Jebakan Doom Scrolling dan Kerinduan Tanpa Ujung akan Koneksi

Di tengah deru dunia yang kian cepat, sebuah gerakan ibu jari yang repetitif telah menjadi ritme...

Jebakan Doom Scrolling dan Kerinduan Tanpa Ujung akan Koneksi

Kesehatan
04 Apr 2026
281 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Jebakan Doom Scrolling dan Kerinduan Tanpa Ujung akan Koneksi

Di tengah deru dunia yang kian cepat, sebuah gerakan ibu jari yang repetitif telah menjadi ritme baru bagi manusia modern. Di tengah lonjakan penggunaan media sosial global, kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan, atau dikenal sebagai doomscrolling yang kian meluas di berbagai kalangan, terutama sejak pandemi mempercepat ketergantungan digital. Fenomena ini melibatkan jutaan pengguna internet dari berbagai usia yang menghabiskan waktu berjam-jam menggulir konten tanpa arah. 

Aktivitas ini menyelinap hampir sepanjang hari, terutama saat waktu luang atau di ambang pintu tidur, terjadi di berbagai platform digital seperti TikTok, Facebook, Instagram, dan aplikasi sosial media lainnya. Semua itu dipicu oleh dorongan kepuasan instan dari otak serta paparan konten visual yang terus-menerus melalui algoritma yang dirancang tepat dan akurat untuk mempertahankan perhatian.

Kebiasaan ini bukan sekadar soal “iseng membuka ponsel.” Namun telah berkembang menjadi pola perilaku yang oleh banyak ahli disebut sebagai gangguan baru dalam lanskap psikologis masyarakat digital. Pengguna seringkali berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi tanpa disadari terseret dalam arus konten yang tak berujung. Menjadilah sebuah fenomena yang sering disebut sebagai “flow state” yang negatif, di mana kesadaran akan waktu dan ruang seolah melenyap ditelan cahaya layar.

Ahli Psikoinformatika dan Psikologi Kebijakan Publik dari Binus University, Juneman Abraham, menyebut perilaku ini sebagai bentuk “perburuan kepuasan instan” (mindless scrolling) oleh otak. Dalam perspektif neuropsikologi, fenomena ini berkaitan erat dengan sistem dopamin, zat kimia di otak yang memicu rasa senang dan motivasi. Saat kita melihat konten baru, otak melepaskan dopamin, menciptakan siklus imbalan yang membuat kita sulit berhenti. “Secara ekstrem bisa kita saksikan sendiri bahwa banyak rumah tangga hancur dan perusahaan tak efisien karena terjangkiti ‘virus scrolling ngalor-ngidul’ ini,” tulisnya dalam sebuah esai yang menyoroti dampak nyata pada produktivitas dan relasi sosial.

Sejumlah studi global memperkuat pandangan tersebut. Laporan dari DataReportal (2024) menunjukkan rata-rata pengguna internet dunia kini menghabiskan lebih dari 2 jam 20 menit per hari hanya di media sosial. Sementara itu, riset dari American Psychological Association mencatat bahwa paparan konten tanpa henti, terutama yang bersifat negatif atau memicu perbandingan sosial dapat meningkatkan kecemasan, kelelahan mental, hingga gangguan tidur kronis.

Tetapi tidak semua pihak melihat fenomena ini secara hitam-putih. Sebagian peneliti justru menilai bahwa kebiasaan menggulir ini juga menyimpan sisi reflektif yang tersembunyi di balik permukaan yang tampak dangkal. Dalam beberapa kasus, pengguna berhenti pada konten tertentu yang dianggap relevan atau menyentuh secara emosional. Hal itu sebuah momen yang oleh Juneman disebut sebagai “jeda kognitif.” Di titik ini, scrolling tidak lagi sekadar impuls primitif, tetapi menjadi proses pencarian makna, meski berlangsung secara sporadis dan tidak terstruktur.

Pandangan ini sejalan dengan temuan peneliti media dari University of Sussex yang menyebut bahwa konsumsi konten digital bisa menjadi bentuk micro-reflection, yakni refleksi singkat yang muncul dari paparan informasi yang beragam secara acak. Dalam konteks ini, media sosial bukan hanya ruang distraksi yang membuang waktu, tetapi juga bisa menjadi ruang kontemplasi yang serba cepat, di mana satu kutipan bijak atau satu karya seni visual dapat memicu pemikiran mendalam di sela-sela konten hiburan lainnya.

Meski demikian, kritik terhadap arsitektur di balik fenomena ini tetap sangat kuat. Peneliti dari Center for Humane Technology, Tristan Harris, memperingatkan bahwa desain platform digital memang sengaja dibuat untuk “menjebak perhatian” manusia dengan teknik yang mirip dengan mesin judi slot. Ia menyatakan secara lugas, “Jika Anda tidak membayar untuk produk, maka Andalah produknya.” Pernyataan ini menyoroti bagaimana algoritma dirancang untuk mempertahankan pengguna selama mungkin demi data dan iklan, seringkali tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental dan integritas kognitif pengguna.

Masalah lain yang luput dari perhatian adalah munculnya digital hoarding, yaitu kebiasaan menyimpan atau me-bookmark konten tanpa pernah benar-benar menggunakannya kembali. Kita merasa "belajar" hanya dengan menyimpan video tutorial atau artikel panjang, padahal itu hanyalah ilusi kemajuan. Sebuah studi dari Journal of Consumer Research menemukan bahwa hanya sekitar 10–15 persen konten yang disimpan pengguna benar-benar diakses ulang. Sisanya menjadi arsip digital yang terbengkalai, menciptakan beban mental berupa "utang bacaan" yang justru menambah stres.

Di sisi lain, dominasi konten ringan atau hiburan instan turut memperkuat siklus ini. Video pendek, meme, dan konten “receh” menawarkan kesenangan cepat tanpa beban kognitif yang berat. Konten seperti ini berfungsi sebagai "permen bagi otak" yang manis dan menyenangkan sesaat, namun minim nilai gizi jangka panjang. Bandingkan dengan konten edukatif atau literatur mendalam yang membutuhkan perhatian penuh. Jenis konten ini seringkali kalah bersaing dalam ekosistem algoritma yang mengutamakan kecepatan interaksi dan durasi tonton.

Fenomena doomscrolling menghadirkan dilema eksistensial bagi kita semua antara kebutuhan manusiawi untuk terus terhubung dengan dunia dan kecenderungan untuk terperangkap dalam simulasi hubungan yang semu. Ia bukan sekadar kebiasaan buruk yang harus dihindari dengan penghakiman medis, tetapi juga merupakan cermin jujur dari cara manusia modern berinteraksi dengan makna, informasi, dan fragmen dirinya sendiri di era informasi yang meluap.

Mungkin yang perlu ditanyakan bukan lagi sekadar bagaimana menghentikan scrolling, melainkan apa yang sebenarnya sedang kita cari di balik setiap guliran itu. Apakah itu validasi, inspirasi, atau sekadar pelarian dari kesunyian? Sebab di antara ribuan konten yang lewat begitu saja seperti debu, barangkali ada satu-dua hal yang diam-diam kita tunggu. Mungkin sebuah kalimat yang membasuh luka, gambar yang membangkitkan mimpi, atau cerita yang membuat kita merasa tidak sendirian. 

Demikian hal-hal kecil itulah barangkali yang membuat kita berhenti sejenak, mengambil napas, dan merasa, untuk sesaat, tidak sepenuhnya tersesat di dalam arus besar yang bernama era digital. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll