PHK Massal Kedua Amazon: Transformasi Teknologi dan Manusia Nirguna

Amazon, raksasa teknologi dan ritel daring asal Amerika Serikat, kembali bersiap melakukan...

PHK Massal Kedua Amazon: Transformasi Teknologi dan Manusia Nirguna

Tekno
23 Jan 2026
192 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

PHK Massal Kedua Amazon: Transformasi Teknologi dan Manusia Nirguna

Amazon, raksasa teknologi dan ritel daring asal Amerika Serikat, kembali bersiap melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Perusahaan ini diperkirakan akan memangkas sekitar 14.000 pekerjaan kerah putih mulai pekan depan, sebagai bagian dari target pengurangan hingga 30.000 posisi korporat secara keseluruhan. Langkah ini menjadikannya salah satu PHK terbesar sepanjang sejarah tiga dekade Amazon.

Divisi yang terdampak meliputi Amazon Web Services (AWS), unit ritel, Prime Video, serta People Experience and Technology (PXT) sebagai unit yang mengelola sumber daya manusia. Sejumlah sumber internal menyebutkan bahwa rincian akhir masih dapat berubah, seiring evaluasi internal yang terus berlangsung.

Secara proporsional, pengurangan ini memang tampak kecil dibanding total 1,58 juta karyawan Amazon di seluruh dunia, mayoritas di antaranya bekerja di gudang dan pusat pemenuhan pesanan. Namun bagi tenaga kerja korporat, angka ini signifikan: hampir 10 persen dari total karyawan kantor akan terdampak.

Gelombang pertama PHK pada Oktober 2025 telah memangkas sekitar 14.000 posisi, banyak di antaranya berasal dari sektor teknik dan pengembangan perangkat lunak. Para pekerja yang terdampak diberi masa transisi selama 90 hari untuk mencari pekerjaan internal atau eksternal, periode yang kini telah berakhir.

Pada awalnya, Amazon mengaitkan pengurangan tenaga kerja dengan percepatan penggunaan kecerdasan buatan (AI). Dalam surat internal, manajemen menyebut AI sebagai teknologi paling transformatif sejak internet, yang memungkinkan perusahaan berinovasi lebih cepat dan bekerja lebih efisien.

Namun CEO Amazon, Andy Jassy, kemudian memberi penekanan berbeda. Dalam paparan kepada analis, ia menegaskan bahwa PHK ini bukan semata karena tekanan keuangan atau AI, melainkan karena struktur organisasi yang terlalu gemuk. “Pada akhirnya, Anda memiliki lebih banyak orang daripada sebelumnya, dan terlalu banyak lapisan birokrasi,” ujar Jassy.

Meski begitu, pernyataan ini beririsan dengan pernyataan Jassy sebelumnya yang mengakui bahwa penggunaan AI akan membuat jumlah karyawan Amazon menyusut secara alami dari waktu ke waktu. Perusahaan kini semakin mengandalkan AI untuk menulis kode, mengotomatiskan tugas rutin, hingga menggunakan agen AI dalam proses bisnis harian.

Fenomena ini mengingatkan pada peringatan Yuval Noah Harari, sejarawan dan pemikir global, yang sejak beberapa tahun terakhir berbicara tentang lahirnya kelas baru dalam masyarakat modern: “manusia irelevan,” atau manusia nirguna.

Harari berulang kali menyatakan bahwa ancaman terbesar di era AI bukan hanya pengangguran, tetapi ketidakbergunaan struktural. Ketika jutaan orang tidak lagi dibutuhkan oleh sistem ekonomi karena mesin dan algoritma mampu bekerja lebih cepat, lebih murah, dan lebih presisi.

Dalam konteks Amazon, PHK ini bukan semata soal efisiensi perusahaan, melainkan gambaran lebih besar tentang bagaimana kapitalisme digital mulai memisahkan nilai ekonomi dari keberadaan manusia itu sendiri. Pekerja bukan lagi sumber utama produktivitas, melainkan variabel biaya yang bisa dikurangi ketika teknologi menawarkan alternatif.

Di balik strategi dan laporan keuangan, ada dampak manusia yang nyata. Seorang karyawan Amazon yang telah bekerja selama 17 tahun menulis di media sosial bahwa ia “hancur” setelah menerima email PHK. Unggahan itu viral dan memicu diskusi luas tentang rapuhnya loyalitas kerja di era perusahaan teknologi.

Cerita semacam ini memperlihatkan jurang antara bahasa efisiensi korporasi dan pengalaman eksistensial pekerja. Sebuah jurang yang semakin lebar ketika keputusan bisnis dibuat berbasis algoritma, bukan relasi manusia.

PHK massal Amazon menjadi penanda penting perubahan dunia kerja global. AI tidak lagi hanya alat bantu, melainkan penentu struktur sosial dan ekonomi. Pertanyaannya bukan lagi apakah pekerjaan akan hilang, tetapi siapa yang masih dianggap relevan dalam sistem yang semakin otomatis.

Seperti diingatkan Harari, tanpa kebijakan publik, pendidikan ulang, dan redefinisi makna kerja, dunia berisiko menciptakan generasi yang tersisih. Bukan karena malas atau tidak kompeten, tetapi karena zaman tidak lagi membutuhkan mereka.

Amazon mungkin hanya satu perusahaan. Namun kisah ini adalah fragmen dari cerita yang lebih besar: tentang masa depan manusia di tengah mesin yang terus belajar. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll