PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS), perusahaan media dan hiburan yang didirikan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/7/2026) melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Perseroan menghimpun dana sekitar Rp429,25 miliar dengan melepas 2,525 miliar saham baru atau 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh pada harga penawaran Rp170 per saham. Dana segar tersebut tidak hanya digunakan untuk memperluas bisnis, tetapi juga membayar sebagian utang, mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga memperkuat lini hiburan dan gaya hidup perusahaan.
IPO ini menjadi tonggak baru bagi perusahaan yang lahir dari industri kreator digital. Dalam satu dekade terakhir, RANS berkembang dari kanal YouTube keluarga menjadi kelompok usaha yang merambah produksi konten, olahraga, konser musik, kuliner, kosmetik, hingga bisnis rekreasi.
Dalam konferensi pers usai pencatatan saham perdana, pendiri RANS Entertainment, Raffi Ahmad, mengenang awal perjalanan perusahaan yang dimulai dari sebuah garasi rumah pada 2016.
"Perjalanan RANS yang kami mulai dari tahun 2016, dari sebuah kantor di garasi rumah." Menurut Raffi, pertumbuhan perusahaan tidak lepas dari dukungan masyarakat yang mengikuti perjalanan dirinya dan keluarga melalui berbagai platform digital. “Karena didoakan oleh seluruh masyarakat. RANS hari ini sudah bisa dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia.”
Pernyataan tersebut menjadi simbol perubahan posisi RANS dari perusahaan yang identik dengan figur pendirinya menjadi perusahaan publik yang kini juga dimiliki para investor. Masuknya RANS ke lantai bursa bukan hanya untuk mengumpulkan modal, tetapi juga mengubah cara perusahaan bertumbuh. Sebagai perusahaan terbuka, RANS kini dituntut menjaga transparansi, tata kelola, dan konsistensi kinerja agar sejalan dengan ekspektasi investor.
Berdasarkan prospektus final, alokasi dana IPO telah dirancang untuk sejumlah agenda ekspansi sekaligus memperkuat struktur keuangan perusahaan. Sekitar Rp29,9 miliar atau hampir 7 persen akan digunakan untuk melunasi sebagian fasilitas kredit investasi kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Porsi terbesar, sekitar Rp161 miliar atau 37,61 persen, dialokasikan untuk penyelenggaraan konser musik. Perseroan menargetkan menggelar 16 konser hingga 2028, termasuk sembilan konser pada paruh kedua 2026 di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya, sekitar Rp80 miliar dipakai membangun sembilan outlet Cipungland, wahana bermain dan belajar anak yang akan dikembangkan secara bertahap sepanjang 2026–2027.
RANS juga mengalokasikan Rp35 miliar untuk membentuk perusahaan patungan bersama PT Feedloop Global Teknologi yang berfokus mengembangkan teknologi berbasis artificial intelligence (AI) guna mendukung produksi konten. Termasuk di sektor kecantikan, perseroan menyiapkan Rp85 miliar untuk mengakuisisi 51 persen saham PT RANS Kosmetika Indonesia (Slavina). Sisa dana digunakan memperkuat modal kerja anak usaha PT RANS Nikmat Sejahtera guna memperluas jaringan usaha dan meluncurkan produk baru.
Di prospektus perusahaan juga mengakui adanya sejumlah risiko. Salah satu yang paling menonjol adalah ketergantungan bisnis terhadap figur Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan keluarga mereka sebagai wajah utama perusahaan. Jika popularitas atau keterlibatan tokoh utama menurun, hal itu berpotensi memengaruhi performa bisnis. Bagi kalangan yang optimistis menilai IPO menjadi langkah logis bagi perusahaan kreatif yang ingin naik kelas.
Raffi Ahmad menegaskan bahwa dana hasil IPO akan dipakai untuk memperluas ekosistem bisnis, bukan sekadar memperbesar perusahaan di atas kertas. "RANS hari ini sudah bisa dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia." Karena itu, melalui status sebagai perusahaan publik, RANS diharapkan memiliki akses pendanaan yang lebih besar untuk mengembangkan sektor hiburan, teknologi, dan ekonomi kreatif.
Namun, tidak sedikit pengamat pasar yang mengingatkan investor agar melihat fundamental perusahaan secara objektif. Analisis Katadata Bursa mencatat bahwa pendapatan RANS pada 2025 turun sekitar 13,9 persen menjadi Rp353,37 miliar, sementara laba bersih merosot sekitar 41,6 persen menjadi Rp56,68 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat sebagian analis mengingatkan agar investor tidak hanya terpikat oleh popularitas pendiri perusahaan, tetapi juga mencermati prospek bisnis dan kemampuan menghasilkan laba secara berkelanjutan. Sisi lain prospektus perusahaan sendiri juga secara terbuka mengungkap berbagai risiko usaha, mulai dari ketergantungan terhadap talenta utama, perubahan tren industri hiburan, hingga ketatnya persaingan di sektor media digital.
Kendati demikian, IPO RANS Entertainment memperlihatkan perubahan lanskap industri kreatif Indonesia. Jika sebelumnya perusahaan media tumbuh melalui televisi atau rumah produksi konvensional, kini perusahaan yang berawal dari platform digital mampu mengakses pasar modal sebagai sumber pendanaan.
Namun, status sebagai emiten juga membawa konsekuensi baru. Popularitas dapat menjadi pintu masuk memperoleh perhatian investor, tetapi keberlanjutan bisnis tetap ditentukan oleh kemampuan manajemenbperusahaan dalam menghasilkan pertumbuhan pendapatan, menjaga profitabilitas, serta menerapkan tata kelola yang baik.
Perjalanan RANS di bursa diharapkan pada bukan lagi sekadar kisah sukses seorang selebritas dalam membangun kerajaan bisnisnya. Yang akan diuji ke depan adalah apakah perusahaan mampu membuktikan bahwa nilai yang ditawarkan kepada publik benar-benar bertumpu pada fundamental usaha, bukan semata kekuatan nama besar pendirinya.
Di pasar modal, antusiasme bisa membuka pintu pada hari pertama, tetapi hanya dengan kinerja yang akan menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjangnya. (Red)