Institut for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) menilai bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini belum menapak pada tujuan yang sesungguhnya: memastikan setiap anak mendapatkan gizi yang cukup untuk tumbuh sehat. Program yang dirancang secara skala nasional ini justru membuat aliran anggaran negara terkonsentrasi di wilayah-wilayah padat penduduk, yang relatif tidak menghadapi masalah gizi anak yang serius. Dalam skema ini, yang terpenting bukanlah urgensi kesehatan, tetapi distribusi yang tampak merata secara kuantitatif, sebuah ilusi pemerataan yang menutupi ketidakadilan nyata di lapangan.
Dalam policy brief terbarunya, yang diterbitkan pada Jumat, 23 Januari 2026, IDEAS mencatat bahwa sekitar dua pertiga penerima manfaat MBG terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera. Wilayah-wilayah aglomerasi seperti Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Bandung menjadi lokasi utama. Namun data menunjukkan bahwa masyarakat di daerah-daerah ini memiliki tingkat konsumsi protein hewani yang relatif tinggi dan rasio pengeluaran pangan yang rendah. Dengan kata lain, anak-anak di sini tidak berada dalam situasi kekurangan gizi yang parah, sehingga tambahan makanan bergizi dari negara, meski tampak bernilai, sebenarnya tidak menjadi intervensi yang mendesak.
“Desain MBG sebagai program universal lebih mencerminkan kepentingan politik dan elektoral dibandingkan urgensi kesehatan dan ekonomi,” ujar Yusuf Wibisono, peneliti IDEAS, dalam dokumen kebijakan tersebut. Pernyataan ini menegaskan bahwa kebijakan publik seringkali berjalan di persimpangan antara niat sosial dan strategi politik, sehingga manfaat nyata bagi masyarakat terkadang terselip di antara kepentingan-kepentingan yang lebih luas.
Di sisi lain, daerah-daerah di luar Jawa yang menghadapi tantangan gizi jauh lebih berat, seperti Yahukimo, Sumba Barat Daya, dan Kepulauan Aru, justru hanya menerima porsi kecil dari program MBG. Anak-anak di wilayah-wilayah ini memiliki akses pangan bergizi yang terbatas, dan setiap porsi makanan tambahan dari negara seharusnya menjadi penyelamat bagi mereka. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa universalitas program, yang tampak adil di atas kertas, bisa menjadi penyebab ketidakadilan di lapangan.
IDEAS mengusulkan agar pemerintah merombak desain MBG menjadi program bertarget berbasis wilayah (geographical targeting), agar manfaatnya benar-benar sampai ke anak-anak yang paling membutuhkan. Model pelaksanaan yang tersentralisasi selama ini, menurut Yusuf, tidak hanya meningkatkan biaya program, tetapi juga mengurangi nilai nyata yang diterima oleh anak-anak. Dari total anggaran MBG sebesar Rp 267,4 triliun dalam APBN 2026, sekitar Rp 85,2 triliun diperkirakan habis untuk biaya operasional dan sewa peralatan Satuan Pelaksana Pemenuhan Gizi (SPPG). Proporsi biaya ini mencapai 37 persen, jauh melampaui standar program nirlaba yang umumnya berkisar 15–20 persen. Hasilnya, sebagian besar anggaran yang seharusnya menjadi makanan bagi anak-anak justru tersedot oleh administrasi dan logistik.
Selain itu, nilai makanan yang diterima siswa sering kali di bawah Rp 10 ribu per porsi, bahkan hanya sekitar Rp 6 ribu. Dugaan praktik perburuan rente dalam rantai pelaksanaan MBG semakin memperburuk kualitas dan kuantitas makanan. Anak-anak, yang seharusnya mendapatkan energi dan nutrisi untuk belajar dan tumbuh, terkadang hanya menerima simbol dari perhatian negara, bukan manfaat substantif.
IDEAS merekomendasikan desentralisasi pelaksanaan MBG, dengan menjadikan sekolah, komite sekolah, dan orang tua siswa sebagai pelaksana utama, di bawah pengawasan pemerintah daerah. Skema ini diyakini dapat menekan biaya, mendorong pemanfaatan pangan lokal, dan meningkatkan kualitas gizi makanan. Pendekatan semacam ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal menempatkan komunitas lokal sebagai pengelola yang memahami kebutuhan spesifik anak-anak mereka sendiri.
Pelajaran dari MBG yang sudah berjalan ini adalah bahwa besarnya anggaran tidak selalu menjamin keberhasilan, dan universalitas yang tampak adil di permukaan namun bisa menyembunyikan ketimpangan yang nyata. Keberhasilan program bergantung pada seberapa cermat ia menyasar mereka yang benar-benar membutuhkan. Dengan desain yang lebih bertarget dan partisipatif, MBG dapat berubah dari simbol kepedulian menjadi intervensi yang efektif, menjawab kebutuhan gizi anak-anak yang paling rentan, dan menumbuhkan generasi muda yang sehat, cerdas, dan produktif. (Red)