Anak Bertubuh Pendek Belum Tentu Stunting, Gangguan Hormon hingga Lingkungan Perlu Diwaspadai

Tinggi badan anak yang berada di bawah rata-rata tidak selalu menandakan kekurangan gizi atau...

Anak Bertubuh Pendek Belum Tentu Stunting, Gangguan Hormon hingga Lingkungan Perlu Diwaspadai

24 Jul 2026
167 x Dilihat
Share :

Tinggi badan anak yang berada di bawah rata-rata tidak selalu menandakan kekurangan gizi atau faktor keturunan. Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A., Subsp.Endo(K), mengingatkan bahwa perawakan pendek dapat dipicu berbagai penyebab, mulai dari gangguan hormon, kelainan genetik, penyakit kronis, hingga faktor lingkungan sosial dan emosional. Karena itu, orang tua perlu memantau kurva pertumbuhan anak secara berkala agar penyebabnya dapat dikenali sejak dini dan penanganan diberikan sesuai diagnosis. 

Menurut Aman, langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah langsung memberikan suplemen atau makanan tinggi kalori, melainkan memastikan apakah tubuh pendek yang dialami anak merupakan variasi pertumbuhan normal atau merupakan tanda suatu penyakit. "Yang paling penting sebetulnya memastikan dulu bahwa apakah anak kita pendek karena sakit atau tidak," ujar Aman dalam diskusi daring bertajuk Pengaruh Hormon dalam Pertumbuhan yang diselenggarakan RS Pondok Indah Group, Rabu (22/7). 

Persoalan ini, kata dia, tidak bisa dinilai hanya dari tinggi badan anak saat diperiksa. Dokter harus melihat pola pertumbuhan sejak bayi melalui kurva pertumbuhan. Dari kurva tersebut dapat diketahui apakah anak masih mengikuti jalur pertumbuhan normal atau justru mengalami perlambatan yang mengarah pada gangguan kesehatan.

Anak dengan perawakan pendek akibat faktor genetik umumnya tetap tumbuh mengikuti kurva yang konsisten. Sebaliknya, pada anak yang mengalami gangguan hormon pertumbuhan atau penyakit tertentu, kurva tinggi badan akan terus menurun dan keluar dari jalur pertumbuhan normal sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sudut pandang ini menjadi penting di tengah masih tingginya angka stunting di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting balita tercatat sebesar 19,8 persen, menunjukkan tren penurunan dibanding beberapa tahun sebelumnya. Berbagai kajian UNICEF menegaskan bahwa tantangan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan kekurangan makanan, melainkan juga kualitas layanan kesehatan, sanitasi, pendidikan keluarga, kemiskinan, hingga ketimpangan sosial. 

Masalah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan hormon pertumbuhan (growth hormone deficiency) tergolong jauh lebih jarang. Secara global, kondisi ini diperkirakan terjadi pada sekitar satu dari 4.000 hingga 10.000 kelahiran hidup. Penyebab lain seperti Sindrom Turner, riwayat bayi kecil masa kehamilan (KMK), maupun penyakit kronis juga dapat menghambat pertumbuhan anak.

Karena itu, Aman mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyamakan semua anak bertubuh pendek dengan stunting. "Penyebab pendek bukan hanya stunting ataupun nutrisi, bisa karena kelainan hormon. Stunting itu adalah pendek yang disebabkan malnutrisi kronik ataupun penyakit kronik," tegasnya. 

Pandangan tersebut sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menekankan pentingnya pemantauan pertumbuhan secara rutin sebagai bagian dari deteksi dini berbagai gangguan kesehatan anak. WHO juga mengingatkan bahwa pencapaian target penurunan stunting dunia masih berjalan lambat sehingga dibutuhkan intervensi yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga pelayanan kesehatan yang berkualitas serta perlindungan pada masa awal kehidupan. 

Sementara kalangan pemerhati kesehatan masyarakat mengingatkan agar perhatian terhadap gangguan hormon tidak menggeser fokus utama penanganan stunting di Indonesia. UNICEF dalam Kajian Program Gizi Nasional Indonesia 2018–2024 menilai bahwa mayoritas kasus stunting masih berkaitan erat dengan kemiskinan, akses pangan bergizi, sanitasi, layanan kesehatan ibu dan anak, serta kualitas pengasuhan. Artinya, perbaikan sistem kesehatan dan kondisi sosial tetap menjadi prioritas dalam upaya menurunkan stunting nasional. 

Dengan kata lain, kedua pendekatan tersebut bukan untuk dipertentangkan. Pada satu sisi, anak dengan gangguan hormon tidak boleh terlambat didiagnosis hanya karena dianggap mengalami stunting. Di sisi lain, tingginya angka stunting juga tidak boleh diabaikan dengan menganggap sebagian besar kasus disebabkan gangguan hormonal yang sebenarnya relatif jarang.

Aman juga mengingatkan bahwa banyak orang tua beranggapan tinggi badan anak akan otomatis meningkat setelah diberikan susu atau makanan bergizi. Padahal, jika penyebabnya adalah gangguan hormon, perbaikan nutrisi saja tidak cukup. Penanganan harus disesuaikan dengan penyebab medis yang mendasarinya.

Selain aspek biologis, pertumbuhan anak juga dipengaruhi lingkungan tempat ia dibesarkan. Kondisi ekonomi keluarga, kualitas pengasuhan, kesehatan mental orang tua, pola tidur anak, hingga lingkungan yang aman dan suportif turut berperan terhadap tumbuh kembang. Aman bahkan menekankan bahwa hormon pertumbuhan bekerja optimal ketika anak memiliki waktu tidur yang cukup dan berkualitas. 

Karena itu, ia mengimbau para orang tua rutin mengukur tinggi badan anak, mencatatnya pada kurva pertumbuhan, dan segera berkonsultasi ke dokter apabila pertumbuhan tampak melambat, tinggi badan berada jauh di bawah standar usianya, atau tidak sesuai dengan potensi tinggi badan keluarga. "Pastikan semua anak itu mendapat haknya, dimonitor pertumbuhan dan perkembangannya. Untuk ini tentulah butuh nutrisi, butuh lingkungan yang baik dan dari awal itu yang paling penting bahkan sebelum dia lahir," kata Aman. 

Tinggi badan tentu bukan sekadar angka dalam grafik pertumbuhan, melainkan juga cerminan dari perjalanan kesehatan anak sejak berada dalam kandungan hingga masa tumbuh kembangnya. Karena itu, membangun generasi yang sehat tidak cukup hanya dengan memastikan anak makan lebih banyak, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh diagnosis yang tepat, pengasuhan yang baik, lingkungan yang sehat, dan akses layanan kesehatan yang berkualitas. 

Di situlah upaya mencegah stunting dan mendeteksi gangguan pertumbuhan bertemu pada tujuan yang sama, yaitu memastikan setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sesuai potensi terbaiknya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll