Gen Z Batam, Tarot, dan Kesehatan Mental: Tren Baru yang Perlu Dipahami

Generasi Z, atau yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, telah tumbuh sebagai generasi digital...

Gen Z Batam, Tarot, dan Kesehatan Mental: Tren Baru yang Perlu Dipahami

Kesehatan
17 Jan 2026
261 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Gen Z Batam, Tarot, dan Kesehatan Mental: Tren Baru yang Perlu Dipahami

Generasi Z, atau yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, telah tumbuh sebagai generasi digital pertama yang terhubung sepanjang waktu, terpapar informasi tanpa henti, dan menjalani kehidupan yang seolah terpantau publik melalui media sosial. Sebagai dampaknya, berbagai studi dan laporan menunjukkan bahwa Gen Z berisiko lebih tinggi terhadap tantangan kesehatan mental seperti kecemasan, stres, dan depresi dibanding generasi lain. Bahkan di Asia, diperkirakan sekitar dua-pertiga Gen Z memiliki risiko tinggi terhadap isu kesehatan mental pada 2024. 

Tekanan dari ekspektasi akademik, ketidakpastian masa depan, serta tuntutan tampil “sempurna” di dunia maya membuat banyak Gen Z merasa gelisah atau tak berdaya. Ironisnya, semakin banyak dari mereka yang justru terbuka menyampaikan pengalaman itu, mencari komunitas dukungan, atau mengekspresikan emosi secara terbuka. Salah satu tanda bahwa kesehatan mental kini jadi lebih diperhatikan daripada sebelumnya. 

Dalam konteks ini muncul fenomena yang cukup menarik: sebuah praktik lama melalui kartu tarot, mengalami kebangkitan popularitas di kalangan Gen Z sebagai alat bantu untuk mengurai kegelisahan batin. 

Tarot sebenarnya bukan praktik baru. Ia telah dikenal selama berabad-abad sebagai media introspeksi, simbolisme, dan refleksi diri. Namun, seperti yang dijelaskan oleh Psikolog Klinis dari Universitas Airlangga, Dian Kartika Amelia Arbi, apa yang membuat tarot istimewa di era Gen Z bukanlah keunikannya semata, melainkan bagaimana generasi ini menggunakannya. 

Menurut Dian, banyak Gen Z menghadapi situasi yang tidak bisa diprediksi atau dikendalikan. Entah itu tekanan hidup, masa depan yang tidak pasti, atau kecemasan yang terus berulang. Karena itu, mereka cenderung mencari penjelasan eksternal atas apa yang dirasakan saat ini, berharap bisa menemukan jawaban yang memberikan ketenangan. Tarot seperti menawarkan narasi visual yang bersifat personal, tanpa penilaian, sehingga terasa memberi ruang untuk refleksi. 

Fenomena ini diperkuat oleh tren media sosial: konten tarot, seperti “pick a card” atau sesi pembacaan tarot online, kerap menarik ratusan ribu hingga jutaan penonton, mencerminkan besarnya ketertarikan publik muda terhadap praktik ini. 

Tarot sebagai Mekanisme Koping: Refleksi atau Pelarian?

Dari perspektif psikologi, penggunaan tarot oleh Gen Z dapat dipahami sebagai salah satu bentuk mekanisme koping. Sebagai cara individu merespons stres atau tekanan emosional. Ketika situasi kehidupan terasa tidak pasti, mencari pola atau cerita yang bisa menjelaskan pengalaman pribadi dapat memberi rasa lega atau kontrol internal, setidaknya secara temporer. Hal ini juga selaras dengan temuan bahwa strategi koping yang efektif sangat berhubungan dengan kesejahteraan psikologis generasi muda. 

Namun di sinilah letak peringatan pentingnya: bila seseorang terlalu bergantung pada tarikan naratif tarot sebagai penentu masa depan mereka, hal itu berpotensi menjadi self-fulfilling prophecy, yakni ketika keyakinan bahwa sesuatu akan terjadi justru mendorong perilaku yang membuat prediksi itu terjadi. Ketimbang menjadi alat refleksi, tarot bisa berubah menjadi penghalang untuk menyelesaikan masalah secara aktif. 

Psikolog pun menyarankan bahwa tarot mungkin bermanfaat jika dipakai sebagai alat introspeksi, bukan sebagai prediksi literal dari masa depan. Dan yang lebih penting lagi, melakukan strategi koping yang terbukti efektif dalam kesehatan mental:

Misalnya melakukan manajerial stres berbasis kebiasaan sehat seperti journaling, mindfulness, dan batasan penggunaan media sosial. Melakukan aktivitas fisik rutin untuk meningkatkan mood dan mengurangi kecemasan. Mencari dukungan sosial atau profesional bila beban emosi terasa terlalu berat untuk ditangani sendiri. 

Gen Z tidak perlu menyangsikan cara mereka merespons pergulatan batin, tetapi penting bagi mereka untuk mengenali apakah strategi tersebut membantu atau justru menunda penyelesaian masalah. Di tengah tekanan dunia digital yang terus meningkat, memahami diri sendiri dengan jujur dan mencari dukungan yang tepat adalah langkah yang jauh lebih berkelanjutan daripada sekadar mencari ramalan tentang apa yang akan terjadi.

Kesehatan Mental Gen Z di Batam 

Fenomena Gen Z yang mencari cara-cara “unik” untuk memahami emosi dan kecemasan, seperti melalui kartu tarot, tidak berdiri sendiri. Tren ini juga muncul dalam konteks angka kesehatan mental yang tinggi di kalangan generasi muda di Indonesia, yang menurut beberapa survei dan riset menunjukkan bahwa persoalan mental bukanlah soal individu semata, melainkan fenomena masyarakat yang lebih luas.

Beberapa temuan penting dari survei nasional tahun 2022 menunjukkan gambaran kesehatan mental di kalangan remaja dan Gen Z Indonesia: Satu dari tiga remaja (sekitar 34,9%) menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan mental selama 12 bulan terakhir. Sekitar 5,5% di antaranya mengalami gangguan mental yang memenuhi kriteria diagnosis klinis  seperti gangguan kecemasan atau depresi. Ini setara dengan puluhan juta remaja di seluruh negeri. 

Survei lain memperlihatkan bahwa dalam kelompok usia muda, lebih dari 59% Gen Z di Indonesia melaporkan mengalami masalah kesehatan mental, jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Data juga menunjukkan bahwa perubahan suasana hati, gangguan tidur, dan kecemasan menjadi gejala yang paling umum di antara responden Gen Z. 

Laporan lain menyebut bahwa sekitar 51–60% Gen Z melihat kesehatan mental sebagai isu yang sangat penting, menggarisbawahi perlunya dukungan, akses layanan, dan edukasi yang lebih baik. Meski angka-angka ini memberikan gambaran tentang prevalensi, tak semua yang mengalami gejala mencari atau mendapatkan dukungan profesional, seperti akses ke layanan kesehatan mental di Indonesia yang masih terbatas, terutama di luar pusat kota besar.

Sementara di tingkat lokal Batam, sejumlah studi akademik menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja di Batam juga merupakan isu signifikan meskipun datanya belum selengkap survei nasional.

Berdasarkan data Repositori Universitas Awal Bros, penelitian kesehatan di Batam menunjukkan skrining terhadap remaja menemukan proporsi stres berat cukup tinggi, dengan hampir setengah responden berada dalam kategori tersebut dalam satu studi kecil. 

Dari Prosiding RS Mitra Husada, juga menemukan bahwa dari survei kesehatan di beberapa sekolah Batam, ratusan remaja ditemukan mengalami masalah kesehatan mental yang signifikan ketika dilakukan pemeriksaan oleh tenaga puskesmas setempat. 

Dari Jurnal Institut Teknologi Batam, melihat faktor sosial, pola asuh orang tua, kondisi lingkungan, dan status sosial ekonomi terbukti berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental remaja di Batam, menjadi penguat bahwa kondisi psikologis anak muda dipengaruhi oleh banyak dimensi kehidupan mereka. 

Meski belum ada statistik besar yang setara dengan survei nasional untuk Batam, rangkaian penelitian lokal ini menegaskan bahwa persoalan emosional dan mental di kalangan remaja dan Gen Z di Batam bukanlah hal sepele, dan membutuhkan perhatian multidisipliner dari keluarga hingga pengambil kebijakan.

Angka-angka di atas bukan sekadar statistik. Ini adalah jejak nyata tekanan yang dirasakan oleh generasi yang tumbuh dalam era digital, kompetitif, dan tak menentu. Ketika narasi seperti tarot menjadi salah satu cara Gen Z mengekspresikan kecemasan atau mencari makna, hal itu harus dipandang sebagai sinyal, bukan sekadar fenomena budaya yang unik.

Data menunjukkan bahwa Gen Z membutuhkan lebih dari sekadar penjelasan simbolik; mereka membutuhkan dukungan mental yang nyata, layanan profesional yang mudah diakses, dan lingkungan sosial yang memahami kompleksitas emosi mereka. 

Dengan memahami data ini, kita bukan hanya melihat tren, tetapi juga memetakan jalur untuk intervensi yang lebih efektif, dari pendidikan kesehatan mental di sekolah hingga jaringan layanan psikologis di komunitas.

Tarot bukan sekadar kartu dengan gambar; ia merupakan cermin yang dipakai banyak Gen Z untuk melihat diri mereka dalam era yang kompleks dan penuh ketidakpastian. Namun, mencari makna melalui simbol tidak selalu sama dengan memahami akar keresahan batin yang mendalam. Hal yang diperlukan bukan sekadar narasi, tetapi kepedulian, dukungan profesional, dan strategi koping yang sehat. Dengan emosi yang kita pelajari untuk dapat dikelola, dengan bimbingan dan jalan personal, adalah jembatan menuju kesehatan mental remaja yang lebih kuat untuk generasi masa depan bangsa. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll