Pemerintah China menurunkan target pertumbuhan ekonominya menjadi sekitar 4,5-5 persen untuk tahun 2026, sebuah angka yang menjadi salah satu yang terendah dalam lebih dari tiga dekade terakhir. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Li Qiang dalam sidang pembukaan National People's Congress di Beijing pada Kamis (5/3/2026). Keputusan ini muncul di tengah tekanan ekonomi domestik dan ketidakpastian global yang meningkat. Bagi Indonesia, yang memiliki hubungan perdagangan dan investasi sangat erat dengan China, sinyal perlambatan ini berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang tidak kecil.
Sidang tahunan yang dikenal sebagai “Two Sessions” yang mempertemukan Kongres Rakyat Nasional dan Chinese People's Political Consultative Conference merupakan forum penting bagi pemerintah China untuk memaparkan arah kebijakan negara. Dalam forum tersebut, pemerintah Beijing secara terbuka mengakui bahwa ekonomi domestik masih menghadapi sejumlah tantangan serius.
Dalam laporan kerjanya, Li Qiang menyebutkan bahwa lemahnya permintaan domestik, krisis berkepanjangan di sektor properti, serta meningkatnya beban utang pemerintah daerah masih membayangi pemulihan ekonomi China. Sektor properti yang sebelumnya menjadi salah satu motor utama pertumbuhan bahkan belum sepenuhnya pulih sejak krisis yang melanda sejumlah perusahaan pengembang besar dalam beberapa tahun terakhir.
Selain tekanan dari dalam negeri, ekonomi China juga menghadapi tantangan eksternal. Ketegangan geopolitik global, potensi konflik perdagangan dengan Amerika Serikat, serta kebijakan tarif baru menjadi faktor yang menambah ketidakpastian bagi perdagangan internasional. Pemerintah China menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan moneter akan disiapkan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Langkah ini juga menandakan bahwa Beijing kini memilih pendekatan yang lebih realistis dibandingkan sebelumnya, dengan menurunkan ekspektasi pertumbuhan agar lebih sesuai dengan kondisi ekonomi yang sedang berlangsung.
Perlambatan ekonomi China tidak bisa dipandang ringan bagi Indonesia. Negara tersebut masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2025, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai sekitar US$64,8 miliar, atau sekitar 24 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Ketergantungan ini membuat perubahan kecil dalam ekonomi China dapat memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama di sektor komoditas.
Permintaan China selama ini menjadi penopang utama bagi ekspor sejumlah komoditas Indonesia, seperti batu bara, nikel, minyak kelapa sawit, serta berbagai bahan baku industri. Ketika aktivitas industri China melambat, permintaan terhadap bahan baku biasanya ikut menurun. Situasi ini dapat berujung pada dua tekanan sekaligus: penurunan volume ekspor dan melemahnya harga komoditas global.
Ekonom senior dan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri pernah mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi China memiliki dampak langsung terhadap Indonesia. Ia menyatakan bahwa setiap penurunan 1 persen pertumbuhan ekonomi China dapat mengurangi sekitar 0,3 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Karena China adalah mitra dagang utama Indonesia, pelemahan ekonomi di sana akan langsung memengaruhi ekspor dan akhirnya pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Chatib dalam sejumlah forum ekonomi internasional.
Selain perdagangan, kanal lain yang juga rentan terhadap perlambatan ekonomi China adalah investasi. Dalam beberapa tahun terakhir, China menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia, terutama dalam sektor hilirisasi mineral, manufaktur, energi, dan pembangunan kawasan industri. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan bahwa realisasi investasi China di Indonesia mencapai sekitar US$7,5 miliar pada 2025, sedikit menurun dibandingkan US$8,1 miliar pada 2024.
Investasi ini banyak mengalir ke sektor strategis seperti pengolahan nikel, industri baterai kendaraan listrik, dan pembangunan kawasan industri di berbagai wilayah Indonesia. Namun ketika ekonomi China melambat, perusahaan-perusahaan dari negara tersebut cenderung menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi global. Proyek-proyek baru berpotensi tertunda, sementara investasi yang sudah berjalan mungkin mengalami penyesuaian tempo.
Ekonom dari Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa perlambatan China bisa memengaruhi keputusan investasi global perusahaan-perusahaan negara tersebut. “Ketika kondisi ekonomi domestik China tidak terlalu kuat, perusahaan biasanya akan memprioritaskan pasar domestik. Ini bisa membuat investasi ke negara lain menjadi lebih selektif,” ujarnya.
Namun tidak semua pihak melihat situasi ini secara pesimistis. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira, menilai bahwa Indonesia masih memiliki peluang mempertahankan arus investasi jika mampu menjaga stabilitas kebijakan dan memperbaiki iklim usaha. “Selama proyek-proyek hilirisasi tetap menarik secara ekonomi dan didukung kebijakan yang konsisten, investor China tetap akan melihat Indonesia sebagai lokasi strategis,” kata Bhima.
Penurunan target pertumbuhan ekonomi China semestinya menjadi pengingat betapa eratnya keterhubungan ekonomi global saat ini. Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi China bisa menjadi ujian bagi ketahanan ekonomi nasional. Ketergantungan yang besar terhadap satu pasar ekspor membuat perekonomian domestik rentan terhadap perubahan eksternal. Dalam jangka panjang, situasi ini kembali menegaskan pentingnya diversifikasi pasar ekspor, penguatan industri domestik, serta peningkatan nilai tambah produk nasional.
Ekonomi global ibarat jaringan yang saling terhubung. Ketika salah satu mesin utamanya melambat, getarannya akan terasa hingga ke berbagai negara. Pertanyaannya sudah seberapa siap Indonesia menghadapinya? (Red)