Gempa 4,8 M di Priangan Timur dan Pelajaran Mitigasi untuk Warga Pakidulan

Wilayah Priangan Timur kembali merasakan getaran bumi pada Rabu dini hari, 18 Februari 2026. Gempa...

Gempa 4,8 M di Priangan Timur dan Pelajaran Mitigasi untuk Warga Pakidulan

Ekologi
18 Feb 2026
297 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Gempa 4,8 M di Priangan Timur dan Pelajaran Mitigasi untuk Warga Pakidulan

Wilayah Priangan Timur kembali merasakan getaran bumi pada Rabu dini hari, 18 Februari 2026. Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 4,8 mengguncang kawasan selatan Jawa Barat sekitar pukul 01.00 WIB, saat sebagian besar masyarakat masih terlelap. Meski tergolong gempa menengah dengan dampak terbatas, peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa zona selatan Pulau Jawa berada dalam dinamika geologi yang aktif.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa guncangan dirasakan di sejumlah wilayah, mulai dari Pangandaran, Tasikmalaya, hingga Kabupaten Bandung. Episenter gempa terletak pada koordinat 8,53 derajat Lintang Selatan dan 108,13 derajat Bujur Timur, tepatnya di laut sekitar 100 kilometer arah barat Kabupaten Pangandaran.

Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Hartanto, dalam keterangan resminya menyebutkan bahwa gempa berasal dari aktivitas penunjaman lempeng tektonik di selatan Jawa. “Gempa ini merupakan jenis gempa dangkal dengan kedalaman sekitar 39 kilometer, dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng di wilayah Samudra Hindia,” ujarnya.

Zona selatan Jawa memang dikenal sebagai bagian dari jalur subduksi aktif, tempat Lempeng Indo-Australia bergerak menujam ke bawah Lempeng Eurasia. Menurut berbagai publikasi edukasi BMKG, mekanisme ini menjadi salah satu sumber utama aktivitas seismik di sepanjang pesisir selatan Jawa, termasuk wilayah yang secara kultural dikenal sebagai Laut Kidul.

Berdasarkan peta intensitas guncangan BMKG dan laporan masyarakat, getaran paling kuat dirasakan di Pangandaran dan Tasikmalaya dengan skala III Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala ini, guncangan biasanya terasa jelas di dalam rumah, sering digambarkan seperti adanya kendaraan berat yang melintas.

Di wilayah Garut, intensitas gempa tercatat antara II hingga III MMI, menyebabkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Sementara itu, getaran yang lebih lemah dirasakan hingga Ciamis dan Kabupaten Bandung pada skala II MMI, yakni hanya dirasakan oleh sebagian orang di dalam bangunan.

Hingga laporan terakhir, BMKG menyatakan belum terdapat laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa. Selain itu, tidak ada potensi tsunami yang terdeteksi akibat gempa tersebut. Pemantauan hingga pukul 01.38 WIB juga menunjukkan tidak adanya aktivitas gempa susulan.

Meski dampaknya terbatas, kejadian ini kembali membuka diskusi mengenai kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan gempa. BMKG secara berkala mengingatkan bahwa masyarakat pesisir selatan Jawa perlu memahami prosedur keselamatan dasar, seperti mengenali jalur evakuasi dan memahami perbedaan antara gempa yang berpotensi tsunami dan yang tidak.

Sejumlah ahli kebencanaan sering menekankan bahwa gempa kecil bukanlah sekadar peristiwa yang berlalu tanpa arti, melainkan bagian dari proses geologi yang terus berlangsung. Dalam berbagai publikasi edukatif, BMKG menegaskan bahwa edukasi publik merupakan faktor kunci untuk mengurangi risiko, karena gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti kapan terjadi.

Bagi masyarakat yang terbangun oleh getaran dini hari itu, gempa mungkin hanya menjadi interupsi singkat dari tidur panjang. Namun secara geologis, getaran tersebut adalah pengingat bahwa Pulau Jawa berdiri di atas pertemuan lempeng bumi yang terus bergerak.

Di balik angka magnitudo dan koordinat geografis, ada pesan bahwa hidup di wilayah rawan gempa bukan sekadar soal ketahanan infrastruktur, tetapi juga ketahanan pengetahuan kolektif. Setiap guncangan, sekecil apa pun, membawa peluang untuk memperkuat kesadaran mitigasi untuk warga Pakidulan khususnya yang meliputi Cilacap, Pangandaran, Tasik Selatan, Garut Selatan, sampai Sukabumi Selatan, agar ketika gempa yang lebih besar datang, masyarakat tidak lagi terkejut, melainkan siap akan risiko dan antisipasinya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll