Di tengah penurunan penjualan smartphone di China sebesar 4 persen pada Januari-Februari 2026, dua produsen besar, Huawei dan vivo justru bersiap meluncurkan perangkat flagship terbaru mereka pada Maret 2026. Huawei dijadwalkan merilis Enjoy 90 Pro Max pada 23 Maret, sementara vivo akan memperkenalkan X300 Ultra pada 30 Maret. Langkah ini menunjukkan bagaimana produsen mencoba melawan perlambatan pasar dengan inovasi agresif, terutama pada sektor baterai dan kamera.
Di tengah pasar yang mulai kehilangan momentum, Huawei memilih bertaruh pada daya tahan sebagai nilai jual utama. Perangkat terbarunya, Enjoy 90 Pro Max, dikabarkan akan dibekali baterai berkapasitas 8.500 mAh, angka yang jauh di atas rata-rata industri saat ini. Jika benar, ini akan menjadi salah satu ponsel dengan kapasitas baterai terbesar yang pernah dipasangkan dengan chipset seri Kirin 8 series chipset.
Tak hanya itu, ponsel ini juga disebut mengusung layar OLED LTPS QHD+ berukuran 6,84 inci, RAM 8 GB, serta pilihan penyimpanan hingga 512 GB. Kombinasi ini menempatkan Enjoy 90 Pro Max bukan sekadar perangkat kelas menengah, tetapi juga sebagai simbol strategi Huawei untuk kembali menguatkan posisi di pasar domestik yang semakin kompetitif.
Sementara itu, vivo mengambil pendekatan berbeda. Lewat X300 Ultra, perusahaan ini fokus pada peningkatan kemampuan kamera dan video. Perangkat ini dilaporkan membawa lensa teleconverter serta baterai 6.600 mAh, lebih besar dibandingkan pendahulunya. Tak hanya itu, vivo juga mengandalkan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5, ditambah chip internal VS1 dan V3+ untuk pemrosesan gambar dan video.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari media teknologi, seorang analis industri menyebut, “vivo kini tidak hanya bersaing di fotografi, tetapi mencoba menguasai narasi sebagai perangkat video terbaik di kelasnya.” Pernyataan ini menegaskan pergeseran strategi dari sekadar spesifikasi menuju pengalaman kreatif pengguna. Meski peluncuran dua perangkat ini terjadi di tengah kondisi pasar yang tidak sepenuhnya bersahabat.
Data dari Counterpoint Research menunjukkan bahwa penjualan smartphone di China turun 4 persen pada dua bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi meskipun ada berbagai promosi selama libur Tahun Baru Imlek. Salah satu penyebab utama adalah kenaikan harga komponen, terutama RAM. Sejumlah produsen, termasuk vivo dan OPPO, telah mengakui bahwa lonjakan biaya produksi akan berdampak pada harga jual perangkat. Seorang perwakilan industri bahkan menyatakan, “Kenaikan harga komponen membuat produsen tidak punya banyak ruang selain menyesuaikan harga akhir ke konsumen.”
Namun tidak semua pemain mengalami tekanan yang sama. Apple justru mencatatkan pertumbuhan penjualan signifikan di China selama periode yang sama, didorong oleh tingginya permintaan terhadap iPhone 17. Seorang analis pasar mengatakan, “Segmen premium tetap menunjukkan ketahanan, terutama untuk brand dengan loyalitas tinggi seperti Apple.”
Kondisi ini juga memunculkan kritik. Beberapa pengamat menilai bahwa strategi menghadirkan fitur ekstrem seperti baterai sangat besar atau kamera berteknologi tinggi tidak selalu menjawab kebutuhan mayoritas pengguna. “Inovasi yang terlalu spesifik bisa jadi hanya menarik segmen niche, bukan solusi untuk memperluas pasar,” ujar seorang pengamat teknologi.
Peluncuran Huawei dan vivo ini tampak seperti pertaruhan ganda antara mendorong inovasi dan menghadapi realitas daya beli yang melemah. Pasar tidak lagi hanya menilai seberapa canggih sebuah perangkat, tetapi juga seberapa relevan ia dalam kehidupan sehari-hari pengguna. Pada dinamika ini memperlihatkan satu hal bahwa industri teknologi tidak pernah benar-benar berhenti bergerak, bahkan ketika pasar melambat.
Di tengah angka penjualan yang menurun, perusahaan justru dipaksa untuk lebih kreatif, lebih berani, dan mungkin perlu lebih dalam memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia dari sebuah teknologi. (Red)