Harapan Kedaulatan Pangan Indonesia dan Penghargaan Untuk Khofifah Indar Parawansa

Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, kembali mencatatkan namanya dalam catatan...

Harapan Kedaulatan Pangan Indonesia dan Penghargaan Untuk Khofifah Indar Parawansa

Ekonomi
08 Jan 2026
203 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Harapan Kedaulatan Pangan Indonesia dan Penghargaan Untuk Khofifah Indar Parawansa

Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, kembali mencatatkan namanya dalam catatan sejarah pembangunan pertanian nasional. Pada Rabu, 7 Januari 2026, di Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan Nasional yang berlangsung di Halaman Kantor Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Khofifah menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya Swasembada Pangan 2025 dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Penghargaan ini merupakan pengakuan tertinggi atas dedikasi dan kontribusi Khofifah dalam mendukung tercapainya swasembada pangan nasional sepanjang tahun 2025. 

Indikator keberhasilan bukan hanya pada penghargaan semata, melainkan data produksi yang menunjukkan lonjakan yang cukup signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 5 Januari 2026 menunjukkan Provinsi Jawa Timur menjadi produsen padi dan beras tertinggi di Indonesia sepanjang 2025, dengan:

12.694.148 ton Gabah Kering Panen (GKP) atau setara 10.557.883 ton Gabah Kering Giling (GKG), dan 6.096.344 ton produksi beras. Angka ini mengalami kenaikan tajam dibandingkan 2024, di mana produksi GKG 9,27 juta ton dan beras 5,35 juta ton. Kenaikan yang hampir dua digit tersebut tidak hanya menunjukkan produktivitas, tetapi berharap sebagai konsistensi dalam pengelolaan sumber daya pertanian untuk tahun mendatang. 

Keberhasilan Jawa Timur tidak berdiri sendiri. Tapi melampaui capaian provinsi lain seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah, yang masing-masing sebagai pesaing utama dalam produksi padi nasional. Keberhasilan Khofifah menekankan bahwa prestasi ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan di Jatim. Dari petani, gabungan kelompok tani (gapoktan), kepala daerah, hingga Forkopimda dan dukungan Kementerian Pertanian RI. 

Strategi-strategi produksi yang menonjol dilakukan antara lain: mekanisasi pertanian yang lebih luas, penyediaan benih unggul yang adaptif terhadap kondisi lapangan, pengelolaan irigasi efektif, termasuk pompanisasi dan renovasi jaringan air. 

Selain jumlah produksi, perluasan luas panen padi dari 1.616.985 ha (2024) menjadi 1.842.519 ha (2025) sebagai peningkatan hampir 14%. Menunjukkan perluasan basis produksi yang sehat dan berkelanjutan sebagai simbol kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani.

Bagi Khofifah, penghargaan tersebut bukan semata-pengakuan terhadap birokrasi, tetapi cerminan peran para petani sebagai tulang punggung produksi pangan nasional. Capaian ini, menurutnya, tidak sekadar angka statistik, tetapi merupakan simbol kedaulatan bangsa yang harus terus dijaga. 

Khofifah menyerukan agar momentum ini juga diikuti upaya peningkatan kesejahteraan petani, khususnya melalui penguatan ekosistem pertanian dari hulu ke hilir yang inklusif dan adil. 

Presiden Prabowo Subianto memberikan apresiasi tinggi bukan hanya kepada Khofifah, tetapi seluruh kepala daerah yang berkontribusi pada terwujudnya swasembada pangan nasional 2025. Menurut Prabowo, pencapaian ini membuktikan bahwa “Indonesia Bisa” dalam mandiri pangan. 

Data pemerintah lebih luas menunjukkan Indonesia berhasil melampaui kebutuhan domestik, dengan surplus beras lebih dari 3 juta ton pada 2025 dan stok nasional di awal 2026 berada pada level tertinggi dalam sejarah pangan nasional kurun 10 tahun. Pemerintah bahkan berkomitmen untuk memperluas ketahanan pangan ini ke komoditas lain seperti jagung, ubi, dan bawang, serta memperkuat sektor perikanan dan peternakan. 

Prestasi swasembada pangan yang diraih memberi harapan besar bagi rakyat Indonesia. Namun, jalan ke depan bukan tanpa tantangan: keseimbangan produksi, keberlanjutan lingkungan, dan pemerataan kesejahteraan petani adalah isu-isu yang butuh perhatian terus-menerus.

Penghargaan kepada Khofifah tidak hanya menjadi kilatan prestise, tetapi juga panggilan reflektif bagi seluruh bangsa, agar ketahanan pangan bukan hanya capaian periode tertentu, tetapi pondasi kesejahteraan Indonesia di masa depan. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll