Ek Villain Returns dan Wajah Bengis Cinta

Sisi jahat cinta cukup berhasil dipotret dalam film Ek Villain Returns. Film thriller psikologis...

Ek Villain Returns dan Wajah Bengis Cinta

10 Okt 2026
298 x Dilihat
Share :

Ek Villain Returns dan Wajah Bengis Cinta

Sisi jahat cinta cukup berhasil dipotret dalam film Ek Villain Returns. Film thriller psikologis India yang disutradarai Mohit Suri dan dirilis pada 2022 ini mengajak penonton memasuki wilayah gelap perasaan manusia, ketika cinta yang semestinya menjadi sumber kebahagiaan justru dapat berubah menjadi obsesi, penderitaan, bahkan kekerasan. 

Mengapa cinta bisa berwajah ganda, begitu berpengaruh hingga mampu menghidupkan harapan, tetapi dalam keadaan tertentu juga dapat menghancurkan kehidupan? Barangkali karena cinta tidak pernah hadir di ruang hampa. Ia tumbuh bersama ego, harapan, ketakutan, kecemburuan, kebutuhan untuk diakui, dan keinginan untuk memiliki. 

Dalam diri manusia, kasih sayang dapat berdampingan dengan amarah, kelembutan dengan kekerasan, dan pengorbanan dengan tuntutan. Seperti simbol Yin dan Yang dalam filsafat Tiongkok yang menggambarkan keterkaitan unsur-unsur berlawanan dalam suatu kesatuan, kehidupan memperlihatkan bahwa pengalaman manusia tidak selalu tersusun atas dua kutub yang terpisah secara mutlak. 

Demikian sebuah keterkaitan itu bukan berarti kebaikan dan kejahatan merupakan dua hal yang sama atau bahwa keduanya harus selalu hadir bersama. Justru di situlah persoalannya bahwa sesuatu yang kita anggap baik dapat kehilangan maknanya ketika dijalankan tanpa kesadaran, kendali diri, dan penghormatan terhadap kehidupan orang lain.

Misalnya mengapa ada orang yang membunuh sambil tersenyum, seolah-olah tindakannya memberikan kepuasan, sebagaimana seseorang membunuh nyamuk tanpa memikirkan kehidupan makhluk yang dihadapinya? Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih rumit daripada sekadar menyebut pelaku sebagai psikopat. Istilah psikopat tidak semestinya digunakan untuk melabeli setiap orang yang melakukan kekerasan, sebab perilaku kriminal dan diagnosis psikologis bukanlah hal yang identik. Kekerasan dapat muncul melalui berbagai jalur, termasuk dorongan untuk menguasai, kebencian, rendahnya pengendalian diri, pembenaran atas tindakan agresif, atau ketidakmampuan menerima batas yang ditetapkan orang lain. 

Dalam sejumlah kasus, pelaku bahkan merasa tindakannya dapat dibenarkan karena menganggap dirinya telah dikhianati atau diperlakukan tidak adil. Di sinilah pikiran manusia dapat membangun pembenaran yang mengerikan. Seorang pembunuh bisa merasa dirinya korban dan menganggap dirinya berhak menjadi hakim sekaligus algojo bagi orang lain. Ia tidak lagi melihat manusia di hadapannya sebagai pribadi yang mempunyai kebebasan, kehendak, dan hak untuk menentukan hidupnya sendiri, melainkan sebagai objek yang harus tunduk pada keinginannya.

Pertanyaan tentang kekerasan juga dapat dibawa ke wilayah teologis. Sebagaimana pernah orang-orang katakan bahwa Tuhan seakan-akan telah membunuh manusia melalui gempa bumi dan berbagai tragedi alam lainnya. Katanya, bagaimana memahami gambaran tentang Tuhan Yang Mahacinta, (yang dalam kerangka pemikiran tasawuf dapat direnungkan melalui keindahan atau Al-Jamal), ketika kehidupan juga memperlihatkan kedahsyatan, kehancuran, dan kematian yang dapat dikaitkan dengan keagungan atau Al-Jalal? 

Pertanyaan itu tidak harus berakhir dengan kesimpulan bahwa Tuhan adalah jahat, sebab bencana alam dan kekerasan yang dilakukan manusia merupakan persoalan yang berbeda. Gempa bumi merupakan peristiwa geologis, sedangkan pembunuhan merupakan tindakan manusia yang melibatkan pilihan, tanggung jawab, dan konsekuensi moral. Namun keduanya dapat mengantarkan manusia pada pertanyaan eksistensial yang sama mengapa penderitaan menjadi bagian dari kehidupan, dan bagaimana manusia memahami cinta di tengah kenyataan yang tidak selalu ramah terhadap keberadaannya? 

Barangkali keindahan dan kedahsyatan mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Dalam ketidakberdayaan di hadapan sebuah tragedi, tidak boleh dijadikannya alasan untuk menormalisasi pembalasan dan penderitaan yang sebenarnya dapat dicegah, terlebih ketika penderitaan itu sengaja ditimbulkan oleh sesama manusia.

Maka, ketika banyak orang di dunia merasa sengsara dan berputus asa karena menjalani hidup tanpa cinta, kita perlu bertanya lebih jauh tentang makna cinta yang mereka cari. Ada orang yang merasa kalah karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Sebab ia merasa telah memberikan perhatian, menyimpan harapan, dan membangun bayangan tentang masa depan bersama seseorang. Tetapi perasaan itu akhirnya tidak mendapatkan sambutan yang sama. 

Penolakan kemudian terasa seperti kehilangan sesuatu yang seolah-olah sudah menjadi miliknya, meskipun hubungan yang diharapkan itu belum pernah disepakati bersama. Di sinilah bahasa cinta menyimpan paradoks. Kita menyebutnya cinta sepihak karena perasaan itu hanya tumbuh pada satu pihak, sedangkan pihak lainnya belum tentu merasakan hal serupa. Namun tidak tepat pula mengatakan bahwa cinta hanya dapat disebut cinta apabila dibalas. Sebab ketulusan perasaan seseorang tidak otomatis hilang hanya karena tidak mendapatkan balasan. 

Mungkin yang perlu dibedakan adalah perasaan mencintai dan hubungan yang disepakati bersama. Perasaan dapat tumbuh tanpa persetujuan pihak lain, tetapi hubungan tidak dapat dibangun secara sehat tanpa kebebasan, penghormatan, dan kesediaan kedua belah pihak.

Karena itu, apabila cinta memperoleh balasan dan kedua orang sepakat untuk membangun kehidupan bersama, hubungan tersebut dapat berkembang menjadi komitmen, perkawinan, atau bentuk ikatan lain yang diakui secara sosial dan hukum. Namun dalam kesepakatan tidak berarti cinta harus berubah menjadi transaksi, sebagaimana perkawinan juga tidak dengan sendirinya menjamin kebahagiaan. 

Hukum dapat mengatur hak dan kewajiban, sedangkan perjodohan dapat mempertemukan dua orang, tetapi keduanya tidak mampu memerintahkan hati untuk mencintai. Sebaliknya, cinta yang tumbuh secara tulus pun tidak cukup untuk menjamin hubungan selalu berjalan baik apabila tidak disertai tanggung jawab, komunikasi, kesediaan berkompromi, dan penghormatan terhadap batas pribadi. 

Hubungan yang sehat bukan semata-mata perkara dua orang saling mengucapkan cinta, melainkan kesediaan untuk mengakui bahwa orang yang dicintai tetap merupakan manusia merdeka, bukan kepemilikan yang dapat dituntut, dipaksa, atau dihukum ketika tidak memenuhi harapan.

Dalam konteks itulah Ek Villain Returns mengingatkan kita bahwa cinta tidak seharusnya dipahami sebagai pertandingan yang menentukan siapa pemenang dan siapa pecundang. Dalam cinta, tidak ada kemenangan sejati apabila kebahagiaan seseorang dibangun di atas penderitaan orang lain. Tidak ada kehormatan dalam memaksa seseorang untuk bertahan, dan tidak ada kemuliaan dalam menjadikan penolakan sebagai alasan untuk membalas dendam. 

Namun, mengapa cinta yang diabaikan atau tidak berbalas kadang-kadang membuat seseorang bertindak di luar nalar, bahkan melakukan kejahatan pembunuhan? Apakah karena cinta memang tidak bernalar, atau karena manusia terkadang membiarkan perasaannya mengambil alih kemampuan untuk menimbang akibat dari tindakannya? 

Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada cinta sebagai perasaan, melainkan pada cara seseorang memahami, mengelola, dan mengekspresikan sebuah perasaan. Cinta memang tidak selalu lahir melalui pertimbangan rasional, tetapi tindakan yang dilakukan atas nama cinta tetap harus tunduk pada pertimbangan moral. Merasa terluka adalah pengalaman manusiawi, lalu jika menjadikan luka sebagai pembenaran untuk menyakiti orang lain itu pilihan yang harus dipertanggungjawabkan.

Kejahatan mungkin dapat dipahami sebagai bayangan yang muncul ketika kebaikan kehilangan batas moralnya, atau ketika sesuatu yang semula dianggap sebagai cinta berubah menjadi tuntutan untuk menguasai. Seseorang yang mengatakan mencintai pasangannya, misalnya, dapat mulai mengawasi setiap pergerakannya, melarangnya bergaul dengan orang lain, memeriksa pesan pribadinya, atau mengancam akan menyakiti diri sendiri apabila ditinggalkan. Perilaku semacam itu mungkin dibungkus dengan kata perhatian, kesetiaan, dan ketakutan kehilangan, tetapi maknanya tidak lagi sama dengan kasih sayang yang menghormati kebebasan. 

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality pada 2021 oleh Jocelyn J. Belanger dan rekan-rekannya, berdasarkan empat studi dengan total 1.257 partisipan, menemukan hubungan antara gairah romantis yang obsesif, ketakutan akan ditinggalkan, dan perilaku intrusif yang tidak diinginkan terhadap pasangan. Temuan tersebut membantu menjelaskan bagaimana keinginan mempertahankan hubungan dapat berubah menjadi tindakan yang melanggar privasi dan menimbulkan ketakutan. 

Meski demikian, penelitian itu tidak berarti bahwa setiap orang yang mengalami cinta tak berbalas akan melakukan kekerasan. Pelajaran pentingnya adalah bahwa perasaan yang intens perlu disertai kemampuan mengendalikan diri, menerima kenyataan, dan menghormati keputusan orang lain.

Data kesehatan global memperlihatkan bahwa kekerasan dalam hubungan bukan sekadar persoalan dramatis yang hidup dalam film. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam lembar fakta yang diperbarui pada 18 Juni 2026, menyebutkan bahwa sekitar satu dari tiga perempuan di dunia (sekitar 840 juta perempuan dan anak perempuan) pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan intim maupun kekerasan seksual oleh bukan pasangan sepanjang hidupnya, berdasarkan estimasi global yang dipublikasikan pada 2023. 

WHO juga menegaskan bahwa kekerasan pasangan intim tidak terbatas pada serangan fisik, tetapi mencakup kekerasan seksual, tekanan psikologis, dan perilaku mengendalikan. Tentu data tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa cinta tak berbalas merupakan penyebab tunggal kekerasan, sebab kekerasan lahir dari interaksi berbagai faktor individual, relasional, sosial, dan struktural. Namun angka itu menegaskan bahwa kita tidak boleh meromantisasi perilaku mengancam atau menguasai sebagai bukti cinta yang besar. Ketika seseorang kehilangan rasa aman karena perilaku pasangannya, persoalannya bukan lagi sekadar hubungan yang sedang bermasalah, melainkan sudah persoalan keselamatan, martabat, dan hak asasi manusia.

Lalu, apa pelajaran yang dapat saya tangkap dari film ini? Berhati-hatilah, sebab cinta dapat menampakkan wajah bengisnya ketika perasaan bercampur dengan ego, obsesi, kebohongan, dan keinginan untuk memiliki seseorang sepenuhnya. Jangan mudah bermain api jika sejak awal hubungan itu hanya dibangun di atas kepura-puraan, janji yang tidak sungguh-sungguh, atau ketidakjujuran mengenai perasaan. Memberikan harapan kepada orang lain bukan perkara sepele, terutama apabila kita mengetahui bahwa ia telah menaruh perasaan yang mendalam kepada kita. 

Kejujuran bukan jaminan bahwa tidak akan ada yang terluka, tetapi ketidakjujuran dapat memperpanjang kebingungan, memperbesar kesalahpahaman, dan membuat seseorang bertahan pada harapan yang sebenarnya tidak pernah hendak kita wujudkan. Meski demikian, kita juga perlu membedakan antara bersikap jujur dan merasa bertanggung jawab atas seluruh emosi orang lain. Kita berkewajiban menyampaikan sikap dengan jelas dan memperlakukan orang lain secara manusiawi, tetapi kita tidak berkewajiban membalas cinta yang tidak kita rasakan. Tidak seorang pun harus menjalin hubungan karena takut membuat orang lain kecewa.

Bukan maksud saya menyalahkan cinta, seolah-olah cinta merupakan sumber segala kejahatan. Cinta justru dapat menjadi salah satu pengalaman manusia yang mampu memperluas empati, menumbuhkan kepedulian, dan membuat seseorang bersedia hadir bagi kehidupan orang lain. Yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan untuk menyamakan cinta dengan kepemilikan, pengorbanan tanpa batas, atau hak untuk mengatur kehidupan seseorang. 

American Psychological Association (APA), dalam pembahasannya mengenai kekerasan dalam hubungan, mengingatkan bahwa penghinaan, pemaksaan, intimidasi, dan perilaku mengontrol bukanlah bentuk cinta yang sehat. Kita tidak perlu takut mencintai, tetapi perlu belajar mencintai tanpa menghapus diri sendiri dan tanpa merampas kebebasan orang lain. Kita boleh bersedih ketika cinta tidak berbalas, mengambil jarak ketika hubungan tidak lagi sehat, dan berduka ketika seseorang memilih pergi. Semua itu merupakan bagian dari pengalaman hidup. Namun, tidak ada kesedihan yang memberi kita hak untuk menghancurkan kehidupan orang lain.

Sebab cinta tidaklah seperti rumus pertambahan sederhana, 1 + 1 = 2. Dalam kenyataan hidup, dua orang dapat bertemu dan menghasilkan kebahagiaan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, tetapi dua orang yang sama juga dapat saling melukai apabila hubungan mereka dibangun di atas ketakutan, kebohongan, dan tuntutan yang berlebihan. Ada kalanya mungkin cinta mengajarkan penjumlahan, ketika kehadiran seseorang memperkaya kehidupan kita. Namun ada kalanya ia mengajarkan pengurangan, ketika kita harus melepaskan harapan yang tidak mungkin diwujudkan. Di samping ada kalanya ia juga menyerupai perkalian, ketika kepedulian kecil tumbuh menjadi kekuatan yang berlipat ganda dan ada kalanya ia memerlukan perhitungan yang lebih rumit, seperti integral dan aljabar, karena manusia tidak pernah sesederhana angka-angka yang dapat disusun dalam sebuah persamaan. 

Namun, apa pun rumus yang kita gunakan untuk memahami cinta, ada satu prinsip yang tidak boleh berubah bahwa kebebasan orang lain bukan variabel yang boleh kita hapus demi memperoleh jawaban sesuai keinginan kita.

Barangkali kedewasaan dalam mencintai tidak ditentukan oleh seberapa keras kita mempertahankan seseorang, melainkan oleh kemampuan menerima bahwa tidak semua perasaan harus berakhir dalam kepemilikan. Ada cinta yang tumbuh menjadi keluarga, ada yang bertahan sebagai persahabatan, ada yang hanya menjadi kenangan, dan ada pula yang harus dilepaskan sebelum berubah menjadi luka yang lebih dalam. 

Melepaskan bukan selalu berarti kalah, sebagaimana ditinggalkan bukan berarti kehilangan harga diri. Terkadang, keberanian terbesar justru terletak pada kesediaan menghentikan langkah, menerima penolakan, dan membiarkan orang yang kita cintai menjalani kehidupannya sendiri. 

Film Ek Villain Returns mengingatkan kita tentang sisi gelap yang mungkin muncul ketika cinta kehilangan kemanusiaannya. Pelajaran yang lebih penting bukanlah bahwa cinta harus dicurigai, melainkan bahwa cinta harus disertai kesadaran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan. Sebab, jika cinta membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat orang lain sebagai manusia yang merdeka, mungkin yang sedang kita pertahankan bukan lagi cinta, melainkan ego yang takut kehilangan kendali. (Sal)

Perspektif

Scroll