatan lingkungan serta pengambilan sampel makanan untuk diuji di laboratorium. Langkah ini menjadi krusial untuk memastikan penyebab pasti kejadian, apakah berasal dari bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, atau distribusi makanan.

Kasus ini menyoroti titik rawan dalam pelaksanaan program MBG, terutama pada aspek keamanan pangan. Dalam praktik pelayanan gizi massal, ketepatan waktu distribusi dan standar higiene sanitasi menjadi faktor penentu. Makanan yang disiapkan terlalu lama, kalau lebih dari empat jam sebelum dikonsumsi dapat berisiko mengalami penurunan kualitas dan kontaminasi mikroba.

Djatmiko mengingatkan seluruh penyedia layanan MBG, termasuk satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG), agar mematuhi standar laik higiene dan sanitasi secara ketat. “Pemberian makanan tidak boleh molor. Keterlambatan distribusi bisa berdampak langsung pada kesehatan penerima,” ujarnya.

Lebih jauh, peristiwa ini membuka ruang evaluasi yang lebih luas. Program makan bergizi gratis bukan sekadar soal anggaran dan kuantitas distribusi, melainkan menyangkut tata kelola, pengawasan, dan akuntabilitas. Tanpa sistem kontrol yang kuat, niat baik negara bisa berubah menjadi risiko kesehatan publik.

Keracunan massal di Grobogan menjadi alarm dini bahwa kebijakan sosial berskala besar menuntut kesiapan teknis yang sama besarnya. Di titik inilah negara diuji: apakah mampu memastikan bahwa program yang menyasar anak-anak dan kelompok paling rentan benar-benar aman, bermutu, dan berpihak pada masa depan mereka sebagai generasi bangsa. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll