Prestasi tidak selalu bermula dari fasilitas pendidikan yang lengkap atau perjalanan yang mudah. Terkadang, ia tumbuh dari keberanian seorang anak untuk menempuh jarak yang lebih jauh, kesediaan orang tua untuk berkorban, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di luar ruang kelas. Perjalanan Jeni Wulandari, alumni SMPN 1 Panawangan yang kini menempuh pendidikan di SMAN 1 Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menjadi gambaran tentang bagaimana ketekunan dan dukungan keluarga dapat mengantarkan seorang pelajar meraih pencapaian di tingkat nasional. Bersama rekan satu timnya, Rizki Febrian Arrasyid, Jeni berhasil meraih Medali Perak dalam kategori Pengembangan Usaha bidang Wisata dan Budaya pada Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2026. Prestasi tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga membawa nama sekolah serta daerah asalnya ke panggung kompetisi kewirausahaan pelajar tingkat nasional.
Jeni merupakan salah satu dari empat siswa SMAN 1 Kawali yang berhasil mengharumkan nama Provinsi Jawa Barat dalam FIKSI 2026, ajang yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kompetisi tingkat nasional ini berlangsung pada 12-17 Oktober 2026 dengan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Singaraja, Bali, sebagai tuan rumah. FIKSI menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan gagasan, menguji kelayakan usaha, dan mempertemukan kreativitas dengan kebutuhan masyarakat. Di tengah perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi, kompetisi semacam ini juga memperlihatkan bahwa kemampuan generasi muda tidak cukup hanya diukur melalui capaian akademik, tetapi perlu dilengkapi dengan kecakapan mengenali persoalan, menyusun solusi, bekerja sama, dan mengubah ide menjadi sesuatu yang mempunyai nilai guna.
Bersama Rizki Febrian Arrasyid, Jeni tergabung dalam tim LARASKA yang berhasil melewati tahapan seleksi hingga mencapai babak final. Medali perak yang mereka raih dalam kategori Pengembangan Usaha bidang Wisata dan Budaya menjadi penanda bahwa gagasan kewirausahaan yang dikembangkan oleh pelajar memiliki peluang untuk memperoleh pengakuan di tingkat nasional. Tentu arti penting pencapaian itu tidak berhenti pada medali yang dibawa pulang. Kompetisi tersebut memberikan ruang bagi Jeni dan rekannya untuk belajar menyampaikan gagasan, mempertanggungjawabkan konsep usaha, memahami potensi pasar, dan melihat bagaimana kekayaan wisata dan budaya dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi. Meskipun informasi terperinci mengenai model usaha LARASKA belum tersedia dalam sumber yang dapat diverifikasi, keberhasilan mereka di kategori tersebut memperlihatkan pentingnya ruang belajar yang memungkinkan siswa menghubungkan pengetahuan dengan praktik kewirausahaan.
Bidang Wisata dan Budaya merupakan salah satu cabang kompetisi dalam FIKSI yang terbagi menjadi dua kategori utama, yakni Rencana Usaha dan Pengembangan Usaha. Kompetisi ini mencakup 11 bidang kewirausahaan, meliputi agribisnis, agroteknologi dan kemaritiman; kesehatan, kecantikan dan perawatan diri; kewirausahaan sosial; wisata dan budaya; teknologi digital; bisnis kuliner; fesyen; gim; kriya; video, animasi dan film; serta seni rupa dan desain. Keragaman bidang tersebut menunjukkan bahwa kewirausahaan pelajar tidak dibatasi pada aktivitas jual beli atau penciptaan produk komersial semata. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, teknologi, dan sumber daya lokal menjadi usaha yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam konteks wisata dan budaya, misalnya, potensi sejarah, tradisi, kesenian, kuliner, kerajinan, dan pengalaman perjalanan dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan produk dan layanan yang mempunyai nilai ekonomi sekaligus membantu memperkenalkan identitas daerah.
Berdasarkan informasi resmi Universitas Pendidikan Ganesha, FIKSI 2026 mempertemukan 110 tim dari 86 sekolah di Indonesia serta satu sekolah Indonesia di Malaysia. Para peserta terpilih mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada perlombaan, tetapi juga mencakup pameran inovasi, seminar motivasi, dan pengembangan wawasan kewirausahaan. Skala tersebut memperlihatkan bahwa kompetisi ini menjadi ruang pertemuan bagi gagasan dan pengalaman dari lingkungan pendidikan yang beragam. Bagi siswa, pengalaman semacam itu membuka kesempatan untuk mengenali cara berpikir peserta lain, memperoleh masukan, dan memahami bahwa sebuah gagasan usaha perlu terus diuji serta dikembangkan agar dapat bertahan di luar lingkungan kompetisi. Informasi penyelenggara juga menekankan pentingnya inovasi, kolaborasi, dan keberanian mengambil inisiatif dalam menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan ekonomi masa depan.
Perjalanan Jeni menuju babak final berlangsung bersama rekan-rekannya dari SMAN 1 Kawali. Selain tim LARASKA yang terdiri atas Jeni Wulandari dan Rizki Febrian Arrasyid, sekolah tersebut juga mengirimkan tim ANLOKART yang diketuai Alya Nirmalasari dengan anggota Nadia Rahmawati. Kedua tim berhasil melewati seleksi hingga memperoleh kesempatan berkompetisi di tingkat nasional. Pencapaian tersebut memperlihatkan pentingnya lingkungan sekolah yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan minat, menguji kemampuan, dan terlibat dalam kegiatan yang melampaui pembelajaran rutin di kelas. Prestasi pelajar memang merupakan hasil kerja individu dan tim, tetapi keberhasilannya juga berkaitan dengan ekosistem pendidikan yang memungkinkan gagasan tumbuh melalui pendampingan, pembelajaran, dan kesempatan berkompetisi.
Jeni sendiri mempunyai perjalanan pendidikan yang tidak terlepas dari lingkungan tempat ia dibesarkan. Ia merupakan alumni SDN 2 Sagalaherang dan SMPN 1 Panawangan sebelum melanjutkan pendidikan ke SMAN 1 Kawali. Keputusan bersekolah di kecamatan berbeda membuatnya harus menyesuaikan diri dengan jarak, waktu, dan kebutuhan biaya tambahan. Bagi sebagian siswa, melanjutkan pendidikan ke sekolah yang dianggap sesuai dengan tujuan belajar merupakan keputusan yang relatif mudah. Namun, bagi keluarga lain, pilihan tersebut membutuhkan perhitungan tersendiri, terutama ketika jarak tempat tinggal dan sekolah tidak memungkinkan perjalanan pulang-pergi dilakukan dengan nyaman setiap hari. Dalam keadaan seperti itulah pendidikan menjadi lebih dari sekadar persoalan memilih sekolah. Ia turut menyangkut kemampuan keluarga menyediakan dukungan yang diperlukan agar anak dapat belajar secara optimal.
Keberhasilan Jeni di FIKSI 2026 juga mempertemukannya dengan peserta dari wilayah yang jauh, termasuk Mas Said bin Dwi Winarto dan Glen Graldy Kadang dari Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Malaysia, yang mengikuti kategori Pengembangan Usaha bidang Teknologi Digital. Kehadiran peserta dari luar negeri memperlihatkan luasnya jangkauan pertemuan gagasan dalam ajang tersebut. Di satu sisi, Jeni menempuh perjalanan pendidikan dari Desa Sagalaherang, Kecamatan Panawangan, menuju sekolahnya di Kecamatan Kawali. Di sisi lain, kompetisi yang diikutinya mempertemukan pelajar dari latar geografis dan lingkungan pendidikan yang berbeda. Jarak yang ditempuh masing-masing peserta memang tidak sama, tetapi kesempatan untuk belajar, menunjukkan kemampuan, dan mengembangkan gagasan mempertemukan mereka dalam ruang kompetisi yang setara. Dari sini, pengalaman Jeni menjadi pengingat bahwa potensi seorang siswa tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan asal daerah, kondisi keluarga, atau kemudahan akses pendidikan yang dimilikinya.
Untuk memungkinkan Jeni mengikuti kegiatan belajar dengan lebih baik, keluarganya memilih menyewakan kamar kos di dekat sekolah. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan aktivitas Jeni yang terkadang berlangsung hingga sore hari. Perjalanan pulang-pergi dari Desa Sagalaherang ke sekolah di Kecamatan Kawali tentu membutuhkan waktu dan tenaga, terlebih ketika kegiatan belajar tidak selalu berakhir pada jam yang sama. Pilihan untuk tinggal di dekat sekolah menjadi salah satu cara keluarga mengurangi beban perjalanan agar Jeni dapat mengikuti kegiatan pendidikan secara lebih leluasa. Meski terlihat sederhana, keputusan itu menunjukkan bagaimana dukungan pendidikan di tingkat keluarga sering kali diwujudkan melalui pengorbanan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Biaya tambahan yang harus disiapkan dan kebutuhan rumah tangga yang harus diperhitungkan, dengan harapan agar setiap pengeluaran menjadi bagian dari ikhtiar memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak.
Sang ibu, Mamah Yena, mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kenyamanan dan kegiatan pendidikan putrinya. "Kalau pulang-pergi kasihan anak saya. Apalagi suka ada kegiatan di sekolah sampai sore," ujarnya.
Bagi Mamah Yena, menyekolahkan anak di tempat yang berbeda kecamatan bukan semata-mata soal menentukan lokasi pendidikan. Ada konsekuensi biaya dan penyesuaian kehidupan keluarga yang harus dijalani agar Jeni dapat mengikuti kegiatan sekolah dengan baik. Biaya kos menjadi pengeluaran tambahan yang harus dipenuhi, di luar kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan lainnya. Kendati demikian, ia tetap berusaha mendukung pilihan pendidikan putrinya karena memahami bahwa kesempatan belajar merupakan investasi penting bagi masa depan. Pengorbanan semacam itu jarang terlihat ketika sebuah prestasi diumumkan. Publik biasanya menyaksikan nama pemenang, medali, dan kebanggaan sekolah, sementara proses panjang di belakangnya berlangsung dalam kehidupan keluarga yang sederhana.
"Meski berat karena ada tambahan bagi orang tua untuk biaya ngekosnya, tidak seperti orang tua anak teman-teman sekolahnya, tapi bangga sekali sudah bikin bangga orang tua," tambahnya.
Pernyataan Mamah Yena memperlihatkan sisi lain dari prestasi yang kerap luput dari perhatian. Bagi orang tua, keberhasilan anak tidak selalu diukur melalui peringkat atau penghargaan, tetapi juga melalui kesempatan melihat anak berkembang, berani mencoba, dan memperoleh pengalaman yang sebelumnya mungkin terasa jauh dari jangkauan. Kebanggaan itu hadir bersamaan dengan kesadaran akan keterbatasan ekonomi yang harus dikelola. Dalam perjalanan pendidikan, tidak semua keluarga memiliki sumber daya yang sama untuk membiayai kebutuhan tempat tinggal, transportasi, perlengkapan sekolah, dan kegiatan pengembangan diri. Karena itu, cerita Jeni juga mengajak kita melihat prestasi dari sudut pandang yang lebih luas bahwa di balik seorang siswa yang berhasil mencapai tingkat nasional, sering terdapat keluarga yang berusaha menjaga agar kesempatan belajar tetap terbuka, meskipun harus menanggung pengeluaran tambahan.
Momen ketika Jeni dinyatakan lolos ke babak final di Bali menjadi pengalaman emosional tersendiri bagi ibunya. "Serasa mimpi dan apalagi waktu awal pengumuman begitu lolos ke final harus ke Bali, saya sampai menangis semalaman saking bangga," tuturnya.
Tangis tersebut bukan hanya ungkapan kebahagiaan atas keberhasilan anak, melainkan juga cerminan perjalanan yang telah dilalui bersama. Kesempatan berkompetisi di tingkat nasional membawa konsekuensi berupa persiapan, perjalanan, dan berbagai kebutuhan yang harus diperhitungkan. Bagi keluarga yang perlu mengelola pengeluaran dengan cermat, kesempatan semacam itu dapat menghadirkan perasaan yang bercampur antara bahagia, haru, dan kekhawatiran. Namun, ketika anak berhasil mencapai tahap yang sebelumnya mungkin hanya dibayangkan, seluruh proses tersebut memperoleh makna yang berbeda. Sebuah kesempatan yang awalnya terasa jauh perlahan menjadi kenyataan, dan keberhasilan itu memberikan alasan bagi keluarga untuk kembali percaya bahwa usaha yang dilakukan tidak sia-sia.
Meski menaruh harapan besar terhadap putrinya, Mamah Yena mengaku tidak pernah memaksakan Jeni untuk menjadi juara. Baginya, pengalaman mengikuti kompetisi dan keberanian menghadapi tantangan merupakan bagian penting dari proses belajar. "Tapi sejak awal tak memaksa untuk menang. Sebagai orang tua cukup meminta jadikan semua jadi sebuah pengalaman aja." Ia kemudian mengungkapkan rasa syukurnya atas hasil yang diperoleh Jeni bersama timnya. "Alhamdulillah tak menyangka," katanya, mengungkapkan bahwa putrinya berhasil meraih juara kedua.
Sikap tersebut memperlihatkan cara pandang yang sehat terhadap prestasi pendidikan. Penghargaan memang penting karena menjadi bentuk pengakuan terhadap kemampuan dan kerja keras siswa, tetapi nilai pendidikan tidak semestinya bergantung sepenuhnya pada kemenangan. Kompetisi juga memberikan ruang bagi siswa untuk belajar menghadapi penilaian, menerima masukan, menyelesaikan persoalan bersama rekan satu tim, dan memahami bahwa setiap gagasan memiliki ruang untuk diperbaiki. Ketika orang tua menempatkan pengalaman sebagai bagian penting dari proses, anak mempunyai kesempatan untuk mencoba tanpa dibebani keharusan memenuhi ekspektasi kemenangan. Dalam perjalanan Jeni, medali perak menjadi hasil yang membanggakan, tetapi keberanian untuk melangkah hingga tingkat nasional merupakan pencapaian tersendiri yang akan sangat bernilai dalam perjalanan pendidikan berikutnya.
Prestasi tersebut turut membuka peluang bagi Jeni untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui beasiswa sebesar 75 persen dari Institut Pariwisata Trisakti, sebagaimana informasi yang disampaikan dalam keterangan mengenai pencapaiannya. Kesempatan ini menjadi salah satu hasil konkret yang dapat memperluas pilihan pendidikan setelah menyelesaikan sekolah menengah.
Beasiswa dapat membantu mengurangi beban biaya kuliah, meskipun besaran bantuan tersebut tentu tidak serta-merta menghapus seluruh kebutuhan pendidikan, seperti biaya hidup, transportasi, buku, dan keperluan akademik lainnya. Bagi siswa yang keluarganya telah mengalokasikan biaya tambahan untuk tempat tinggal selama sekolah menengah, dukungan pendidikan tinggi menjadi semakin berarti karena dapat membantu mendekatkan rencana melanjutkan studi dengan kemampuan ekonomi keluarga.
Institut Pariwisata Trisakti, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, merupakan perguruan tinggi yang berfokus pada pendidikan pariwisata dan bidang-bidang terkait. Berdasarkan informasi resmi kampus, institusi tersebut berdiri sejak 2 Juni 1969 dan memiliki rekam jejak panjang dalam pendidikan pariwisata di Indonesia. Kampus ini menawarkan sejumlah program studi, termasuk Pariwisata, Pengelolaan Perhotelan, Usaha Perjalanan Wisata, Bisnis Digital, Kewirausahaan, dan program pascasarjana di bidang pariwisata.
Peluang beasiswa yang diperoleh Jeni memiliki hubungan yang relevan dengan bidang kompetisi yang mengantarkannya meraih prestasi. Wisata dan budaya bukan sekadar sektor yang berkaitan dengan perjalanan atau hiburan, melainkan bidang yang membutuhkan pemahaman tentang pengelolaan destinasi, pelayanan, pemasaran, kreativitas, teknologi, dan perilaku konsumen. Pengembangan usaha di bidang ini juga menuntut kemampuan untuk mengenali karakteristik masyarakat setempat, menjaga nilai budaya, dan menciptakan pengalaman yang dapat memberikan manfaat bagi pengunjung dan warga. Jika kelak Jeni memilih melanjutkan pendidikan dalam bidang pariwisata atau kewirausahaan, pengalaman mengikuti FIKSI dapat menjadi bekal awal untuk memahami hubungan antara gagasan usaha dan pengetahuan profesional. Meski demikian, pilihan studi tetap menjadi keputusan pribadi yang perlu disesuaikan dengan minat, kesiapan, dan rencana masa depannya.
Keterkaitan antara kompetisi, beasiswa, dan pendidikan tinggi juga memperlihatkan bagaimana sebuah prestasi dapat menjadi pintu masuk menuju kesempatan berikutnya. Dalam informasi resminya, Institut Pariwisata Trisakti mempublikasikan program Beasiswa Prestasi yang menyediakan bantuan biaya pendidikan bagi siswa dengan prestasi akademik maupun nonakademik, berdasarkan ketentuan dan proses seleksi yang berlaku.
Di luar manfaat pribadi, prestasi Jeni mengingatkan bahwa pengembangan kewirausahaan di kalangan pelajar membutuhkan ekosistem yang mendukung. Pemerintah melalui Pusat Prestasi Nasional mengarahkan FIKSI 2026 pada penguatan ekonomi hijau, ekonomi kreatif, dan ekonomi digital, dengan harapan lahir generasi wirausaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mampu menawarkan solusi bagi persoalan sosial dan lingkungan. Orientasi tersebut penting karena tantangan kewirausahaan masa kini tidak cukup dijawab melalui kemampuan menghasilkan produk yang laku di pasar. Pelaku usaha juga perlu memahami dampak kegiatan ekonominya terhadap masyarakat, sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan. Dalam bidang wisata dan budaya, misalnya, inovasi idealnya tidak sekadar menarik pengunjung, tetapi juga menjaga kelestarian warisan budaya, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, dan menghindari eksploitasi yang menghilangkan nilai asli suatu tradisi.
Gagasan tersebut menjadi relevan bagi daerah-daerah yang memiliki kekayaan budaya dan potensi wisata, termasuk wilayah sekitar Ciamis dan kawasan Priangan Timur. Potensi lokal dapat menjadi sumber pengembangan usaha jika didukung oleh kreativitas generasi muda, pemahaman pasar, pendampingan, akses permodalan, dan pemanfaatan teknologi.
Namun, potensi saja tentu tidak cukup. Sebuah usaha perlu dirancang dengan memperhatikan kebutuhan konsumen, keberlanjutan bahan baku, kualitas produk, strategi pemasaran, serta manfaat yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Pelajar yang mulai mempelajari kewirausahaan sejak sekolah mempunyai kesempatan untuk lebih memahami tantangan tersebut melalui proses yang bertahap. Kompetisi seperti FIKSI dapat menjadi tempat menguji gagasan, tetapi pengembangan usaha setelah kompetisi tetap memerlukan pendampingan dan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata.
Karena itu, prestasi Jeni sebaiknya tidak berhenti tentang seorang siswa yang memenangkan sebuah medali. Pengalaman yang diperolehnya dapat menjadi awal bagi pengembangan kemampuan yang lebih luas, baik dalam pendidikan maupun dalam kegiatan kewirausahaan. Dukungan sekolah, keluarga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha diperlukan agar siswa berprestasi mempunyai ruang untuk mempertahankan semangat belajar setelah kompetisi selesai. Penghargaan yang diberikan kepada pemenang akan semakin bermakna apabila disertai kesempatan mengikuti pelatihan, memperoleh pendampingan, mengembangkan jaringan, dan menguji gagasan usaha secara berkelanjutan. Dalam kompetisi tidak hanya menghasilkan daftar pemenang, tetapi juga membantu membangun generasi muda yang mampu mengubah pengetahuan menjadi karya dan karya menjadi manfaat bagi masyarakat.
Kisah Jeni Wulandari mengandung pelajaran yang lebih luas daripada pencapaian sebuah medali. Dari Desa Sagalaherang, ia menempuh pendidikan di kecamatan berbeda, menjalani kehidupan kos dengan dukungan keluarga, kemudian membawa gagasannya ke panggung kompetisi nasional di Bali. Di sepanjang perjalanan tersebut, ada biaya yang harus dipenuhi, ada kekhawatiran yang dirasakan orang tua, dan ada keberanian seorang anak untuk mencoba sesuatu yang baru. Medali perak FIKSI 2026 menjadi pengakuan atas kerja kerasnya bersama Rizki Febrian Arrasyid, sedangkan peluang beasiswa membuka kemungkinan bagi langkah pendidikan berikutnya. Tetapi makna terpenting dari prestasi ini terletak pada terbukanya jalan bagi Jeni untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan.
Keberhasilan pendidikan bukan semata-mata tentang seberapa tinggi seseorang mencapai panggung penghargaan, melainkan tentang sejauh mana kesempatan yang diperolehnya dapat tumbuh menjadi pengetahuan, kemandirian, dan manfaat bagi lingkungan.