Minyak Naik Tajam, Stok BBM Indonesia Diklaim Aman hingga 20 Hari

Pemerintah memastikan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih mencukupi hingga sekitar 20...

Minyak Naik Tajam, Stok BBM Indonesia Diklaim Aman hingga 20 Hari

Ekonomi
03 Mar 2026
299 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Minyak Naik Tajam, Stok BBM Indonesia Diklaim Aman hingga 20 Hari

Pemerintah memastikan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih mencukupi hingga sekitar 20 hari ke depan meski konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat memicu penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur vital distribusi minyak dunia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan kondisi pasokan dalam negeri masih terkendali, namun pemerintah bersiap melakukan mitigasi atas potensi gangguan impor menjelang Ramadan dan Lebaran.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil Lahadalia usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026). “Masih cukup (untuk) 20 hari,” ujar Bahlil. Ia menambahkan, hingga saat ini subsidi energi belum terdampak langsung. “Sampai hari ini enggak ada masalah, tapi harga dunia pasti akan terkoreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah,” katanya.

Ketegangan geopolitik memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Data dari Trading Economics menunjukkan harga Brent melonjak hingga 12 persen pada perdagangan Senin pagi, menyentuh kisaran US$78,2 per barel dari posisi penutupan sebelumnya US$72,8 per barel. Sementara minyak mentah jenis WTI naik ke sekitar US$71,9 per barel dari US$67,2 per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah otoritas Iran, termasuk Islamic Revolutionary Guard Corps, mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur sempit yang setiap harinya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global. Gangguan di titik ini kerap menjadi indikator awal gejolak energi dunia.

Konflik sendiri memuncak sejak Sabtu (28/2/2026) ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran. Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengumumkan bahwa serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Iran membalas dengan gelombang rudal dan drone ke Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan. Hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi. Dalam laporan media Inggris, Trump bahkan menyebut konflik berpotensi berlangsung hingga empat pekan.

Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita luar negeri. Sekitar 30–40 persen kebutuhan BBM nasional masih dipenuhi melalui impor minyak mentah dan produk jadi, sebagian di antaranya melalui jalur distribusi Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz berisiko memperpanjang waktu pengiriman dan menaikkan biaya logistik.

Bahlil menegaskan pemerintah akan mengantisipasi dampak tersebut. “Bagaimana pun kita masih melakukan impor sebelum Lebaran,” ujarnya. Ia menyebut akan segera menggelar rapat bersama Dewan Energi Nasional untuk membahas skenario mitigasi, termasuk diversifikasi pasokan dan optimalisasi stok cadangan.

Sejumlah analis energi menilai klaim stok 20 hari relatif aman untuk jangka pendek, namun rentan bila konflik berkepanjangan. Direktur Eksekutif sebuah lembaga kajian energi nasional, misalnya, menilai, “Stok 20 hari itu standar operasional, tapi kalau gangguan distribusi global berlangsung lebih dari sebulan, tekanan terhadap APBN dan harga domestik akan sulit dihindari.”

Pandangan berbeda datang dari pelaku industri migas yang lebih optimistis. Seorang pejabat di perusahaan distribusi energi menyatakan, “Pemerintah biasanya sudah memiliki kontrak pasokan alternatif. Selain itu, tidak semua impor Indonesia melewati Selat Hormuz.”

Kenaikan harga minyak mentah berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026. Jika harga minyak bertahan di atas asumsi dasar pemerintah, ruang fiskal bisa tertekan. Ekonom energi dari sebuah universitas negeri di Jakarta mengingatkan, “Setiap kenaikan US$1 per barel bisa berdampak signifikan pada belanja subsidi. Pemerintah harus berhitung cermat agar stabilitas fiskal tetap terjaga.”

Namun pemerintah sejauh ini menyatakan belum ada perubahan kebijakan subsidi. Langkah penyesuaian baru akan dipertimbangkan setelah hasil kajian komprehensif selesai.

Sejarah menunjukkan bahwa gejolak di Timur Tengah kerap menjadi pengingat rapuhnya ketahanan energi negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia. Ketergantungan pada impor membuat stabilitas domestik ikut terombang-ambing oleh konflik ribuan kilometer jauhnya.

Momentum ini bisa menjadi evaluasi percepatan hilirisasi, peningkatan lifting minyak dalam negeri, serta transisi energi menuju sumber terbarukan bukan lagi sekadar agenda jangka panjang, melainkan kebutuhan strategis. 

Diversifikasi sumber pasokan dan penguatan cadangan strategis nasional menjadi keniscayaan. Konflik mungkin terjadi jauh dari Jakarta, tetapi dampaknya bisa terasa di SPBU terdekat. Dalam situasi seperti ini, ketahanan energi bukan hanya soal angka stok 20 hari, melainkan tentang seberapa siap sebuah bangsa menghadapi ketidakpastian dunia yang terus berubah. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll