Kawasan Nagoya selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata Kota Batam. Perdagangan, kuliner, dan arus manusia bertemu di ruang yang sama, menciptakan denyut kota yang hidup, namun sekaligus menyisakan persoalan klasik kawasan urban: pedestrian yang sempit, konflik ruang dengan kendaraan, serta minimnya ruang publik yang ramah bagi pejalan kaki.
Upaya menjawab persoalan itu mulai terlihat pada Jumat, 2 Januari 2025. Badan Pengusahaan (BP) Batam memulai langkah awal pengembangan Nagoya Heritage melalui survei lapangan di kawasan Nagoya–Harbourbay. Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, bersama tim gugus tugas, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), serta perwakilan Bank Rakyat Indonesia (BRI), menyusuri langsung kawasan yang akan ditata sebagai destinasi wisata berbasis walkable city.
Survei dilakukan sepanjang jalur pedestrian dari Harbourbay hingga Pakuwon Nagoya dengan total panjang sekitar 4,7 kilometer. Jalur ini dirancang bukan sekadar sebagai trotoar, melainkan sebagai ruang kota yang memungkinkan orang berjalan kaki dengan aman, nyaman, dan menikmati suasana kawasan. Konsep walkable city menempatkan manusia sebagai pusat desain kota, bukan kendaraan bermotor.
Dalam rencana pengembangannya, BP Batam akan melakukan penataan menyeluruh terhadap pedestrian dan kawasan sekitarnya. Beberapa titik bahkan direncanakan menjadi zona khusus pejalan kaki, tanpa akses mobil maupun sepeda motor. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman wisata di kawasan Nagoya.
Penataan kawasan Nagoya Heritage juga memberi perhatian besar pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pedagang kaki lima. Alih-alih melakukan penggusuran, BP Batam memilih pendekatan penataan dan perapihan. Kios-kios pedagang akan diperbaiki tampilannya dan dikelola dengan sistem kawasan yang lebih tertata dan profesional, dengan dukungan data dari APKLI.
Untuk menunjang konsep walkable city, berbagai infrastruktur pendukung akan disiapkan, mulai dari kantong parkir hingga perbaikan sistem lalu lintas. Rekayasa ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara mobilitas kendaraan dan kenyamanan pejalan kaki, sehingga kawasan tetap hidup tanpa mengorbankan keselamatan dan keteraturan.
Dari sisi pembiayaan, proyek Nagoya Heritage dirancang menggunakan skema kerja sama antar pemangku kepentingan. BP Batam, Pemerintah Kota Batam, kalangan pengusaha, perbankan, hingga asosiasi akan terlibat dalam konsep gotong royong. Model ini diharapkan menumbuhkan rasa memiliki bersama terhadap kawasan yang sedang dibangun.
Tahap awal pengembangan akan difokuskan pada upaya meramaikan kawasan atau crowd gathering. Momentum perayaan besar seperti Imlek dan Idul Fitri akan dimanfaatkan untuk menghadirkan aktivitas dan keramaian di sepanjang koridor Nagoya Heritage. Setelah kawasan mulai hidup, pembenahan infrastruktur akan dilakukan secara bertahap mengikuti pertumbuhan aktivitas ekonomi dan sosial.
Lebih dari sekadar proyek fisik, Nagoya Heritage membawa gagasan perubahan budaya kota. Walkable city bukan hanya tentang trotoar yang rapi, tetapi tentang cara baru warga dan wisatawan berinteraksi dengan ruang kota. Dapat berjalan kaki, berbelanja, berkuliner, dan menikmati sejarah kawasan dengan lebih manusiawi. Dari Nagoya, Batam mencoba menata ulang wajah kotanya, langkah demi langkah, menuju kota yang lebih ramah bagi semua. (Red)