Film Deewana bagi saya bukan sebatas cerita tentang cinta romantis. Terselip di dalamnya persoalan tentang keseriusan, atau mungkin justru itulah pokok utamanya yang hendak diangkat oleh sang sutradara, yaitu tentang cinta yang bukan hanya cinta seorang laki-laki kepada seorang perempuan, melainkan juga tentang cinta yang diyakini manusia kepada Tuhan dan agama.
Deewana adalah film Telugu karya Sreekanth Sangishetty yang menandai debut penyutradaraannya. Film yang dibintangi Harshith Reddy dan Smeha Manimegalai ini dirilis di India pada Juni 2026. Secara sederhana, ceritanya tentang seorang anak muda bernama Munna, yang semula hidupnya tanpa arah, kemudian jatuh cinta kepada Amulya atau Ammu, seorang perempuan yang sudah bekerja dan berusaha membangun kehidupannya sendiri.
Dalam perjalanan cinta itu, Munna sampai pada suatu keadaan yang dipaksa harus berhadapan dengan dirinya sendiri dalam tanggung jawabnya tentang meraih pekerjaan, menghadapi dinamika keluarga, tentang harga diri setelah diusir dari rumahnya, dan pada akhirnya tentang arti mencintai seseorang. Ketika ia merasa kecewa atas perlakuan ayahnya yang telah mengusirnya, sang pemberi tumpangan lalu menjawabnya, “Tuhan tidak tinggal di kuil, gereja, atau masjid. Orang tuamu adalah Tuhan sejatimu. Sebab orang tualah yang menanggung beban terberat. Seorang ayah yang bekerja bagai kuda dan hasilnya sering dipakai anaknya untuk hal yang sia-sia. Padahal itu demi masa depan anaknya agar bisa hidup setelah ia tiada.”
Kalimat itu tentu saja tidak perlu dibaca sebagai doktrin teologis, melainkan sebuah gagasan yang diletakkan sebagai unsur kekuatan film melalui tokoh dan karakternya untuk membawa pesan, atau untuk menggeser perhatian kita dari menjadikan agama sebagai bangunan dan simbol menuju Tuhan atau sebagai jalan pengalaman pengorbanan. Film mengajak kita merenung bahwa Tuhan dalam dialog itu agar membuat kita berani mengubah ruang ibadah yang sebatas menunjuk tempat di luar diri, menuju ruang kehidupan sehari-hari tentang apa yang kita alami. Mari rasakan kehadiran Tuhan di meja makan, dalam pekerjaan, dalam kecemasan orang tua, atau dalam masa depan seorang anak yang belum selesai menemukan dirinya.
Karena itu, membahas Deewana menjadi lebih menarik daripada sekadar film percintaan. Sutradara Sreekanth Sangishetty sendiri mengatakan bahwa gagasan film ini telah ia pelihara hampir satu dekade. Perjalanan pribadinya pun seperti memiliki gema yang sama dengan judul filmnya saat ia pernah menjadi asisten sutradara, kemudian meninggalkan dunia film demi pekerjaan korporasi sebelum kembali mengejar cita-cita membuat film.
Dengan kata lain, kata Deewana dalam pengalaman sang sutradara dapat pula dibaca sebagai gambaran tentang kegigihan seseorang yang berani terus mengejar sesuatu yang telah diyakininya, meskipun jalan menuju apa yang dicita-citakannya tidak selalu mudah, bahkan sempat membawanya menjauh dari dunia yang dicintainya sebelum akhirnya ia kembali, karena keyakinan yang begitu kuat membuatnya merasa bahwa sesuatu itu tetap layak diperjuangkan.
Tentu saja cerita Deewana—tergila-gila—adalah alam ide jika meminjam gagasan Plato, atau tentang sesuatu yang diidealkan, bahwa dalam mencintai, atau bagi seorang laki-laki dalam cara mengejar cinta pada perempuannya, harus dengan cara bagaimana yang semestinya, dan memang harus tahu juga risiko dan pengorbanannya.
Hal itu perlu kita pahami seperti halnya kita perlu memahami risiko dan pengorbanan tentang orang-orang yang begitu cintanya kepada Tuhan dan agama, yang sebagian orang sering menyebutnya “mabuk agama”. Itu sama halnya dengan “mabuk cinta” yang sesungguhnya. Itulah keadaan ketika sesuatu yang kita cintai menjadi sedemikian besar di dalam batin, sehingga ia mulai memengaruhi cara kita melihat dunia.
Namun Deewana juga menyimpan pertanyaan yang tidak sederhana. Misalnya kita bertanya kapan cinta masih dapat disebut cinta, dan kapan ia berubah menjadi obsesi? Kapan perjuangan dalam memperjuangkan seseorang menjadi ketulusan, dan kapan ia berubah menjadi pelanggaran terhadap kehendak orang lain?
Pertanyaan itu penting karena cinta tidak pernah atau tidak boleh menghapus kehendak bebas orang yang dicintai. Namun bagi seorang yang sedang mengalami mabuk, itulah barangkali maksud pesan film ini. Bukan sekadar cerita seorang pemuda yang mencintai, yang pasti merupakan sesuatu yang natural, normal, atau bahkan kebutuhan. Tetapi dalam prosesnya, baik bagi perempuan maupun orang-orang di lingkungan sekitarnya, perilaku itu terkadang dipandang sebagai sesuatu yang mengganggu, bahkan dapat masuk ke wilayah hukum, dianggap sebagai perbuatan kriminal.
Dalam konteks India sekarang, batas tersebut bahkan memiliki konsekuensi hukum yang jelas. Bharatiya Nyaya Sanhita, yang berlaku sejak 1 Juli 2024, mengatur stalking dalam Pasal 78. Salah satu bentuknya adalah aturan jika mengikuti atau berusaha berkomunikasi secara berulang untuk membangun hubungan personal, meskipun perempuan tersebut telah menunjukkan ketidaktertarikan. Hukum itu juga mencakup pemantauan dalam bentuk komunikasi elektronik dari laki-laki kepada perempuan khususnya
Karena itu, jika kemudian kalimat yang ditorehkan perempuan seperti berkata, “Mengganggu saja. Berisik banget sih,” mungkin tidak selalu dapat dianggap sekadar bagian dari permainan cinta. Namun yang pasti dalam kehidupan nyata, adalah sebuah tanggapan akan penolakan yang harus dibaca dan dihormati.
Di sinilah awal cerita pemuda pengangguran bernama Munna yang mencintai Ammu. Saat ia berusaha mengejar cintanya itu, Munna setiap hari datang ke tempat kerjanya demi ingin melihat Ammu, yang tentu saja Ammu merasa terganggu. Bagi seorang perempuan cantik, tentu saja tidak hanya satu pemuda seperti Munna, tetapi juga geng Tony yang suka datang ke tempat pembayaran elektronik itu hanya demi “menggoda” perempuan cantik semacam Ammu.
Lalu, dari sudut pandang Ammu, baik Munna maupun kumpulan pemuda dari geng Tony pada dasarnya tidak memiliki perbedaan yang berarti. Keduanya sama-sama hadir sebagai sekumpulan laki-laki yang terus mengusik ketenangan dan ruang pribadinya ketika ia sedang bekerja, sehingga perhatian yang bagi Munna dan geng Tony mungkin mereka anggap sebagai bentuk ketertarikan, keberanian, atau sekadar gurauan, justru diterima Ammu sebagai gangguan yang membuatnya tidak nyaman.
Karena itu, ketika perilaku tersebut semakin mengusik suasana di tempat kerja, petugas keamanan kantor tempat Ammu bekerja akhirnya merasa perlu bertindak dengan menelepon polisi, dan persoalan yang semula tampak seperti urusan cinta seorang pemuda perlahan berubah menjadi persoalan tentang batas antara ketertarikan, kebebasan seseorang untuk menolak, dan perilaku yang mulai mengganggu kehidupan orang lain.
Tertangkaplah Munna begitu pulang dari kantor tersebut. Dan di mana pun saja, jika seseorang sudah berurusan dengan polisi, biasanya persoalannya tidak lagi menjadi urusan pribadi. Keluarga ikut terseret. Keluarga harus mencari jalan agar anaknya bisa keluar dari masalah, bahkan ketika kesalahan itu sebenarnya dilakukan oleh satu orang.
Demikianlah hukum sosial dan hukum komunal. Satu orang melakukan kesalahan dan yang menanggung akibat sosialnya dapat menjadi seluruh anggota keluarga. Sreekanth Sangishetty, sutradara sekaligus penulis skenario film yang tayang pada Juni 2026 ini, menyelipkan kritik terhadap keadaan tersebut. “Kenapa ayahku dibawa ke mari karena kesalahanku?” kata Munna setelah polisi berkata kepada ayah Munna, “Anakmu mengganggu gadis-gadis di jalanan. Tidakkah kau mendidiknya dengan baik agar tahu adab dan kesopanan?”
Persoalan itu sebenarnya lebih luas daripada sekadar hubungan antara anak dan ayah. Dalam masyarakat yang ikatan keluarganya kuat, kesalahan seorang anak sering dibaca sebagai kegagalan keluarga mendidiknya. Anak mungkin melakukan kesalahan sendirian, tetapi orang tua ikut menerima rasa malu.
Film ini juga menunjukkan bagaimana cinta dapat menjadi energi perubahan. Munna yang sebelumnya digambarkan sebagai anak muda tanpa arah perlahan didorong untuk memikirkan masa depan. Beberapa ulasan film menempatkan perubahan tersebut sebagai salah satu inti Deewana adalah tentang perjalanan seorang pemuda dari kehidupan yang tidak bertanggung jawab menuju kesadaran tentang pekerjaan, keluarga, dan dirinya sendiri.
Salah satu adegan menarik terjadi setelah sekian kali Munna menyatakan cinta kepada Ammu dan selalu datang ke loket tempat Ammu bekerja. Ammu sempat menyebut Munna sebagai “pria tak berguna” ketika berbicara dengan Swapna. Munna mendengar itu dan kemudian berkata, “Aku telah menghajar orang yang sering menggodamu, aku sampai babak belur karena berkelahi dengan geng Tony yang sering menggodamu. Masihkah aku dikatakan pria tak berguna? Masih juga tak menanggapi cintaku kepadamu?”
Namun, cinta Munna pada saat itu masih mengandung persoalan yang lebih mendasar. Ia cenderung menganggap setiap pengorbanan yang telah dilakukannya sebagai bukti bahwa cintanya layak diterima dan pada akhirnya semestinya mendapatkan balasan dari orang yang dicintainya. Ia telah berkelahi, terluka, membela Ammu dari gangguan pemuda lain, datang berulang kali ke tempat Ammu bekerja, dan melakukan berbagai hal yang menurutnya menunjukkan kesungguhan. Karena itu, ketika Ammu tetap tidak memberikan jawaban yang diharapkannya, Munna seperti merasa ada sesuatu yang tidak adil dalam cinta yang sedang diperjuangkannya.
Padahal cinta tidak selalu bekerja seperti transaksi. Pengorbanan seseorang tidak serta-merta menciptakan kewajiban bagi orang lain untuk membalasnya dengan perasaan yang sama. Dalam kehidupan, seseorang dapat berkata, “Aku sudah melakukan banyak hal untukmu,” tetapi orang yang dicintainya tetap memiliki hak sepenuhnya untuk mengatakan tidak, sekalipun ia menyadari dan menghargai semua pengorbanan yang telah dilakukan. Sebab cinta yang diberikan dengan tulus semestinya tidak berubah menjadi tagihan yang harus dibayar dengan cinta pula.
Di sinilah batas yang tipis antara cinta dan keinginan untuk memiliki mulai terlihat. Mencintai seseorang berarti bersedia menerima kemungkinan bahwa perasaan kita tidak akan mendapatkan jawaban sebagaimana yang kita harapkan. Pengorbanan dapat menjadi bahasa cinta, tetapi pengorbanan tidak pernah menjadi surat kepemilikan. Kita boleh memperjuangkan seseorang, tetapi tidak dapat memaksa seseorang untuk menjadi tujuan dari perjuangan itu. Dan mungkin, justru pada saat seseorang mampu menerima kemungkinan penolakan itulah, cinta mulai beranjak dari sekadar keinginan untuk memiliki menjadi penghormatan terhadap kebebasan orang yang dicintai.
Kemudian Ammu berkata, “Aku bekerja di kantor pemerintahan dengan gaji 15.000 rupee. Malamnya aku mengajar les menyanyi yang dibayar 5.000 rupee. Dalam sebulan aku menerima penghasilan 20.000 rupee. Sementara kamu menghasilkan 20 rupee saja belum tentu. Sudah cari pekerjaan dulu, temukan pekerjaan sebagai PNS dan kalau lolos baru kamu datang lagi ke sini.”
Dialog tentang penghasilan itu menarik karena Ammu tidak semata-mata sedang menolak cinta Munna, melainkan sedang mengembalikan cinta yang terlalu jauh melayang di dalam angan-angan kepada kenyataan kehidupan yang harus dijalani sehari-hari. Bagi Munna, cinta mungkin cukup menjadi alasan untuk datang, menunggu, berkelahi, terluka, dan terus mengejar. Tetapi bagi Ammu, cinta tidak dapat berdiri sendiri tanpa kehidupan yang menopangnya. Perasaan memang dapat menjadi awal dari sebuah perjalanan, tetapi ia tidak otomatis menjadi bekal yang cukup untuk menempuh seluruh perjalanan itu.
Cinta boleh membuat seseorang bermimpi, tetapi kehidupan tetap membutuhkan nasi, rumah, pekerjaan, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan tanggung jawab. Ada kebutuhan-kebutuhan sederhana yang tidak pernah hilang hanya karena seseorang sedang jatuh cinta. Tagihan tetap datang, keluarga tetap membutuhkan perhatian, tubuh tetap membutuhkan makanan, dan masa depan tetap meminta seseorang untuk mempersiapkannya. Karena itu, ketika Ammu membandingkan penghasilannya dengan keadaan Munna, ia seperti sedang mengatakan bahwa mencintai seseorang juga berarti memikirkan apakah kita memiliki kesiapan untuk hidup bersama kenyataan yang akan muncul setelah perasaan itu tidak lagi menjadi sesuatu yang baru.
Bahkan dalam cerita romantis sekalipun, masa depan tidak hanya dibangun oleh perasaan. Siapa pun yang sudah berani menyatakan cinta, berarti ia telah siap dengan pekerjaan yang harus dilakukan, ada keluarga yang harus dipikirkan, ada kesehatan yang harus dijaga, ada tanggung jawab yang harus dipikul, dan ada keputusan-keputusan kecil yang setiap hari menentukan apakah sebuah hubungan akan bertahan atau justru perlahan kehilangan pijakannya. Perasaan dapat menyalakan api, tetapi kehidupan membutuhkan kayu untuk membuat api itu tetap menyala.
Karena itu, permintaan Ammu agar Munna mencari pekerjaan sebelum kembali mengejarnya dapat dibaca bukan hanya sebagai bentuk penolakan, melainkan juga sebagai cara untuk menguji kesungguhan cinta itu di dalam dunia yang nyata. Apakah Munna mencintainya hanya karena sedang tergila-gila, ataukah ia benar-benar bersedia mengubah dirinya menjadi seseorang yang lebih bertanggung jawab? Sebab terkadang cinta tidak membutuhkan seseorang untuk berjanji lebih banyak, melainkan menuntutnya melakukan sesuatu yang lebih nyata terhadap kehidupannya sendiri.
Di situlah cinta menjadi lebih berat sekaligus lebih dewasa. Mencintai seseorang bukan hanya tentang bagaimana membuatnya tersenyum hari ini, tetapi juga tentang bagaimana mempersiapkan diri agar tidak menjadi beban bagi kehidupan yang mungkin kelak dijalani bersama. Cinta yang hanya hidup dalam kata-kata mungkin terasa indah, tetapi cinta yang hendak dibawa menuju masa depan harus berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih sederhana dan keras.
Begitulah cinta. Ia dapat bermula dari tatapan, tumbuh dari kerinduan, menjadi keberanian untuk mengejar seseorang, tetapi pada akhirnya ia selalu akan berhadapan dengan pertanyaan tentang kehidupan bahwa setelah semua rasa itu ada, lalu apa yang sanggup kita lakukan untuk menjalaninya?
Cinta yang juga pernah saya alami adalah sesuatu yang membuat hidup bergairah, berupaya mengejar demi meraih senyum dan rasa hormat dari seseorang, saat meraih apa yang dimintanya, dan apalagi setelah ia juga sebenarnya mencintai—mencintai yang bahkan bisa lebih dari si prianya—tetapi terkadang tertutupi oleh kabut prasangka dan banyak pertimbangan.
Seperti apa yang dilakukan Ammu ketika berkata tentang tantangan agar Munna mendapatkan pekerjaan, kepada Munna itu sesungguhnya mungkin agar Munna tidak lagi mengejarnya. Tetapi sebuah penolakan tidak selalu berarti tidak adanya perasaan. Kadang seseorang justru menolak karena ia mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang yang mencintainya. Ia melihat masa depan yang belum sanggup dilihat oleh orang yang sedang jatuh cinta. Ia menghitung kebutuhan hidup ketika orang yang sedang mabuk cinta baru menghitung detak jantung.
Bagi Ammu, mungkin Munna selama ini hanya melihat sebagian dari dirinya—wajahnya, sorot matanya, cara ia tersenyum, dan segala sesuatu yang dari kejauhan tampak indah di mata seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta. Mata Ammu yang hidup, ekspresinya, dan kehadirannya di tengah kehidupan sehari-hari telah membuat jalan hidup Munna seolah memperoleh warna baru. Munna melihat perempuan yang membuat dirinya bergairah menjalani hari, tetapi mungkin belum sepenuhnya melihat manusia yang berada di balik wajah yang dicintainya itu, dengan seluruh pengalaman, keterbatasan, kecemasan, dan kenyataan tubuh yang harus dijalaninya setiap hari.
Sebab ada bagian dari diri Ammu yang tidak segera tampak dalam pandangan pertama. Munna mungkin baru mengetahui kemudian bahwa kaki Ammu tidak berfungsi sebagaimana kaki orang kebanyakan. Kenyataan itu menjadi semacam ujian bagi perasaan yang sebelumnya tumbuh dari ketertarikan. Cinta yang semula begitu mudah karena hanya berhadapan dengan wajah dan perasaan, tiba-tiba harus berhadapan dengan sesuatu yang konkret dari tubuhnu yang punya keterbatasan, juga masa depan dan kemungkinan bahwa kehidupan bersama seseorang yang “cacat" apakah akan menjadi gambaran indah yang dibangun oleh imajinasi?
Di sinilah film membawa cinta menuju persoalan yang jauh lebih dalam tentang bagaimana seseorang yang mencintai tubuh, kekurangan, dan kenyataan yang tidak akan sesuai dengan bayangan awalnya. Sebab ketika kita mencintai seseorang, sering yang pertama kali kita cintai adalah bagian dirinya yang terlihat oleh mata. Kita jatuh cinta kepada wajah, suara, senyum, cara berbicara, atau cara seseorang membuat kita merasa ketika berada di dekatnya. Namun semakin jauh cinta berjalan, semakin banyak pula bagian dari dirinya yang harus kita kenali, termasuk bagian-bagian yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Pada titik itulah cinta tidak lagi sekadar persoalan ketertarikan, melainkan berubah menjadi proses mengenal manusia secara utuh. Seseorang tidak hanya terdiri dari wajah yang kita kagumi, tetapi juga tubuh yang mungkin memiliki keterbatasan, masa lalu yang tidak kita ketahui, luka yang tidak selalu terlihat, ketakutan yang tidak selalu diceritakan, serta kebutuhan dan harapan yang mungkin berbeda dari apa yang kita bayangkan.
Karena itu, kekurangan fisik Ammu menjadi penting bukan karena kekurangan tersebut menjadikannya berbeda dari manusia lain, melainkan karena kenyataan itu menguji cara Munna memandang cinta. Apakah ia mencintai Ammu sebagai seorang perempuan yang utuh, dengan segala keadaan yang melekat pada dirinya, ataukah ia selama ini hanya mencintai gambaran tentang Ammu yang dibentuk oleh matanya sendiri?
Pertanyaan semacam itu sebenarnya tidak hanya berlaku bagi Munna. Dalam kehidupan nyata, kita pun sering mencintai seseorang berdasarkan gambaran yang kita bangun tentang dirinya. Kita mengagumi bagian tertentu dari seseorang, lalu tanpa sadar mengisi bagian-bagian yang belum kita kenal dengan bayangan kita sendiri. Ketika kenyataan kemudian muncul dan tidak sesuai dengan bayangan tersebut, cinta pun diuji apakah ia akan tetap bertahan setelah gambaran ideal itu runtuh, atau ternyata yang kita cintai selama ini hanyalah bayangan yang kita ciptakan sendiri?
Mungkin karena itu cinta yang sesungguhnya tidak berhenti ketika kita menemukan kekurangan seseorang. Justru setelah kekurangan itu terlihat, kita baru mulai mengetahui apakah perasaan yang kita sebut cinta benar-benar tertuju kepada manusia yang nyata, atau hanya kepada sosok ideal yang selama ini hidup di dalam pikiran kita.
Demikianlah keunggulan film ini sebab mengangkat persoalan disabilitas yang bukan sesuatu yang kecil atau asing dalam kehidupan manusia. Pemerintah India, berdasarkan Census 2011, mencatat 2,68 crore atau sekitar 26,8 juta orang sebagai penyandang disabilitas, sekitar 2,21 persen dari total penduduk pada saat itu. Data resmi tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan disabilitas mencakup berbagai bentuk, termasuk gangguan gerak, penglihatan, pendengaran, bicara, dan beberapa bentuk disabilitas lainnya.
WHO juga menekankan bahwa penyandang disabilitas di berbagai negara masih menghadapi stigma, diskriminasi, dan hambatan dalam memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, dan kesempatan kerja. Karena itu, ketika film memperlihatkan seorang perempuan yang memiliki keterbatasan fisik tetapi tetap bekerja, mengajar musik, dan berusaha membangun kehidupannya sendiri, yang penting bukan sekadar apakah seorang laki-laki sanggup “menerima kekurangannya”. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat mampu melihat perempuan penyandang disabilitas sebagai manusia yang utuh, bukan sebagai tubuh yang harus dikasihani.
Tetapi mencintai, seperti yang juga pernah saya alami ketika berhadapan dengan kenyataan tentang segala kekurangan seseorang, maka bukan lagi sekadar persoalan tentang apa yang tampak sempurna atau tidak sempurna di mata kita. Jika perasaan itu telah tumbuh begitu dalam, kekurangan yang semula mungkin terlihat sebagai sesuatu yang perlu dipertimbangkan perlahan berubah menjadi bagian dari keseluruhan diri orang yang kita cintai. Kita tidak lagi memisahkan wajahnya dari tubuhnya, kelebihannya dari kekurangannya, masa lalunya dari masa depannya. Semuanya menjadi satu sosok yang kita kenali dan, dengan segala kerumitannya, tetap ingin kita cintai. Jika sudah cinta, ya selamanya cinta—setidaknya demikian perasaan itu bekerja di dalam hati orang yang sedang mengalaminya.
Namun, tentu saja, kalimat “jika sudah cinta, ya selamanya cinta” bukan berarti seseorang harus kehilangan pertimbangan atau menutup mata terhadap kenyataan. Ada perbedaan antara menerima kekurangan seseorang dengan mengabaikan seluruh persoalan yang mungkin muncul dalam kehidupan bersama. Cinta dapat membuat kita bersedia menerima apa yang tidak sempurna, tetapi cinta juga menuntut kita untuk mengenali kenyataan dengan mata terbuka. Karena itulah cinta menjadi lebih berat ketika ia tidak lagi hanya berhadapan dengan bayangan tentang seseorang, melainkan dengan manusia yang sesungguhnya.
Pertanyaan itulah yang kemudian muncul dari Swapna, teman Munna, ketika ia melihat betapa kuat perasaan Munna kepada Ammu. Swapna seperti ingin memastikan apakah perasaan Munna benar-benar lahir dari cinta atau jangan-jangan hanya tumbuh dari rasa kasihan setelah mengetahui keadaan Ammu. Ia sempat berkata, “Kau sungguh mencintainya, kan? Apa kau mencintainya karena rasa iba?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih dalam. Sebab rasa iba dan cinta terkadang dapat terlihat sangat mirip dari luar. Keduanya dapat membuat seseorang ingin mendekat, menjaga, membantu, dan melindungi. Tetapi secara batin, keduanya berbeda. Iba menempatkan seseorang sebagai pihak yang dikasihani, sementara cinta seharusnya menempatkan orang yang dicintai sebagai manusia yang setara, yang memiliki kehendak, harga diri, keinginan, dan hak untuk menentukan hidupnya sendiri.
Munna kemudian menjawab dengan kalimat yang menjadi semacam penegasan terhadap seluruh perjalanan perasaannya. Ia bukan karena iba, melainkan karena ia tergila-gila—Deewana. Dan jawaban itu mungkin terdengar sederhana, bahkan mungkin berlebihan jika diukur dengan akal sehat. Tetapi justru di situlah kekuatan kata deewana. Ia menggambarkan keadaan ketika seseorang tidak lagi melihat cinta sebagai perhitungan untung-rugi, sempurna-tidak sempurna, mudah-sulit, atau layak-tidak layak. Ia hanya tahu bahwa seseorang telah menempati ruang tertentu di dalam batinnya, dan kehadiran orang itu telah mengubah cara ia melihat kehidupan.
Munna tidak mengatakan bahwa ia mencintai Ammu karena ia membutuhkan seseorang untuk dikasihani. Ia ingin mengatakan bahwa setelah mengenal keadaan Ammu, perasaannya tidak berkurang. Jika sebelumnya ia mencintai karena melihat wajah dan kehadiran Ammu, setelah mengetahui keterbatasannya pun perasaan itu tetap tinggal. Bahkan mungkin semakin dalam, karena pada saat itulah ia mulai berhadapan dengan Ammu sebagai manusia yang lebih utuh, bukan sekadar perempuan cantik yang membuatnya jatuh cinta.
Di sinilah deewana menjadi lebih dari sekadar “gila” dalam pengertian kehilangan akal. Ia dapat dibaca sebagai keadaan batin seseorang yang telah menyerahkan sebagian besar dirinya kepada sesuatu yang diyakininya berharga. Ia tahu ada kesulitan, tetapi kesulitan itu tidak serta-merta membuatnya mundur. Ia tahu ada kekurangan, tetapi kekurangan itu tidak otomatis menghapus keindahan yang ia lihat. Ia tahu cinta membutuhkan jalan panjang, tetapi justru karena itulah ia merasa hidupnya memiliki sesuatu untuk diperjuangkan.
Dan mungkin, bagi saya, di situlah pengalaman mencintai menemukan bentuknya yang paling manusiawi bukan ketika kita menemukan seseorang tanpa kekurangan, melainkan ketika kita mengetahui kekurangannya dan tetap mampu melihat manusia yang utuh di balik kekurangannya.
Demikian dalam menilai segala kekurangan itu, “Itu tidak masalah bagiku. Itu tidak berarti apa-apa bagiku,” kata Munna yang kemudian bercerita, “Tentu saja aku tahu kekurangannya. Saat pagi aku melihat Ammu yang kakinya tak berfungsi, aku pun menangis sepanjang hari. Awalnya hatiku runtuh. Namun apa yang bisa kulakukan jika cinta telah menguasaiku?”
Kalimat itu mungkin merupakan inti emosional film, tentang cinta dalam bentuknya paling sederhana yang semestinya tidak lahir dari sebuah perhitungan. Sebab kita tidak selalu memilih kepada siapa hati kita jatuh. Kita mungkin dapat menghitung penghasilan, pendidikan, pekerjaan, keluarga, jarak, usia, masa lalu, bahkan kemungkinan masa depan. Tetapi hati kadang bekerja sebelum akal selesai menyusun daftar pertimbangannya.
Karena itulah barangkali dalam cinta membutuhkan kedewasaan. Sebab cinta yang matang bukan hanya tentang aku mencintaimu, tetapi juga tentang aku menghormati kebebasanmu. Bukan hanya tentang aku bersedia berkorban untukmu, tetapi juga tentang aku tidak akan menggunakan pengorbananku untuk memaksamu mencintaiku.
Maka sesungguhnya Deewana menjadi lebih kompleks daripada sebatas kisah cinta yang mempertemukan laki-laki dan perempuan. Film ini perlahan membawa kita masuk ke wilayah yang lebih dalam, tempat cinta tidak lagi hanya berbicara tentang ketertarikan, kerinduan, atau keinginan untuk memiliki seseorang, tetapi juga tentang bagaimana manusia memberi makna kepada sesuatu yang diyakininya begitu penting dalam hidup. Cinta dalam Deewana menjadi semacam cermin yang memperlihatkan bagaimana seseorang dapat berubah ketika seluruh perasaannya tertuju kepada satu manusia, sekaligus bagaimana perasaan yang begitu kuat dapat membuat batas antara ketulusan, kegigihan, pengorbanan, dan obsesi menjadi sangat tipis.
Ya memang apa lagi yang bisa dikatakan kepada perempuan dan orang-orang tentang cinta itu ketika melihatnya saja sudah cukup menggairahkan seluruh jalan hidup seseorang? Cinta adalah keadaan ketika seseorang tidak lagi mampu lagi menjelaskan perasaannya dengan bahasa yang sederhana. Ia hanya tahu bahwa kehadiran seseorang telah membuat dunia di dalam dirinya berubah. Tidak bisa tidak mencintainya, tidak bisa berhenti mencintainya hanya karena setelah melihat kekurangannya. Bahkan setelah kekurangan itu terlihat begitu jelas, setelah kenyataan yang sebelumnya tersembunyi akhirnya diketahui, perasaan itu tidak serta-merta surut, melainkan tetap tinggal, bahkan mungkin tumbuh semakin kuat. Karena orang yang dicintai tidak lagi hadir sebagai gambaran yang sempurna, melainkan sebagai manusia nyata dengan tubuh, kekurangan, luka, dan segala keadaan yang melekat pada dirinya.
Setelah melihat kekurangan, cinta itu sedemikian tumbuh setiap saat. Seolah-olah pengetahuan tentang ketidaksempurnaan tidak selalu menjadi alasan untuk pergi, tetapi justru menjadi pintu untuk mengenal seseorang secara lebih utuh. Pada awalnya kita mungkin mencintai wajah, suara, senyum, cara berjalan, cara berbicara, atau tatapan seseorang. Namun setelah kita mengetahui sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, cinta mulai menghadapi ujian apakah kita hanya mencintai gambaran yang kita ciptakan sendiri, ataukah kita mampu mencintai manusia yang nyata setelah seluruh kesempurnaannya runtuh? Di sanalah cinta tidak lagi sekadar perasaan yang menyenangkan, melainkan pengalaman batin yang menuntut penerimaan.
Sebab lahar kemurnian yang telah membubung ke langit dalam pengalaman seseorang yang sedang mencintai sering tidak mudah dipahami oleh orang yang berdiri di luar pengalaman itu. Dari kejauhan, orang mungkin melihat tindakan seseorang dan berkata, “Itu tidak rasional, tidak fungsional.” Bagaimana mungkin seseorang menghabiskan waktu, tenaga, uang, bahkan harga dirinya demi seseorang yang belum tentu membalas perasaannya? Bagaimana mungkin seseorang terus bertahan ketika jalan yang ditempuhnya begitu sulit? Tetapi barangkali karena manusia telah mengalaminya selama ribuan bahkan jutaan tahun, lahirlah peribahasa yang begitu populer: “Cinta itu buta.” Ungkapan itu menggambarkan sesuatu yang sederhana sekaligus rumit, bahwa orang yang sedang mencintai sering melihat dunia dengan ukuran yang berbeda dari orang yang tidak sedang mengalami cinta.
Tetapi mungkin tentu saja cinta tidak harus sepenuhnya buta. Barangkali cinta sebab memiliki cara pandangnya sendiri. Orang yang sedang dipenuhi cinta, dalam melihat sesuatu yang barangkali tidak mampu dilihat oleh orang lain akan sebuah kemungkinan, sebuah keindahan, sebuah harapan, atau sebuah makna yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Orang lain mungkin melihat kekurangan, sementara orang yang mencintai melihat keseluruhan manusia di balik kekurangan itu. Orang lain mungkin melihat kesulitan, sementara orang yang mencintai melihat alasan untuk tetap bertahan. Meski persoalannya, apa yang dilihat oleh cinta belum tentu sama dengan kenyataan. Sebab perasaan dapat membuat sesuatu tampak begitu indah sehingga kita lupa mengukur akibatnya. Karena itu tetaplah cinta membutuhkan akal agar tidak berubah menjadi obsesi, membutuhkan batas agar tidak berubah menjadi penguasaan, membutuhkan kebebasan agar tidak berubah menjadi penjara.
Dalam hal ini, kritik terhadap Deewana menjadi penting. The Hindu, misalnya, membaca film ini ketika ditempatkan sebagai kisah penemuan diri seorang pemuda daripada sekadar kisah cinta yang sepenuhnya tidak konvensional. Sementara Times of India juga menyoroti garis tipis antara pengabdian dan obsesi dalam perjalanan Munna. Pembacaan semacam itu membuat film ini menarik bukan hanya karena kisah romantisnya, tetapi karena kita diajak melihat bahwa intensitas cinta tidak dengan sendirinya menjadi ukuran kematangan seseorang. Seseorang dapat mencintai dengan sangat dalam, tetapi tetap harus belajar memahami batas, tanggung jawab, dan kehendak orang yang dicintainya.
Maka cinta dalam film ini sebenarnya bukan hanya persoalan apakah Munna mendapatkan Ammu. Persoalan yang lebih penting adalah apa yang terjadi kemudian kepada Munna selama ia mengejar cinta. Apakah ia berubah menjadi manusia yang lebih dewasa? Apakah ia belajar bekerja, bertanggung jawab, menerima kenyataan, memahami kekurangan, dan menghormati keputusan orang lain? Sebab cinta yang hanya diukur dari berhasil atau tidaknya seseorang mendapatkan orang yang dicintai akan membuat cinta menjadi semacam perlombaan kepemilikan.
Padahal manusia bukan hadiah yang diberikan kepada seseorang karena ia telah berjuang paling keras. Cinta adalah perjalanan bagaimana Munna menjadi seseorang yang pantas bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Ia harus belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti berhenti membangun kehidupannya sendiri. Ia harus memiliki pekerjaan, kemampuan untuk bertanggung jawab, keberanian untuk menghadapi kenyataan, dan kematangan untuk menerima bahwa orang yang dicintainya tetap mempunyai kehidupan dan kehendaknya sendiri. Dengan demikian, perjalanan cinta Munna sebenarnya juga merupakan perjalanan menuju kedewasaan. Ammu bukan sekadar tujuan yang hendak dicapai, tetapi seseorang yang melalui kehadirannya memaksa Munna melihat dirinya sendiri.
Dan di sinilah cinta bersentuhan dengan agama. Keduanya mungkin berbeda dalam objek, pengalaman, dan dasar keyakinannya, tetapi manusia dapat mengalami keduanya dengan intensitas batin yang luar biasa. Orang yang mencintai Tuhan mungkin melakukan banyak hal yang tidak dipahami oleh orang lain. Ia beribadah ketika orang lain tidur. Ia berpuasa ketika orang lain makan. Ia bangun pada waktu ketika dunia masih sunyi, berdoa ketika tidak ada seorang pun yang melihat, dan mengorbankan uang, waktu, tenaga, bahkan kenyamanan hidup karena sesuatu yang diyakininya lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Dari luar, tindakan itu dapat terlihat tidak rasional. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, keyakinan bukan sekadar argumentasi yang disusun di dalam kepala, melainkan sebuah pengalaman batin yang memberi makna kepada seluruh kehidupannya.
Begitu pula cinta. Orang yang sedang jatuh cinta sering melakukan sesuatu yang menurut orang lain tidak masuk akal. Ia menempuh jarak yang jauh hanya untuk bertemu beberapa menit. Ia menunggu pesan yang mungkin tidak pernah datang. Ia mengingat sebuah kalimat yang bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Ia menyimpan sebuah senyum bertahun-tahun lamanya. Ia dapat mengingat tanggal, tempat, suara, bahkan gerakan kecil yang mungkin sudah dilupakan oleh orang yang melakukannya. Bagi orang lain semua itu mungkin tampak berlebihan. Tetapi bagi seseorang yang sedang jatuh cinta, hal-hal kecil itu dapat menjadi bagian dari sejarah pribadi yang sangat berarti.
Di situlah manusia menjadi deewana. Ia seperti memasuki keadaan batin ketika sesuatu yang bagi orang lain kecil menjadi sangat besar baginya. Dunia luar mungkin tetap berjalan seperti biasa, tetapi dunia di dalam dirinya telah berubah. Sebuah nama dapat menjadi doa. Sebuah pertemuan dapat menjadi kenangan yang terus hidup. Sebuah penolakan dapat menjadi luka yang dibawa bertahun-tahun. Sebuah harapan dapat membuat seseorang bertahan menghadapi keadaan yang sebelumnya mungkin tidak sanggup ia jalani. Deewana, dalam pengertian ini, bukan hanya tentang kehilangan akal, tetapi tentang intensitas perasaan yang membuat seseorang mengalami dunia dengan ukuran yang berbeda.
Tetapi tentu ada perbedaan penting yang tidak boleh dilupakan bahwa Tuhan tidak memiliki kehendak manusia yang dapat kita wakili sesuka hati, sedangkan manusia yang kita cintai memiliki kehendak, batas, dan hak untuk menolak. Di sinilah perbandingan antara cinta kepada Tuhan dan cinta kepada manusia harus ditempatkan secara hati-hati. Dalam hubungan antarmanusia, tidak ada cinta yang dapat menghapus hak seseorang atas dirinya sendiri. Kita boleh mencintai, tetapi orang lain tetap berhak menolak. Kita boleh berharap, tetapi orang lain tidak berkewajiban memenuhi harapan itu. Kita boleh berkorban, tetapi pengorbanan kita tidak otomatis menciptakan utang perasaan pada orang lain.
Karena itu, analogi antara “mabuk cinta” dan “mabuk agama” harus dibaca secara hati-hati. Keduanya sama-sama dapat menggambarkan intensitas keyakinan dan keterikatan batin, tetapi tidak berarti segala tindakan yang dilakukan atas nama cinta atau agama otomatis benar. Perasaan yang sangat kuat tidak selalu menghasilkan tindakan yang benar. Keyakinan yang sangat dalam pun tidak dengan sendirinya membenarkan semua cara yang ditempuh seseorang. Justru semakin kuat sebuah keyakinan, semakin penting bagi manusia untuk menguji bagaimana keyakinan itu diwujudkan dalam tindakan dan apa akibatnya bagi kehidupan orang lain.
Sejarah manusia memperlihatkan betapa kuatnya keyakinan dapat menggerakkan seseorang. Keyakinan dapat melahirkan pengorbanan, solidaritas, karya seni, ilmu pengetahuan, pelayanan sosial, bahkan perubahan sosial. Banyak hal besar dalam kehidupan manusia lahir dari keberanian seseorang mempercayai sesuatu yang pada mulanya belum dapat dilihat oleh orang lain. Tetapi keyakinan juga dapat menjadi berbahaya ketika seseorang menganggap dirinya tidak lagi perlu mendengar orang lain. Ketika seseorang merasa bahwa keyakinannya memberinya hak untuk memaksa, merendahkan, menyakiti, atau menghapus kehendak orang lain, pada saat itulah keyakinan berhenti menjadi kekuatan yang membangun dan mulai menjadi pembenaran bagi tindakan yang merugikan.
Karena itu, persoalan paling menarik dari Deewana barangkali bukan tentang cinta yang buta. Persoalannya tentang bagaimana manusia mampu belajar melihat dengan lebih utuh. Cinta mungkin memang memiliki mata sendiri, tetapi mata itu tidak boleh digunakan untuk menutup mata terhadap kenyataan. Orang yang mencintai perlu tetap mampu melihat akibat dari tindakannya, mendengar suara orang yang dicintainya, dan menerima kenyataan bahwa perasaan yang begitu besar sekalipun tidak memberinya hak untuk menguasai kehidupan orang lain.
Dalam memandang cinta mungkin manusia harus belajar melihat dengan kedua matanya, antara satu mata untuk perasaan dan satu mata untuk kenyataan. Dengan satu mata, kita dapat merasakan keindahan, kerinduan, kasih sayang, dan harapan. Dengan mata yang lain, kita dapat melihat batas, tanggung jawab, konsekuensi, dan kehendak orang lain. Jika hanya menggunakan mata perasaan, manusia dapat terjebak dalam khayalannya sendiri. Tetapi jika hanya menggunakan mata kenyataan, hidup mungkin menjadi terlalu kering dan seluruh hubungan manusia berubah menjadi perhitungan.
Barangkali kedewasaan itulah letaknya pada kemampuan menjaga kedua mata kita tetap terbuka dalam memandang cinta yang membutuhkan perasaan agar hidup tidak menjadi sekadar perhitungan. Jika tanpa perasaan, hubungan antarmanusia mungkin hanya menjadi kontrak yang dingin, pertukaran kepentingan, atau kalkulasi tentang apa yang kita dapatkan dan apa yang kita berikan. Tetapi cinta juga membutuhkan kesadaran agar perasaan tidak menjadi alasan untuk melukai orang lain. Kita boleh mencintai seseorang dengan seluruh kemampuan hati kita, tetapi kita tidak boleh menggunakan cinta sebagai alasan untuk mengabaikan kehendaknya. Sebab cinta yang kehilangan penghormatan terhadap kebebasan orang lain pada akhirnya akan kehilangan salah satu unsur terpenting dari cinta itu sendiri.
Demikian pula agama membutuhkan keyakinan, tetapi keyakinan tidak semestinya membuat manusia kehilangan belas kasih, akal sehat, dan penghormatan kepada manusia lain. Keberagamaan yang hanya berhenti pada keyakinan diri sendiri dapat membuat seseorang merasa paling benar, sementara keberagamaan yang disertai kesadaran akan keterbatasan manusia dapat melahirkan kerendahan hati. Sebab semakin dalam seseorang memahami hubungan dirinya dengan Tuhan, semestinya semakin besar pula kesadarannya bahwa manusia lain bukan benda yang dapat diperlakukan sesuka hati.
Dan cinta, itulah agama, itulah Tuhan, atau itulah tentang apa yang diyakini orang-orang. Semua itu dapat menjadi pusat makna dalam kehidupan manusia, sesuatu yang membuat seseorang merasa memiliki alasan untuk hidup, berkorban, bertahan, dan berharap. Tetapi karena manusia berbeda-beda dalam memahami dan menjalani sesuatu yang diyakininya, kita perlu berhati-hati ketika menilai pengalaman batin orang lain hanya dari apa yang tampak di permukaan. Sesuatu yang bagi seseorang tampak biasa saja dapat menjadi pengalaman yang sangat dalam bagi orang lain. Di sinilah pengalaman deewana berkisah tentang manusia yang dapat begitu larut dalam cinta kepada seorang perempuan, kepada Tuhan, atau kepada agama, sampai-sampai orang di luar dirinya melihat perilaku itu sebagai sesuatu yang tidak bernalar.
Semua kita harus mengenali dan memahami saat seseorang mengalami semacam trance deewana, ketika perasaan dan keyakinannya begitu kuat hingga menguasai hampir seluruh perhatian dan pikirannya. Jika sikap dan perbuatannya kita anggap tidak bernalar dan tidak rasional, mungkin itulah yang oleh bahasa manusia selama berabad-abad disebut sebagai kegilaan dalam cinta, dalam pencarian Tuhan, atau dalam penghayatan agama. Namun kata “gila” di sini perlu ditempatkan sebagai metafora untuk intensitas pengalaman batin, bukan sebagai pembenaran terhadap perilaku yang merugikan. Sebab perasaan yang sangat kuat tetap harus dibedakan dari tindakan yang merampas hak orang lain.
Tetapi mungkin di sanalah kita perlu berhenti sebentar sebelum memberi nama kepada kegilaan itu. Sebab manusia sering terlalu cepat menyebut sesuatu tidak rasional hanya karena ia tidak mengalami apa yang sedang dialami orang lain. Kita melihat seseorang menangis karena cinta dan menganggapnya berlebihan. Kita melihat seseorang mengorbankan hartanya untuk keyakinan dan menganggapnya sia-sia. Kita melihat seseorang menghabiskan bertahun-tahun untuk sebuah cita-cita dan menganggapnya tidak masuk akal. Padahal manusia memang tidak hidup hanya berdasarkan apa yang dapat dihitung. Sebagian manusia akan memasuki wilayah pengalaman yang hanya dapat dipahami setelah kita sendiri mengalaminya.
Cinta membuat manusia berani melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak sanggup dilakukan. Agama membuat manusia bersedia mengorbankan sesuatu yang dianggap berharga demi sesuatu yang diyakininya lebih tinggi. Tetapi keduanya juga mengandung ujian apakah apa yang kita cintai membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, atau membuat kita merasa berhak atas orang lain? Pertanyaan ini penting karena intensitas tidak sama dengan kebenaran. Seseorang bisa dengan sangat yakin dan sangat mencintai, tetapi tetap dapat keliru dalam bertindak. Ukuran yang lebih penting bukan hanya seberapa besar perasaan itu, melainkan manusia seperti apa yang lahir dari perasaan itu.
Seperti Munna yang memulai kisahnya sebagai seorang pemuda yang mengejar seorang perempuan. Lalu berakhir dengan sebuah perjalanan untuk mengenali dirinya sendiri. Perjalanan itu membuatnya berhadapan dengan banyak hal yang sebelumnya tidak ia pikirkan tentang pekerjaan, tanggung jawab, keluarga, kekurangan fisik, penolakan, dan kenyataan bahwa cinta tidak dapat dipaksakan. Dengan demikian, perjalanan Munna bukan hanya perjalanan menuju Ammu, tetapi juga perjalanan menuju dirinya sendiri. Ia belajar bahwa seseorang tidak dapat membangun masa depan hanya dengan mengatakan bahwa dirinya sedang jatuh cinta.
Mungkin itulah makna terdalam Deewana, bahwa cinta tidak selalu datang untuk memberikan seseorang kepada kita. Kadang-kadang cinta datang untuk mengubah kita. Ia hadir sebagai pengalaman yang membuat kita mengenali bagian diri yang sebelumnya tidak kita ketahui. Kita menjadi lebih berani, tetapi juga mampu belajar tentang batas. Kita menjadi lebih peka terhadap kekurangan orang lain, tetapi sekaligus dipaksa agar mampu melihat kekurangan diri sendiri. Kita belajar bahwa mencintai bukan hanya tentang mendapatkan dan meraih segala kemungkinan, melainkan juga tentang menerima kenyataan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan.
Dan jika setelah mencintai seseorang kita menjadi lebih bertanggung jawab, lebih menghargai keluarga, lebih mampu bekerja, lebih mampu menerima kekurangan, lebih mampu memahami penolakan, dan lebih mampu menghormati kebebasan orang yang kita cintai, mungkin cinta itu telah membawa kita ke tempat yang semestinya. Cinta yang demikian tidak hanya membuat hati berdebar, tetapi juga membuat kehidupan menjadi lebih dewasa. Tidak membuat kita kehilangan diri sendiri, melainkan membantu kita menemukan diri yang lebih baik. Tidak membuat kita merasa memiliki manusia lain, melainkan membuat kita semakin sadar bahwa setiap manusia memiliki ruang kebebasannya sendiri.
Tetapi jika cinta membuat kita merasa memiliki hak untuk memaksa, mengikuti, mengawasi, mengganggu, atau meniadakan kehendak orang lain, barangkali yang sedang kita pertahankan bukan lagi cinta. Kita mungkin sedang mempertahankan keinginan kita sendiri yang telah diberi nama cinta. Kita mengatakan “aku mencintaimu” ketika yang sebenarnya kita maksud adalah “aku ingin kamu menjadi seperti yang kuinginkan.” Pada titik itu, cinta tidak lagi menghormati manusia sebagai subjek yang memiliki kehendak, tetapi mulai memperlakukannya sebagai objek yang harus mengikuti keinginan orang yang mencintainya.
Maka yang demikian itu sudah menjadi keinginan untuk memiliki dan menguasai. Sementara keinginan memiliki sangat berbeda dengan keinginan untuk mencintai. Memiliki ingin memastikan bahwa sesuatu berada dalam genggaman kita, sedangkan mencintai seharusnya memberi ruang agar seseorang tetap menjadi dirinya sendiri. Perbedaannya mungkin terdengar sederhana, tetapi dalam kehidupan nyata batas itu sering sangat sulit dikenali, terutama ketika perasaan sedang berada pada titik paling kuat. Seseorang dapat merasa sedang memperjuangkan cinta, padahal dari sudut pandang orang lain ia sedang mengambil kebebasan orang lain.
Dan di antara keduanya terdapat jarak yang sangat tipis. Jarak itu dapat dipenuhi mungkin dengan perhatian, tetapi juga dapat berubah menjadi pengawasan. Dengan kerinduan yang dapat juga berubah menjadi pengejaran. Dengan kesetiaan yang juga dapat berubah menjadi keterikatan yang tidak sehat. Karena itu, cinta membutuhkan kesadaran terus-menerus terhadap batas. Kita perlu bertanya bukan hanya seberapa besar aku mencintainya, tetapi juga apakah caraku mencintainya masih menghormati dirinya? Pertanyaan ini mungkin jauh lebih sulit, tetapi di sanalah letaknya kematangan cinta.
Di sanalah Deewana meninggalkan pertanyaan yang lebih panjang daripada durasi filmnya. Ketika seseorang berkata bahwa ia tergila-gila karena cinta, apakah ia sedang menunjukkan kedalaman perasaan, atau sedang mencari alasan untuk membenarkan dirinya sendiri? Pertanyaan itu tidak mudah dijawab karena orang yang sedang berada di dalam cinta sering menjadi orang yang paling sulit melihat dirinya sendiri secara jernih. Ia dapat menemukan seribu alasan untuk membenarkan tindakannya, sebab seluruh tindakan itu terasa benar dari dalam pengalaman batinnya. Tetapi orang yang berada di luar dirinya mungkin hanya melihat sesuatu yang sama sekali berbeda.
Mungkin jawabannya hanya dapat ditemukan oleh masing-masing orang ketika ia berani melihat dirinya sendiri setelah semua mabuk itu reda. Setelah kerinduan tidak lagi membutakan, setelah hasrat tidak lagi menguasai, setelah euforia cinta perlahan menjadi kehidupan sehari-hari, barulah seseorang dapat bertanya dengan lebih jernih tentang apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh cinta terhadap dirinya. Apakah ia menjadi manusia yang lebih baik, atau justru menjadi seseorang yang semakin takut kehilangan sehingga rela mengabaikan kebebasan orang lain? Sebab ukuran cinta mungkin bukan hanya apa yang kita rasakan ketika sedang mabuk oleh cinta, tetapi siapa diri kita ketika mabuk itu perlahan reda.
Sebab cinta bukan hanya tentang seberapa jauh kita sanggup mengejar seseorang. Cinta juga bukan semata-mata tentang berapa banyak pengorbanan yang sanggup kita lakukan, atau berapa lama kita mampu menunggu, atau seberapa kuat kita bertahan ketika menghadapi penolakan. Semua itu dapat menjadi bagian dari pengalaman mencintai, tetapi belum tentu menjadi bukti bahwa cinta yang sedang diperjuangkan telah menemukan bentuknya yang paling dewasa. Ada kalanya keberanian terbesar dalam mencintai justru bukan mengejar, melainkan mengetahui kapan harus berhenti agar orang yang kita cintai tetap memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya.
Sebab cinta juga tentang seberapa jauh kita sanggup menghormati seseorang untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Sebab mencintai seseorang berarti menerima bahwa ia bukan milik kita, bahwa ia memiliki pikiran sendiri, tubuhnya sendiri, masa lalunya sendiri, pilihan hidupnya sendiri, dan bahkan hak untuk tidak memilih kita. Penerimaan semacam itu mungkin terasa menyakitkan, tetapi di situlah cinta diuji dari sekadar keinginan agar menjadi sebuah penghormatan. Sebab ketika kita benar-benar mencintai manusia, kita tidak hanya mencintai keberadaannya di dalam hidup kita, tetapi juga menghormati keberadaannya sebagai manusia yang memiliki kehidupan sendiri.
Dan mungkin, setelah itulah kita benar-benar mengerti apa artinya menjadi deewana. Bukan sekadar menjadi orang yang kehilangan akal karena cinta, bukan pula menjadi seseorang yang membenarkan segala tindakan karena merasa perasaannya paling benar, melainkan menjadi manusia yang mampu merasakan cinta dengan seluruh kedalaman hatinya tanpa kehilangan akal, batas, tanggung jawab, dan penghormatan kepada kebebasan orang lain.
Sebab mungkin deewana yang paling matang bukanlah orang yang paling jauh mengejar seseorang, melainkan orang yang mampu mencintai sedalam-dalamnya, menerima kenyataan seutuh-utuhnya, dan tetap memilih untuk tidak melukai manusia yang dicintainya. (Sal)