Lensa Jurnalis dan Jeritan Alam dalam Pesta Media 2026

Apa yang terjadi ketika krisis lingkungan yang kian nyata dipertemukan dengan kerja jurnalistik...

Lensa Jurnalis dan Jeritan Alam dalam Pesta Media 2026

Ekologi
12 Apr 2026
205 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Lensa Jurnalis dan Jeritan Alam dalam Pesta Media 2026

Apa yang terjadi ketika krisis lingkungan yang kian nyata dipertemukan dengan kerja jurnalistik visual? Di kompleks Taman Ismail Marzuki, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menggelar Pesta Media 2026 yang menghadirkan pameran foto bertajuk “Menyiarkan Krisis: Siapa Boleh Cerita?” pada 11-12 April 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini melibatkan jurnalis, pegiat komunitas, dan publik umum, dengan tujuan mengangkat realitas kerusakan lingkungan yang kerap terpinggirkan dari arus utama pemberitaan.

Pameran tersebut menjadi salah satu titik paling menyedot perhatian. Sebanyak 27 karya dari 19 pewarta foto dipajang di Teater Wahyu Sihombing, menyuguhkan potret nyata kerusakan hutan, pencemaran laut, hingga dampak ekologis yang berujung pada bencana. Foto-foto itu tidak sekadar menawarkan estetika visual, melainkan menghadirkan kesaksian tentang alam yang perlahan kehilangan daya dukungnya.

Kurator pameran, Gunawan Wicaksono, menegaskan bahwa karya-karya tersebut bukan sekadar objek apresiasi seni. “Foto-foto ini adalah saksi bisu dari paru-paru hutan yang sesak dan laut yang muntah karena racun. Mereka hadir untuk menelanjangi mereka yang pura-pura tuli atas kerusakan lingkungan,” ujarnya.

Ia memandang fotografi sebagai medium perlawanan, alat untuk mengungkap fakta ketika kata-kata sering dibatasi atau diabaikan. Dalam gambar menjadi bahasa yang sulit disangkal, sekaligus pengingat bahwa krisis lingkungan bukan sekadar isu, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung.

Namun, pameran ini juga membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang siapa yang berhak bercerita tentang krisis. Apakah narasi lingkungan selama ini cukup memberi ruang bagi masyarakat terdampak, atau justru masih didominasi oleh perspektif luar? Sejumlah aktivis lingkungan yang hadir dalam diskusi publik di acara tersebut menilai bahwa dokumentasi visual seperti ini penting untuk memperkuat kesadaran publik. 

Mengacu pada berbagai laporan lembaga seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), laju deforestasi dan pencemaran di Indonesia masih menjadi persoalan serius, terutama di wilayah dengan tekanan industri ekstraktif yang tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, konflik lahan, degradasi pesisir, dan polusi laut terus meningkat, memperlihatkan bahwa krisis ini bersifat sistemik.

Beberapa akademisi komunikasi lingkungan menilai bahwa eksposur visual semata tidak cukup untuk mendorong perubahan kebijakan. Seorang peneliti media lingkungan dalam sesi diskusi menyatakan, “Visual yang kuat memang menggugah, tetapi tanpa tindak lanjut kebijakan dan tekanan publik yang konsisten, ia berisiko menjadi konsumsi sesaat.. mengharukan, tapi tidak mengubah keadaan.”

Pandangan ini menyoroti dilema klasik dalam jurnalisme lingkungan antara membangun kesadaran dan mendorong aksi nyata. Foto memang dapat mengguncang emosi, tetapi perubahan membutuhkan lebih dari sekadar empati. Karena menuntut keberanian politik dan konsistensi advokasi.

Pesta Media 2026 sendiri tidak berhenti pada pameran. Berbagai lokakarya dan talkshow turut digelar, membahas peran media dalam mengawal isu publik, termasuk lingkungan hidup. Forum-forum ini menjadi ruang refleksi bersama, bagaimana jurnalisme bisa tetap relevan di tengah derasnya arus informasi dan kepentingan.

Pameran ini seperti cermin yang memantulkan wajah kita sendiri dalam krisis yang kita saksikan. Foto-foto itu tidak hanya berbicara tentang hutan yang hilang atau laut yang tercemar, tetapi juga tentang pilihan-pilihan manusia yang membentuk masa depan bumi. Di antara sorot lampu galeri dan langkah kaki pengunjung, terselip pertanyaan apakah kita hanya sebatas melihat, atau mulai mendengar dan bertindak?

Barangkali, seperti yang diisyaratkan oleh pameran ini, krisis lingkungan bukan sekadar cerita yang perlu disiarkan, melainkan kenyataan yang menunggu untuk diakui dengan penuh sadar, sebelum semuanya benar-benar terlambat untuk bersama melakukan perubahan. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll