Jerawat paling sering muncul di wajah, terutama di area yang cenderung berminyak seperti dahi, hidung, dan dagu. Namun, jerawat yang muncul di dagu dan rahang sering kali terasa lebih bandel. Ia datang berulang, sulit hilang, dan kadang muncul tepat di saat yang tidak diinginkan.
Secara umum, jerawat terjadi ketika pori-pori kulit tersumbat oleh minyak berlebih, kotoran, dan sel kulit mati. Kondisi ini menciptakan ruang ideal bagi bakteri berkembang, lalu memicu peradangan yang terlihat sebagai benjolan merah, nyeri, atau bernanah. Di area dagu, proses ini kerap dipengaruhi faktor lain di luar sekadar kebersihan kulit.
Salah satu penyebab yang paling sering dikaitkan dengan jerawat di dagu adalah perubahan hormon. Pada perempuan, fluktuasi hormon menjelang menstruasi, saat hamil, atau pada kondisi tertentu seperti PCOS dapat meningkatkan produksi minyak di kulit. Hormon androgen merangsang kelenjar minyak bekerja lebih aktif, sehingga pori-pori lebih mudah tersumbat. Tak heran jika jerawat di dagu sering muncul rutin setiap bulan.
Namun, jerawat di area ini tidak selalu soal hormon. Kebiasaan mencukur yang kurang bersih, terutama pada laki-laki, bisa memicu peradangan folikel rambut atau folikulitis. Bentuknya mirip jerawat, tetapi sering terasa lebih perih dan muncul berkelompok. Jika tidak ditangani dengan benar, kondisi ini bisa berulang.
Stres juga punya andil besar. Saat tubuh berada di bawah tekanan, hormon kortisol meningkat. Dampaknya bukan hanya pada pikiran, tetapi juga pada kulit. Produksi minyak bertambah, regenerasi sel melambat, dan jerawat pun lebih mudah muncul serta bertahan lebih lama.
Faktor sehari-hari yang sering dianggap sepele juga dapat memperparah jerawat di dagu. Terlalu sering menyentuh wajah, menggunakan produk skincare atau makeup yang berminyak, hingga gesekan dari masker, helm, atau tali penutup kepala bisa memicu iritasi. Di era penggunaan masker yang intens, jerawat di dagu dan rahang bahkan dikenal dengan istilah maskne.
Perawatan dasar sebenarnya bisa membantu mengurangi risiko jerawat. Membersihkan wajah dua kali sehari dengan sabun lembut, menghindari kebiasaan memencet jerawat, serta memilih produk nonkomedogenik menjadi langkah awal yang penting. Konsistensi jauh lebih berpengaruh dibandingkan mencoba banyak produk sekaligus.
Jika jerawat di dagu dan rahang tak kunjung membaik, terasa semakin nyeri, atau meninggalkan bekas yang mengganggu, berkonsultasi dengan dokter kulit adalah pilihan terbaik. Penanganan yang tepat akan disesuaikan dengan penyebabnya, apakah hormonal, infeksi, atau faktor gaya hidup.
Jerawat di dagu bukan hanya soal penampilan. Ia sering menjadi tanda bahwa tubuh sedang lelah, hormon sedang tidak seimbang, atau gaya hidup perlu sedikit dikoreksi. Merawat kulit berarti belajar lebih peka pada diri sendiri. Dengan memberi waktu istirahat yang cukup, mengelola stres, dan memperlakukan tubuh dengan lebih ramah dengan asupan gizi yang seimbang. (Red)