Di tengah meningkatnya keresahan atas tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, pelemahan daya beli masyarakat, dan berbagai kebijakan pemerintah yang menuai kritik, mahasiswa dari berbagai daerah kembali membangun konsolidasi nasional sepanjang 2026. Forum-forum lintas kampus, diskusi daring, hingga aksi turun ke jalan mulai menghidupkan kembali istilah "Reformasi Jilid II". Namun hingga kini gerakan tersebut masih berada pada tahap pencarian bentuknya paling solid, siapa yang memimpin, apa agenda utamanya, dan bagaimana arah perjuangannya. Meski demikian, gelombang konsolidasi kian mengemuka dan tumbuh subur di golongan kelas menengah yang mulai jengah oleh himpitan struktural.
Jika Reformasi 1998 memiliki musuh politik yang jelas, kepemimpinan yang relatif terpusat, serta tuntutan yang terkonsolidasi, maka gerakan mahasiswa saat ini menghadapi tantangan yang berbeda. Mereka bergerak dalam lanskap demokrasi yang lebih terbuka, tetapi juga lebih kompleks. Kritik tidak lagi hanya diarahkan pada satu figur atau rezim, melainkan pada berbagai persoalan yang saling terkait, mulai dari ekonomi, pendidikan, lapangan kerja, tata kelola pemerintahan, hingga kualitas demokrasi. Manifestasi ketidakpuasan ini kini tersebar ke dalam isu-isu spesifik yang mencerminkan kecemasan generasi muda terhadap masa depan mereka sendiri.
Kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya kegelisahan tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen. Kelompok kebutuhan pangan, transportasi, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya menjadi penyumbang kenaikan harga yang paling dirasakan masyarakat. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat inflasi masih berada dalam rentang sasaran, meski tekanan harga pangan dan gejolak global terus menjadi perhatian.
Akan tetapi, stabilitas di atas kertas tersebut sering tidak selaras dengan realitas di akar rumput. Bagi sebagian mahasiswa, angka-angka makro tersebut memiliki dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Biaya makan meningkat, ongkos transportasi bertambah mahal, sementara peluang kerja setelah lulus dianggap belum memberikan kepastian yang memadai. Tekanan ini diperparah oleh fenomena deindustrialisasi dini dan menyusutnya proporsi lapangan kerja formal, yang membuat gelar sarjana tak lagi otomatis menjadi tiket menuju kesejahteraan. Situasi itu kemudian melahirkan keresahan yang perlahan berubah menjadi energi politik.
Ketika ruang-ruang kelas berganti menjadi ruang tunggu ketidakpastian, batas kesabaran akademik pun mulai retak. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah aliansi mahasiswa kembali menggelar aksi di berbagai daerah. Aliansi BEM Seluruh Indonesia misalnya, melakukan demonstrasi terkait isu pendidikan tinggi dan menuntut pemerintah lebih serius menangani berbagai persoalan kampus. Di Jawa Tengah, sejumlah mahasiswa bahkan memberikan ultimatum kepada pemerintah untuk merespons pelemahan rupiah dan kondisi ekonomi, dengan ancaman menggelar aksi yang mereka sebut sebagai "Reformasi Jilid II".
Namun di sinilah letak perbedaan mendasar dengan 1998. Kala itu, konsolidasi dibangun melalui pertemuan fisik yang panjang, jaringan organisasi yang relatif mapan, serta tujuan yang jelas. Gerakan mahasiswa bergerak seperti piramida yang mengerucut ke satu titik. Sebaliknya, gerakan 2026 lebih menyerupai jaringan atau rimpang yang menyebar ke berbagai arah. Tidak ada pusat komando tunggal. Tidak ada tokoh dominan yang menjadi simbol bersama. Mobilisasi berlangsung cepat melalui media sosial, grup percakapan, dan platform digital. Mereka terikat bukan oleh hierarki organisasi, melainkan oleh kesamaan nasib (shared precarity) yang diamplifikasi oleh algoritma.
Keunggulan model ini adalah kemampuannya bergerak cepat dan menjangkau lebih banyak orang. Fleksibilitas ini memungkinkan simpul-simpul perlawanan kecil muncul secara otonom di berbagai daerah tanpa harus menunggu restu dari ibu kota. Akan tetapi, kelemahannya juga nyata karena sulit membangun konsensus bersama, sulit menjaga fokus isu, dan mudah terpecah ke dalam berbagai kepentingan. Ketika sebuah tagar bisa mengumpulkan ribuan orang dalam hitungan jam, ia juga bisa menguap dalam hitungan hari ketika algoritma beralih ke tren yang baru.
"Gerakan sekarang lebih mudah mengumpulkan massa, tetapi lebih sulit menyatukan agenda," kata seorang aktivis mahasiswa yang terlibat dalam forum konsolidasi nasional. Perbedaan karakter inilah yang memicu perdebatan sengit di kalangan akademisi dan pelaku sejarah mengenai efektivitas gerakan hari ini.
Sementara pandangan optimistis melihat kondisi ini sebagai evolusi gerakan sosial. Menurut kelompok ini, absennya komando tunggal justru membuat gerakan lebih demokratis, lebih adaptif, dan lebih tahan terhadap upaya pelemahan dari luar. Ketika tidak ada kepala yang bisa dipotong, maka gerakan ini menjadi sulit untuk diredam atau disuap. Mereka percaya generasi digital memiliki cara sendiri untuk membangun perubahan yang tidak harus meniru pola 1998.
Salah satu pandangan, ada yang menilai gerakan mahasiswa saat ini masih menghadapi persoalan mendasar, yaitu lemahnya konsolidasi ideologis. Banyak aksi lahir sebagai respons spontan terhadap isu tertentu, tetapi sulit berkembang menjadi agenda perubahan jangka panjang. Mereka khawatir istilah "Reformasi Jilid II" lebih banyak berfungsi sebagai slogan ketimbang proyek politik yang benar-benar matang. Perlawanan yang sifatnya reaktif rentan terjebak dalam lingkaran setan kemarahan sesaat tanpa menawarkan cetak biru alternatif bagi pembaruan tatanan sosial-ekonomi yang mereka kritik.
Pengamat gerakan sosial juga mengingatkan bahwa media sosial memiliki dua wajah sekaligus. Ia mampu mempercepat mobilisasi, tetapi pada saat yang sama mendorong budaya aktivisme instan. Isu cepat viral, cepat mendapat perhatian, tetapi juga cepat dilupakan ketika muncul isu baru. Lanskap digital yang riuh seringkali mereduksi kritik substansial menjadi sekadar komoditas visual demi mendulang metrik interaksi di layar gawai.
Akibatnya, gerakan mahasiswa hari ini menghadapi paradoks zaman digital. Ketika semakin mudah terhubung, tetapi semakin sulit membangun kedalaman organisasi. Padahal jika konektivitas tanpa kedalaman ini yang membuat gerakan rentan terhadap infiltrasi polarisasi politik, perang informasi, dan operasi siber yang sengaja dirancang untuk memecah belah konsentrasi massa.
Pertanyaan besarnya kemudian bukan lagi apakah Reformasi Jilid II akan terjadi, melainkan apakah mahasiswa mampu menemukan titik temu di tengah keragaman tuntutan yang mereka bawa. Mampukah jaringan rimpang yang berserakan ini menjahit diri mereka menjadi sebuah kekuatan kolektif yang padu?
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar tidak lahir hanya dari kemarahan. Ia membutuhkan konsolidasi, kesabaran, visi bersama, dan kemampuan menerjemahkan keresahan publik menjadi agenda politik yang jelas. Tanpa adanya jembatan yang menghubungkan antara riuhnya aksi di jalanan dengan artikulasi kebijakan di ruang-ruang strategis, energi besar ini berisiko menjadi riak kecil dalam sejarah yang cepat surut.
Mungkin yang sedang terjadi hari ini bukanlah Reformasi Jilid II dalam pengertian yang sesungguhnya. Mungkin ini masih sebatas fase pencarian, ketika berbagai kegelisahan sosial bergerak sendiri-sendiri sambil mencari bahasa yang sama. Ini adalah masa transisi, sebuah persimpangan jalan di mana generasi baru sedang meraba-raba batasan dan kekuatan dari instrumen teknologi yang mereka genggam.
Namun sejarah juga mengajarkan bahwa hampir semua perubahan besar berawal dari kegelisahan yang tampak tercerai-berai. Reformasi 1998 pun tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh perlahan dari diskusi kecil, ruang-ruang kampus, keresahan ekonomi, dan keberanian generasi muda untuk mempertanyakan arah bangsa. Di balik setiap peristiwa monumental, selalu ada akumulasi dari kejenuhan-kejenuhan kecil yang akhirnya menemukan momentumnya.
Kini, seperempat abad lebih setelah reformasi pertama, pertanyaan yang kembali menggantung apakah mahasiswa Indonesia sedang menulis babak baru sejarah, atau hanya mengulang gema masa lalu yang belum menemukan bentuknya?
Secara reflektif, perjuangan generasi digital hari ini tidak bisa lagi diukur atau dibandingkan dengan era 98. Tantangan mereka jauh lebih senyap tetapi cukup mematikan untuk melawan kelelahan mental, jeratan ekonomi gig (gig economy), dan apatisme yang diproduksi secara massal oleh kenyamanan semu dunia maya. Keberhasilan mereka tidak akan dinilai dari seberapa mirip mereka dengan pendahulu mereka, melainkan dari seberapa kokoh mereka mampu bertahan ketika layar gawai dimatikan dan kenyataan hidup harus dihadapi secara nyata.
Jawabannya mungkin tidak akan lahir dari sebuah tagar, sebuah aksi, atau satu momentum semata. Ia akan ditentukan oleh sejauh mana generasi hari ini mampu mengubah kemarahan menjadi gagasan, dan kegelisahan menjadi gerakan yang benar-benar memiliki tujuan. Sejarah menegaskan bahwa tak pernah mendikte bentuk dari sebuah perubahan. Sejarah hanya menyediakan panggung bagi mereka yang menolak untuk sekadar menjadi penonton pasif dan berpangku tangan dalam melihat perubahan zamannya. (Red)