Di tengah meningkatnya kewaspadaan global terhadap penyakit zoonosis, Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang menjadi salah satu titik strategis pengawasan kesehatan di Indonesia. Pengelola bandara bersama Balai Karantina Kesehatan Kelas I Semarang mulai memperketat pemantauan penumpang internasional, terutama melalui pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermal scanner di area kedatangan.
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang kewaspadaan terhadap penyakit virus Nipah yang diterbitkan pada 30 Januari 2026. Kebijakan tersebut mendorong seluruh pintu masuk negara untuk meningkatkan deteksi dini terhadap potensi penyakit menular yang berisiko masuk dari luar negeri.
Branch Communication & CSR Department Head Bandara Ahmad Yani, Arif Haryanto, menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan secara sistematis terhadap penumpang kedatangan internasional. “Thermal scanner ini berlokasi di area kedatangan penumpang internasional Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang,” ujarnya.
Selain pemeriksaan suhu tubuh, setiap penumpang juga diwajibkan mengisi data kesehatan melalui aplikasi All Indonesia sebagai bagian dari sistem surveilans epidemiologi digital. Penumpang yang terdeteksi memiliki suhu di atas ambang batas akan menjalani observasi lebih lanjut oleh petugas kesehatan.
“Petugas akan melakukan observasi dan pemeriksaan lanjutan bagi penumpang yang terpantau demam atau menunjukkan gejala sakit saat kedatangan,” kata Arif. Saat ini, bandara tersebut melayani dua rute internasional utama, yakni Singapura dan Malaysia, dua negara dengan mobilitas perjalanan yang tinggi. Pengawasan di jalur ini dianggap penting mengingat konektivitas regional Asia Tenggara yang sangat dinamis.
Virus Nipah bukan penyakit baru, tetapi kembali menjadi sorotan karena beberapa laporan kasus di Asia Selatan yang memicu kewaspadaan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut virus ini sebagai patogen zoonosis yang ditularkan dari hewan, terutama kelelawar buah ke manusia, dan dalam beberapa kasus dapat menyebar antarmanusia.
Gejala infeksi biasanya dimulai dengan demam, gangguan pernapasan, hingga komplikasi neurologis seperti ensefalitis atau peradangan otak. Tingkat fatalitasnya pun relatif tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen dalam berbagai wabah yang pernah terjadi.
Meskipun demikian, hingga awal Februari 2026 belum terdapat laporan kasus terkonfirmasi di Indonesia. Pemerintah memilih pendekatan preventif sebagai strategi utama, yakni memperkuat sistem kewaspadaan sejak dini sebelum munculnya transmisi lokal.
Seorang pejabat kesehatan daerah bahkan menegaskan bahwa strategi ini bukan sekadar respons terhadap ancaman langsung, melainkan bagian dari upaya memperkuat kesiapan sistem kesehatan nasional. “Walaupun belum ada laporan kasus, kami tidak ingin menunggu sampai kejadian. Rumah sakit dan puskesmas diminta meningkatkan kewaspadaan sejak dini,” ujar Anhar Ihwan dari Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan.
Pengawasan di bandara sering menjadi simbol kesiapsiagaan negara terhadap ancaman epidemi global. Namun sejumlah ahli kesehatan publik mengingatkan bahwa pemindaian suhu di bandara memiliki keterbatasan, karena tidak semua orang yang terinfeksi menunjukkan gejala pada fase awal perjalanan. Oleh karena itu, penguatan sistem deteksi di rumah sakit, pelacakan kontak, dan kesiapan tenaga kesehatan tetap menjadi faktor utama dalam pencegahan wabah.
Hal ini menjadi pelajaran penting dari pandemi sebelumnya: bahwa pencegahan tidak hanya terjadi di pintu masuk negara, tetapi juga dalam kesiapan sistem kesehatan di tingkat komunitas. Kebijakan pengawasan di bandara seharusnya dibaca bukan sebagai tanda ancaman yang sudah dekat, melainkan sebagai upaya preventif. Sejauh ini, risiko global dinilai rendah dan belum ada indikasi penyebaran luas virus Nipah. Namun pengalaman pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa respon dini seringkali menjadi pembeda antara situasi yang terkendali dan krisis kesehatan yang meluas.
Kewaspadaan bukan berarti panik, tetapi kesadaran kolektif untuk memahami risiko dan menjaga perilaku sehat. Sebab di sinilah peran informasi publik menjadi penting untuk menyampaikan fakta tanpa dramatisasi, bukan untuk menebar kepanikan, melainkan agar memastikan masyarakat memahami langkah sederhana seperti melaporkan gejala, menjaga kebersihan, dan mengikuti protokol kesehatan jika diperlukan.
Langkah Bandara Ahmad Yani dapat dilihat sebagai refleksi dari perubahan paradigma kesehatan global bahwa pencegahan harus dimulai sebelum ancaman menjadi nyata. Setelah pandemi besar terakhir, dunia mungkin tidak lagi menunggu alarm berbunyi keras. Kewaspadaan kini menjadi kebiasaan baru. (Red)