Belajar dari Kasus Vidi Aldiano: Mengurai Hubungan Makanan, Akrilamida, dan Risiko Kanker

Penyanyi Indonesia Vidi Aldiano meninggal dunia pada Sabtu, 7 Maret 2026, dalam usia 35 tahun...

Belajar dari Kasus Vidi Aldiano: Mengurai Hubungan Makanan, Akrilamida, dan Risiko Kanker

Kesehatan
10 Mar 2026
281 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Belajar dari Kasus Vidi Aldiano: Mengurai Hubungan Makanan, Akrilamida, dan Risiko Kanker

Penyanyi Indonesia Vidi Aldiano meninggal dunia pada Sabtu, 7 Maret 2026, dalam usia 35 tahun setelah sekitar enam tahun berjuang melawan kanker ginjal. Kepergiannya kembali memicu perbincangan publik tentang kanker, terutama mengenai faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup, termasuk pola makan sehari-hari. 

Kanker sendiri merupakan penyakit yang terjadi ketika sel tubuh tumbuh secara tidak terkendali dan dapat menyebar ke organ lain. Organisasi kesehatan dunia mencatat bahwa penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian utama secara global, dengan faktor risiko yang kompleks, mulai dari genetik, lingkungan, hingga kebiasaan hidup seperti merokok, obesitas, dan pola makan. 

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penelitian menyoroti keberadaan akrilamida, senyawa kimia yang terbentuk ketika makanan tertentu dimasak pada suhu tinggi, terutama melalui proses menggoreng, memanggang, atau memanggang kering. Beberapa badan kesehatan internasional menyebut zat ini sebagai karsinogen potensial, yakni senyawa yang diduga dapat meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi dalam jumlah besar dalam jangka panjang.

Namun para ahli juga menegaskan bahwa hubungan antara makanan tertentu dan kanker tidak pernah sesederhana satu sebab satu akibat. “Kanker pada dasarnya muncul karena akumulasi perubahan genetik pada sel tubuh yang membuatnya kehilangan kontrol pertumbuhan,” kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi dr. Andhika Rachman, menjelaskan bahwa faktor gaya hidup hanya salah satu bagian dari banyak faktor risiko. 

Menurut sebagian pakar gizi mengingatkan bahwa penyederhanaan istilah seperti “makanan yang disukai sel kanker” seringkali bersifat populer tetapi kurang tepat secara ilmiah. “Tidak ada makanan yang secara langsung memberi makan sel kanker secara spesifik. Yang ada adalah pola makan yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit,” kata beberapa peneliti nutrisi dalam berbagai publikasi kesehatan.

Meski demikian, ada sejumlah jenis makanan yang sering disebut dalam penelitian terkait pembentukan akrilamida ketika dimasak pada suhu tinggi.

1. Gorengan dan keripik kentang

Kentang goreng, keripik kentang, dan berbagai makanan yang digoreng pada suhu tinggi termasuk sumber akrilamida yang paling sering disebut dalam studi keamanan pangan.

Senyawa tersebut terbentuk ketika gula alami dalam kentang bereaksi dengan asam amino pada suhu di atas 120°C. Penelitian menunjukkan kadar akrilamida dalam keripik kentang dapat mencapai ratusan hingga lebih dari 2000 mikrogram per kilogram tergantung metode pengolahannya.

Semakin gelap warna hasil penggorengan, biasanya semakin tinggi kandungan zat tersebut.

2. Camilan kemasan seperti ciki dan biskuit

Produk camilan kemasan yang dipanggang dengan suhu tinggi, seperti biskuit atau snack berbahan tepung juga dilaporkan dapat mengandung akrilamida.

Selain itu, produk ini sering memiliki kandungan gula rafinasi, garam, dan bahan tambahan pangan yang jika dikonsumsi berlebihan dapat berdampak pada kesehatan metabolik.

Beberapa penelitian menemukan kadar akrilamida dalam biskuit dapat berkisar antara 160 hingga 1000 mikrogram per kilogram, bergantung pada bahan baku dan proses produksi.

3. Roti panggang yang terlalu kecokelatan

Proses pemanggangan roti hingga warna cokelat tua juga dapat meningkatkan pembentukan akrilamida.

Secara umum, semakin gelap roti yang dipanggang, semakin besar kemungkinan kandungan zat tersebut terbentuk. Karena itu beberapa badan kesehatan menyarankan memanggang roti hingga warna kuning keemasan, bukan cokelat gelap.

4. Kopi bubuk instan

Akrilamida juga dapat terbentuk dalam proses pemanggangan biji kopi. Meski begitu, kadarnya biasanya jauh lebih rendah dibandingkan produk kentang goreng.

Dalam beberapa analisis, kopi seduh dilaporkan mengandung sekitar 5–20 mikrogram per liter, sementara kopi instan dapat memiliki kandungan yang lebih tinggi dalam bentuk bubuk.

Namun banyak penelitian juga menunjukkan kopi memiliki senyawa antioksidan yang justru berpotensi memberikan manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam batas wajar.

5. Sereal sarapan kemasan

Produk sereal yang dipanggang atau disangrai pada suhu tinggi juga dapat menghasilkan akrilamida, terutama jika mengandung gula tinggi. 

Beberapa studi menemukan kadar akrilamida dalam produk sereal dapat berkisar antara 150 hingga 1200 mikrogram per kilogram, tergantung metode produksi dan komposisi bahan.

Meski daftar makanan tersebut sering muncul dalam berbagai laporan kesehatan, para ahli menegaskan bahwa risiko kanker tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan. Faktor lain seperti merokok, obesitas, paparan bahan kimia, riwayat keluarga, hingga penyakit kronis juga memainkan peran penting dalam meningkatkan risiko kanker, termasuk kanker ginjal. 

Dalam kasus kanker ginjal, misalnya, dokter menyebut gejala awal seringkali tidak muncul hingga penyakit berkembang lebih lanjut. Gejala yang mungkin muncul antara lain darah dalam urine, nyeri pada pinggang, atau benjolan di perut, meski tidak semua pasien mengalami tanda tersebut. 

Kepergian Vidi Aldiano pada usia muda menyisakan duka bagi banyak orang, sekaligus menjadi pengingat bahwa penyakit serius seperti kanker tidak selalu tampak dari luar. Selama menjalani pengobatan, ia tetap tampil ceria di hadapan publik meski penyakitnya sudah berkembang hingga stadium lanjut dan menyebar ke organ lain. 

Di tengah berbagai spekulasi tentang makanan, gaya hidup, dan penyebab kanker, satu hal yang paling penting mungkin justru kesadaran sederhana untuk menjaga keseimbangan hidup. Tidak ada makanan yang sepenuhnya jahat, sebagaimana tidak ada makanan yang sepenuhnya menyelamatkan. Namun cara manusia mengonsumsi, mengolah, dan menyeimbangkan pola hidupnya sering kali menentukan arah kesehatan di masa depan.

Dan mungkin kita diingatkan kembali bahwa tubuh, seperti kehidupan adalah sesuatu yang rapuh. Ia membutuhkan perhatian, kesadaran, dan kadang juga kerendahan hati untuk merawatnya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll