Moda Kavida Vaatavarana dan Trauma Masa Kecil di Balik Identitas Disosiatif

Sebuah film tidak selalu menghadirkan manusia sebagaimana adanya. Melalui penggambaran yang...

Moda Kavida Vaatavarana dan Trauma Masa Kecil di Balik Identitas Disosiatif

30 Okt 2026
42 x Dilihat
Share :

Moda Kavida Vaatavarana dan Trauma Masa Kecil di Balik Identitas Disosiatif

Sebuah film tidak selalu menghadirkan manusia sebagaimana adanya. Melalui penggambaran yang dibangun secara artistik, film mengajak penonton memasuki ruang batin yang sulit dijangkau oleh pengamatan sehari-hari. Melalui sejumlah rangkaian cerita, penonton diajak untuk menyelami ingatan terdalam, tempat ketakutan, harapan, dan kenyataan saling bertumpuk. Membuat batas antara peristiwa yang benar-benar terjadi dan bayangan yang tumbuh dalam pikiran pun perlahan menjadi kabur.

Di ruang batin semacam itulah Moda Kavida Vaatavarana, film berbahasa Kannada karya sutradara Simple Suni, membangun kisah tentang bayang-bayang diri yang berkelindan dengan romansa dan misteri pencarian jati diri. Dirilis di bioskop pada 26 Juni 2026, film ini mempertemukan dua pasangan dalam sebuah perjalanan yang perlahan mengungkap rahasia masa lalu. Salah satu tokoh utamanya adalah Souparnika, perempuan yang dihantui pengalaman psikologis sehingga kesulitan membedakan ancaman yang benar-benar terjadi dari sesuatu yang hanya muncul dalam pikirannya. Pergulatan tersebut menjadi bagian dari kegelisahan batin yang membentuk perjalanan hidupnya.

Dengan latar alam Kodagu yang hijau dan menenangkan, film ini menghadirkan kontras antara keindahan dunia luar dan gejolak batin para tokohnya. Lanskap yang tampak damai tidak serta-merta mencerminkan ketenangan manusia yang hidup di dalamnya. Sebaliknya, keindahan alam menjadi latar yang mempertegas bahwa di balik kehidupan yang terlihat biasa, seseorang dapat menyimpan ingatan, ketakutan, dan luka psikologis yang tidak mudah dikenali.

Mungkin dalam pengamatan awal, Moda Kavida Vaatavarana tampak seperti film tentang cinta, hubungan antarmanusia, dan perjalanan pasangan yang berhadapan dengan persoalan pribadi masing-masing. Semakin jauh cerita berkembang saat saya menontonnya sampai tuntas, akhirnya semakin jelas bahwa persoalan utama yang diangkat dalam film bukanlah sekadar siapa mencintai siapa, siapa yang menyembunyikan rahasia, atau siapa yang sebenarnya harus dipercaya. 

Film ini membawa penonton ke pertanyaan subtil tentang bagaimana jika seseorang hanya memahami kenyataan ketika pikirannya sendiri tidak selalu dapat dipercaya. Bagaimana kita membedakan antara ketakutan yang lahir dari ancaman nyata dengan ketakutan yang tumbuh dari pengalaman yang traumatis. Dan bagaimana seseorang yang hidup dalam penderitaan psikologis dapat menemukan hubungan yang membuatnya merasa aman tanpa harus terus-menerus melarikan diri dari dirinya sendiri.

Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, menjadikan film ini menarik untuk dibaca melalui pendekatan psikologi. Meski daya tariknya tidak hanya terletak pada upaya membangun kejutan di sepanjang cerita. Film ini juga membuka ruang refleksi tentang kesepian, pengalaman masa kecil, kebutuhan untuk memperoleh perhatian, dan cara manusia menciptakan perlindungan ketika dunia yang seharusnya menjadi tempat paling aman kemudian terasa menjadi tidak ramah. 

Tentu penggambaran gangguan psikologis dalam film tetap perlu dibaca secara kritis. Cerita film memang memiliki kebebasan untuk mengolah kenyataan demi kepentingan dramatik, tetapi kebebasan tersebut tidak serta-merta menjadikan setiap penggambaran gangguan mental sebagai gambaran klinis yang akurat secara ilmiah 

Pada bagian prolog, film menghadirkan percakapan tentang Yayati yang pada awalnya terasa seperti pembukaan cerita tersendiri. Percakapan itu kemudian memperoleh makna yang berbeda setelah penonton memahami bahwa kisah tersebut merupakan bagian dari cara seorang ayah menyampaikan cerita kepada anaknya. 

Sang ayah adalah Cherish, seorang profesional di bidang psikologi yang juga tukang membuat meme untuk media sosial dengan sejumlah pengikut. Ketika ditanya mengapa ia membuat meme, ia memberikan jawaban yang mengandung sesuatu yang lebih dalam bahwa meme bisa menjadi salah satu cara untuk melarikan diri dari depresi, sedangkan bagi orang yang melihatnya, meme dapat menjadi pelarian sejenak dari kerasnya kehidupan sehari-hari.

Jawaban itu barangkali terasa dekat dengan pengalaman kita. Di tengah tuntutan pekerjaan, persoalan ekonomi, hubungan yang rumit, dan arus informasi yang nyaris tidak pernah berhenti, humor digital menjadi bagian dari cara manusia mengelola tekanan. Sebuah meme yang hanya terdiri atas gambar dan kalimat singkat dapat menghadirkan tawa di tengah hari yang melelahkan. 

Bahkan kadang-kadang, seseorang membagikan humor bukan karena hidupnya sedang baik-baik saja, melainkan karena ia membutuhkan jeda dari sesuatu yang tidak sanggup dijelaskan dengan kata-kata panjang. Meski pelarian itu tidak selalu berarti penyelesaian, tapi tertawa dapat membantu seseorang mengambil jarak dari persoalan yang sedang dihadapinya, meski tidak dengan sendirinya menghilangkan sumber penderitaan. 

Demikian pula dengan film, musik, humor, dan berbagai bentuk hiburan lain, semuanya dapat menjadi ruang istirahat bagi pikiran. Tetapi manusia tetap perlu kembali menghadapi persoalan yang membuatnya membutuhkan waktu sejenak untuk istirahat. Seperti perkataan Cherish tentang meme sesungguhnya mengandung pengamatan yang dalam tentang kehidupan kita. Sesungguhnya manusia tidak selalu mencari hiburan karena ingin bersenang-senang, tetapi terkadang karena ia sedang berusaha bertahan.

Kehadiran Yayati dalam prolog juga menarik karena cerita tersebut menjadi bagian dari hubungan antara ayah dan anak. Seorang ayah tidak hanya mewariskan pengetahuan melalui nasihat langsung, tetapi juga melalui kisah yang dapat didengarkan, dipertanyakan, dan ditafsirkan kembali oleh anaknya. Dengan cerita memungkinkan pengalaman hidup disampaikan tanpa harus selalu menjelaskannya secara gamblang. Di balik sebuah kisah, terdapat kemungkinan bahwa seorang anak sedang belajar memahami dunia, sedangkan orang dewasa sedang berusaha memahami kembali dirinya sendiri.

Dalam kerangka tersebut, prolog film bukan sekadar pengantar menuju konflik utama. Ia juga menyediakan bingkai untuk memahami keseluruhan cerita. Seperti apa yang tampak sebagai dongeng bagi seorang anak sesungguhnya menyimpan pengalaman emosional yang jauh lebih rumit bagi orang dewasa yang menceritakannya. Masa lalu tidak selalu selesai ketika seseorang meninggalkannya. Terkadang, masa lalu terus hidup dalam cara seseorang mencintai, mengambil keputusan, memandang orang lain, dan menjelaskan dirinya sendiri.

Jangan Mengejar Orang yang Tidak Peduli

Salah satu kalimat yang menarik untuk direnungkan dalam film ini adalah, "Jangan fokus pada orang yang tak peduli padamu." Kalimat tersebut disampaikan Souparnika kepada seorang laki-laki yang terus mengejarnya dalam pengalaman yang kemudian, ternyata dapat dipahami penonton sebagai bagian dari dunia ilusinya. Laki-laki yang seolah-olah hadir untuk memuja dan memperhatikannya itu ternyata bukan sosok nyata sebagaimana yang dibayangkan Souparnika, melainkan bagian dari pengalaman psikologis yang menguasai pikirannya.

Di tingkat yang paling sederhana, kalimat itu merupakan nasihat tentang cinta yang tidak berbalas. Seseorang bisa menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengejar perhatian orang lain sampai lupa memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Ia terus menunggu pesan, mencari tanda-tanda ketertarikan, menafsirkan percakapan yang sebenarnya biasa saja, dan berharap bahwa ketekunannya suatu hari akan mengubah perasaan orang yang dicintainya. Dalam proses itu, kehidupan emosionalnya perlahan bergantung pada seseorang yang belum tentu memiliki keinginan yang sama.

Nasihat untuk tidak memusatkan perhatian pada orang yang tidak peduli kepada kita mengandung ajakan sebenarnya untuk memulihkan harga diri seseorang yang terlanjur jatuh cinta. Cinta memang dapat membuat manusia bersedia berkorban, tetapi pengorbanan tidak seharusnya menghapus kemampuan seseorang untuk mengenali batas. Sebab menyukai seseorang tidak berarti kita harus terus-menerus mengejarnya. Mengagumi seseorang tidak memberi kita hak untuk menuntut balasan. Begitu pula, ketulusan tidak dapat diukur hanya dari seberapa lama seseorang bertahan dalam penantian.

Namun film ini memberikan lapisan makna yang lebih rumit kepada kalimat tersebut. Souparnika bukan hanya berhadapan dengan laki-laki yang tidak ia balas cintanya. Ia juga berhadapan dengan pengalaman yang membuatnya merasa seolah-olah ada seseorang yang terus mengawasi, memperhatikannya, atau memasuki ruang pribadinya. 

Dengan demikian, kalimat yang pada awalnya terdengar seperti petuah tentang hubungan romantis berubah menjadi pintu masuk menuju persoalan yang lebih dalam tentang hubungan antara kebutuhan untuk diperhatikan dan ketakutan ketika perhatian itu terasa mengancam.

Terdapat ironi psikologis yang menarik. Manusia sering membutuhkan perhatian agar merasa diakui keberadaannya. Tetapi perhatian yang diharapkan terkadang dapat berubah menjadi sesuatu yang menakutkan ketika seseorang kehilangan rasa aman terhadap lingkungan maupun pikirannya sendiri. Orang yang kesepian mungkin mendambakan kehadiran seseorang yang memahami dirinya, tetapi pengalaman traumatis dapat membuat kedekatan emosional terasa menyenangkan sekaligus mengancam.

Namun kita perlu membedakan antara anggapan bahwa setiap orang yang kesepian akan menciptakan ilusi atau mengalami gangguan identitas. Kesepian adalah pengalaman manusia yang luas, sedangkan gangguan mental memiliki karakteristik dan kriteria klinis yang jauh lebih kompleks. Gambaran pengalaman Souparnika mungkin sebatas untuk membangun konflik dramatik saja. Karena dalam kehidupan nyata, sebuah penderitaan psikologis tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu penyebab atau satu pengalaman emosional.

Tentang tidak mengejar orang yang tidak peduli sebagai bahan renungan dan pengingat bahwa perhatian justru perlu dimulai dari diri sendiri. Sebelum berharap orang lain memahami kesedihan kita, ada baiknya kita belajar mengenali kesedihan itu sendiri. Sebelum menuntut seseorang untuk hadir, kita perlu memahami apakah hubungan itu benar-benar memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk tumbuh.

Demikian laki-laki yang terus memuja Souparnika merupakan bagian penting cerits. Dalam pengalaman Souparnika, sosok tersebut seolah-olah hadir sebagai seseorang yang memiliki perhatian khusus kepadanya. Ia menjadi figur yang dapat dibayangkan, diikuti, dan dihubungkan dengan berbagai peristiwa yang dialaminya. Namun, ketika lapisan cerita dibuka, penonton mengetahui bahwa laki-laki tersebut tidak hadir sebagai sosok nyata sebagaimana yang diyakini Souparnika.

Keberadaan sosok itu memperlihatkan bagaimana sebuah pengalaman subjektif dapat terasa meyakinkan bagi orang yang mengalaminya. Sesuatu yang tidak dapat dibuktikan oleh orang lain belum tentu terasa tidak nyata bagi seseorang yang sedang mengalaminya. Ketakutan, misalnya, dapat menghadirkan sensasi ancaman yang begitu kuat meskipun orang di sekitarnya tidak melihat sumber bahaya yang sama. Sebuah pengalaman subjektif dapat memengaruhi tindakan, hubungan, dan keputusan seseorang, sekalipun penafsiran terhadap peristiwa yang mendasarinya keliru.

Dalam film, situasi ini menjadi sumber ketegangan karena penonton diajak menelusuri perbedaan antara apa yang dialami Souparnika dan apa yang sebenarnya terjadi. Penonton harus mempertanyakan informasi yang diterimanya, mengamati kembali adegan-adegan sebelumnya, dan mempertimbangkan kemungkinan bahwa penjelasan yang tampak masuk akal ternyata dibangun di atas pemahaman yang tidak lengkap.

Teknik semacam ini merupakan salah satu daya tarik cerita thriller psikologis. Ketegangan tidak selalu berasal dari kehadiran penjahat yang mengancam secara fisik, tetapi dapat muncul dari ketidakpastian mengenai siapa yang dapat dipercaya, apa yang sebenarnya terjadi, dan apakah pengalaman yang disaksikan penonton sesuai dengan kenyataan cerita. 

Dalam Moda Kavida Vaatavarana, misteri mengenai Souparnika membuat hubungan antara kenyataan dan persepsi menjadi pusat perhatian.

Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting. Mengapa sosok yang tidak nyata itu justru memperoleh tempat yang begitu besar dalam pengalaman Souparnika? Apakah kehadirannya merupakan bentuk perlindungan psikologis, perwujudan ketakutan, atau cara pikiran mengorganisasi pengalaman yang sulit dipahami? 

Film memberikan ruang bagi penonton untuk menafsirkan hubungan antara masa lalu Souparnika dan pengalaman yang dialaminya, tetapi penafsiran tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai penjelasan klinis yang sudah pasti. Karena dalam psikologi, pengalaman merasakan kehadiran seseorang yang sebenarnya tidak ada dapat berkaitan dengan berbagai kondisi yang berbeda. Pengalaman tersebut tidak secara otomatis menunjukkan gangguan identitas disosiatif. Untuk memahami seseorang secara tepat, diperlukan diagnosa untuk menilai keseluruhan atas gejala, riwayat hidup, kondisi psikologis, dan kemungkinan penjelasan lain.

Perbedaan ini penting karena film terkadang menyederhanakan persoalan psikologis yang kompleks demi menciptakan kejutan. Penonton dapat menikmati misteri yang dibangun oleh sutradara tanpa harus menerima seluruh penjelasan dalam cerita sebagai gambaran lengkap tentang cara kerja pikiran manusia.

Cherish dan Rahasia di Balik Perhatian

Salah satu lapisan cerita yang memperkaya hubungan antara kenyataan dan ilusi adalah keterkaitan antara kalimat yang disampaikan Souparnika dan Cherish, laki-laki yang kemudian menjadi suaminya. Kalimat tentang tidak perlu berfokus pada orang yang tidak peduli. Kalimat itu sebenarnya berkaitan dengan dikte atau arahan Cherish. 

Hubungan ini membuka kemungkinan pembacaan bahwa sesuatu yang muncul dalam pikiran Souparnika tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan pengalaman dan informasi yang pernah diterimanya dari Cherish dan Cherish adalah sosok yang sebenarnya sejak masa remaja telah memperhatikan Souparnika. Ketertarikan yang tumbuh sejak dini itu kemudian membawanya memasuki dunia psikologi, yang dalam alur cerita menjadi salah satu jalan untuk memahami dan berusaha membantu perempuan yang dicintainya. 

Di sinilah kisah cinta dalam film mulai bersinggungan dengan persoalan etika, pengetahuan, dan batas antara keinginan menolong dengan dorongan untuk mengendalikan keadaan. Cinta sering membuat seseorang ingin memahami orang yang dicintainya secara lebih mendalam. Ia ingin mengetahui apa yang membuat orang tersebut takut, mengapa ia menarik diri, apa yang disembunyikannya, dan pengalaman apa yang membentuk kepribadiannya. Keinginan memahami ini dapat menjadi bentuk kepedulian yang tulus. Tetapi keinginan tersebut dapat juga berubah menjadi persoalan ketika seseorang menganggap bahwa mencintai berarti memiliki kewenangan untuk menentukan apa yang terbaik bagi orang lain.

Perbedaan antara mendampingi dan mengendalikan sangat penting dalam hubungan yang melibatkan kerentanan psikologis. Seseorang dapat membantu pasangannya menghadapi kesulitan, tetapi ia tidak dapat mengambil alih seluruh proses pemulihan. Seseorang dapat memberikan rasa aman, tetapi tidak seharusnya menggunakan rasa aman itu untuk membenarkan tindakan yang melanggar batas pribadi. Cinta dapat menjadi sumber dukungan, tetapi cinta bukan pengganti pengetahuan profesional, evaluasi klinis, atau persetujuan orang yang menerima bantuan.

Kisah Cherish juga menimbulkan pertanyaan mengenai hubungan antara cinta dan profesi psikologi. Pengetahuan psikologi memang dapat membantu seseorang memahami perilaku manusia, tetapi pengetahuan itu tidak serta-merta membuat seseorang mampu menangani setiap persoalan psikologis, terlebih ketika persoalan tersebut melibatkan orang yang memiliki hubungan emosional sangat dekat dengannya. Dalam praktik profesional, hubungan terapeutik memerlukan batas yang jelas agar kepentingan orang yang menerima layanan tetap menjadi perhatian utama.

Karena itu, jika Cherish berusaha menolong Souparnika sekaligus memiliki keterikatan romantis dengannya, situasi tersebut perlu dibaca sebagai wilayah yang sarat konflik kepentingan. Niat baik tidak selalu menjamin bahwa suatu tindakan akan menghasilkan kebaikan. Bahkan, tindakan yang dilakukan atas nama cinta dapat menimbulkan ketakutan ketika orang yang menerimanya tidak memahami maksud tindakan tersebut atau tidak memiliki ruang untuk menentukan pilihan.

Di sinilah hubungan Cherish dan Souparnika menjadi lebih menarik karena sehubungan seorang laki-laki yang mencintai perempuan dengan gangguan psikologis. Hubungan mereka menyingkap persoalan yang lebih universal tentang seseorang apakah benar-benar memahami orang yang dicintainya, atau sebenarnya ia sedang berusaha mewujudkan gambaran tentang orang tersebut menurut keinginannya sendiri.

Mencintai seseorang berarti bersedia mengenali kenyataan tentang dirinya, termasuk hal-hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Cinta yang dewasa tidak menuntut orang lain untuk menjadi tokoh yang kita bayangkan. Ia semestinya memberikan ruang bagi seseorang untuk hadir sebagai manusia yang memiliki kehendak, pengalaman, ketakutan, dan hak menentukan jalan hidupnya sendiri.

Salah satu penjelasan yang diberikan film terhadap keadaan Souparnika adalah pengalaman masa kecil yang penuh kesepian. Ia tumbuh dengan orang tua yang sibuk bekerja sehingga merasa kekurangan perhatian. Pengalaman itu kemudian dikaitkan dengan gangguan psikologis yang dialaminya ketika dewasa. Dalam bangunan cerita film, masa kecil menjadi bagian penting untuk memahami mengapa Souparnika mengalami konflik dengan dirinya sendiri dan kesulitan membedakan pengalaman yang berlangsung dalam pikirannya dari kenyataan di sekitarnya.

Pengalaman masa kecil memang dapat memengaruhi perkembangan emosional seseorang. Anak membutuhkan lebih dari sekadar makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan. Mereka juga membutuhkan rasa aman, perhatian, kesempatan mengungkapkan perasaan, dan keyakinan bahwa ada orang dewasa yang bersedia mendengarkan ketika mereka mengalami kesulitan. Kehadiran orang tua secara emosional membantu anak membangun pemahaman tentang dirinya sendiri dan hubungannya dengan orang lain.

Ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi secara memadai, sebagian anak dapat mengalami kesulitan dalam mengenali perasaan, mengungkapkan kebutuhan, atau membangun hubungan yang terasa aman. Lalu dampaknya memang tidak selalu sama pada setiap orang. Bagi anak yang orang tuanya sibuk bekerja tidak otomatis mengalami trauma, sebagaimana anak yang tumbuh dalam keluarga dengan berbagai kesulitan tidak selalu mengalami gangguan mental. Kualitas hubungan, dukungan dari orang dewasa lain, lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan berbagai faktor individual dapat memengaruhi perkembangan psikologis seseorang.

Karena itu, kesepian Souparnika mungkin dapat kita baca sebagai bagian dari riwayat emosional seseorang, bukan sebagai bukti bahwa kurangnya perhatian orang tua dengan sendirinya menyebabkan gangguan identitas. Hubungan antara pengalaman masa kecil dan kondisi psikologis pada masa dewasa sering jauh lebih kompleks daripada hubungan sebab-akibat tunggal yang sering digunakan dalam cerita fiksi.

Meski demikian, film ini mengangkat persoalan yang patut direnungkan bajwa kesibukan orang dewasa terkadang membuat kebutuhan emosional anak tidak terlihat. Orang tua dapat merasa telah memenuhi tanggung jawab karena menyediakan segala kebutuhan material, padahal anak juga membutuhkan kesempatan untuk menceritakan pengalaman sehari-harinya tanpa merasa diabaikan. Pertanyaan sederhana seperti bagaimana harimu di sekolah, apa yang membuatmu sedih, atau apa yang sedang kamu pikirkan dapat menjadi pintu masuk bagi hubungan yang lebih terbuka.

Perhatian bukan berarti orang tua harus selalu berada di samping anak setiap saat. Yang lebih penting adalah kualitas hubungan ketika mereka bersama. Anak perlu merasakan bahwa kehadirannya memiliki arti, bahwa perasaannya tidak dianggap remeh, dan bahwa ia dapat meminta pertolongan tanpa takut dipermalukan. Dalam lingkungan semacam itu, anak memperoleh kesempatan untuk belajar bahwa kesedihan dapat diungkapkan, konflik dapat dibicarakan, dan masalah tidak harus ditanggung sendirian.

Pada sisi lain, orang dewasa juga perlu memahami bahwa tidak semua persoalan anak dapat diselesaikan dengan nasihat. Terkadang, anak tidak membutuhkan penjelasan panjang tentang mengapa ia seharusnya bersikap lebih kuat. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan sebelum memberikan penilaian. Ia membutuhkan pengakuan bahwa perasaannya nyata, sekalipun orang dewasa memandang masalah yang dihadapinya sebagai sesuatu yang kecil.

Dari sudut pandang ini, kisah Souparnika mengajak penonton memperhatikan sesuatu yang sering luput dalam kehidupan sehari-hari. Luka emosional tidak selalu tampak sebagai tangisan atau kemarahan. Ada anak yang tetap memperoleh nilai baik di sekolah, bermain bersama teman-temannya, dan menjalankan aktivitas seperti biasa, tetapi sering menyimpan sebuah pengalaman yang tidak pernah benar-benar diceritakan. Meski kita tidak dapat menyimpulkan bahwa adanya trauma hanya berdasarkan sikap pendiam atau perilaku tertentu. Yang dibutuhkan adalah kepekaan terhadap perubahan perilaku, kesediaan mendengarkan, dan bantuan yang sesuai apabila kesulitan tersebut mulai mengganggu kehidupan anak.

Salah satu yang tidak diceritakan itu, misalnya kejadian masa kecilnya Souparnika yang kerap mengambil barang milik teman-teman sekolahnya, tetapi tidak mengakui bahwa ia telah mengambil barang-barang tersebut, meskipun barang itu ditemukan di dalam tasnya. Film kemudian menghubungkan perilaku tersebut dengan perbedaan antara sisi diri yang melakukan tindakan dan sisi diri yang menyangkal atau merasa menjadi korban dari keadaan yang berlangsung.

Dalam pengalaman Souparnika, batas antara pihak yang melakukan sesuatu dan pihak yang mengalami akibatnya seolah-olah menjadi kabur. Ia tidak sepenuhnya memahami atau mengakui tindakannya sendiri. Situasi ini menjadi salah satu petunjuk yang digunakan film untuk membangun gambaran tentang konflik identitas dan pengalaman psikologis yang dialaminya.

Adegan tersebut dapat dibaca sebagai gambaran dramatik mengenai keterputusan antara tindakan, ingatan, dan kesadaran diri. Namun, perlu kehati-hatian ketika menghubungkannya dengan kondisi klinis tertentu. Mengambil barang milik orang lain, menyangkal perbuatan, atau menunjukkan perilaku yang bertentangan bahwa itu tidak dengan sendirinya membuktikan adanya gangguan identitas disosiatif. Perilaku anak dapat memiliki banyak penjelasan, mulai dari perkembangan pemahaman tentang kepemilikan, dorongan sesaat, tekanan lingkungan, hingga persoalan emosional yang membutuhkan penilaian lebih lanjut.

Dalam terminologi psikologi modern, gangguan identitas disosiatif atau dissociative identity disorder (DID), yang dahulu dikenal sebagai gangguan kepribadian ganda, merupakan kondisi yang ditandai oleh adanya dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda, disertai gangguan tertentu dalam kesinambungan identitas dan ingatan. Kondisi ini juga kerap menimbulkan penderitaan atau gangguan bermakna dalam kehidupan seseorang. Maka penilaian diagnosanya tidak cukup didasarkan pada satu tindakan atau perubahan perilaku yang diamati secara terpisah.

Dengan demikian, gagasan mengenai pelaku dan korban yang seolah-olah berada dalam satu diri dapat menjadi metafora yang kuat untuk menggambarkan konflik batin. Dalam kehidupan manusia secara umum, seseorang memang dapat mengalami pertentangan antara keinginan, tindakan, penyesalan, dan cara ia memahami dirinya sendiri. Kita pun bisa melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali, mencari pembenaran atas keputusan yang keliru, atau berusaha meyakinkan diri bahwa kita tidak memiliki tanggung jawab terhadap akibat tindakan kita.

Namun, konflik moral semacam itu tidak sama dengan gangguan identitas disosiatif. Dalam konteks film, perbedaan ini penting karena bahasa simbolik yang efektif untuk kepentingan cerita dapat menjadi menyesatkan apabila diterapkan begitu saja untuk menjelaskan kondisi orang yang sedang mengalami gangguan mental.

Bagi Souparnika, rangkaian pengalaman masa kecil, penolakan sosial, dan pergulatan psikologis membentuk dasar konflik yang kemudian berkembang dalam cerita. Penonton diajak melihat bahwa perilaku yang tampak ganjil dari luar mungkin menyimpan persoalan yang tidak langsung dapat dipahami. Tetapi memahami seseorang bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Empati tetap dapat berjalan bersama pengakuan bahwa setiap tindakan memiliki akibat dan bahwa orang yang mengalami kesulitan psikologis tetap membutuhkan dukungan yang tepat.

Sekolah, Perundungan, dan Rasa Tidak Memiliki Tempat

Mencermati perilaku Souparnika yang membuatnya sering diejek teman-temannya. Karena pengalaman tersebut akhirnya mendorongnya pindah sekolah. Ketika memasuki jenjang pendidikan berikutnya, ia bertemu dengan seseorang yang tidak disadarinya kelak akan menjadi bagian penting dalam kehidupannya: Cherish, laki-laki yang sejak pertemuan pertama telah memperhatikannya cukup lama.

Perpindahan sekolah menjadi titik penting dalam perjalanan tokoh Souparnika karena menunjukkan bagaimana lingkungan sosial dapat memengaruhi pengalaman seseorang terhadap dirinya sendiri. Sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan akademis. Di dalamnya, anak belajar membangun persahabatan, memahami aturan sosial, mengenali perbedaan, dan mengembangkan perasaan sebagai bagian dari suatu kelompok. Pengalaman diterima atau ditolak dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya dan orang lain.

Ketika seorang anak terus-menerus diejek atau dipermalukan, dampaknya tidak selalu berhenti setelah ejekan itu berakhir. Ia mungkin mulai mengantisipasi penolakan, merasa harus menyembunyikan bagian tertentu dari dirinya, atau menjadi terlalu waspada terhadap penilaian orang lain. Pada sebagian orang, pengalaman sosial yang menyakitkan dapat memengaruhi kepercayaan diri dan hubungan dengan lingkungan, meskipun dampaknya berbeda-beda dan tidak otomatis menyebabkan gangguan mental tertentu.

Dalam cerita Souparnika, ejekan teman-temannya menambah lapisan kesepian yang sudah dialaminya. Ia bukan hanya menghadapi persoalan di rumah, tetapi juga kesulitan menemukan tempat yang membuatnya merasa diterima di sekolah. Ketika lingkungan yang seharusnya menjadi ruang belajar justru menjadi sumber tekanan, dan membuat anak kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan sosial yang sehat.

Karena itu, perundungan tidak seharusnya dipandang sebagai bagian biasa dari masa kanak-kanak yang akan hilang dengan sendirinya. Kalimat seperti anak-anak memang suka mengejek atau korban harus belajar lebih kuat dapat membuat persoalan yang serius menjadi seolah-olah tidak penting. Tanggung jawab untuk menghentikan perundungan tidak dapat dibebankan hanya kepada anak yang menjadi sasaran. Sekolah, orang tua, guru, dan lingkungan pergaulan memiliki peran untuk membangun budaya yang tidak membenarkan penghinaan sebagai bentuk hiburan.

Perpindahan sekolah seperti Souparnika tidak selalu menyelesaikan masalah. Seseorang mungkin dapat meninggalkan lingkungan yang menyakitkan, tetapi tetap membawa ingatan, ketakutan, atau kebiasaan yang terbentuk selama berada di lingkungan tersebut. Perubahan tempat mungkin dapat memberikan kesempatan baru, tetapi proses memahami pengalaman masa lalu membutuhkan waktu dan dukungan.

Pertemuan Souparnika dengan Cherish dalam jenjang pendidikan berikutnya kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka berdua. Cherish hadir sebagai seseorang yang memperhatikannya, sementara Souparnika sendiri tidak menyadari arti pertemuan itu bagi masa depannya. Dalam struktur cerita, pertemuan tersebut menghubungkan masa kecil, cinta, dan upaya memahami kondisi psikologis seseorang.

Namun, perhatian yang diberikan oleh satu orang tidak selalu cukup untuk memulihkan semua luka yang dialami seseorang. Hubungan yang suportif memang dapat menjadi sumber kekuatan, tetapi pemulihan juga dapat membutuhkan lingkungan yang aman, dukungan keluarga, bantuan profesional, dan kesempatan bagi orang yang mengalami kesulitan untuk menentukan kebutuhan serta batas-batasnya sendiri.

Misalnya setelah mengenali persoalan yang dialami Souparnika, Cherish kemudian menekuni ilmu psikologi. Film menghubungkan pilihannya itu dengan keinginannya untuk memahami dan membantu perempuan yang telah menarik perhatiannya sejak kecil. Ia kemudian merancang serangkaian tindakan yang, menurut pemahamannya, merupakan bagian dari proses pengobatan. Namun, bagi Souparnika, rangkaian tersebut justru menjadi sumber ketakutan.

Kontras antara niat Cherish dan pengalaman Souparnika merupakan salah satu bagian cerita yang paling menarik untuk direnungkan. Dua orang dapat berada dalam peristiwa yang sama, tetapi memberikan makna yang sangat berbeda terhadap apa yang sedang terjadi. Seseorang mungkin menganggap tindakannya sebagai upaya membantu, sementara orang yang menerimanya merasa terancam, kehilangan kendali, atau tidak memahami apa yang sedang dilakukan terhadap dirinya.

Dalam hubungan antarmanusia, niat baik perlu disertai kemampuan mendengarkan dan menghormati pengalaman orang lain. Seseorang tidak dapat mengukur keberhasilan pertolongan hanya berdasarkan keyakinannya sendiri bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang benar. Ia juga perlu memperhatikan bagaimana tindakan tersebut diterima, apakah orang yang dibantu memahami tujuannya, dan apakah prosesnya dilakukan dengan cara yang aman.

Persoalan ini menjadi lebih sensitif ketika berkaitan dengan kesehatan mental. Orang yang mengalami gangguan psikologis bukanlah objek yang dapat diperlakukan semata-mata sebagai bahan eksperimen demi membuktikan suatu teori. Mereka memiliki hak atas martabat, privasi, informasi yang dapat dipahami, dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan mengenai perawatan mereka.

Penanganan gangguan disosiatif juga tidak dapat disederhanakan menjadi serangkaian tindakan dramatis seperti yang sering digunakan dalam film. Layanan kesehatan mental memerlukan asesmen yang memadai untuk memahami gejala, riwayat kehidupan, tingkat penderitaan, dan kebutuhan individu. Pendekatan psikoterapi dapat digunakan untuk membantu seseorang mengelola gejala dan memahami pengalaman traumatis, sementara pengobatan terhadap kondisi lain yang menyertai dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan klinis.

Dari perspektif tersebut, upaya Cherish menjadi wilayah yang perlu dipertanyakan secara kritis. Apakah ia benar-benar memahami apa yang dialami Souparnika, atau justru terlalu yakin bahwa pengetahuannya akan memberinya kemampuan untuk menyelesaikan persoalan perempuan tersebut. Apakah ia menempatkan kebutuhan Souparnika sebagai pusat perhatian, atau mencampurkan keinginannya untuk menolong dengan perasaannya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus dijawab hanya dengan menilai Cherish sebagai tokoh baik atau buruk. Tetapi mungkin itulah kerumitan hubungan mereka yang memperlihatkan bahwa manusia dapat memiliki niat yang tulus sekaligus melakukan kesalahan dalam memahami orang lain. Kepedulian sering tidak selalu berjalan beriringan dengan kebijaksanaan. Perasaan cinta tidak otomatis membuat seseorang mampu memberikan pertolongan yang tepat.

Di sini ada persoalan yang lebih luas tentang sebuah batas antara cinta dan kuasa. Ketika seseorang merasa paling memahami penderitaan pasangannya, ia dapat tergoda mengambil keputusan atas nama orang tersebut. Ia merasa mengetahui apa yang dibutuhkan, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana orang yang dicintainya seharusnya berubah. Padahal, proses pemulihan tidak dapat dipisahkan dari pengalaman subjektif, persetujuan, dan kemampuan individu untuk berpartisipasi dalam menentukan jalan hidupnya.

Dalam hubungan yang sehat, membantu bukan berarti mengambil alih seluruh kehidupan orang lain. Mendampingi berarti menyediakan ruang agar seseorang dapat memahami dirinya, memperoleh dukungan, dan mengambil keputusan dengan lebih baik. Pertolongan yang baik tidak menjadikan penerimanya semakin bergantung pada satu orang, tetapi membantu memperluas sumber dukungan dan kemampuan untuk menjalani kehidupan.

Gangguan Identitas Disosiatif dan Batas Penggambaran Film

Salah satu persoalan yang perlu kita perhatikan dalam membaca Moda Kavida Vaatavarana adalah cara film menghubungkan pengalaman Souparnika dengan gangguan psikologis. Film ini membangun misteri melalui sosok yang diyakini Souparnika terus mengikutinya, konflik identitas, dan pengalaman yang membuatnya sulit memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Unsur-unsur tersebut efektif untuk membangun ketegangan, tetapi tidak seluruhnya dapat diperlakukan sebagai gambaran klinis yang lengkap.

Menurut penjelasan American Psychiatric Association, gangguan identitas disosiatif melibatkan dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda, disertai perubahan dalam perilaku, ingatan, dan proses berpikir. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan kesenjangan ingatan terhadap peristiwa sehari-hari, informasi pribadi, atau pengalaman traumatis, dan menimbulkan penderitaan atau gangguan dalam fungsi kehidupan. Diagnosis memerlukan penilaian profesional dan pertimbangan terhadap penjelasan lain yang mungkin relevan.

Pengalaman disosiatif juga memiliki bentuk yang beragam. Penjelasan layanan kesehatan Inggris, NHS, mencakup pengalaman merasa terpisah dari diri sendiri atau lingkungan, kehilangan ingatan terhadap periode tertentu, ketidakpastian mengenai identitas, dan pada sebagian kondisi, pengalaman mengenai identitas yang berbeda. Disosiasi dapat berkaitan dengan respons terhadap tekanan atau pengalaman traumatis, tetapi tidak semua pengalaman disosiatif berarti seseorang mengalami gangguan identitas disosiatif.

Pembedaan ini penting karena istilah kepribadian ganda sering digunakan secara longgar dalam percakapan sehari-hari untuk definisi identitas disosiatif. Seseorang yang bersikap berbeda dalam situasi berbeda, mengalami konflik batin, atau menunjukkan perilaku yang bertentangan tidak otomatis memiliki gangguan identitas disosiatif. Begitu pula, pengalaman melihat atau merasa diawasi oleh sosok yang tidak dapat diverifikasi tidak dengan sendirinya membuktikan kondisi tersebut.

Tapi dalam film, berbagai gejala dapat disusun menjadi satu rangkaian dramatik untuk membuat penonton penasaran. Tokoh mungkin digambarkan mengalami perubahan perilaku yang mencolok, menghadapi sosok yang ternyata tidak ada, atau menunjukkan reaksi yang baru memperoleh penjelasan pada bagian akhir cerita. Sementara dalam kehidupan nyata, penilaian terhadap kondisi psikologis tidak dapat dilakukan hanya melalui kejutan naratif semacam itu.

Kritik terhadap penggambaran gangguan mental dalam film bukan berarti film harus menghindari tema persoalan psikologis. Melalui film bahkan memiliki kemampuan untuk memperluas pengetahuan publik tentang pengalaman yang selama ini kurang dipahami. Namun, kemampuan tersebut akan lebih bermanfaat apabila disertai penggambaran yang tidak menyamakan gangguan mental dengan kegilaan, kekerasan, atau keanehan yang semata-mata digunakan sebagai hiburan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Trauma & Dissociation pada 2024 menelaah pengalaman 377 orang dengan gangguan identitas disosiatif mengenai pengaruh penggambaran kondisi mereka di media. Dari kelompok tersebut, 151 orang melaporkan bahwa representasi media turut memengaruhi pengalaman mereka dalam memperoleh atau menjalani perawatan. Di antara responden yang melaporkan dampak terhadap perawatan, sebagian besar menyampaikan pengalaman negatif, termasuk kesalahpahaman mengenai kondisi mereka, rasa malu, dan hambatan dalam memperoleh diagnosis atau bantuan yang tepat. Temuan ini menunjukkan bahwa penggambaran media bukan persoalan sepele bagi orang yang hidup dengan kondisi tersebut.

Karena itu, Moda Kavida Vaatavarana dapat dinikmati sebagai thriller psikologis sekaligus perlu dibaca secara kritis. Penonton dapat mengapresiasi misteri yang dibangun oleh cerita tanpa harus menerima setiap penjelasan film sebagai pengetahuan medis. Kita dapat memahami penderitaan Souparnika sebagai pengalaman seorang tokoh fiksi, sambil tetap mengakui bahwa kondisi orang yang mengalami gangguan disosiatif dalam kehidupan nyata jauh lebih beragam dan tidak selalu dapat ditampilkan melalui pola dramatik yang sama.

Film yang membicarakan kesehatan mental pada akhirnya memiliki dua kemungkinan. Ia dapat membantu penonton mengembangkan empati terhadap pengalaman manusia yang sulit dipahami, atau justru memperkuat stereotip apabila persoalan tersebut disederhanakan secara berlebihan. Perbedaannya terletak pada bagaimana cerita memperlakukan tokohnya. Apakah ia tetap hadir sebagai manusia yang memiliki kehidupan, kehendak, dan martabat, atau hanya menjadi alat untuk menghasilkan kejutan bagi penonton.

Hubungan antara Cherish dan Souparnika dapat mempertemukan dua gagasan yang sering dianggap saling melengkapi antara cinta dan penyembuhan. Cherish mencintai Souparnika, memperhatikannya sejak masa muda, kemudian mempelajari psikologi untuk memahami kondisinya. Rangkaian tersebut memberi kesan bahwa cinta dapat menjadi kekuatan yang mendorong seseorang untuk berusaha memahami penderitaan orang lain.

Dalam banyak cerita romantis, cinta digambarkan sebagai kekuatan yang mampu mengatasi hampir semua hambatan. Seperti tokoh yang terluka akhirnya menemukan seseorang yang bersedia menerima dirinya, yang kesepian memperoleh teman hidup, yang merasa tidak dipahami menemukan seseorang yang sanggup membaca isi hatinya. Pola ini menawarkan harapan karena mengingatkan kita bahwa hubungan antarmanusia dapat membantu seseorang bertahan dalam masa-masa sulit.

Tetapi di kehidupan nyata tidak selalu manusia bernasib yang mengikuti struktur cerita romantis. Cinta mungkin dapat memberikan dukungan emosional, tetapi tidak otomatis menyelesaikan gangguan psikologis. Seseorang dapat mencintai pasangannya dengan tulus, tetapi tetap sering tidak memahami seluruh pengalaman batinnya. Seseorang dapat hadir setiap hari, tetapi tidak selalu mengetahui cara memberikan bantuan yang tepat. Bahkan, hubungan yang dilandasi kasih sayang dapat menimbulkan penderitaan ketika dibebani harapan bahwa satu orang harus menjadi jawaban atas seluruh persoalan orang lain.

Hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar perasaan. Ia memerlukan komunikasi, penghormatan terhadap batas pribadi, kesediaan untuk mengakui kesalahan, dan kemampuan menerima bahwa pasangan merupakan individu yang berbeda. Ketika salah satu pihak mengalami kesulitan psikologis, dukungan emosional dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan, tetapi tanggung jawab untuk memberikan perawatan yang sesuai tidak seharusnya dibebankan kepada pasangan semata.

Dalam konteks Souparnika, cinta Cherish juga mengandung pertanyaan tentang apakah seseorang dapat memahami orang yang dicintainya tanpa menjadikan dirinya pusat dari proses tersebut. Ada perbedaan antara mencintai seseorang karena ingin melihatnya tumbuh, dengan mencintai seseorang karena ingin menjadi orang yang paling dibutuhkannya. Yang pertama memberikan ruang bagi kemandirian, sedangkan yang kedua dapat menjadikan hubungan sebagai tempat seseorang membangun rasa berharga melalui ketergantungan orang lain.

Perbedaan itu tidak selalu mudah dikenali. Seseorang dapat merasa sangat dibutuhkan ketika pasangannya bergantung kepadanya. Ia mungkin menafsirkan ketergantungan tersebut sebagai bukti kedalaman cinta. Namun, hubungan yang baik tidak seharusnya mengharuskan salah satu pihak terus-menerus berada dalam keadaan terluka agar pihak lain dapat merasa berarti.

Cinta yang dewasa bukan cinta yang menjadikan penderitaan sebagai syarat untuk mempertahankan hubungan. Ia tidak menuntut seseorang untuk selalu menjadi penyelamat, sebagaimana ia tidak mengharuskan orang yang mengalami kesulitan untuk membalas pertolongan dengan kepatuhan. Cinta yang sehat memungkinkan kedua pihak tetap menjadi manusia yang utuh, dengan kebutuhan, tanggung jawab, dan kebebasan masing-masing.

Dari kisah Cherish dan Souparnika tidak hanya mengajak penonton bertanya apakah cinta dapat bertahan di tengah persoalan psikologis. Ia juga membuka pertanyaan tentang bagaimana cinta seharusnya dijalani ketika seseorang yang kita sayangi memiliki pengalaman yang tidak sepenuhnya kita pahami. Barangkali, dalam situasi semacam itu, bentuk cinta yang paling penting bukanlah kemampuan untuk selalu menemukan jawaban, melainkan kesediaan untuk tidak berpura-pura mengetahui segala sesuatu.

Dari Cerita tentang Cinta Menuju Cerita tentang Manusia

Setelah menonton film sampai selesai, barulah rangkaian cerita tersebut memperoleh bentuk yang lebih utuh. Prolog tentang Yayati, sosok ayah yang menceritakan kisah kepada anaknya, dan kehidupan Cherish sebagai orang yang menemukan cinta, menikah, lalu memiliki anak, menjadi bagian dari struktur penceritaan yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kehidupan pada masa berikutnya.

Dari sudut pandang ini, film tidak hanya berkisah tentang Souparnika yang mengalami pergulatan psikologis. Film juga berkisah tentang bagaimana pengalaman hidup seseorang diceritakan kembali kepada generasi berikutnya. Cerita yang disampaikan Cherish kepada anaknya menjadi jembatan antara masa lalu yang telah dialami dan masa kini yang sedang dijalani.

Hubungan tersebut mengingatkan kita bahwa manusia memahami kehidupan melalui cerita. Kita menyusun ingatan menjadi rangkaian peristiwa, mencari alasan mengapa sesuatu terjadi, dan mencoba menemukan makna dari pengalaman yang tidak selalu dapat kita kendalikan. Ketika seseorang menceritakan masa lalunya, ia bukan hanya mengulang kejadian yang pernah berlangsung. Ia juga sedang memilih bagian mana yang dianggap penting, bagaimana suatu peristiwa dipahami, dan apa yang ingin diwariskan kepada pendengarnya.

Namun, cerita tentang masa lalu tidak selalu identik dengan seluruh kenyataan. Ingatan manusia dapat berubah seiring waktu, sedangkan penafsiran terhadap suatu peristiwa dapat berkembang ketika seseorang memperoleh pengalaman baru. Apa yang dahulu dipahami sebagai kegagalan mungkin kelak dilihat sebagai pelajaran. Apa yang pernah dianggap sebagai kehilangan mungkin kemudian menjadi titik awal perubahan. Sebaliknya, sesuatu yang dulu tampak biasa dapat memperoleh arti baru ketika seseorang memahami akibatnya terhadap kehidupan orang lain.

Dalam film, hubungan antara Yayati, Cherish, dan anaknya memperlihatkan bagaimana pengalaman dapat diteruskan melalui narasi. Tetapi cerita yang diwariskan juga memerlukan keterbukaan terhadap pertanyaan. Seorang anak tidak harus menerima seluruh penjelasan orang tuanya tanpa berpikir kritis. Ia dapat belajar dari cerita tersebut sekaligus membangun pemahamannya sendiri mengenai kehidupan.

Hal ini membawa kita kembali kepada Souparnika. Pengalaman yang dialaminya memperlihatkan betapa rumitnya hubungan antara kenyataan, ingatan, dan penafsiran. Bagi seseorang yang sedang mengalami penderitaan psikologis, pengalaman batin dapat terasa begitu meyakinkan sehingga sulit dibedakan dari peristiwa yang berlangsung di luar dirinya. Bagi orang yang mengamati dari luar, apa yang dialami orang tersebut mungkin tampak tidak masuk akal. Jarak antara kedua pengalaman itulah yang menuntut empati sekaligus kehati-hatian.

Empati tidak berarti kita harus menerima semua penafsiran seseorang sebagai fakta. Sebaliknya, empati berarti bersedia mengakui bahwa penderitaan yang dialaminya perlu diperhatikan, sekalipun kita belum memahami sepenuhnya apa yang terjadi. Kita dapat membantu seseorang mencari penjelasan yang lebih tepat tanpa mempermalukannya, mendengarkan ketakutannya tanpa memperkuat keyakinan yang belum terbukti, dan mendorongnya memperoleh bantuan profesional tanpa menganggap dirinya sebagai manusia yang rusak.

Di sinilah cerita Cherish dan Souparnika dapat melampaui batas sebuah film romantis atau thriller psikologis. Ia menjadi pengingat bahwa manusia tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang terlihat. Di balik perilaku yang dianggap aneh, mungkin terdapat pengalaman yang belum terungkap. Di balik seseorang yang tampak baik-baik saja, mungkin ada persoalan yang tidak pernah memperoleh ruang untuk dibicarakan. Cara memahami seseorang juga berarti tidak boleh tergesa-gesa menempelkan label, diagnosis, atau penjelasan tunggal pada seluruh kehidupannya.

Moda Kavida Vaatavarana menawarkan kisah yang memadukan romansa, misteri, dan persoalan psikologis melalui kehidupan Souparnika dan Cherish. Dengan menjadikan pengalaman masa kecil, kesepian, perhatian, dan ilusi sebagai bagian dari konflik cerita, film ini mengajak penonton mempertanyakan hubungan antara apa yang dirasakan seseorang dan apa yang sesungguhnya terjadi. Prolog tentang Yayati dan seorang ayah yang menceritakan kisah kepada anaknya kemudian memperluas makna film, menghubungkan persoalan individu dengan cara manusia memahami dan mewariskan pengalaman hidup.

Salah satu renungan terpenting dari film ini terdapat dalam kalimat, "Jangan fokus pada orang yang tak peduli padamu." Kalimat itu dapat dibaca sebagai ajakan untuk tidak kehilangan diri sendiri ketika mengejar perhatian orang lain. Namun, dalam konteks kisah Souparnika, ia juga mengingatkan bahwa perhatian, cinta, dan kebutuhan untuk merasa diakui dapat menjadi persoalan yang rumit ketika seseorang berhadapan dengan pengalaman psikologis yang mengganggu kehidupan sehari-harinya.

Film ini juga memperlihatkan pentingnya memperhatikan pengalaman masa kecil tanpa menyederhanakan hubungan antara pengasuhan dan kesehatan mental. Anak membutuhkan rasa aman dan perhatian, tetapi perkembangan psikologis dipengaruhi oleh banyak faktor. Kesepian tidak otomatis menghasilkan gangguan mental, sebagaimana cinta tidak otomatis menyembuhkan penderitaan. Manusia membutuhkan hubungan yang suportif, lingkungan yang aman, dan bantuan profesional apabila persoalan yang dialaminya memerlukan penanganan klinis.

Film ini juga mengingatkan kita agar tidak menjadikan gangguan psikologis sebagai sekadar perangkat untuk menghasilkan kejutan. Di luar cerita film, terdapat manusia yang menjalani kehidupan nyata, menghadapi kesulitan dalam hubungan, dan berusaha menemukan cara untuk memahami pengalaman dirinya sendiri. Penggambaran yang tidak akurat dapat memperkuat stigma, sedangkan pendekatan yang lebih bertanggung jawab dapat membantu masyarakat membangun pemahaman yang lebih baik.

Tetapi penting persoalan terbesar yang dihadirkan Moda Kavida Vaatavarana bukan hanya bagaimana Souparnika dalam cara membedakan kenyataan dari ilusi, melainkan bagaimana manusia berusaha memahami sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh pengamatan dari luar. Kita sering menganggap diri kita mengenal orang lain karena telah lama berada di dekatnya. Kita mengira memahami seseorang karena mengetahui masa lalunya, mendengar pengakuannya, atau menyaksikan perilakunya. Padahal, kedekatan tidak selalu berarti pemahaman, sebagaimana pengetahuan tidak selalu menjamin kebijaksanaan.

Barangkali, pelajaran paling penting dari kisah ini adalah kesediaan untuk memberikan ruang bagi kenyataan yang lebih rumit daripada penilaian kita. Kita tidak harus langsung memahami seluruh penderitaan seseorang untuk memperlakukannya dengan hormat. Kita tidak harus menyetujui semua tindakannya untuk mengakui martabatnya. Dan kita tidak perlu menjadi penyelamat bagi semua orang untuk menunjukkan kepedulian.

Manusia bukan sekadar kumpulan tindakan yang dapat dinilai benar atau salah, bukan pula diagnosis yang dapat menjelaskan seluruh kehidupannya. Setiap orang membawa pengalaman, ingatan, ketakutan, dan harapan yang membentuk cara mereka memandang dunia. Sebagian pengalaman itu mudah diceritakan, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan waktu, rasa aman, dan bantuan yang tepat agar dapat dipahami.

Karena itu, ketika berhadapan dengan seseorang yang perilakunya sulit kita mengerti, mungkin kita perlu menunda penilaian sejenak. Bukan untuk mengabaikan kenyataan, melainkan untuk memastikan bahwa penilaian kita tidak mendahului pemahaman. Sebelum kita memutuskan siapa yang salah, siapa yang benar, atau siapa yang harus diselamatkan, ada satu hal yang layak dilakukan terlebih dahulu untuk mampu memahami nasib manusia adalah mendengarkan semua ceritanya, sebagaimana saya telah mendengarkan apa yang hendak film sampaikan untuk menjadi pelajaran. (Sal)

Perspektif

Scroll