Dua Hari Dua Gempa di Sukabumi, Peringatan Sunyi dari Sesar Cimandiri

Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 4,1 mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada...

Dua Hari Dua Gempa di Sukabumi, Peringatan Sunyi dari Sesar Cimandiri

Ekologi
16 Mar 2026
263 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Dua Hari Dua Gempa di Sukabumi, Peringatan Sunyi dari Sesar Cimandiri

Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 4,1 mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu dini hari, 15 Maret 2026 pukul 00.36 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di darat sekitar delapan kilometer tenggara Kota Sukabumi dengan kedalaman lima kilometer. Getaran dirasakan hingga sejumlah wilayah seperti Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat, bahkan Bogor. Di Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, satu rumah warga dilaporkan rusak, sementara pemiliknya bersama tiga anggota keluarga terpaksa mengungsi sementara demi keamanan.

Menurut Sekretaris BPBD Cianjur, Asep Sudrajat, kerusakan terjadi pada bagian dinding rumah yang retak dan terkelupas cukup lebar. Petugas bersama relawan masih melakukan pendataan dan penyisiran di sejumlah wilayah perbatasan Cianjur–Sukabumi yang merasakan getaran gempa dua kali pada dini hari itu. “Kami berharap tidak ada lagi bencana. Namun warga diminta tetap siaga dan tidak panik ketika terjadi gempa, segera mencari tempat aman untuk berlindung,” kata Asep.

BMKG menjelaskan gempa tersebut tergolong gempa tektonik dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif di daratan. Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Tangerang, Hartanto, menyebut sumber gempa berasal dari pergerakan patahan aktif. “Gempa bumi yang terjadi akibat aktivitas sesar aktif,” ujarnya dalam keterangan tertulis setelah kejadian.

Sementara itu, Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menduga sumber gempa berasal dari salah satu segmen Sesar Cimandiri, khususnya di wilayah Nyalindung–Cibeber. Jalur sesar ini memang dikenal sebagai salah satu patahan aktif di Jawa Barat yang membentang dari Teluk Pelabuhan Ratu hingga Padalarang.

Secara ilmiah, gempa dangkal seperti ini sering terasa lebih kuat di permukaan meskipun magnitudonya relatif kecil. Hal itu terjadi karena energi gempa dilepaskan dekat dengan permukaan tanah. BMKG mencatat fenomena serupa pernah terjadi di wilayah Sukabumi dan Bogor, di mana gempa dangkal dengan magnitudo sekitar 4 juga memicu kerusakan ringan pada sejumlah rumah warga. 

BMKG mencatat intensitas gempa terkuat mencapai skala IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di wilayah Nyalindung. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan sebagian orang di luar rumah. Benda-benda ringan dapat bergoyang, jendela dan pintu berderik, bahkan gerabah bisa pecah.

Di sejumlah wilayah seperti Sukabumi, Kabandungan, Tugubandung, hingga Cipeuteuy, guncangan tercatat pada intensitas III–IV MMI. Sementara di daerah yang lebih jauh seperti Pelabuhan Ratu, Cimahi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dan Bogor, getaran hanya dirasakan ringan pada skala II MMI.

Selain kerusakan rumah di Cianjur, laporan dari media sosial juga menunjukkan adanya kerusakan pada rumah kontrakan di Kampung Cileunyi, Kabupaten Bandung, yang menyebabkan satu orang mengalami luka.

Gempa yang terjadi pada 15 Maret ini datang hanya dua hari setelah gempa lain mengguncang wilayah Jawa Barat bagian selatan. Pada Jumat dini hari, 13 Maret 2026, gempa tektonik Magnitudo 5,3 terjadi di laut sekitar 121 kilometer tenggara Kabupaten Sukabumi dengan kedalaman 53 kilometer.

BMKG menjelaskan gempa tersebut berasal dari aktivitas subduksi, yakni penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Mekanisme ini berbeda dengan gempa 15 Maret yang berasal dari sesar darat. Meski keduanya tidak berkaitan langsung, rangkaian kejadian ini kembali menegaskan bahwa Jawa Barat berada di kawasan tektonik aktif. Selain zona subduksi di Samudera Hindia, wilayah ini juga dilintasi berbagai patahan darat seperti Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, hingga Sesar Baribis.

Para ahli menilai kerusakan akibat gempa kecil tidak semata disebabkan oleh kekuatan gempanya, tetapi oleh kondisi bangunan yang belum memenuhi standar tahan gempa. Banyak rumah warga di daerah rawan gempa dibangun tanpa struktur penguat yang memadai.

BMKG dalam sejumlah kajiannya menegaskan bahwa korban gempa sering kali bukan disebabkan oleh getaran itu sendiri, melainkan oleh bangunan yang roboh menimpa penghuninya. Karena itu, pembangunan rumah tahan gempa menjadi salah satu strategi mitigasi paling penting di wilayah rawan gempa.

Sejumlah pemerhati kebencanaan menilai penerapan standar bangunan tahan gempa masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Faktor ekonomi, keterbatasan pengawasan, hingga kurangnya pengetahuan teknis masyarakat membuat banyak rumah dibangun secara sederhana tanpa perhitungan struktur yang memadai.

Di tengah kejadian gempa, pemerintah dan para ahli terus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. BMKG menegaskan bahwa hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan dan di mana gempa akan terjadi. Karena itu, informasi resmi hanya dapat diperoleh melalui lembaga resmi seperti BMKG.

Gempa Magnitudo 4,1 mungkin terlihat kecil dalam angka. Namun bagi keluarga yang rumahnya retak dan harus mengungsi pada dini hari, angka itu memiliki makna yang jauh lebih besar. Setiap getaran, sekecil apa pun, sebenarnya adalah pengingat sunyi dari bumi yang bergerak. Ia mengingatkan bahwa hidup di wilayah cincin api berarti berdamai dengan kemungkinan bencana, dan karena itu, kesiapsiagaan bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan.

Di negeri yang berdiri di atas puluhan patahan aktif seperti Indonesia, mungkin yang paling berbahaya bukanlah gempa yang datang tiba-tiba. Yang lebih berbahaya adalah ketika manusia lupa bahwa gempa selalu mungkin terjadi, dan terbangunnya kesadaran saat membangun kehidupan jika tanpa kesiapan menghadapi hari-hari ketika tanah yang dipijak ini kembali bergetar. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll