Blokade Israel di Gaza Menjebak Tujuh Dokter Amerika

Tujuh dokter asal Amerika Serikat yang menjalankan misi kemanusiaan di Gaza dilaporkan tidak dapat...

Blokade Israel di Gaza Menjebak Tujuh Dokter Amerika

Kesehatan
17 Mar 2026
235 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Blokade Israel di Gaza Menjebak Tujuh Dokter Amerika

Tujuh dokter asal Amerika Serikat yang menjalankan misi kemanusiaan di Gaza dilaporkan tidak dapat keluar dari wilayah tersebut setelah pemerintah Israel menutup akses perjalanan keluar-masuk Gaza. Penutupan yang terjadi sejak awal Maret 2026 itu disebut terkait alasan keamanan di tengah konflik yang terus berlangsung. Namun para dokter dan sejumlah organisasi kemanusiaan menilai kebijakan ini memperburuk krisis kesehatan yang sudah sangat rapuh di wilayah Palestina tersebut.

Para dokter tersebut sebelumnya dijadwalkan kembali ke Amerika Serikat pada 10 Maret setelah menyelesaikan misi medis selama dua minggu di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis. Namun hingga kini mereka masih terjebak di Gaza setelah dua kali upaya keberangkatan mereka dibatalkan oleh otoritas keamanan Israel.

Salah satu dokter yang terjebak, Dr. Salman Khan, spesialis penyakit menular dari Columbia University, mengatakan situasi tersebut penuh ketidakpastian. “Ada ketidakjelasan kapan kami bisa keluar. Apakah kami benar-benar akan diizinkan pergi, atau tanggalnya akan terus ditunda?” kata Khan.

Gaza telah menghadapi tekanan luar biasa terhadap sistem kesehatannya sejak konflik besar meletus pada Oktober 2023. Banyak rumah sakit rusak akibat serangan udara, sementara pasokan obat-obatan, bahan bakar, dan peralatan medis sangat terbatas. Menurut data World Health Organization, lebih dari 60 persen fasilitas kesehatan di Gaza mengalami kerusakan atau tidak dapat beroperasi secara normal selama konflik berlangsung. Selain itu, ribuan pasien membutuhkan operasi dan perawatan khusus yang tidak tersedia di wilayah tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, kehadiran dokter relawan internasional menjadi sangat penting. Dr. Aizad Dasti, dokter gawat darurat dari Maryland yang bertugas di Rumah Sakit Nasser, menggambarkan situasi yang ia lihat sejak hari pertama tiba di Gaza. “Pada hari pertama saya bekerja di rumah sakit, seorang anak meninggal karena kedinginan,” katanya. “Situasi kemanusiaan di Gaza memburuk dari hari ke hari.”

Banyak keluarga kini tinggal di tenda darurat setelah rumah mereka hancur akibat konflik. Suhu dingin malam hari dan minimnya akses layanan kesehatan memperburuk kondisi para pengungsi. Beberapa dokter yang pernah bertugas di Gaza mengatakan pembatasan pergerakan seperti ini bukan hal baru. Dr. Thaer Ahmad, dokter asal Chicago yang pernah bekerja sebagai relawan di Gaza pada 2024, menyebut kebijakan tersebut memiliki dampak besar bagi pasien. “Ketika akses seperti ini ditutup, kemampuan kami merawat pasien langsung terganggu. Dampaknya sangat besar bagi warga Gaza yang paling rentan,” kata Ahmad.

Organisasi kemanusiaan juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Faiza Hussain, direktur eksekutif lembaga kemanusiaan Humanity Auxilium, mengatakan penutupan perbatasan membuat perencanaan misi medis menjadi hampir mustahil. “Kami tidak bisa memastikan kapan tim dokter atau ahli bedah dapat dikirim. Banyak dari mereka tidak mungkin meninggalkan pekerjaan selama berminggu-minggu tanpa kepastian,” ujarnya.

Selain itu, sejumlah dokter yang terjebak di Gaza juga menghadapi persoalan pribadi. Beberapa dari mereka harus kembali bekerja di rumah sakit di Amerika Serikat, sementara yang lain mulai kehabisan obat pribadi karena hanya membawa persediaan untuk dua minggu.

Namun pihak Israel membantah tuduhan bahwa penutupan perbatasan dimaksudkan untuk memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza. Unit militer Israel yang mengelola perlintasan wilayah Palestina, Coordination of Government Activities in the Territories (COGAT), menyatakan pembatasan dilakukan karena ancaman keamanan. “Perlintasan ke Gaza ditutup sementara karena ancaman serangan rudal yang sedang berlangsung,” kata pernyataan COGAT. “Langkah ini diambil untuk melindungi keselamatan semua pihak.”

Israel menegaskan bahwa kebijakan tersebut bersifat sementara dan akan dicabut setelah situasi keamanan dinilai membaik. Sejumlah dokter yang berada di Gaza meragukan janji tersebut karena sebelumnya tanggal pembukaan kembali perbatasan beberapa kali ditunda. Menurut laporan United Nations, jumlah bantuan yang masuk ke Gaza saat ini masih jauh di bawah kebutuhan minimum penduduk. Bantuan makanan dan obat-obatan sebagian besar hanya dapat masuk melalui satu jalur perbatasan, yaitu Kerem Shalom, yang kapasitasnya terbatas.

Situasi ini membuat organisasi kemanusiaan kesulitan mengirimkan bantuan. Beberapa lembaga bahkan melaporkan bahwa misi medis mereka ditunda atau dibatalkan karena pembatasan perjalanan. Krisis ini semakin kompleks karena konflik regional yang lebih luas, termasuk meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran, yang membuat situasi keamanan di kawasan semakin tidak stabil. 

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada Gaza, tetapi juga pada sistem kesehatan di negara lain. Dr. Salman Khan mengatakan ia terpaksa membatalkan jadwal pasiennya di New York karena belum bisa kembali bekerja. “Saya seharusnya sudah kembali bertugas di rumah sakit hari ini. Penundaan ini juga berdampak pada pasien di sisi lain dunia,” ujarnya.

Pemerintah Amerika Serikat melalui United States Department of State mengatakan pihaknya sedang berkoordinasi dengan Israel untuk membantu para dokter keluar dari Gaza setelah perbatasan dibuka. Dalam pernyataan resminya, Departemen Luar Negeri AS juga mengingatkan bahwa warga Amerika tidak dianjurkan bepergian ke Gaza karena risiko konflik bersenjata.

Kisah tujuh dokter yang terjebak di Gaza sebenarnya hanya satu potongan kecil dari krisis yang lebih besar. Di tengah perang, blokade, dan diplomasi yang sering buntu, sistem kesehatan Gaza terus berjuang bertahan. Rumah sakit bekerja dengan listrik terbatas. Obat-obatan menipis. Tenaga medis lokal kelelahan setelah berbulan-bulan bekerja di tengah konflik. Sementara bagi sebagian dokter relawan, pengalaman di Gaza meninggalkan pertanyaan yang lebih dalam sampai kapan konflik akan terus mengorbankan warga sipil.

Di tempat-tempat seperti ruang gawat darurat Rumah Sakit Nasser, pertanyaan itu tidak selalu dijawab dengan pidato politik atau resolusi internasional. Ia hadir dalam bentuk seorang anak yang tidak sempat diselamatkan, atau seorang dokter yang hanya bisa menunggu di balik perbatasan yang tertutup. Dan di antara batas-batas geopolitik dan penderitaan manusia, krisis Gaza kembali mengingatkan dunia bahwa perang tidak pernah benar-benar berhenti di medan tempur. Ia terus hidup di ruang-ruang rumah sakit, di tenda-tenda pengungsi, dan dalam kehidupan orang-orang yang tidak pernah memilih untuk menjadi bagian darinya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll