Penjualan Mobil Nasional 2025 Turun, Gaikindo Catat Tekanan Daya Beli dan Pergeseran Pasar

Penjualan mobil nasional sepanjang 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Data...

Penjualan Mobil Nasional 2025 Turun, Gaikindo Catat Tekanan Daya Beli dan Pergeseran Pasar

Ekonomi
10 Jan 2026
189 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Penjualan Mobil Nasional 2025 Turun, Gaikindo Catat Tekanan Daya Beli dan Pergeseran Pasar

Penjualan mobil nasional sepanjang 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil secara wholesales (pabrik ke dealer) mencapai 803.687 unit, turun 7,2 persen dari capaian 865.723 unit pada 2024. Penjualan ritel atau dari dealer ke konsumen juga mengalami penurunan. Sepanjang Januari–Desember 2025, penjualan ritel tercatat 833.692 unit, turun 6,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan, meski terjadi penurunan secara tahunan, capaian tersebut masih berada di atas target revisi Gaikindo yang sebelumnya diturunkan menjadi sekitar 780 ribu unit.

“Wholesales 2025 sebanyak 803.687 unit dan retail sales 833.692 unit,” ujar Jongkie saat dikonfirmasi, Jumat, 9 Januari 2026.

Lonjakan di Akhir Tahun

Di tengah tren penurunan tahunan, penjualan mobil pada Desember 2025 justru menunjukkan kenaikan signifikan. Penjualan wholesales mencapai 94.100 unit, naik 26,9 persen dibandingkan November 2025 yang tercatat 74.131 unit.

Penjualan ritel pada bulan yang sama juga naik 18,3 persen menjadi 93.833 unit dari sebelumnya 79.348 unit.

Secara tahunan, penjualan Desember 2025 juga lebih tinggi dibandingkan Desember 2024. Wholesales naik 25,7 persen, sementara penjualan ritel meningkat 22,7 persen. Lonjakan ini didorong oleh promosi akhir tahun, diskon besar, serta momentum libur panjang.

Dominasi Jepang, China Menguat

Dari sisi merek, produsen asal Jepang masih mendominasi pasar otomotif nasional. Pada penjualan wholesales 2025, Toyota menempati posisi teratas dengan 250.431 unit, disusul Daihatsu (130.677 unit) dan Mitsubishi Motors (71.781 unit).

Untuk penjualan ritel, Toyota kembali memimpin dengan 258.923 unit, diikuti Daihatsu (137.835 unit) dan Honda (71.233 unit).

Sementara itu, merek asal Cina menunjukkan pertumbuhan signifikan. BYD menjadi merek Cina dengan penjualan tertinggi, mencatat wholesales 46.711 unit dan penjualan ritel 44.342 unit. Posisi berikutnya ditempati Chery dan Wuling, yang juga mencatat pertumbuhan terutama di segmen kendaraan listrik.

Satu-satunya merek asal Asia Tenggara, VinFast dari Vietnam, membukukan penjualan wholesales 10.886 unit dan penjualan ritel 10.630 unit sepanjang 2025.

Tekanan Daya Beli dan Tantangan Industri

Sejumlah pengamat menilai pelemahan penjualan mobil sepanjang 2025 tidak terlepas dari melemahnya daya beli masyarakat, tingginya suku bunga kredit kendaraan, serta tekanan ekonomi global dan domestik. Segmen mobil murah dan low-MPV, yang selama ini menjadi tulang punggung pasar, tercatat paling terdampak.

Kondisi ini juga membuat Gaikindo dan pelaku industri lebih berhati-hati dalam menetapkan target penjualan. Pemerintah pun mulai mempertimbangkan kembali skema insentif otomotif untuk mendorong pemulihan pasar pada 2026.

Penurunan penjualan mobil pada 2025 menunjukkan bahwa industri otomotif nasional tengah berada dalam fase penyesuaian. Lonjakan penjualan di akhir tahun belum cukup menutup pelemahan permintaan sepanjang tahun.

Ke depan, pemulihan industri tidak hanya bergantung pada promosi musiman, tetapi juga pada kebijakan fiskal, stabilitas ekonomi, serta kemampuan industri membaca perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif dalam mengambil kredit dan keputusan belanja jangka panjang. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll