Pamit Bekerja ke Malaysia, Susi Sinaga Justru Meninggal di Kamboja

Seorang perempuan muda asal Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Riau, Susi Yanti br. Sinaga...

Pamit Bekerja ke Malaysia, Susi Sinaga Justru Meninggal di Kamboja

Ekonomi
09 Mar 2026
408 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Pamit Bekerja ke Malaysia, Susi Sinaga Justru Meninggal di Kamboja

Seorang perempuan muda asal Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Riau, Susi Yanti br. Sinaga (22), meninggal dunia pada Minggu (8/3/2026) di sebuah rumah sakit di Phnom Penh, Kamboja. Susi sebelumnya berpamitan kepada keluarganya untuk bekerja di Malaysia pada Desember 2025. 

Namun beberapa bulan kemudian, keluarga justru mendapat kabar bahwa ia dirawat dalam kondisi kritis di Kamboja setelah diduga menjadi korban penipuan tawaran kerja ke luar negeri. Pemerintah daerah, kepolisian, serta Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) kemudian turun tangan untuk menelusuri kasus tersebut dan membantu proses pemulangan jenazahnya. 

Bagi keluarga di kampung halaman, keputusan Susi untuk merantau adalah bagian dari upaya memperbaiki nasib. Pada Desember 2025, ia berangkat dari Pekanbaru menuju Malaysia bersama seorang pria bernama Bram Silitonga, yang dikenalnya melalui pertemanan pribadi.

Ayahnya, J. Sinaga, mengaku sempat berpesan agar putrinya segera memberi kabar setelah tiba di negeri tujuan.

“Saya bilang sama anak, kalau sudah sampai di Malaysia telepon ya,” ujar J. Sinaga kepada wartawan. Tak lama setelah keberangkatan itu, Susi memang sempat menghubungi keluarganya dan mengatakan bahwa ia telah tiba di Malaysia. Ia bahkan sempat menunjukkan uang pecahan dolar sebagai tanda bahwa dirinya sudah menerima gaji dari pekerjaan barunya. Namun, ia tidak pernah menjelaskan secara rinci pekerjaan maupun lokasi tempat tinggalnya. 

Beberapa minggu kemudian komunikasi dengan keluarga mulai tidak lancar. Situasi semakin membingungkan ketika Bram Silitonga memberi kabar bahwa Susi sakit dan membutuhkan biaya pengobatan.

Dalam kondisi panik, keluarga berusaha membantu sebisanya. Mereka mengirimkan uang secara bertahap hingga total sekitar Rp90 juta untuk biaya pengobatan. “Pertama kami kirim Rp40 juta, lalu diminta lagi sampai total sekitar Rp90 juta,” kata J. Sinaga. 

Namun kejanggalan baru muncul ketika Bram menyebut bahwa Susi ternyata tidak dirawat di Malaysia, melainkan di sebuah rumah sakit di Kamboja. Informasi ini membuat keluarga terkejut, karena sejak awal mereka hanya mengetahui bahwa Susi berangkat untuk bekerja di Malaysia.

Belakangan diketahui bahwa Susi kemungkinan dibawa ke Kamboja dan bekerja di sektor industri daring yang diduga terkait praktik penipuan digital atau scammer. Modus seperti ini memang belakangan marak di kawasan Asia Tenggara, di mana pekerja direkrut dengan janji pekerjaan bergaji tinggi namun akhirnya dipaksa bekerja di jaringan penipuan online. 

Kepala BP3MI Riau, Fanny Wahyu Kurniawan, mengatakan pihaknya segera berkoordinasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia di Kamboja untuk memastikan kondisi korban. “Kami terus berkoordinasi dengan KBRI Phnom Penh untuk memastikan kondisi saudari Susi Yanti,” kata Fanny. 

Susi diketahui sempat dirawat secara intensif di Rumah Sakit Khmer Soviet Friendship di Phnom Penh sebelum akhirnya meninggal dunia akibat kondisi kesehatan yang memburuk. 

Kasus ini juga mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Bupati Siak Afni Zulkifli mengaku langsung melaporkan persoalan tersebut kepada Kapolda Riau agar segera ditindaklanjuti. “Kami mendapat laporan dari warga dan langsung berkoordinasi dengan Polda Riau agar kasus ini ditangani,” kata Afni. 

Kepolisian Daerah Riau juga menyatakan telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja untuk memantau kondisi korban serta membantu proses penanganannya. 

Namun upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan nyawa Susi. Pada 8 Maret 2026, kabar duka akhirnya tiba. Susi dinyatakan meninggal dunia saat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. 

Kisah Susi Sinaga menyisakan pertanyaan besar tentang maraknya tawaran kerja ilegal ke luar negeri yang menjerat banyak anak muda Indonesia. Tawaran pekerjaan dengan gaji tinggi seringkali datang melalui media sosial atau jaringan pertemanan, namun tidak melalui jalur resmi pekerja migran.

BP3MI sendiri mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur janji kerja di luar negeri tanpa prosedur resmi, karena risiko penipuan, eksploitasi, bahkan perdagangan orang sangat besar. 

Di balik statistik pekerja migran dan berita kriminal lintas negara, kisah seperti ini sesungguhnya adalah tragedi kemanusiaan. Seorang anak muda berangkat dengan mimpi sederhana guna membantu keluarga dan memperbaiki hidup. Namun perjalanan itu justru berakhir di ruang ICU rumah sakit di negeri yang bahkan tidak pernah ia ceritakan kepada orang tuanya.

Tragedi Susi Sinaga menjadi pengingat pahit bahwa di era globalisasi, mimpi merantau bisa berubah menjadi jebakan jika tidak diiringi informasi, perlindungan, dan kehati-hatian. Bagi banyak keluarga di desa-desa Indonesia, harapan untuk mengubah nasib seringkali berhadapan dengan realitas keras perdagangan manusia yang masih terus mencari korban baru. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll