Semua Orang Menjual, Sedikit Orang Membeli, Potret Getir Ekonomi Bertahan Hidup

Seperti biasa menjelang waktu berbuka puasa, suasana di sudut-sudut kota tampak riuh dengan nuansa...

Semua Orang Menjual, Sedikit Orang Membeli, Potret Getir Ekonomi Bertahan Hidup

Ekonomi
27 Feb 2026
264 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Semua Orang Menjual, Sedikit Orang Membeli, Potret Getir Ekonomi Bertahan Hidup

Seperti biasa menjelang waktu berbuka puasa, suasana di sudut-sudut kota tampak riuh dengan nuansa kegembiraan. Di sepanjang trotoar dan bahu jalan, deretan lapak jajanan takjil mengular panjang bak barisan semut yang tak putus. Pemandangannya begitu menggoda mulai dari gorengan kuning keemasan, butiran cilok yang mengepul hangat, manisnya kolak bersantan, hingga segarnya es buah berwarna-warni, atau ayam goreng dan nasi kotak tersusun rapi sudah siap berpindah tangan dengan pertukaran barang dan uang.

Namun tahun ini ada yang terasa berbeda di balik keriuhan tersebut. Suasananya memang tampak padat dan menyesaki ruang publik. Tapi itu bukan lagi antrean konsumen, melainkan melimpahnya para penjual. Pembeli tak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya. Fenomena ini bukan sekadar suasana musiman atau pergeseran tren kuliner, tapi sebuah anomali yang bisa dibaca sebagai gejala keadaan ekonomi negara yang sedang tidak baik-baik saja.

Realitas di lapangan ini sejalan dengan data makro. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, proporsi pekerja sektor informal di Indonesia konsisten berada di kisaran 55–60 persen dari total angkatan kerja. Hingga tahun 2024, sektor ini masih mendominasi struktur ketenagakerjaan nasional, menjadi tumpuan bagi jutaan kepala keluarga.

Dalam teori ekonomi tenaga kerja, kondisi ini sering disebut sebagai distress-driven employment. Seseorang masuk ke sektor informal bukan karena mereka melihat peluang emas untuk ekspansi usaha atau memiliki jiwa kewirausahaan yang meluap-luap, melainkan karena terdesak kebutuhan hidup yang tak bisa ditunda. Sektor informal menjadi "pelarian" terakhir ketika pintu-pintu kantor dan pabrik tertutup rapat.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa lonjakan pekerja informal mencerminkan lemahnya daya serap sektor formal. “Sektor informal menjadi katup pengaman ketika industri tidak mampu menciptakan lapangan kerja yang cukup,” ujarnya. Sayangnya, katup pengaman ini kini mulai kelebihan beban.

Data BPS juga mencatat perlambatan penyerapan tenaga kerja di sejumlah sektor padat karya, termasuk manufaktur tekstil dan alas kaki yang terus digempur gelombang efisiensi. Pascapandemi, pembatasan rekrutmen dan digitalisasi semakin mempersempit celah peluang kerja formal. Mencari pekerjaan tetap sulit didapat, sementara dapur rumah harus tetap mengepul, maka berdagang makanan di pinggir jalan menjadi pilihan paling cepat, murah, dan realistis untuk bertahan. Masalah besar muncul ketika pilihan untuk “bertahan” itu dilakukan oleh terlalu banyak orang dalam waktu yang bersamaan di ruang yang terbatas.

Secara historis, konsumsi rumah tangga adalah jantung utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, menyumbang lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ramadan biasanya menjadi momentum emas di mana konsumsi melonjak dan uang berputar lebih cepat. Namun, tahun ini, indikator ekonomi menunjukkan tekanan yang nyata di tingkat akar rumput.

Beberapa poin krusial yang patut dicermati adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam beberapa kuartal terakhir cenderung moderat dan belum menunjukkan akselerasi yang kuat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia memberikan gambaran pergerakan fluktuatif, artinya mencerminkan keraguan masyarakat dalam membelanjakan uangnya. Di sisi fiskal, realisasi APBN awal tahun bahkan sempat menunjukkan defisit, yang mencerminkan tekanan berat pada belanja negara dan penerimaan pajak.

Pasar modal pun tak luput dari kegelisahan. Bursa Efek Indonesia mencatat volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipengaruhi oleh sentimen global dan ketidakpastian domestik. Meski demikian, pemerintah melalui Kementerian Keuangan terus berusaha menenangkan publik. Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa fundamental ekonomi tetap terjaga dengan inflasi yang relatif terkendali di angka 2-3% dan pertumbuhan masih positif di kisaran 5 persen. “Konsumsi rumah tangga masih menjadi bantalan utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tuturnya dalam berbagai konferensi pers APBN.

Secara agregat, pernyataan itu mungkin benar di atas kertas. Namun, ekonomi tidak hanya hidup di dalam angka-angka statistik yang dingin. Ekonomi bernapas dalam pengalaman sehari-hari masyarakat di pasar-pasar becek, di gerobak kayu, dan di dompet-dompet yang semakin tipis. Dalam ilmu mikroekonomi, kondisi di mana jumlah penjual meningkat drastis sementara permintaan relatif stagnan atau bahkan menurun disebut sebagai market overcrowding atau saturasi pasar, konsekuensinya adalah menghantam keras pada para pelaku usaha kecil. Dari berdagang mendapatkan margin keuntungan yang menurun tajam karena biaya bahan baku (seperti beras dan minyak goreng) terus merangkak naik. Masalah perang harga juga tak terhindarkan, di mana pedagang terpaksa menjual murah asal laku. Demikian pendapatan per pedagang menyusut, karena kue ekonomi yang ada harus dibagi oleh lebih banyak orang.

Seorang pedagang takjil di kawasan pinggiran Jakarta mengeluhkan hal ini. Dengan tatapan nanar ke arah tumpukan dagangannya, ia mengaku omzetnya turun drastis dibanding tahun lalu. “Yang jualan makin banyak, sampai tetangga sebelah pun ikutan jualan. Tapi pembelinya ya segitu-segitu saja,” keluhnya.

Potret ini memang tidak sepenuhnya seragam di seluruh kota di Indonesia. Muncul suara yang optimis menghadapinya, bahkan saat Ramadan tetap membawa berkah. “Memang saingan banyak, tapi kalau kualitas rasa bagus dan lokasi strategis, masih bisa dapat untung,” ujarnya. Perbedaan nasib ini menegaskan bahwa faktor lokasi, kelas konsumen, dan keunikan produk kini menjadi penentu hidup-matinya usaha di tengah lautan persaingan.

Secara makro, Indonesia memang masih menjadi "terang di tengah kegelapan" ekonomi global dengan pertumbuhan yang stabil. Namun dalam ilmu ekonomi politik, persepsi publik terhadap kondisi ekonomi seringkali lebih menentukan stabilitas sosial dibanding angka statistik semata. Jika masyarakat secara luas merasakan kesulitan mencari kerja, pendapatan yang jalan di tempat, dan harga kebutuhan pokok yang terus mencekik, maka narasi optimisme pemerintah bisa kehilangan resonansinya. Sejarah dunia telah mencatat bahwa krisis sosial dan politik kerap dipicu oleh tekanan ekonomi yang dirasakan secara kolektif di meja makan, bukan semata oleh isu ideologis yang abstrak.

Deretan pedagang takjil yang lebih panjang daripada antrean pembeli adalah gambaran kuat tentang kondisi bangsa hari ini, yang mencerminkan tingginya ketergantungan pada sektor informal. Terdapat persaingan usaha mikro yang semakin berdarah-darah, dan daya beli yang belum pulih sepenuhnya pasca-guncangan global. Dan inilah yang disebut sebagai survival economy, ekonomi bertahan hidup, bukan ekonomi ekspansi. 

Sektor informal memang fleksibel dan adaptif, namun ia rapuh karena minim jaminan sosial, tanpa perlindungan hukum usaha, dan penuh ketidakpastian pendapatan. Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar "Apakah ekonomi kita tumbuh", melainkan “siapa yang benar-benar merasakan tetesan pertumbuhan itu?”

Ramadan seharusnya menjadi musim harapan, di mana setiap tangan yang menjajakan dagangan bisa pulang dengan senyuman. Jika di bulan yang paling konsumtif ini saja persaingan terasa mencekik dan pembeli tak kunjung bertambah, maka ini adalah alarm keras bagi kita semua. Bagi pemerintah, fenomena "banyak penjual sepi pembeli" ini adalah sinyal mendesak untuk memperkuat penciptaan lapangan kerja formal yang berkualitas dan menjaga daya beli masyarakat kelas menengah-bawah. Bagi pelaku usaha, ini adalah momentum pahit untuk terus berinovasi agar tidak tenggelam dalam arus saturasi.

Ketika semua orang dipaksa menjadi penjual karena tak ada lagi pilihan pekerjaan, namun tak ada yang mampu membeli karena ketiadaan uang, menandakan kita sedang tidak berkembang. Kita hanya sedang saling berebut ruang untuk sekadar menyambung nyawa. Semestinya negara mampu melihat ekonomi bukan sekadar deretan grafik naik-turun di layar monitor para birokrat. Ekonomi adalah tentang martabat, tentang meja makan yang terisi, tentang usaha kecil yang tetap menyala lampunya, dan tentang harapan yang tidak padam tepat setelah azan magrib berkumandang. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll