Dudung Abdurachman: Desa Hilang dan Terisolasi Pascabencana Sumatera

Rangkaian banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh serta pulau Sumatera sejak akhir November...

Dudung Abdurachman: Desa Hilang dan Terisolasi Pascabencana Sumatera

Ekologi
14 Jan 2026
236 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Dudung Abdurachman: Desa Hilang dan Terisolasi Pascabencana Sumatera

Rangkaian banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh serta pulau Sumatera sejak akhir November 2025 telah menimbulkan dampak yang sangat luas dan mendalam bagi masyarakat, infrastruktur, dan kehidupan sosial-ekonomi di kawasan itu. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan hingga lebih dari seribu korban jiwa, puluhan ribu orang hilang atau mengungsi, serta kerusakan rumah, fasilitas umum, dan jaringan transportasi yang parah di beberapa kabupaten/kota terdampak. 

Dalam kunjungan kerja pada 7–9 Januari 2026, Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional, Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, menggambarkan kondisi pascabencana yang menyayat hati di sejumlah wilayah Aceh. Ia menyebutkan bahwa beberapa desa nyaris “hilang tertimbun” oleh material longsor dan banjir, meninggalkan pemukiman yang sebelumnya hidup dengan tradisi dan sejarah panjang kini nyaris tak terlihat oleh mata. 

Kondisi ini menggarisbawahi betapa masifnya perubahan fisik yang dialami lanskap Aceh. Bukan sekadar kerusakan rumah atau infrastruktur, tetapi juga hilangnya ruang hidup sebuah komunitas secara utuh. Meski bantuan logistik telah mengalir, sejumlah desa masih terisolasi karena putusnya sarana transportasi dan sulitnya jaringan komunikasi. 

Dudung menyampaikan bahwa walaupun pasokan bantuan telah sampai di daerah terdampak, komunikasi tetap menjadi tantangan besar di beberapa titik karena akses yang rusak atau belum pulih. “Saat ini masih ada desa-desa yang terisolir walaupun bantuan sudah sampai. Namun sarana komunikasi sulit. Bahkan ada beberapa daerah yang terendam hingga ketinggian 4 meter atau lebih, dan banyak desa yang tertutup hilang,” ujarnya.

Data BNPB dan gubernur setempat menunjukkan kerusakan infrastruktur yang meluas: rumah rusak ringan hingga berat mencapai puluhan ribu unit, lebih dari seribu fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan jembatan juga rusak atau terputus. Dalam skala yang lebih luas, puluhan ruas jalan nasional dan provinsi belum sepenuhnya tersambung kembali, meskipun upaya normalisasi terus dikebut. 

Bantuan dan Koordinasi Nasional

Sebagai bagian dari respons pemerintah pusat, Penasihat Presiden Dudung menyerahkan bantuan Starlink untuk pemulihan komunikasi darurat, serta power supply simbolis untuk menunjang operasional di daerah terdampak. Selain itu, bantuan logistik berupa sembako dan perlengkapan sekolah telah mulai didistribusikan secara bertahap, dengan simbolisasi penyerahan oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadhullah. 

Pemerintah pusat telah mengalokasikan Rp 1 triliun per kabupaten/kota terdampak, dengan total indikatif awal mencapai sekitar Rp 33 triliun untuk keseluruhan Aceh. Anggaran yang dapat berubah mengikuti dinamika kebutuhan di lapangan. Fadhullah berharap dana ini dapat segera dicairkan dan dimanfaatkan secara efektif, karena keterlambatan rehabilitasi justru berpotensi memperburuk kerusakan fisik dan sosial. 

Selain bantuan logistik, berbagai kementerian dan lembaga nasional telah menyiapkan strategi pemulihan terkoordinasi: mulai dari perbaikan jalan, restorasi sungai dan tanggul oleh Kementerian PUPR, hingga operasi search and rescue dan dapur umum darurat untuk wilayah yang masih terisolasi. 

Belajar dari Bencana: Antisipasi dan Ketahanan Komunitas

Bencana ini bukan hanya tragedi fisik, tetapi juga ujian bagi mekanisme ketahanan sosial dan strategi upaya mitigasi bencana jangka panjang. Curah hujan ekstrem yang sangat tinggi yang dipicu oleh fenomena siklon tropis dan kondisi hidrometeorologi, menunjukkan bahwa ancaman bencana serupa dapat kembali terjadi jika struktur lingkungan dan sistem mitigasi tidak diperkuat. 

Lebih jauh, hilangnya desa dan rusaknya jaringan sosial-ekonomi di Aceh mengingatkan kita bahwa mitigasi bencana bukan sekadar penanganan pascaremediasi, tetapi juga upaya terencana memperkokoh komunitas dan infrastruktur sebelum bencana terjadi. Melalui perencanaan ruang yang adaptif, perbaikan drainase dan sungai, serta kesiapsiagaan komunitas berbasis risiko. Pemulihan fisik pascagempa dan banjir perlu diimbangi oleh rekonstruksi psikososial dan ekonomi, agar komunitas yang terdampak tidak sekadar kembali hidup, tetapi membangun kembali harapan yang lebih kuat dan tangguh.

Di Aceh yang kini berjuang pulih, bencana bukan titik akhir sebuah cerita, tetapi awal dari babak baru tentang keberlanjutan, solidaritas, dan ketangguhan. Ketika desa-desa bangkit dari lumpur dan air, kisah ketahanan komunitas akan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh negeri. Solidaritas nasional dan pemikiran jangka panjang yang berpijak pada data serta kearifan lokal akan menentukan bagaimana Aceh tidak hanya pulih, tetapi bertumbuh lebih kuat dari sebelumnya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll