PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. kembali membuka program mudik gratis Lebaran 2026 dengan moda transportasi bus berkapasitas 50 kursi per unit. Pendaftaran dibuka mulai Selasa, 3 Maret 2026 pukul 10.00 WIB melalui aplikasi Livin’ by Mandiri, dengan keberangkatan dijadwalkan pada 18 Maret 2026 dari Jakarta menuju sejumlah kota di Pulau Jawa dan Sumatera. Program ini diperuntukkan khusus bagi nasabah Bank Mandiri dan akan ditutup sewaktu-waktu jika kuota telah terpenuhi.
Program mudik gratis ini menjadi bagian dari agenda rutin BUMN dalam mendukung kelancaran arus mudik nasional. Setiap tahunnya, arus mudik Lebaran menjadi fenomena sosial terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan pada musim mudik sebelumnya, jumlah pergerakan masyarakat saat Lebaran mencapai lebih dari 190 juta orang secara nasional, dengan mayoritas menggunakan transportasi darat.
Dalam keterangan resmi di situs perusahaan, manajemen Bank Mandiri menyebut program ini sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap masyarakat. “Moda transportasi yang digunakan adalah bus berkapasitas 50 kursi per bus,” demikian pernyataan yang dikutip dari laman resmi perseroan.
Rute dan skema perjalanan, untuk wilayah Pulau Jawa, tersedia rute Jakarta–Yogyakarta melalui beberapa jalur, termasuk Tol Trans Jawa dan jalur Pantura, Jakarta–Solo, Jakarta–Surabaya, serta Jakarta–Cilacap melalui jalur selatan. Sementara untuk Sumatera, tersedia rute Jakarta–Bukittinggi melalui Tol Trans Sumatera, melewati Merak, Bakauheni, Bandar Lampung, Palembang, Jambi, hingga Padang.
Keberangkatan akan diinformasikan melalui nomor WhatsApp yang didaftarkan peserta. Setiap pendaftar dapat mendaftarkan maksimal empat orang dalam satu akun aplikasi. Syarat dan mekanisme pendaftaran, calon peserta wajib memiliki rekening Bank Mandiri dan melakukan pendaftaran melalui aplikasi Livin’ by Mandiri dengan memilih fitur Sukha dan banner “Mudik Bebas Biaya”. Peserta harus mengisi data diri lengkap, termasuk alamat email untuk pengiriman tiket elektronik.
Skema digital ini dinilai memudahkan sekaligus membatasi akses hanya bagi nasabah aktif. Di sinilah muncul perdebatan antara program ini murni pelayanan sosial, atau bagian dari strategi memperkuat loyalitas nasabah. Pengamat ekonomi transportasi dari Universitas Indonesia, Bambang Setiadi, menilai program mudik gratis BUMN memiliki dampak sosial signifikan. “Setiap pengurangan kendaraan pribadi di jalan raya berpotensi menekan angka kecelakaan dan kemacetan. Jika dikelola dengan baik, ini sangat membantu,” ujarnya.
Namun di sisi lain, analis perbankan dari Center for Banking Studies, Rina Mahendra, melihat dimensi pemasaran yang tak bisa diabaikan. “Pembatasan peserta hanya untuk nasabah menunjukkan bahwa program ini sekaligus instrumen engagement digital. Livin’ by Mandiri mendapatkan traffic, dan nasabah terdorong tetap aktif,” katanya.
Kritik juga datang dari sebagian masyarakat yang menilai program serupa seharusnya lebih inklusif. “Mudik itu kebutuhan publik, bukan hanya nasabah bank tertentu,” kata Andi Prasetyo, warga Jakarta Timur yang berharap kuota dibuka lebih luas.
Mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung, melainkan ritual sosial yang mengikat identitas keluarga dan kampung halaman. Di tengah kenaikan harga tiket transportasi menjelang Lebaran, program mudik gratis menjadi alternatif yang dinantikan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah BUMN dan perusahaan swasta memang rutin menggelar program serupa. Pemerintah pun mendorong sinergi ini sebagai bagian dari pengendalian arus kendaraan pribadi demi keselamatan dan kelancaran lalu lintas.
Mudik gratis diharapkan dapat menyentuh dimensi yang lebih dalam tentang bagaimana korporasi memaknai tanggung jawab sosialnya. Di satu sisi, program ini membantu ribuan orang pulang tanpa beban biaya. Di sisi lain, ia tak lepas dari kalkulasi bisnis dan strategi digitalisasi. Barangkali, di tengah riuhnya perdebatan, yang terpenting adalah memastikan manfaatnya benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. Sebab mudik selalu tentang pulang, dan pulang seharusnya tak menjadi kemewahan.
Mudik gratis jika dikelola secara transparan dan inklusif, program seperti ini bisa menjadi jembatan antara kepentingan bisnis dan nilai kemanusiaan. Namun jika hanya menjadi alat promosi musiman, ia akan cepat dilupakan setelah Lebaran usai. Dan di antara deru mesin bus dan padatnya jalan tol, tetap ada harapan sederhana agar perjalanan pulang tahun ini tidak hanya gratis, tetapi juga bermakna. (Red)