Langit Jawa Timur Menurunkan Hujan Mikroplastik dan Apa Saja Dampaknya

Hujan, yang selama ini kita anggap sebagai simbol kesegaran dan pemurnian, kini menyimpan ironi....

Langit Jawa Timur Menurunkan Hujan Mikroplastik dan Apa Saja Dampaknya

Kesehatan
26 Feb 2026
214 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Langit Jawa Timur Menurunkan Hujan Mikroplastik dan Apa Saja Dampaknya

Hujan, yang selama ini kita anggap sebagai simbol kesegaran dan pemurnian, kini menyimpan ironi. Sejak akhir 2025, perbincangan tentang “hujan mikroplastik” di Jawa Timur mengemuka setelah sejumlah riset menemukan partikel plastik berukuran sangat kecil dalam air hujan dan sumber air terbuka. Temuan ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan alarm kesehatan publik di 10 kota, antara lain di Surabaya mencapai rekor tertinggi. 

Kelompok riset Jaringan Gen Z Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak) melakukan pengambilan sampel air hujan pada November 2025 di 10 kota di Jawa Timur, yakni Surabaya, Gresik, Mojokerto, Lamongan, Malang, Kediri, Tulungagung, Jember, Bondowoso, Trenggalek, dan Banyuwangi.

“Hasilnya, seluruh air hujan di 10 kota itu positif mengandung mikroplastik,” ujar Koordinator Jejak, Alaika Rahmatullah, Rabu, 18 Februari 2026. Surabaya mencatat kontaminasi tertinggi, mencapai 12 partikel per 90 cm² dalam dua jam pengambilan sampel. Uji polimer dan analisis radiasi inframerah (FTIR) menunjukkan dominasi jenis fiber dan filamen.

Menurut Alaika, sekitar 55 persen sumber mikroplastik berasal dari pembakaran sampah plastik. Selebihnya berasal dari abrasi ban kendaraan (yang menghasilkan polimer seperti EPDM), plastik tebal berbahan HDPE, aktivitas laundry, timbunan sampah, serta emisi industri dan kendaraan bermotor.

Temuan ini sejalan dengan laporan United Nations Environment Programme (UNEP) yang menyebut mikroplastik dapat terbawa angin dan jatuh kembali ke permukaan bumi melalui hujan, bahkan telah ditemukan di kawasan terpencil dunia. Laporan UNEP juga menegaskan bahwa pembakaran terbuka dan pengelolaan sampah yang buruk menjadi kontributor signifikan pencemaran plastik sekunder.

Penelitian lain dilakukan oleh Rizkiy Amaliyah Barakwan, dosen Teknik Lingkungan Universitas Airlangga. Ia meneliti dua sumber mata air terbuka: Sumber Wendit (Kabupaten Malang) dan Sumber Binangun (Kota Batu) pada Desember 2025. Hasilnya menunjukkan kelimpahan mikroplastik di Kolam Sumber Wendit mencapai 3,39–3,96 partikel per liter, dan di kerannya 0,92–1,8 partikel per liter. Di Kolam Sumber Binangun, angkanya 1,96–3,68 partikel per liter, dan di kerannya 0,88–1,56 partikel per liter.

“Dua kolam sumber mata air ini terbuka. Ketika masuk dalam keran, air sudah melalui proses sterilisasi sehingga jumlah partikelnya berkurang,” ujar Rizkiy.

Empat jenis mikroplastik teridentifikasi: fragmen, fiber, film, dan microbead. Artinya, partikel plastik telah memasuki rantai distribusi air rumah tangga. Persoalannya, hingga kini belum ada ambang batas aman mikroplastik dalam tubuh manusia yang ditetapkan secara resmi, baik oleh pemerintah Indonesia maupun lembaga internasional seperti World Health Organization (WHO).

WHO dalam laporan kualitas air minumnya memang menyebut bukti dampak kesehatan langsung masih terbatas, namun mendorong penelitian lanjutan karena paparan terjadi secara luas dan terus-menerus. Isu ini semakin mengkhawatirkan setelah temuan mikroplastik pada tubuh manusia.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr. Lestari Sudaryanti, melakukan dua penelitian pada 2025. Penelitian pertama menemukan 48 sampel air ketuban ibu hamil di sejumlah puskesmas kawasan Gresik positif mengandung mikroplastik. “Kalau sudah masuk air ketuban, berarti kita harus waspada dan harus melakukan sesuatu kepada ibu hamil,” ujarnya, 21 Januari 2026.

Penelitian kedua menemukan partikel mikroplastik dalam sel darah perempuan pemilah sampah di tiga kecamatan di Gresik. Jenis yang dominan adalah phthalates, zat aditif pada plastik lentur dan sekali pakai yang dalam berbagai studi internasional dikaitkan dengan gangguan hormon (endocrine disruptor).

Lestari juga mengungkap adanya indikasi hubungan antara paparan mikroplastik dan indeks massa tubuh (IMT) obesitas pada kelompok responden tersebut. Namun ia mengakui penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan hubungan sebab-akibat secara ilmiah.

Di sisi lain, sejumlah peneliti global mengingatkan agar publik tidak terjebak pada kepanikan prematur. Beberapa kajian menyebut bahwa walaupun mikroplastik terdeteksi dalam darah dan organ manusia, bukti klinis dampak jangka panjangnya masih terus diteliti dan belum sepenuhnya konklusif. Artinya, kehati-hatian perlu diiringi ketelitian ilmiah.

Sementara respon pemerintah, melalui Ketua Tim Kerja Sama dan Sarana Prasarana Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur, Agus Sutjahjo, mengakui mikroplastik dapat masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, dan udara.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah memiliki Perda Nomor 9 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Sampah, yang mendorong pembatasan plastik sekali pakai, penguatan industri daur ulang, serta penerapan extended producer responsibility (EPR). “Produsen harus bertanggung jawab terhadap produk yang dibuat atau dijual ketika produknya mencapai masa pakainya,” ujar Agus.

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif melalui skema Refuse-Derived Fuel (RDF). Namun pertanyaannya sejauh mana implementasi berjalan efektif? Fakta bahwa 55 persen sumber mikroplastik diduga berasal dari pembakaran sampah menunjukkan praktik open burning masih marak. Di banyak wilayah, keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah membuat masyarakat memilih cara paling praktis dengan membakar.

Kebijakan tanpa infrastruktur dan edukasi yang memadai berisiko berhenti di atas kertas. Mikroplastik di air hujan bukan sekadar data laboratorium. Ia adalah cermin gaya hidup modern, ketergantungan pada plastik sekali pakai, konsumsi instan, dan sistem pengelolaan sampah yang tertinggal. Ironisnya, partikel yang kita buang dengan ringan kini kembali dalam bentuk yang tak kasat mata, turun bersama hujan, masuk ke mata air, bahkan ditemukan dalam air ketuban dan darah manusia.

Kita mungkin tidak langsung jatuh sakit karena satu gelas air hujan yang tercemar. Namun persoalannya bukan pada satu paparan, melainkan akumulasi jangka panjang. Di sinilah negara, industri, dan masyarakat bertemu dalam tanggung jawab yang sama. Hujan seharusnya membersihkan bumi. Jika kini ia membawa serpihan plastik, mungkin yang perlu dibersihkan bukan hanya udara, melainkan cara kita hidup. Dan mungkin, sebelum menunggu ambang batas aman ditetapkan, kita perlu lebih dulu menetapkan ambang batas kesadaran. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll